9.4 Contoh Kajian Perubahan Makna
Berikut contoh penelitian perubahan makna yang dilakukan oleh Putra dengan judul Perubahan Makna dalam Wacana Humor Cak Lontong (Putra, 2015). Ia menemukan 7
(tujuh) perubahan makna meliputi generalisasi, spesialisasi, ameliorasi, peyorasi, sinestesia, asosiasi, dan metafora. Berikut contoh analisis perubahan makna dalam wacana humor Cak Lontong.
1) Perubahan Makna Generalisasi Teks 1,
“Jumpa lagi lagi-lagi kita berjumpa dengan saya cak lontong salam lemper, saudara- saudaraku yang lemper saya ingatkan sebelumnya saya disini tidak akan membuat Anda tertawa terbahak-bahak terus-menerus, terpingkal-pingkal tapi tidak ada kesan dan hilang begitu saja” (video ke- 2).
Frase “saudara-saudaraku” merupakan frase nomina yang telah mengalami perubahan makna generalisasi atau perluasan makna, frase saudara-saudaraku diambil dari kata dasar saudara yang mempunyai makna lama sebagai keluarga sekandung atau anak-anak sekandung, sedarah, seorang tua. Dalam kalimat tersebut makna kata tersebut berubah meluas dengan makna baru semua orang yang sederajat, seumur, atau sekedudukan. Cak Lontong menyebutkan saudara-saudaraku teruntuk para penonton yang hadir dalam acara stand up comedy bermaksud untuk menyapa, jadi frase saudara-saudaraku adalah sapaan untuk para penonton.
2) Perubahan Makna Spesialisasi Teks 2,
“Saya seneng berada di depan orang seperti Anda ini orang-orang sarjana, walaupun wajah Anda tidak menunjukkan itu tapi saya yakin Anda ini pintar” (video ke-9).
Kata sarjana tersebut telah mengalami perubahan makna spesialisasi atau penyempitan makna. Kata sarjana memiliki makna lama yaitu cendikiawan atau orang-orang yang pintar. Tetapi pada zaman sekarang kata tersebut telah berubah menjadi sebutan bagi lulusan dari perguruan tinggi atau gelar universitas. Dalam kalimat tersebut Cak Lontong memberikan sebutan sarjana bagi penonton.
3) Perubahan Makna Ameliorasi Teks 3,
“Tapi koesplus adalah band yang kuat karakternya gak seperti anak jaman sekarang yang gampang galau, koesplus kuat “apa susahnya jadi bujangan setiap hari hanya bernyanyi tak pernah hatinya bersedih” gak galau “hati senang walaupun tak punya uang” itu dulu
Kata bujangan tersebut telah mengalami perubahan makna ameliorasi atau peningkatan makna. Kata bujangan memiliki makna seorang laki-laki yang masih lajang atau belum menikah, kata tersebut mengalami peningkatan makna karena dirasakan lebih pantas
didengarkan daripada kata lajang. Pada kalimat tersebut Cak Lontong menyanyikan lagu band Koesplus yang menceritakan bahwa seorang bujangan yang setiap hari tak pernah bersedih.
4) Perubahan Makna Peyorasi Teks 4,
“Ada cerita sedikit Anda bisa menentukan saya penakut atau tidak, kampung saya ada sekitar seratus kepala keluarga jam satu malem diserbu sama gerombolan geng motor, kaca-kaca rumah dipecah, namanya ketua RW lari ketua RT lari ketua keluarga lari, saya yang wakil ketua gak lari karena saya wakil ketua gerombolan tadi” (video ke-7).
Frase Gerombolan geng motor merupakan frase nomina yang telah mengalami perubahan makna peyorasi atau penurunan makna karena kata gerombolan pada frase tersebut jika didengarkan lebih kasar daripada kata kelompok, kata tersebut mengalami penurunan nilainya daripada makna yang semula atau lama. Pada kalimat tersebut kata gerombolan dimaksudkan untuk memberikan penjelasan sebuah kelompok geng motor yang merusak rumah-rumah warga, Cak Lontong mengatakan ketua RW, RT, dan ketua keluarga lari ketakutan sedangkan ia sebagai wakil ketua tidak lari ketakutan karena ia adalah wakil ketua gerombolan geng motor tersebut.
