Umum
Pergi ke sekolah membawa uang saku
Untuk membeli ramuan jamu
Saat belajar pasti berteman dengan buku
Lantaran buku merupakan jendelanya ilmu.
Pergi ke sekolah membawa uang saku
Untuk membeli ramuan jamu
Saat belajar pasti berteman dengan buku
Lantaran buku merupakan jendelanya ilmu.
1.Pengertian Filsafat
Filsafat merupakan ilmu yang sudah sangat tua. Bila kita membicarakan filsafat maka pandangan kita akan tertuju jauh ke masa lampau di zaman Yunani Kuno. Pada masa itu semua ilmu dinamakan filsafat. Dari Yunanilah kata ―filsafat‖ ini berasal, yaitu dari kata ―philos‖ dan ―sophia‖. ―Philos‖ artinya cinta yang sangat mendalam, dan ―sophia‖ artinya kebijakan atau kearifan. Istilah filsafat sering dipergunakan secara populer dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam penggunaan populer, filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu) dan dapat juga disebut sebagai pandangan masyarakat (masyarakat). Mungkin anda pernah bertemu dengan seseorang dan mengatakan: ―filsafat hidup saya adalah hidup seperti oksigen, menghidupi orang lain dan diri saya sendiri‖. Atau orang lain lagi mengatakan: ―Hidup harus bermanfaat bagi orang lain dan dunia‖. Ini adalah contoh sederhana tentang filsafat seseorang.
2. Menurut Ahli
Filsafat mempunyai hubungan yang erat dengan pendidikan, baik pendidikan dalam arti teoritis maupun praktik. Setiap teori pendidikan selalu didasari oleh suatu sistem filsafat tertentu yang menjadi landasannya. Demikian pula, semua praktik pendidikan yang diupayakan dengan sungguh-sungguh sebenarnya dilandasi oleh suatu pemikiran filsafati yang menjadi ideologi pendorongnya. Pemikiran filsafati tersebut berusaha untuk diwujudkan dalam praktik pendidikan. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Imam Barnadib bahwa filsafat pendidikan pada dasarnya merupakan penerapan suatu analisis filosofis terhadap lapangan pendidikan.
4. Manfaat Filsafat Pendidikan
Mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di lembaga pendidikan tenaga keguruan dituntut untuk memikirkan masalah-masalah hakiki terkait pendidikan. Pemikiran mahasiswa menjadi lebih terasah terhadap persoalan-persoalan pendidikan baik dalam lingkup mikro maupun makro. Hal ini menjadikan mahasiswa lebih kritis dalam memandang persoalan pendidikan. Di samping itu, mahasiswa yang mempelajari dan merenungkan masalahmasalah hakiki pendidikan akan memperluas cakrawala berpikir mereka sehingga dapat lebih arif dalam memahami problem pendidikan Sebagai intelektual muda yang kelak menjadi pendidik atau tenaga kependidikan sudah sewajarnya bila mereka dituntut untuk berpikir reflektif dan bukan sekedar berpikir teknis di dalam memecahkan problem-problem dasar kependidikan dengan menggunakan kebebasan intelektual dan tanggung jawab sosial yang melekat padanya.
1. Tiga Landasan Utama Filsafat Pendidikan
Tiga Landasan Utama Filsafat Pendidikan merupakan Filsafat yang memberikan asumsi-asumsi dasar bagi setiap cabang ilmu pengetahuan. Demikian pula halnya dengan pendidikan. Ketika filsafat membahas tentang ilmu alam, maka diperoleh filsafat ilmu alam.
