11.3 Kategori Verbal

Chaer (2009:154-162) mengemukakan, "Leksem-leksem verbal dalam Bahasa Indonesia secara semantik dapat ditandai dengan mengajukan tiga macam pertanyaan terhadap subjek tempat "verba" menjadi predikat klausanya. 
1.
Apa yag dilakukan subjek dalam klausa tersebut, 
2.
Apa yang terjadi terhadap subjek dalam klausa tersebut, 
3. Bagaimana keadaan subjek dalam klausa tersebut. 
Misalnya: 
a). Dika menendang bola 

b). Gunung itu longsor 

c). Nita Lelah 

Pertanyaan (1) diajukan pada kalimat pertama kita akan memperoleh
jawaban menendang; kalua pertanyaan kedua diajukan pada kalimat kedua kita memperoleh jawaban longsor dan kalua pertanyaan ketiga diajukan pada kalimat ketiga maka kita akan memperoleh jawaban letih. Dengan demikian kata-kata menendang, longsor, dan letih adalah kata-kata yang 
termasuk kategori verba. Lalu sesuai sesuai dengan macam pertanyaan yang diajukan, kata menendang termasuk verba tindakan, kata longsor termasuk verba proses, dan kata letih termasuk verba keadaan. Berdasarkan analisis semantik selanjutnya, dan sejalan dengan tampubolon (1979, 1988 a, 1988 b,) kita dapat membedakan adanya duabelas tipe verba yaitu: 
1. Tipe 
  Verba yang secara semantik menyatakan tindakan,perbuatan, atau aksi. Tampubolon menyebutkan kata kerja (KK) aksi; tetapi di sini disebut verba-tindakan, pelaku verba ini adalah sebuah nomina yang berciri makna [+ bernyawa]; dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut. Misalnya, kata makan dan baca pada kalimat ketika kami makan dia hanya baca koran saja. Contoh lain adalah mohon, jemput, mundur, usir, dan setor. Verba tipe 1 ini merupakan tipe yang terbanyak jumlahnya. Menurut penelitian Tampubolon (1979) ada sekitar 51,3% 
Ilustrasi perhatikan kalimat-kalimat berikut yang tidak terterima karena pelakunya secara semantis tidak cocok. 
- Kucing itu membaca komik 
- Kakak memagu kaki ibu 
2. Tipe II 
Adalah verba yang menyatakan tindakan dqn pengalaman, Pelaku verba ini adalah sebuah maujud berupa nomina berciri makna [+benyawa] dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut serta sekaligus dapat puIa sebagai maujud yang mengalami (secara kognitif, emosional, atau sensasional) tindakan yang dinyatakan oleh verba tersebut. Misalnya, leksem (me) naksir dan (men) jawab pada kalimat berikut: 
- Dia menaksir harga mobil bekas itu 
Pada kalimat pertama dia adalah maujud yang melakukan tindakan itu dan yang juga sekaligus mengalaminya. Hal yang sama terjadi pula pada kalimat kedua: beliau adalah pelaku dan yang mengalami tindakan itu. 
3. Tipe III 
 Adalah verba yang menyatakan tindakan dan pemidllikan (benafaktif). Pelaku verba ini adalah maujud berupa nomina berciri makna [+bernyawa] dan bertindak sebagai penggerak tindakan yang disebutkan oleh verba tersebut; sedangkan pemilik (bisa juga ketidak pemilikannya) juga berupa nomina berciri makna [+ bernyawa], Misalnya kata beli dan bamu dalam kalimat berikut: 
- Dika beli mobil dari pak fuad. 
- Pemerintah bantu para petani.
4. Tipe IV 
adalah verba yang menyatakan tindakan dan lokasi (tempat). Artinya tindakan yang dinyatakan oleh verba itu sekaligus "menyarankan" adanya lokasi ( tempat asal, tempat berada, maupun tempat tujuan). Pelaku tindakan berupa nomina berciri makna [+bernyawa] yang dapat mengalami tindakan itu sendiri maupun tidak. Sedangkan lokasi berupa sebuah frase preposisional. Misalnya kata pergi dan tiba pada kalimat berikut: 
- Nita pergi ke pasar 
- Beliau baru tiba dari Yogyakarta. 
5. Tipe V 
adalah verba yang menyatakan proses. Subjek dalam kalimat Ini berupa nomina umum yang mengalami proses perubahan keadaan atau kondisi. Misalnya, kata layu dan pecah pada kalimat berikut: 
- Daun tembakau Itu Iayu. 
- Kaca jendela rumah itu pecah. 
Ada tiga persoalan mengenai verba tipe ini(dan iuga . proses lainnya, tipe VI, tipe VIII). Ketiga persoalan itu adaIah: 
(1). Proses perubahan yang terjadi pada suaru maujud dapat berlangsung dalam waktu singkat, tetapi dapat juga dalam waktu yang relatif lama. Oleh karena itu, ada verba proses yang diberi keterangan "sedang" seperti pada sedang tumbuh, sedang terbit, dan sedang turun; tetapi ada pula yang tidak dapat diberi keterangan "sedang" seperti sedang pecah, sedang hancur dan sedang luka. 
(2) Sebenarnya suatu proses atau perubahan bukan hanya terjadi pada verba proses saja tetapi ternyata juga pada verba tidakan, sebab sesungguhnya suatu tindakan akan menyebabkan terjadinya suatu proses. Oleh karena itu, perlu dipertanyakan apa bedanya verba proses dengan verba tindakan. Pada verba proses subjek mengalami perubahan sesuai dengan pertanyaan "Apa yang terjadi pada subjek" sedangkan pada verba tindakan subjek itu melakukan suatu aksi, suatu tindakan atau suatu perbuatan, sesuai dengan pertanyaan "Apa yang dilakukan oleh subje".
 (3). Seringkali kita juga sukar untuk membedakan verba proses dengan verba keadaan (verba tipe IX, X, XI, dan XII) Umpamanya verba Iayu, kalau diuji dengan pertanyaan "Apa yang terjadi pada subjek? " maka jawabannya adalah subjek itu layu. Jelas Iayu di situ adalah verba keadaan.