5) Perubahan Makna Sinestesia Teks 4
“Dan malam ini doa manis Anda dan harapan saya terkabul. Dan terus terang ketika Anda tahu semua yakin, Andi Malarangeng mengumumkan mengundurkan diri jadi menteri menpora ya kan?” (video ke-9).
Frase doa manis merupakan frase nomina yang telah mengalami perubahan makna sinestesia atau pertukaran tanggapan dua indera karena kata “manis” pada frase tersebut jika dihubungkan dengan indera termasuk indera pengecap, tapi kata manis pada frase tersebut mengalami perubahan makna yang memiliki makna baru sebagai doa penuh harapan dan doa yang telah dikabulkan oleh Tuhan. Pertukaran tanggapan indera pada kata tersebut adalah tanggapan indera penglihatan dengan indera perasa.
6) Perubahan Makna Asosiasi Teks 6
“Karena saya belum yakin terjun di dunia politik maka saya matikan hp, saya tidak sombong walaupun sedikit songong tapi yang perlu Anda tahu saya pernah duduk di kabinet dua kali, tepatnya kabinet negeri impian” (video ke-9).
Kata duduk merupakan kata verba yang telah mengalami perubahan makna asosiasi atau persamaan makna, kata duduk memiliki makna lama yaitu meletakkan tubuh atau terletak tubuhnya dengan bertumpu pada pantat. Pada kalimat tersebut kata duduk memiliki makna baru yaitu menempati jabatan atau menjabat, hal ini terjadi karena adanya persamaan sifat kata duduk yang diartikan sebagai menempati jabatan tertentu, sehingga makna baru yang dihasilkan berasal dari persamaan sifat.
7) Perubahan Makna Metafora Teks 7,
“Cinta menurut wanita dan pria beda, patah cinta bagi wanita adalah kehancuran, tapi patah cinta bagi seoarang pria adalah pengalaman” (video ke-1).
Frase patah cinta merupakan frase adjektiva yang telah mengalami perubahan makna metafora, frase patah cinta merupakan sebuah kiasan yang digunakan untuk menggambarkan perasaan sedih dalam percintaan atau kegagalan dalam hal percintaan. Pada kalimat tersebut frase patah cinta dibaratkan untuk wanita adalah sebuah kehancuran sedangkan bagi pria adalah sebuah pengalaman berharga. Jadi kata tersebut telah mengalami perubahan makna metafora karena menajdi kiasaan dari rasa sedih kegagalan percintaan.
1) Contoh Analisis Perubahan dalam Peribahasa
Contoh lainnya juga terdapat pada artikel berikut ini (Retti, 2014). Ia mengaji bentuk dan makna peribahasa. Ia menemukan beberapa bentuk perubahan makna dalam peribahasa. Temuan dalam penelitiannya adalah sebagai berikut.
1) Perubahan Makna dari Bahasa Daerah ke dalam Bahasa Indonesia
Bahasa yang berkembang sejalan dengan bahasa Indonesia selain bahasa daerah, terdapat pula bahasa asing. Peribahasa bercitra hewan yang faktor perubahan maknanya adalah perubahan makna dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu contoh peribahasanya adalah umpama anjing makan muntahnya. Maknanya adalah orang yang tamak. Faktor perubahan metafora bercitra anjing menggambarkan seseorang yang tamak dengan sesuatu bentuk apapun.
2) Perubahan Makna Akibat Lingkungan
Lingkungan masyarakat dapat meyebabkan perubahan makna suatu kata. Kata yang dipakai di dalam lingkungan tertentu belum tentu sama maknanya dengan kata yang dipakai di lingkungan lain. Peribahasa bercitra hewan yang faktor perubahan maknanya adalah perubahan makna akibat lingkungan. Salah satu contohnya adalah anjing diberi makan nasi, tidak akan kenyang. Maknanya adalah sia-sia memberi nasehat yang baik kepada orang jahat.
Faktor perubahan metafora bercitra anjing menggambarkan percuma memberikan nasehat berbentuk apapun kepada orang yang jahat.