Landasan Ontologis Pendidikan
Landasan ontologis atau sering juga disebut landasan metafisik merupakan landasan filsafat yang menunjuk pada keberadaan atau substansi sesuatu. Misalnya, pendidikan secara ilmiah ditujukan untuk mensistematisasikan konsep-konsep dan praktik pendidikan yang telah dikaji secara metodologis menjadi suatu bentuk pengetahuan tersendiri yang disebut Ilmu Pendidikan. Pengetahuan ilmiah mengenai pendidikan pada hakikatnya dilandasi oleh suatu pemikiran filsafati mengenai manusia sebagai subjek dan objek pendidikan, pandangan tentang alam semesta; tempat manusia hidup bersama, dan pandangan tentang Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam semesta tersebut.
landasan epistemologis
Dalam konteks filsafat pendidikan, landasan epistemologis membahas:
Hakikat pengetahuan dalam pendidikanSumber pengetahuan yang diajarkanCara memperoleh dan mengembangkan pengetahuanBagaimana kebenaran dalam pendidikan diuji
Artinya, landasan ini menjawab pertanyaan:
Bagaimana peserta didik memperoleh pengetahuan?
Bagaimana kebenaran dalam pendidikan ditentukan?
1. Sumber Pengetahuan dalam Pendidikan
Beberapa aliran filsafat memengaruhi epistemologi pendidikan:
Rasionalisme (akal sebagai sumber utama pengetahuan) Tokoh: René Descartes → Pendidikan menekankan logika dan berpikir rasional.Empirisme (pengalaman sebagai sumber pengetahuan) Tokoh: John Locke → Pendidikan menekankan praktik dan pengalaman belajar.Pragmatisme Tokoh: John Dewey → Belajar melalui pengalaman langsung (learning by doing).
2. Cara Memperoleh Pengetahuan
Landasan epistemologis menentukan:
Metode pembelajaran (ceramah, diskusi, eksperimen)Model pembelajaran (problem-based learning, inquiry)Peran guru dan peserta didik
Contoh:
Jika berpijak pada empirisme → pembelajaran berbasis praktik.Jika berpijak pada rasionalisme → pembelajaran berbasis penalaran.
3. Kriteria Kebenaran dalam Pendidikan
Dalam pendidikan, kebenaran diuji melalui:
Logika dan rasionalitasBukti empirisKebermanfaatan praktis
Sehingga kurikulum, materi ajar, dan evaluasi harus memiliki dasar ilmiah yang jelas.
Landasan aksiologis
A. Pengertian
Landasan aksiologis dalam filsafat pendidikan membahas:
Nilai dan tujuan pendidikanFungsi pendidikan bagi individu dan masyarakatEtika dalam praktik pendidikan
Pertanyaan utamanya:
Untuk apa pendidikan diselenggarakan?
Nilai apa yang harus diwujudkan melalui pendidikan?
B. Dimensi Aksiologis dalam Pendidikan
1. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Nilai
Pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga:
Membentuk karakterMenanamkan moralMengembangkan kepribadian
Pandangan klasik dari Aristoteles menyatakan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang berkeutamaan (virtue).
2. Pendidikan dan Etika
Landasan aksiologis menekankan:
Tanggung jawab moral guruPendidikan yang humanisKeadilan dalam pembelajaranPenghormatan terhadap martabat peserta didik
3. Tujuan Pendidikan
Secara aksiologis, pendidikan bertujuan:
Mengembangkan potensi manusiaMembentuk manusia berkarakterMewujudkan kesejahteraan sosialMembentuk warga negara yang bertanggung jawab
C. Implikasi Aksiologis dalam Praktik Pendidikan
Landasan ini memengaruhi:
Penyusunan tujuan pendidikan nasionalPendidikan karakterIntegrasi nilai moral dalam kurikulumProfesionalisme guru
Pendidikan bukan hanya soal “cerdas”, tetapi juga “bernilai”.
A.Objek Filsafat
Objek dibedakan menjadi dua macam, yaitu objek material dan objek formal. Setiap ilmu mempunyai objek material dan objek formal masing-masing. Demikian pula halnya dengan filsafat. Sering orang mengatakan bahwa salah satu perbedaan antara ilmu empiris dan filsafat adalah karena objeknya ini.
