2.3 Semantik dan Stilistika

Secara etimologis stilistika berkaitan dengan style yang berarti gaya. Secara sederhana, stilistika didefinisikan sebagai ilmu tentang gaya bahasa (Ratna, 2012). Ratna menyatakan bahwa stilistika adalah ilmu yang berkaitan dengan gaya dan gaya bahasa. Tetapi pada umumnya lebih mengacu pada gaya bahasa. Dalam bidang bahasa dan sastra stilistika berarti cara-cara penggunaan bahasa yang khas sehingga menimbulkan efek tertentu yang berkaitan dengan aspek-aspek keindahan. Menurutnya, pembahasan gaya bahasa ini biasanya berhubungan erat dengan kajian sastra, karena penggunaan bahasa dalam karya sastra selalu berhubungan dengan gaya bahasa.

Ratna menambahkan bahwa stilistika merupakan sarana yang dipakai pengarang untuk mencapai suatu tujuan, karena stilistika merupakan cara untuk mengungkapkan pikiran, jiwa, dan kepribadian pengarang dengan cara khasnya. Berdasarkan pengertian-pengertian stilistika di atas maka dapat disimpulkan bahwa stilistika adalah cabang linguistik yang mempelajari tentang gaya bahasa. Penggunaan gaya bahasa menimbulkan efek tertentu yang


berkaitan dengan aspek-aspek keindahan yang merupakan ciri khas pengarang untuk mencapai suatu tujuan yaitu mengungkapkan pikiran, jiwa, dan kepribadiaannya.

Dengan demikian, objek kajian stilistika adalah gaya bahasa. Gaya bahasa tersebut berfungsi menjelaskan keindahan penggunaan bentuk kebahasaan tertentu mulai dari aspek bunyi, leksikal, struktur, bahasa figuratif, sarana retorika sampai grafologi. Selain itu, kajian stilistika juga bertujuan untuk menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa serta bagaimana pengarang mempergunakan tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus (Nurgiyantoro, 2014).

Turner mengartikan stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa yang merupakan bagian linguistik yang memusatkan pada variasi-variasi penggunaan bahasa tetapi tidak secara eksklusif memberikan perhatian khusus kepada penggunaan bahasa yang kompleks pada kesusastraan (Pradopo, 1993). Berdasarkan pendapat tersebut, stilistika mengaji gaya bahasa baik dalam karya sastra atau teks yang lain.

Pendapat lain tentang pengertian stilistika diungkap oleh Sudjiman. Stilistika berasal dari kata style, yaitu cara yang digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Dengan demikian style dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa (Sudjiman, 1993).

Secara spesifik, Endaswara menyebutkan stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa suatu karya sastra. Selanjutnya dikatakan ada dua pendekatan analisis stilistika yaitu (1) dimulai dengan analisis sistem tentang linguistik karya sastra, dan dilanjutkan ke interpretasi tentang ciri-ciri sastra, interpretasi diarahkan ke makna secara total; dan (2) mempelajari sejumlah ciri khas yang membedakan satu sistem dengan sistem lain (Endaswara, 2003).

Berdasarkan uraian pengertian stilistika yang diungkap oleh pada ahli, maka dapat disimpulkan bahwa stilistika adalah ilmu tentang gaya bahasa. Dilihat dari objek kajiannya, stilistika tentu berbeda dengan semantik. Namun, apa hubungan antara semantik dan stilistika?

Setiap berbahasa, bergaya bahasa atau tidak, selalu ada makna dalam bahasa yang digunakan. Dalam karya sastra, pilihan kata yang termasuk dalam langkah-langkah bergaya bahasa memiliki makna secara semantis. Makna kata secara semantis dipahami oleh penulis. Makna itu akan menjadi daya taris dalam melakukan apresiasi sastra.

Untuk menyatakan teguran pada orang yang sangat malas, mungkin saja menggunakan kalimat ini dia, mahasiswa yang paling rajin di kelas. Secara semantis, kalimat tersebut bermakna pujian, bukan teguran. Namun, secara stilistika, kalimat tersebut bisa


untuk teguran, kalimat tersebut menggunakan gaya bahasa sindiran, yang menuliskan makna yang berlawanan dengan maksud pembicara. Tentu saja, memahami konteks gaya bahasa diperlukan untuk memahami makna dalam bahasa yang digunakan.

Ada contoh lain kajian stilistika yang dilakukan Marini. Andrea hirata menggunakan gaya bahasa yang mencampurkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia, bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia, penggunaan istilah ilmiah, dan lain sebagainya (Marini, 2010). Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut.

1)      seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh

2)      Bukan perkara gampang bagi keluarga kami

3)      Lima tahun pengabdiannya di sekolah melarat.

Kata bahasa Jawa (yang dicetak miring) digunakan secara spontan oleh pengarang dalam mendeskripsikan cerita. Terdapat kata doyong, gampang, dan melarat merupakan kata asli bahasa Jawa. Namun di dalam penggunaannya masuk ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini berarti ada suatu interferensi bahasa Indonesia dari bahasa Jawa. Kata doyong, dalam bahasa Indonesia dapat diganti dengan kata miring, gampang dengan mudah, dan melarat dengan miskin. Namun, ada keindahan makna dengan menggunakan bahasa Jawa dalam narasinya. Masih banyak contoh yang lain.
Terakhir diperbaharui: Monday, 17 March 2025, 19:23