3) Perubahan Makna Akibat Pertukaran Tanggapan Indera
Sinestesia adalah istilah yang digunakan untuk perubahan makna akibat pertukaran indera (sinestesi/sun = sama dimakna akibat pertukaran tanggapan indera). Kata sinestesi berasal dari kata Yunani sun (sama) ditambah aisthetikos (nampak). Pertukaran indera yang dimaksud, misalnya antara indera pendengar dengan indera penglihat, indera perasa dengan indera penglihat. Peribahasa bercitra hewan yang faktor perubahan maknanya adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan indera. Salah satu contoh peribahasanya adalah anjing galak, babi berani. Maknanya adalah sama-sama memiliki kekuatan. Faktor perubahan makna metafora bercitra anjing menggambarkan manusia yang memiliki kekuatan sama kuat.
4) Perubahan Makna Akibat Gabungan Kata
Perubahan makna dapat terjadi sebagai akibat gabungan kata. Peribahasa bercitra hewan yang faktor perubahan maknanya adalah perubahan makna akibat gabungan kata. Salah satu peribahasanya adalah melepaskan anjing tersepit. Maknanya adalah menolong orang yang tiada tahu balas budi. Faktor perubahan makna metafora bercitra anjing menggambarkan manusia yang tidak tahu balas kasih.
5) Perubahan Makna Akibat Tanggapan Pemakai Bahasa
Makna kata dapat mengali perubahan akibat tanggapan pemakai bahasa. Perubahan tersebut cenderung ke hal-hal yang menyenangkan atau ke ha-hal yang sebaliknya, tidak menyenangkan. Kata yang cenderung maknanya ke arah yang baik disebut ameloratif, sedangkan yang cenderung ke hal-hal yang tidak menyenangkan (negatif) disebut peyoratif. Peribahasa bercitra hewan yang faktor perubahan maknanya adalah perubahan makna akibat tanggapan pemakai bahasa. Salah satu contoh peribahasanya adalah bagai disalak anjing bertuah. Maknanya adalah anak yang tidak dapat ditolak permintaan atau kehendaknya. Faktor perubahan makna metafora bercitra anjing menggambarkan seseorang manusia yang harus dituruti permintaannya.
6) Perubahan Makna Akibat Asosiasi
Asosiasi adalah hubungan antara makna asli (makna di dalam lingkungan tempat tumbuh semula kata yang bersangkutan) dengan makna yang baru (makna di dalam lingkungan kata itu dipindahkan ke dalam pemakaian bahasa). Peribahasa bercitra hewan yang faktor perubahan maknanya adalah perubahan makna dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu contoh peribahasanya adalah anjing menyalak, khalifah berlalu.
Maknanya adalah tiada mengacukan rintangan, jalan terus. Faktor perubahan makna metafora bercitra anjing menggambarkan seseorang yang tidak mempedulikan berbagai rintangan yang akan dilaluinya.
2) Contoh Perubahan Makna dilihat dari Nilai Rasa
Penelitian yang dilakukan oleh Lestari dengan judul Disfemia dalam Rubrik Bola Nasional pada tabloid Bola (Lestari, 2013). Berikut analisis perubahan makna disfemia dilihat dari nilai rasa.
1) Bernilai Rasa Mengerikan
Nilai rasa mengerikan adalah nilai rasa yang menggambarkan tentang hal-hal yang mengerikan dan tidak layak dilakukan oleh manusia sehingga menimbulkan rasa takut. Contoh penggunaan disfemia dengan bentuk kebahasaan berupa kata asal bernilai rasa mengerikan yang ditemukan dalam Rubrik Bola Nasional pada Tabloid Bola adalah sebagai berikut.
(1) Dzumafo mesti tampil garang untuk merebut poin yang sudah tercecer di Bandung.
(2) Ali tak hanya kuat dalam penguasaan bola, umpan-umpan akuratnya akan memanjakan barisan depan kami yang mandul di tiga pertandingan sebelumnya.
(3) Partai antara Gresik United melawan Sriwijaya FC merupakan duel tim terluka. Kata garang pada kalimat (1) merupakan bentuk disfemia dari kata bersemangat.
