BAGIAN 2: Proses Admisi dan Persiapan Pra-Rawat Inap yang Komprehensif

Tahapan Admisi – Dari Poliklinik ke Bangsal
Proses admisi adalah "gerbang" pertama menuju perawatan inap. Ini adalah tahap yang sangat kritis karena kesalahan pada tahap ini (misalnya, informasi yang tidak lengkap tentang obat-obatan pasien) dapat menyebabkan komplikasi fatal. Proses admisi yang baik di unit rawat inap oftalmologi harus melalui langkah-langkah: (1) Verifikasi Identitas (nama, tanggal lahir, nomor rekam medis) – ini adalah salah satu "surgical safety checklist" utama WHO; (2) Anamnesis Ulang untuk memastikan tidak ada perubahan riwayat penyakit sejak kunjungan terakhir; (3) Pemeriksaan Fisik Lengkap, termasuk tanda-tanda vital dan sistem organ lain (jantung, paru, ginjal); dan (4) Penandatanganan Informed Consent untuk tindakan dan rawat inap, yang harus diperbaharui jika ada perubahan rencana terapi.

Anamnesis Mendalam – "Jangan Lewatkan Obat Pengencer Darah!"
Anamnesis adalah bagian paling penting dari persiapan pra-rawat inap. Sebagai spesialis mata, Anda harus secara khusus menggali riwayat penggunaan antikoagulan dan antiplatelet (misalnya, aspirin, clopidogrel, warfarin, dabigatran, rivaroxaban, atau heparin). Penggunaan obat-obatan ini meningkatkan risiko perdarahan intraokular atau perdarahan retrobulbar yang fatal. Keputusan untuk menghentikan atau melanjutkan obat ini harus didiskusikan dengan ahli kardiologi atau internis yang merawat, karena risiko trombosis sistemik (misalnya, stent jantung) seringkali lebih besar daripada risiko perdarahan okular. Selain itu, tanyakan riwayat alergi (terutama terhadap anestesi, povidone-iodine, dan antibiotik), riwayat diabetes (kontrol gula darah), hipertensi, dan riwayat penyakit ginjal (untuk kontras atau obat-obatan nefrotoksik).

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sistemik
Pemeriksaan fisik sistemik sebelum admisi sangat penting, terutama untuk pasien lansia dan pasien dengan komorbiditas. Komponen kunci meliputi:

  1. Tanda-Tanda Vital: Tekanan darah, denyut nadi, respirasi, dan suhu. Hipertensi yang tidak terkontrol (TD > 180/110 mmHg) sering menjadi kontraindikasi relatif untuk operasi elektif.

  2. Pemeriksaan Kardiovaskular: Auskultasi jantung untuk menyingkirkan murmur atau aritmia. Pada pasien dengan riwayat penyakit jantung, konsultasi kardiologi sangat dianjurkan.

  3. Status Ginjal: Kreatinin serum dan laju filtrasi glomerulus (eGFR) harus diperiksa, terutama jika pasien akan menerima obat-obatan yang diekskresikan melalui ginjal (misalnya, asetazolamid, atau kontras untuk CT angiografi).

  4. Status Koagulasi: PT/APTT atau profil koagulasi jika pasien menggunakan antikoagulan atau ada riwayat perdarahan.

  5. Status Metabolik: Gula darah puasa atau HbA1c untuk pasien diabetes. Kadar gula darah harus stabil (misalnya, < 200 mg/dL) sebelum operasi elektif untuk mencegah komplikasi infeksi dan gangguan penyembuhan luka.

