Pelatihan tenaga penjualan

Pelatihan tenaga penjualan

Menurut Mangkuprawira (2003:135), pelatihan bagi karyawan adalah sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar karyawan semakin terampil dan mampu dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan semakin baik sesuai dengan standar.

Menurut Carrell dan Kuzmits (1982 : 278), tujuan utama pelatihan dapat dibagi menjadi 5, yaitu :
1. Untuk meningkatkan ketrampilan karyawan sesuai dengan perubahan teknologi.
2. Untuk mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru agar menjadi kompeten.
3. Untuk membantu masalah operasional.
4. Untuk menyiapkan karyawan dalam promosi.
5. Untuk memberi orientasi karyawan untuk lebih mengenal organisasinya

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentapkan tujuan pelatihan, yaitu :

1. Tujuan harus spsesifik dan jelas.

2. Dapat terukur (measurable).

3. Berarti bagi pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan

4. Relevan dan konsisten

Penetap tujuan ini sangat membantu untuk memperoleh dukungan komitmen darimanajer untuk menyediakan sumber daya (anggaran) yang dibutuhkan dalam pelatihan.

Menurut As'ad(1987: 73), Keberhasilan suatu program pelatihan ditentukan oleh lima komponen menurut :
1.
Sasaran pelatihan atau pengembangan

   Setiap pelatihan harus mempunyai sasaran yang jelas yang bisa diuraikan kedalam

   perilaku-perilaku yang dapat diamati dan diukur supaya bisa diketahui efektivitas dari pelatihan

   itu sendiri.

2. Pelatih (Trainer)

   Pelatih harus bisa mengajarkan bahan-bahan pelatihan dengan metode tertentu sehingga

   peserta akan memperoleh pengetahuanketrampilan dan sikap yang diperlukan sesuai dengan

   sasaian yang ditetapkan.

3. Bahan-bahan latihan

    Bahan-bahan latihan harus disusun berdasarkan sasaran pelatihan yang telah ditetapkan
4. Metode latihan (termasuk alat bantu)

    Setelah bahan dari latihan ditetapkan maka langkah berikutnya adalah menyusun metode

    latihan yang tepat.

5. Peserta (Trainee)

    Peserta merupakan komponen vang cukup penting, sebab keberhasilan suatu program pelatihan

    tergantung juga pada pesertanya.

Metode Pelatihan Kerja :

Menurut Cherrington (1995:358), metode dalam pelatihan dibagi menjadi dua yaitu on the job training dan off the job training.

Metode On the job training lebih banyak digunakan, training lebih berfokus pada peningkatan produktivitas secara cepat.

Metode Off the job training lebih cenderung berfokus pada perkembangan dan pendidikan jangka panjang.

On The Job Training dibagi menjadi 6 macam yaitu:

1. Job instruclion training

    Pelatihan ini dimulai dengan penjelasan awal tentang tujuan pekerjaan, dan menunjukan

    langkah-langkah pelaksanan pekerjaan.

2. Apprenticeship

   Pelatihan ini mengarah pada proses penerimaan karyawan baru, yang bekerja bersama dan

   dibawah bimbingan praktisi yang ahli untuk beberapa waktu tertentu.

3. Internship dan assistantships

   Pelatihan ini mengarah pada kekosongan pekerjaan yang menuntut pendidikan formal yang lebih

   tinggi.

4. Job rotation dan transfer

   Proses belajar yang biasanya untuk mengisi kekosongan dalam manajemen dan teknikal.

5. Junior boards dan committee assingments

   Alternatif pelatihan dengan memindahkan perserta pelatihan kedalam komite untuk

   bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan administrasi.

6. Couching dan counseling

   Pelatihan ini merupakan aktifitas yang menharapkan timbal balik dalam penampilan kerja,

   dukungan dari pelatih, dan penjelasan secara berlahan bagaimana melakukan pekerjaan secara

   tepat.

Off the job training dibagi menjadi 13 macam :

1. Vestibule training

    Pelatihan dimana dilakukan ditempat tersendiri yang dikondisikan seperti tempat aslinya.

2. Lecture

    Merupakan pelatihan dimana menyampaikan berbagai macam informasi kepada sejumlah besar

    orang pada waktu bersamaan.

3. Independent self-study

    Pelatihan yang mengharapkan peserta untuk melatih diri sendiri misalnya dengan membaca

    buku, majalah profesional, mengambil kursus pada universitas lokal dan mengikuti pertemuan

    profesional.

4.Visual presentations

    Pelatihan dengan mengunakan televisi, film, video, atau persentasi dengan menggunakan slide.

5. Conferences dan discusion

    Pelatihan ini biasa digunakan untuk pelatihan pengambilan keputusan dimana peserta dapat

    belajar satu dengan yang Iainnya.

6. Teleconferencing

    Pelatihan dengan menggunakan satelit, dimana pelatih dan perseta dimungkinkan untuk berada

    di tempat yang berbeda.

7. Case studies

    Pelatihan yang digunakan dalam kelas bisnis, dimana peserta dituntut untuk menemukan prinsip-

    prinsip dasar dengan menganalisa masalah yang ada.

8. Role playing

    Pelatihan dimana peserta dikondisikan pada suatu permasalahan tertentu, peserta harus dapat

    menyelesaikan permasalahan dimana peserta seolah-olah terlibat langsung.

9. Simulation

    Pelatihan yang menciptakan kondisi belajar yang sangat sesuai atau mirip dengan kondisi

    pekerjaan, pelatihan ini digunakan untuk belajar secara teknikal dan motor skill.

10. Programmed instruction

    Merupakan aplikasi prinsip dalam kondisi operasional, biasanya menggunakan computer.

11. Computer-based training

    Merupakan program pelatihan yang diharapkan mempunyai hubungan interaktif antara  

    komputer dan peserta, dimana peserta diminta untuk merespon secara langsung selama proses

    belajar.

12. Laboratory training

    Pelatihan ini terdiri dari kelompok-kelompok diskusi yang tak beraturan dimana peserta diminta

    untuk mengungkapkan perasaan mereka terhadap satu dengan yang lain






Terakhir diperbaharui: Tuesday, 3 November 2020, 18:52