Dilihat dari nilai rasanya kata garang mempunyai nilai rasa lebih kasar daripada bersemangat terlebih untuk konteks manusia. Pemilihan kata bersemangat sebagai bentuk lain dari bentuk disfemia garang didasarkan pada persamaan makna kedua kata tersebut, yaitu sifat suka menyerang pada sesuatu hal atau situasi yang bersifat mengecewakan, menghalangi, ataupun menghambat, sedangkan kata garang mempunyai makna pemarah lagi bengis; galak; ganas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Kata mandul pada kalimat (2) merupakan bentuk disfemia dari kata tidak bisa mencetak gol, dilihat dari nilai rasanya kata mandul mempunyai nilai rasa lebih kasar karena biasanya digunakan dalam konteks manusia yang tidak bisa memiliki anak atau keturunan (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007) Kata mandul dalam kalimat (2) digunakan untuk menekankan penguasaan bola oleh Ali apalagi umpan-umpan akurat pada barisan depan.
Kata duel pada kalimat (3) merupakan bentuk disfemia dari kata pertandingan, dilihat dari nilai rasa yang terdapat dalam kalimat kata duel memiliki nilai rasa yang lebih kasar daripada kata pertandingan, biasanya kata duel digunakan pada pertandingan adu panco. Duel
memiliki definisi perkelahian antara dua orang untuk menyelesaikan permasalahan atau persoalan (dengan pedang atau pistol, di tempat dan pada waktu yang telah ditetapkan); pedang tanding (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007).
2) Bernilai Rasa Menyeramkan
Nilai rasa menyeramkan adalah nilai rasa yang menggambarkan tentang suatu hal, suasana atau keadaan yang menyeramkan sehingga menegakkan bulu roma, di bawah ini disajikan contoh disfemia dengan bentuk kebahasaan berupa kata asal yang bernilai rasa menyeramkan.
(4) Pukulan telak ini jika tak cepat direhabilitasi akan berimbas pada mental Agus Indra dkk, saat bertemu Persija.
Dalam konteks kalimat (4) kata telak merupakan bentuk lain dari kata kekalahan. Kata telak dan kata kekalahan keduanya merupakan jenis kata kerja, jika dilihat dari nilai rasanya kedua kata tersebut mempunyai nilai rasa yang berbeda. Kata telak mempunyai nilai rasa yang lebih kasar daripada kekalahan, sedangkan kekalahan mempunyai nilai rasa lebih netral. Kata telak mempunyai makna kata benar: tepat (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007), sedangkan kata kekalahan mempunyai makna perihal kalah (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007)
Kata telak dalam kalimat di atas digunakan untuk menunjukkan mental seseorang yang sedang menurun, kata telak mempunyai nilai rasa yang lebih keras karena menggambarkan hal yang menyeramkan dilakukan pada manusia, kata telak lebih tepat digunakan pada konteks kekerasan.
b) Bernilai Rasa Menakutkan
Nilai rasa menakutkan adalah nilai rasa yang menggambarkan halhal yang berhubungan dengan makhluk halus atau makhluk gaib seperti jin, setan, genderuwo, dan sejenisnya. Selain itu nilai rasa menakutkan juga ditimbulkan oleh hal-hal yang berhubungan dengan binatang buas sehingga menimbulkan rasa takut bagi manusia karena dapat menyerang atau melukai. Penggunaan disfemia dengan bentuk kebahasaan berupa kata asal yang memiliki nilai rasa menakutkan terlihat dari contoh di bawah ini.
(5) Punggawa Garuda dipaksa berangkat untuk menyelamatkan muka PSSI di Yordania.
(6) Nus juga mengakui Danilo Fernando sempat kewalahan menahan gempuran
PSBK.
(7) Persiwa selalu diremehkan di awal musim karena tak memiliki pemainpemain bintang. Namun, suara-suara miring kami bungkam dengan prestasi di akhir musim.
Dalam konteks kalimat (5) kata muka merupakan bentuk disfemia dari kata kedudukan, dilihat dari nilai rasanya kata kedudukan memiliki nilai rasa yang lebih netral dibandingkan dengan kata muka, kata muka merupakan bagian depan kepala, dari dahi atas sampai ke dagu dan antara telinga yang satu dan telinga yang lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007). Dalam kontek kalimat (5) memiliki makna yaitu mempertahankan kedudukan PSSI di Yordania.
