Lanjutan

1) Unsur yang tak dapat dipisahkan
Perhatikan kalimat berikut:

Gejet Hasan itu bermerek Apple.

Konstrukis gejet Hasan pada kalimat (1) masih dapat  disisipi unsur baru tanpa mengubah pengertian yang dimaksud  oleh konstruksi yang ada. Misalnya unsur milik atau  kepunyaan. Dengan demikian, dapat saja dikatakan:
1a) Gejet kepunyaan Hasan itu bermerek Apple.
(1b) Gejet miliki Hasan itu bermerek Apple.

Contoh yang sama kalimat:
(2) Olahraga lari memang telah menjadi bagian dari gaya
  hidup sehat orang Indonesia.
(2a)
Olahraga lari memang telah menjadi bagian dari  gaya untuk hidup sehat orang Indonesia.
(2b)
Olahraga lari memang telah menjadi bagian gaya  dari hidup sehat orang Indonesia.

Akan tetapi hal serupa tidak dapat dilakukan pada konstruksi babak belur

Misalnya:
(3) Pencuri mobil itu dipukuli hingga babak belur.
  Kalimat (3) tidak dapat diubah menjadi:

(3a) Pencuri mobil itu dipukuli hingga babak menjadi belur.
(3b) Pencuri mobil itu dipukuli hingga babak keadaan belur.

Model yang sama dengan no (3) yaitu konstruksi musim
paceklik

(4) Musim paceklik bakal terus hingga akhir Maret 2015.

Kalimat (4) tidak dapat diubah menjadi:

(4a) Musim tentang paceklik bakal terus hingga akhir Maret 2015.
(4b)
Musim yang paceklik bakal terus hingga akhir Maret 2015

Kalimat (3a), (3b), (4a) dan (4b) benar secara gramatikal.  Namun, kalimat (3a) dan (3b) itu tidak mendukung  sebagaimana kalimat asalnya yaitu kalimat (3), dan kalimat  (4a) dan (4b) tidak mendukung kalimat (4). Keadaan tidak mendukung itu dikemukakan dengan alasan, konteks situasi
atau rujukan yang dilambangkan oleh bentuk formal babak  belur dengan babak keadaan belur tidaklah sama, begitu pula  rujukan yang dimaksud oleh musim paceklik, berbeda dengan
musim yang paceklik.
  Setipe dengan labtob Hasan seperti pada kalimat (1)  dan kalimat (2) ditemukan juga konstruksi teknologi komunikasi, fasilitas wi-fi, industri digital, jasa internet,
pengguna internet, produk tangible ’kasat mata’; aspek  intangible ‘tidak kasat mata’

Contoh:

(5) Kebutuhan infrastruktur teknologi komunikasi saat ini sudah tak terelakkan.
(6) PT Telkom telah membangun empat ribu fasilitas Wi-Fi  dengan kecepatan 100 megabit per detik di seluruh Indonesia.

(7) Industri digital kini mengalami perkembangan sangat  pesat di Indonesia.
(8) Anak muda dan netizen berusia 14-34 tahun menjadi  konsumen jasa internet.

(9) Pengguna internet memiliki kebiasaan-kebiasaan  bertindak cerdas serta menyukai hal-hal praktis yang  mudah, serba cepat dan multifungsi.

(10) Daihatsu pada awalnya merupakan produk tangible yang kini meluas.

(11) Pemasaran Daihatsu melibatkan aspek intangible,  seperti merek dan layanan.

 2) Unsur Turunan (derivation)
Ditinjau sebagai sebuah kata, kata majemuk atau  komposisi dapat diderivasikan ke bentuk lain dengan menggunakan bentuk yang ada dan kemudian diberi afiks.  Derivasi di sini adalah membuat bentuk turunan dari kata yang  sudah ada dengan melalui proses afiksasi. Berdasarkan  ketentuan itu, konstruksi role model, latar belakang, naik  turun, jual beli, titik tekan, dapat diderivasikan dengan bentuk  afiks {me-kan} sebagaimana tampak pada kalimat (16), (17) dan (18) berikut ini:

(1)
Kita perlu merolemodelkan seorang presiden yang  berasal dari kalangan pengusaha.
(2)
Salam Dua Jari dan Salam Tiga jari  melatar belakangkan munculnya ungkapan Salam

Gigit Jari yang muncul beberapa hari setelah sidang  paripurna di Senayan, Jakarta, kamis dini hari, 2 Oktober 2014.

3. Penelusuran Kata Majemuk dan Idiom
Bagaimana melakukan penelusuran kata majemuk dan idiom yang terdapat di dalam bahasa Indonesia?  Kata majemuk diartikan sebagai: “hasil perpaduan dua  komponen kata yang memiliki makna, kata itu melambangkan ‘suatu rangkaian situasi tertentu’. Dengan alasan itu, sebuah
kata majemuk terbentuk melalui proses perpaduan dua unsur  kata yang bersifat morfologis, sedangkan sebuah frase yang  merupakan penggabungan kata yang bersifat sintaksis demikian
Kridalaksana (1987: 87). Berdasarkan hal tersebut, konstruksi  kata majemuk ialah konstruksi yang pembentukannya berbeda  dengan frasa.

Misalnya pusat jaringan adalah frase karena komponen  pusat dan jaringan masing-masing dapat diubah menjadi pusat  kota dan jaringan internet sehingga dapat diperoleh frase lain :
di pusat kota banyak terdapat jaringan internet,

contoh dalam kalimat:

Informasi beasiswa mudah diperoleh di pusat kota, karena banyak jaringan internet

Sama halnya dengan konstituen-konstituen seperti: pembaca  berita atau penggemar internet adalah frase karena komponen  itu masing-masing memiliki peluang untuk diperluas  bentuknya. Misalnya: pembaca berita menjadi pembaca  mengenai berita atau penggemar mengenai internet dalam  kalimat:

1. Pembaca yang cermat mengenai berita kenaikan  harga bahan bakar minyak akan menerima hal itu.
2.
Penggemar game lewat internet kian marak dikalangan anak-anak.

          Berlainan dengan konstituen itu, misalnya bentuk dunia maya, mesin pekata kunci, pintu gerbang, mesin pencar, umpan  balik, perangkat keras, perangkat lunak, ngobrol virtual, map
elektronik, disebut sebagai satuan bahasa dengan tipe  konstruksi yang tidak berstruktur sintaksis karena masing- masing komponennya tidak dapat diubah seperti komponen  frase dan tidak dapat diperluas seperti frase.  Fakta itu dipahami  bahwa: konstituen-konstituen pembentuk kata yang maknanya tidak secara langsung dapat ditelusuri melalui unsur-unsur  pembentuk kata itu disebut idiom.


Last modified: Tuesday, 21 June 2022, 3:53 PM