Evaluasi Anestesi – "Kunci Keberhasilan Operasi"
Konsultasi anestesi adalah komponen wajib untuk semua pasien rawat inap yang akan menjalani operasi di bawah anestesi umum (general anesthesia) atau sedasi dalam. Anestesiolog akan menilai ASA (American Society of Anesthesiologists) score untuk menentukan risiko anestesi. Pasien dengan ASA III (penyakit sistemik berat) atau ASA IV (penyakit sistemik yang mengancam jiwa) memerlukan persiapan khusus, seringkali di ICU atau ruang pemulihan khusus. Untuk operasi mata, anestesi topikal atau regional (retrobulbar/peribulbar/sub-Tenon) sering menjadi pilihan karena risiko sistemik yang lebih rendah. Namun, pada anak-anak, pasien dengan gangguan kecemasan berat, atau operasi yang panjang (misalnya, vitrektomi kompleks), anestesi umum masih menjadi pilihan utama. Komunikasi yang baik dengan tim anestesi tentang rencana operasi (durasi, posisi, dan kebutuhan khusus) sangat krusial.

Informed Consent untuk Rawat Inap dan Tindakan
Informed consent (persetujuan tindakan) tidak berhenti pada tanda tangan formulir di poliklinik. Proses admisi adalah momen untuk mengulang informed consent secara verbal dan tertulis, memastikan pasien memahami:

  • Diagnosis dan alasan rawat inap.

  • Rencana tindakan yang akan dilakukan (baik medis maupun bedah), termasuk alternatif terapi.

  • Risiko tindakan (perdarahan, infeksi, kebutaan, dan risiko anestesi).

  • Perkiraan biaya (penting di era BPJS dan asuransi swasta).

  • Hak pasien untuk menolak tindakan (informed refusal) setiap saat, bahkan setelah dimulainya prosedur.
    Dokumentasi informed consent yang lengkap di rekam medis adalah perlindungan hukum utama bagi Anda sebagai dokter.

Persiapan Fisik Pasien – Puasa, Kebersihan, dan Pra-Medikasi
Sebelum admisi ke bangsal, pasien harus diberikan instruksi persiapan fisik yang jelas:

  1. Puasa: Untuk pasien dengan anestesi umum atau sedasi, puasa 6-8 jam untuk makanan padat dan 2 jam untuk cairan jernih sangat penting untuk mencegah aspirasi.

  2. Kebersihan: Pasien diminta untuk membersihkan area sekitar mata dan wajah. Instruksikan untuk tidak memakai makeup, lotion, atau krim di sekitar mata pada hari operasi.

  3. Tetes Mata Pra-Operasi: Pada pasien glaukoma atau inflamasi, tetes antibiotik atau antiinflamasi sering dimulai 1-3 hari sebelum operasi (misalnya, tetes fluorokuinolon). Pastikan kepatuhan pasien terhadap jadwal ini.

  4. Pra-Medikasi: Pasien dengan kecemasan berat dapat diberikan sedasi ringan (misalnya, alprazolam) pada malam sebelum operasi, dengan persetujuan anestesi.

Tabel "Checklist Keselamatan" Pra-Admisi
Berikut adalah tabel checklist yang harus Anda periksa sebelum pasien memasuki bangsal rawat inap. Ini adalah "survival kit" untuk menghindari kesalahan dasar.

Tabel Checklist Pra-Admisi Rawat Inap Oftalmologi

No.Item PemeriksaanTindakan / Verifikasi
1Identitas PasienCocokkan nama, tanggal lahir, dan nomor RM.
2Informed ConsentPastikan tertanda tangan; jelaskan ulang risiko/m komplikasi.
3Obat-obatanCatat semua obat (termasuk OTC). Tanyakan antikoagulan & herbal.
4KonsultasiInternis / Kardiologi / Anestesi (jika perlu) sudah dilakukan.
5PuasaKonfirmasikan jam terakhir makan/minum.
6Tanda VitalTD < 160/100 mmHg, GDS < 200 mg/dL (untuk DM).
7LaboratoriumDarah rutin, GDS, kreatinin, PT/APTT (jika pakai antikoagulan).
8Riwayat AlergiTanyakan alergi obat (khususnya antibiotik & povidone).

Last modified: Saturday, 15 August 2026, 9:32 PM