Dalam konteks kalimat (6) kata gempuran merupakan bentuk disfemia dari kata serangan, dilihat dari nilai rasanya kata serangan memiliki nilai rasa yang lebih netral dibandingkan dengan kata gempuran, kata gempuran biasanya digunakan untuk suatu peristiwa peperangan atau pengeboman tindak kejahatan, tetapi pada kontek kalimat (6) kata gempuran dimaksudkan untuk menunjukkan serangan PSBK terhadap Danilo Fernando dalam tim kesebelasan.
Dalam konteks kalimat (7) kata bungkam merupakan bentuk lain dari kata buktikan, kata bungkam dan kata buktikan keduanya sama-sama berjenis kata kerja, jika dilihat dari nilai rasanya kedua kata tersebut mempunyai nilai rasa yang berbeda. Kata bungkam mempunyai nilai rasa lebih menakutkan daripada kata buktikan yang mempunyai nilai rasa lebih netral. Kata bungkam mempunyai makna tertutup (tutup mulut, tidak bersuara) (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007), sedangkan kata buktikan mempunyai makna sesuatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa: keterangan nyata; tanda (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007). Kata bungkam dalam kalimat (7) digunakan untuk menekankan suatu prestasi yang dibuktikan diakhir musim dan biasanya kata bungkam menggambarkan hal yang menakutkan dan tidak lazim, biasanya digunakan pada konteks kejahatan.
c) Bernilai Rasa Menjijikkan
Nilai rasa menjijikkan adalah nilai rasa yang menggambarkan suatu keadaan yang jorok atau dapat menimbulkan perasaan jijik seperti kotoran dan penyakit. Contoh penggunaan disfemia dengan bentuk kebahasaan berupa kata asal yang bernilai rasa menjijikkan tampak dalam kalimat dibawah ini.
(8) Jajang Mulyana, tampil agresif untuk selalu memenangkan Mitra Kukar di Kandangnya.
Dalam kontek kalimat (8) kata agresif merupakan disfemia dari kata tampil penuh semangat, jika dilihat dari nilai rasanya kedua kata tersebut memiliki nilai rasa yang berbeda.
Kata agresif memiliki makna bersifat atau bernafsu menyerang; Psi cenderung (ingin) menyerang sesuatu yang dipandang sebagai hal atau situasi yang mengecewakan, menghalangi, atau menghambat (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007). Menurut konteks kalimat di atas maknanya adalah tampil penuh semangat untuk memenangkan tiap pertandingan Mitra Kukar.
d) Bernilai Rasa Menguatkan untuk Menunjukkan Kekasaran
Rasa menguatkan untuk menunjukkan kekasaran adalah nilai rasa yang digunakan untuk menunjukkan kebencian, kemarahan dan kekecewaan seseorang terhadap orang atau pihak lain. Pemakaian disfemia dalam hal ini menggunakan kata-kata yang bermakna kasar. Contoh penggunaan disfemia dengan bentuk kebahasaan berupa kata asal yang memiliki nilai rasa menguatkan untuk menunjukkan kekasaran terlihat dalam kalimat berikut.
(9) Optimisme itu memang ada karena pada laga kandang perdana awal bulan lalu mereka menundukkan P-MU 4-0.
(10) Mereka memiliki pemain yang kenyang pengalaman, sementara tim kami banyak dihuni pemain muda, tuturnya.
Kata menundukkan dalam konteks kalimat (9) merupakan bentuk disfemia dari kata mengalahkan, kata menundukkan mempunyai makna menjadi menunduk (kepala); merundukkan kepala; mengarahkan (pandangan muka,dsb) ke bawah (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007). Tetapi, kata menundukkan biasa dipakai untuk konteks kalimat di atas yaitu untuk menunjukkan hasil yang bagus karena telah mengalahkan P-MU pada laga kandang perdana.
Kata kenyang dalam konteks kalimat (10) merupakan bentuk disfemia dari kata banyak, kata kenyang mempunyai makna sudah puas makan; sudah penuh perutnya: berisi (bermuatan) hingga penuh (Kamus Besar Bahasa Indonesia IV, 2007). Dalam konteks kalimat (10) kata kenyang memiliki makna yaitu Tim yang mempunyai pemain-pemain yang banyak pemain muda yang sudah berpengalaman dalam bertanding.