1.3 Hedonisme & Eudemonisme

TEORI ETIKA
a. Hedonisme
Para hedonis menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang terbaik bagi
manusia. Adalah baik apa yang memuaskan keinginan, apa yang meningkatkan
kuantitas kesenangan atau kenikmatan dalam diri.
Dalam filsafat Yunani, hedonisme sudah ditemukan pada Aristippos dari Kyrene
(sekitar 433-355 S.M.) Aristippos menyatakan bahwa yang sungguh baik bagi
manusia adalah kesenangan. Hal itu terbukti karena sudah sejak kecil manusia
merasa tertarik akan kesenangan dan bila telah tercapai ia tidak mencari sesuatu
yang lain lagi. Sebaliknya, ia selalu menjauhkan diri dari
ketidaksenangan
b. Eudemonisme
Pandangan ini berasal dari filsuf Yunani Aristoteles (384-322 S.M.). Ia menegaskan
bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan. Seringkali
manusia mencari sutau tujuan untuk mencapai suatu tujuan lain lagi. Menurut
Aristoteles, makna terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Ada
yang mengatakan bahwa kesenangan adalah kebahagiaan, ada yang berpendapat
bahwa uang dan kekayaan adalah inti kebahagiaan dan ada pula yang menganggap
status sosial atau nama baik sebagai kebahagiaan. Tapi Aristoteles beranggapan
bahwa semua hal itu tidak bisa diterima sebagai tujuan terakhir. Kekayaan,
misalnya, paling-paling bisa dianggap tujuan untuk mencapai suatu tujuan lain.
Karena itu masih tetap tinggal pertanyaan : apa itu kebahagiaan.
Menurut Aristoteles, seseorang mencapai tujuan terakhir dengan menjalankan
fungsinya dengan baik. Tujuan terakhir tukang sepatu adalah membikin sepatu
yang baik. Jadi, jika manusia menjalankan fungsinya sebagai manusia dengan baik,
ia juga mencapai tujuan terkahirnya atau kebahagiaan.
Aristoteles menyatakan
bahwa akal budi atau rasio menjadi keunggulan manusia dibandingankan dengan
makhluk-makhluk lain. Oleh karena itu, manusia mencapai kebahagiaan dengan
menjalankan secara paling baik kegiatan-kegiatan rasionalnya. Dan tidak cukup ia
melakukan demikian beberapa kali saja, tapi harus sebagai sikap tetap. Menurut
Aristoteles, manusia adalah baik dalam arti moral, jika selalu mengadakan pilihanpilihan rasional yang tepat dalam perbuatan-perbuatan moralnya dan mencapai
keunggulan dalam penalaran intelektual.