6. Tipe VI 
Adalah verba yang menyatakan proses-pengalaman. subjek dalam kalimat ini berupa nomina bernyawa yang mengalami suatu proses perubahan yang dinyatakan oleh verba tersebut. Misalnya leksem bosan dan cemas pada kalimat berikut: 
- Rupanya kau sudah bosan padaku. 
- lbu cemas akan keselamatan anak-anak itu. 
7. Tipe VII 
Adalah verba yang menyatakan proses benafaktif subjek dalam kalimat yang menggunakan verba tipe VII ini berupa nomina yang mengalami suatu proses atau kejadian memperoleh atau kehilangan (kerugian). Misalnya leksem menang dan kalah pada kalimat berikut: 
- PSSI menang 2-O atas Singapura. 
- Dia kalah 2 juta rupiah. 
Menang dan kalah adalah verba proses benafaktif; sedangkan PSSI dan Dia adalah maujud yang mengalami peristiwa yang dinyatakan oleh verba tersebut. 
8. Tipe VIII 
Adalah verba yang menyatakan proses-lokatif. Subjek dalam alimat yang mempergunakan verba tipe VIII ini berupa nomina yang mengalami suatu proses perubahan tempat (lokasi). Misalnya leksem tiba dan terbit pada kalimat berikut: 
- Pesawat itu baru tiba dari Surabaya. 
- Matahari terbit di ufuk timur. 
Leksem tiba dan terbit pada kalimat tersebut adalah verba proses-lokatif, sedangkan leksem pesawat dan matahari adalah maujud yang mengalami proses perubahan lokasi itu. 
9. Tipe IX 
Adalah verba yang menyatakan keadaan. Subjek dalam kalimat yang menggunakan verba tipe IX berupa nomina umum yang berada dalam keadaan atau kondisi yang dinyatakan oleh verba tersebut. Misalnya Ieksem cerah dan kering pada kalimat berikut. 
- Wajah mereka selaIu cerah. 
- Sawah-sawah di situ mulai kering. 
Cerah dan kering pada kedua kalimat di atas adalah verba keadaan, sedangkan Ieksem waiah mereka dan sawah-sawah adalah maujud yang berada dalam keadaan itu
10. Tipe X 
Adalah verba yang menyatakan keadaan pengalaman. Subjek dalam kalimat yang menggunakan verba tipe X ini adalah sebuah nomina yang berada dalam keadaan kognisi, emosi, atau sensasi. Misalnya Ieksem takut dan tahu pada kalimat berikut. 
- Dia memang takut kepada orang itu. 
- Kami tahu hidup di kota memang sukar. 
Takut dan tahu pada kalimat di atas adalah verba keadaan pengalaman. Pada kalimat pertama subjek Dia yang mengalami keadaan yang disebutkan oleh predikat takut, pada kalimat kedua kami adalah subjek yang mengalami keadaan tahu itu. 
11. Tipe XI 
Adalah verba yang menyatakan keadaan benafaktif subjek dalam kalimat yang menggunakan verba tipe XI ini adalah sebuah nomina yang menyatakan memiliki, memperoleh, atau kehilangan sesuatu. Misalnya leksem punya dan ada pada kalimat. 
- la sudah punya istri.
- Dia ada uang lima juta. 
12. Tipe XII 
Adalah verba yang menyatakan keadaan-lokatif. Subjek pada kalimat yang menggunakan verba tipe XII ini adalah nomina yang berada dalam satu tempat atau lokasi. Misalnya leksem diam dan hadir dalam kalimat 
- Petani itu diam di gubuk itu. 
- Pak Menteri hadir di sana.
Terakhir diperbaharui: Saturday, 14 June 2025, 13:48