14.3 Dasar Penyusunan Territory Management
Setiap perusahaan atau bisnis akan memiliki manajemen wilayah penjualan yang berbeda-beda, meski perusahaan tersebut bergerak dalam bidang bisnis yang sama.
Hal ini disebabkan adanya kepentingan dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga tiap perusahaan akan membuat strategi manajemen wilayah penjualan yang paling sesuai dengan arah bisnis perusahaan tersebut.
a. Business Strategy Strategi
bisnis perusahaan sangat menentukan pola atau metode pengelolaan wilayah
penjualan. Perusahaan yang menyasar segmen premium
(SES A+), bisa jadi memiliki metode sales territory management yang lebih
simple dibanding dengan produk yang menyasar segment umum atau rata-rata (SES
B, SES C). Perusahaan
dengan strategi masuk kepasar melalui pasar retail akan memiliki bentuk
manajemen territory yang berbeda dengan perusahaan yang memilih strategi
menggunakan saluran distribusi grosir atau agen. b. Working Load Working
load atau beban kerja dari tim penjualan juga harus menjadi dasar pertimbangan
dalam penyusunan sales territory management. Contoh
: Perusahaan
A, dan perusahaan B, sama-sama memiliki wilayah pemasaran dan penjualan yang
sama, dan kedua perusahaan juga bergerak dalam bisnis yang sama. Namun kedua perusahaan akan memiliki
bentuk manajemen wilayah penjualan yang berbeda manakala beban kerja tim
penjualan keduanya berbeda. Perusahaan
A, memiliki target kunjungan di suatu wilayah sebesar 2.200 outlet, sedangkan
perusahan B, memiliki target kunjungan 850 outlet di wilayah yang sama. Jika frekuensi kunjungan atau call
cycle 2/4 atau 2x per periode (bulan) dan target kunjungan per hari adalah 20
outlet kecuali sabtu yang hanya 10 outlet, agar target kunjungan outlet
tercapai maka perusahaan A membutuhkan tim penjualan yang lebih banyak, yaitu :
Jumlah team penjualan = 2.200 /
(((20×5)+10)x2) = 2.200 / 220 = 10 sales force Sedangkan perusahaan B membutuhkan
tim penjualan relatif lebih sedikit, yaitu : Jumlah team penjualan = 850 /
(((20×5)+10)x2) = 850 / 220 = 4 sales force (dibulatkan, artinya ada beberapa
team dengan target dibawah 20 atau 10 kunjungan per hari). c. Business Potential atau Market Potential Potensi
bisnis atau potensi pasar juga akan mempengaruhi bentuk atau model manajemen
wilayah penjualan. Sebuah
wilayah dengan luasan coverage yang sama, namun memiliki potensi pasar yang
berbeda, maka akan menimbulkan bentuk coverage yang berbeda juga. Hal yang
simple mengenai kebutuhan tim penjualan, semakin besar potensi sebuah area,
maka kebutuhan tim akan semakin besar juga. Demikian
juga dengan call cycle, semakain tinggi potensi bisnisnya atau potensi
pasarnya, biasanya call cycle akan semakin besar atau frekuensi juga akan
semakin besar. d. Area Coverage Luasan
area atau wilayah penjualan tentu harus menjadi pertimbangan penyusunan
territory management. Semakin luas
sebuah area atau wilayah pemasaran, tentu dibutuhkan jarak tempuh yang semakin
besar (panjang) untuk bisa meng-cover semua titik penjualan di area
tersebut. Semakin besar atau panjang jarak tempuh,
maka dibutuhkan model coverage yang berbeda dan atau kebutuhan team penjualan
yang semakin besar (banyak). e. Outlet Type Sebuah
wilayah penjualan akan memiliki beragam outlet, masing-masing outlet memiliki
karakteristik yang berbeda-beda, yang secara umum dibedakan menjadi grosir,
pengecer dan pengecer kecil, kemudian sektor modern dan tradisional, serta
berbagai jenis type outlet. Secara
umum ada lebih dari 120 jenis outlet yang terbagi atas 6 segment utama, yaitu : -. Saluran
modern (Modern
Trade) Hypermarket, Supermarket, Dept Store, Mini
Market, Shoping Mall, yang masing-masing terbagi lagi
dengan skala nasional, regional, lokal dan mandiri, multi level dan lainnya -. Saluran
tradisional (General Trade) Grosir
dan semi grosir, P & D, toko obat bebas, rokok dan permen, toko kelontong,
toko toiletris
dan toko camilan, toko AMDK, dan lainnya -. Saluran institusi Koperasi,
instansi, toko terminal, toko stasiun, sekolah, SPBU, airport, dan lainnya. -. Saluran
khusus (specialistis) Apotik
dan toko obat, horeca, toko ATK, toko bangunan, toko kaca, toko besi, toko
mainan, toko
kamera, toko souvenir dan boneka, toko eletronik, toko baju, toko optik, toko
HP dan lainnya. -. Saluran
arus bawah Saluran arus bawah terbagi atas pengecer tipe
2 (Ret-2) seperti toko los dalam pasar, toko lapak
dalam pasar, toko semi permanen dan pengecer tipe 3 (ret-3) seperti gerobak,
kaki lima, asongan
dan lainnya. -. Saluran
maya Toko
online, market place, sosial media, web / blog / portal, email marketing,
messenger, TV media,
smart card dan lainnya. f. Time Allocation Alokasi
waktu ini akan meliputi waktu untuk melakukan kunjungan dan administrasi, waktu
kunjungan masih terbagi lagi waktu yang digunakan untuk perjalanan, waktu untuk
menunggu, waktu untuk melakukan deal (perkenalan, cek stok, presentasi,
penutupan penjualan, dll), waktu untuk telpon (pre call) dan lain-lain.Beberapa
hal yang sering digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan untuk menyusun
manajemen wilayah penjualan, yaitu :