4.6 Makna Afektif dan Reflektif
Makna afektif adalah istilah yang dipakai untuk jenis makna, seringkali secara eksplisit diwujudkan dalam kandungan konseptual atau konotatif dari kata-kata yang dipergunakan (Leech, 2003). Kita bisa melihat bahwa bahasa juga dapat mencerminkan perasaan pribadi penutur, termasuk sikapnya terhadap pendengarnya, atau sikapnya mengenai sesuatu yang dikatakannya.
Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara pemakai bahasa secara pribadi, baik terhadap lawan maupun terhadap objek yang dibicarakan. Makna afektif lebih terasa secara lisan daripada secara tertulis (Chaer, 2009). Makna afektif sebagian besar termasuk kategori parasit dalam arti bahwa untuk mengungkapkan emosi, kita menggunakan perantara kategori makna yang lain konseptual, konotatif, atau stilistik. Ungkapan emosional melalui gaya misalnya saja terlontar jika kita menggunakan nada tidak sopan untuk mengungkapkan ketidaksenangan. Di samping itu ada unsur-unsur bahasa yang fungsinya adalah adalah
mengungkapkan emosi. Jika kita menggunakan ini, kita mengkomunikasikan perasaan dan sikap tanpa perantara fungsi semantik yang lain (Leech, 2003).
Makna afektif akan bisa mendeteksi kebohongan dengan cara pengungkapan emosi berlebihan pada suatu hal. Karena penutur menggunakan kata yang berdampak pada penguatan makna kata untuk menggambarkan tingkat emosi penutur terhadap sebuah persoalan. Dengan demikian, penggunaan kata yang berlebihan dan cenderung mengusung emosi berlebih, maka penggunaan kata tersebut mencerminkan kebohongan penutur dalam setiap tuturannya.
Berikut contoh analisis makna afektif pada teks percakapan Nazarudin dalam kasus wisma atlet dan hambalang oleh Amilia (Amilia, 2013).
Saya benar-benar memang di luar negeri, saya tidak di Indonesia, saya akan pulang ke Indonesia asalkan KPK menangkap dalang ...
Pada teks tersebut, syarat yang diinginkan penutur adalah menangkap dalang. Kata menangkap berarti memegang atau menahan penjahat, sedangkan dalang berarti orang yang merencanakan, mengatur, memimpin kejadian-kejadian dan kondisi atau peristiwa tertentu, terkait dengan fakta yang akan disampaikan oleh N dalam kasus Wisma Atlet dan Hambalang. N menggunakan klausa menangkap dalang menunjukkan bahwa N merupakan bagian dari wayang atau anggota yang mengetahui rencana, aturan yang ditetapkan oleh dalang. Selain itu menunjukkan bahwa yang bertanggung jawab atas semua kejadian itu adalah dalang, karena wayang hanya mengerjakan dan melakukan semua perintah yang sudah ada.
Analisis makna afektif akan lebih jelas dengan menggunakan medan dan komponen makna. Namun, karena kalia belum memelajari medan dan komponen makna, akan disajikan secara ringkas. Berikut analisis klausa menangkap dalang melalui medan dan komponen makna.
Table 1 Analisis Medan Makna Menangkap Dalang
|
Medan makna |
Menangkap dalang |
|
Menahan penjahat |
+ |
|
Menangkap dan menahan pemimpin |
+ |
|
Menangkap dan menahan perencana |
+ |
|
Menangkap dan menahan pemberontak |
- |
|
Menangkap pemain wayang |
- |
|
Menahan |
+ |
|
Menghukum |
+ |
|
Mengadili |
+ |
Dengan demikian, menangkap dalang berarti menangkap, menahan, mengadili, menghukum orang yang merencakan, mengatur dan memimpin dalam kasus Wisma Atlet dan Hambalang. Akan berbeda apabila diganti dengan menangkap (menyebut nama orang), menangkap penjahat, dan lainnya.
Berbeda dengan makna afektif, makna reflektif merupakan kebalikan dari makna afektif. Makna reflektif adalah makna yang timbul dalam hal makna konseptual ganda, jika suatu pengertian dari suatu kata pada pemakaiannya secara otomatis memunculkan sebagian respons kita terhadap pengertian lain. Makna ini sering juga dipahami sebagai sugesti yang terdapat pada suatu pemakaian bahasa (Leech, 2003).
Makna reflektif, arti yang menimbulkan refleks secara spontan apabila mendengar atau membaca kata-kata itu. Dulu kata “kemaluan” mengandung arti, menderita malu. Sama halnya kata “kehujanan”,”kesakitan”,”kemiskinan” itu berarti menderita. Kini kata kemaluan sudah mengandung arti reflektif yaitu alat vital. Sama halnya kata “babi” bagi umat Islam mengandung arti reflektif, yaitu haram, najis.
Dalam menentukan makna reflektif, kita harus mampu untuk dapat berpikir kritis. Berpikir kristis yang dimaksud adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Berikut adalah contoh-contoh kemampuan berpikir kritis, misalnya (1) membanding dan membedakan, (2) membuat kategori, (2) meneliti bagian-bagian kecil dan keseluruhan, (3) menerangkan sebab, (4) membuat sekuen / urutan, (5) menentukan sumber yang dipercayai, dan (6) membuat ramalan.
Dalam penelitian ini, makna reflektif akan dikaitkan dengan kemampuan berpikir untuk menerangkan sebab, membandingkan dan membedakan. Dengan kemampuan berpikir kritis ini, maka kata yang diproduksi petutur akan diketahui posisi dan emosi yang terkandung dalam pemilihan kata yang dipakai dalam tuturan.
Dengan demikian, makna reflektif merupakan reaksi spontan terhadap kata yang digunakan penutur untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Reaksi yang berlebihan melalui pemilihan kata untuk menimbulkan makna tertentu, juga akan mengindikasikan kebohongan seseorang dalam bertutur.
Analisis makna reflektif dalam kasus wisma atlet dan hambalang juga dapat dilihat pada contoh analisis berikut ini (Amilia, 2013).
Jika semua yang dituduhkan itu terbukti, saya bersedia digantung di Monas
Kalimat tersebut diucapkan oleh petutur ketika diwawancarai di TV. Kata semua dapat bermakna semua fakta yang diungkap penutur bahwa dalang dalam kasus Wisma Atlet dan Hambalang adalah petutur merupakan ketidakbenaran dan kesalahan. Karena kata semua mengacu pada semua tuduhan yang ditujukan kepadanya. Namun, petutur ingin menyampaikan bahwa dirinya tidak bersalah dan tidak terlibat dalam kasus yang dituduhkan N.
Dengan menggunakan klausa saya bersedia digantung di Monas menunjukkan bahwa t siap menanggung resiko terbesar dengan bersedia digantung di Monas. Karena klausa digantung di Monas berarti sama saja dengan mau menerima hukuman mati.
Analisis reflektif juga akan lebih baik jika menggunakan analisis medan dan komponen makna. Setelah memelajari medan dan komponen makna pada bab selanjutnya, kalian akan benar-benar mampu melakukan kajian makna dengan baik. Namun, ada baiknya, kalian mencari teks percapakan yang bisa dianalisis melalui makna afektif dan reflektif.