5.5 Pendekatan dalam Memahami Makna

Alston menyebutkan ada tiga pendekatan dalam teori makna yang masing- masing memiliki dasar pusat pandang berbeda-beda. Tiga bentuk pendekatan tersebut adalah pendekatan referensial, ideasional, dan behavioral (Aminudin, 2003).

Dalam pendekatan referensial, makna diartikan sebagai label yang berada dalam kesadaran manusia untuk menunjuk dunia luar. Pendekatan referensial merujuk pada segitiga makna seperti yang dikemukakan oleh Ogden dan Richards. Dalam pendekatan ini makna merupakan hubungan antara reference dan referent yang dinyatakan lewat simbol bunyi bahasa. Reference ditempatkan dalam hubungan kausal dengan simbol dan referen, sedangkan antara simbol dengan referen tidak memiliki hubungan langsung.

Dengan demikian dapat dinyatakan jika makna sebuah ujaran adalah referennya, maka ujaran yang mempunyai makna pasti mempunyai referen. Jika dua ujaran mempunyai referen yang sama, maka ujaran itu mempunyai makna yang sama pula. Apa saja yang benar dari referen sebuah ujaran adalah benar untuk maknanya (Parera, 2004).

Dalam pendekatan ideasional, makna adalah gambaran gagasan dari suatu bentuk kebahasaan yang bersifat arbitrer tetapi memiliki konvensi sehingga dapat saling dimengerti. Pendekatan ini tentu saja bertentangan dengan pendekatan referensial. Melalui pendekatan ini dimungkinkan munculnya kata yang tidak akan dijumpai referennya di dunia nyata. Misalnya “kuda terbang” dan “naga api”, kedua frase tersebut adalah suatu citra idea penuturnya walaupun secara real tidak ada.

Jika pendekatan referensial lebih menekankan pada fakta sebagai objek kesadaran pengamatan, dan pendekatan ideasional lebih menekankan pada keberadaan bahasa sebagai media penyampai informasi, pendekatan behavioral lebih menekankan pada konteks sosial situasional yang diabaikan oleh pendekatan referensial dan ideasional.

Penentuan makna harus bertolak dari berbagai kondisi dan situasi yang melatari kemunculannya. Ujaran yang berbunyi masuk! misalnya, dapat berarti “di dalam garis” bila muncul misalnya dalam permainan bulu tangkis atau bola voli, “silakan ke dalam” bagi tamu, “hadir” bagi mahasiswa, dan sebagainya. Pendekatan behavioral seolah mengisyaratkan bahwa sebuah kata atau simbol ujaran tidak mempunyai makna jika ia terlepas dari konteks situasi.

Meskipun tampak sangat bertentangan, jika ditarik benang merah sebenarnya ada keterkaitan antara ketiga pendekatan di atas. Pendekatan pertama mengaitkan makna dengan nilai serta proses berpikir manusia dalam memahami realitas lewat bahasa secara benar. Pendekatan kedua mengaitkan makna dengan kegiatan menyusun dan menyampaikan


gagasan lewat bahasa. Pendekatan ketiga mengaitkan makna dengan fakta pemakaian bahasa dalam konteks sosial situasional. Oleh sebab itulah, Hilman menggunakan istilah three levels of meaning untuk tiga pendekatan tersebut (Aminudin, 2001).

Selain tiga pendekatan di atas, dalam pembahasan ini kami ketengahkan satu pendekatan lagi yang dikemukakan oleh Wittgenstein, yakni, pendekatan makna secara operasional. Wittgenstein bahwa kata tidak mungkin dipakai dan bermakna untuk semua konteks karena konteks itu selalu berubah dari waktu ke waktu. Makna tidak mantap di luar kerangka pemakaiannya (Parera, 2004). Pendekatatan operasional merupakan pendekatan yang dapat menentukan tepatnya sebuah kata di dalam kalimat (Djajasudarma, 1999).
Last modified: Thursday, 24 April 2025, 2:41 PM