Filsafat cenderung mempertanyakan apa saja secara kritis. Sebagaimana dinyatakan di atas bahwa membahas masalah manusia, alam semesta bahkan Tuhan. Jawaban filsafat sebagaimana dicontohkan di atas berbeda dari jawaban spontan. Perbedaannya terletak pada pertanggungjawaban rasional jawaban filsafat. Pertanggungjawaban rasional pada hakikatnya berarti bahwa setiap langkah harus terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan serta harus dipertahankan secara argumentatif, dengan argumen-argumen yang objektif, artinya yang dapat dimengerti secara intersubjektif (Magnis Suseno,1995:20).
Walaupun filsafat terus mencari jawaban, tetapi jawaban yang diperoleh tidak pernah abadi. Oleh karena itu filsafat tidak pernah selesai dan tidak pernah sampai pada akhir sebuah masalah. Masalah-masalah filsafat adalah masalah manusia sebagai manusia, dan karena manusia di satu pihak tetap manusia dan di pihak lain berkembang dan berubah, maka masalah-masalah baru filsafat sebenarnya adalah masalah-masalah lama manusia Bidang kajian filsafat itu sangat luas, karena permasalahan yang dikemukakan bersifat mendasar atau radikal. Ilmu-ilmu yang lain seperti ilmu pasti, fisika, kimia, sosiologi, ekonomi, psikologi dan sebagainya secara hakiki terbatas sifatnya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin, semua ilmu membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu.Untuk meneliti bidang itu secara optimal, ilmu-ilmu semakin mengkhususkan metode-metodenya dan oleh karena itu ilmu-ilmu khusus itu tidak memiliki sarana teoritis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di luar perspektif pendekatan khusus masing-masing. Artinya, ilmu-ilmu khusus itu membahas objeknya hanya dari satu sudut pandang tertentu yang lebih sempit cakupannya dibandingkan ilmu filsafat. Ilmu filsafat membahas objeknya secara lebih umum atau menyeluruh. Sebagaimana dicontohkan di atas bahwa filsafat membahas tentang hakikat manusia; berarti manusia secara menyeluruh, bukan hanya jiwanya (kajian psikologi) atau interaksinya satu dengan yang lain (kajian sosiologi) atau kebutuhan hidupnya(kajian ekonomi).
C.Cabang-cabang filsafat
Sidi Gazalba (1973) mengemukakan bidang permasalahan filsafat terdiri atas:
1)Metafisika, dengan pokok-pokok masalah: filsafat hakikat atau ontologi, filsafat alam atau kosmologi, filsafat manusia, dan filsafat ketuhanan atau teodyce.
2)Teori pengetahuan atau epistemologi, yang mempersoalkan: hakikat pengetahuan, dari mana asal atau sumber pengetahuan, bagaimana membentuk pengetahuan yang tepat dan yang benar, apa yang dikatakan pengetahuan yang benar, mungkinkah manusia mencapai pengetahuan yang benar dan apakah dapat diketahui manusia, serta sampai di mana batas pengetahuan manusia.
3)Filsafat nilai atau aksiologi yang membicarakan: hakikat nilai, di mana letak nilai, apakah pada bendanya atau pada perbuatannya atau pada manusia yang menilainya; mengapa terjadi perbedaan nilai antara seseorang dengan orang lain, siapakah yang menentukan nilai, mengapa perbedaan ruang dan waktu membawa perbedaan penilaian.
Louis O. Kattsoff (1987: 74-82) membagi cabang-cabang filsafat menjadi dua bagian besar, yaitu cabang filsafat yang memuat materi ajar tentang alat dan cabang filsafat yang memuat tentang isi atau bahan-bahan dan informasi. Cabang filsafat yang merupakan alat adalah Logika, termasuk di dalamnya Metodologi. Sedangkan cabang filsafat yang merupakan isi adalah:
Metafisika
Epistemologi
Biologi Kefilsafatan
Psikologi Kefilsafatan
Antropologi Kefilsafatan
Sosiologi Kefilsafatan
Etika
Estetika
Filsafat Agama
Mahasiswa diberikan tugas untuk analisis problem pendidikan yang ada disekitar mahasiswa