Soal dan Pembahasan 2
1. Penentuan Struktur Modal Optimum dengan Weighted Average Cost of Capital
Perusahaan dalam membiayai proyek investasinya bisa hanya menggunakan modal sendiri, sehingga cost of capital yang digunakan sebagai cut of rate sebesar biaya modal sendiri yang bersangkutan. Tetapi seringkali suatu proyek investasi tidak hanya menggunakan satu sumber dana, tetapi menggunakan berbagai sumber dana sekaligus. Misalnya selain menggunakan saham biasa, juga menggunakan saham preferen dan hutang.
Apabila perusahaan menggunakan kombinasi beberapa jenis sumber dana, maka cost of capital yang perlu diperhitungkan adalah keseluruhan biaya modal atau disebut sebagai weighted average cost of capital atau biaya modal rata-rata tertimbang.
Menghitung biaya modal
secara keseluruhan? Jawabnya adalah menghitung weighted average cost of capital atau
WACC dengan rumus:
wd, wp, ws didasarkan pada sasaran struktur modal (capital structure) perusahaan yang
dihitung dengan nilai pasar (market value)-nya. Setiap perusahaan harus memiliki suatu
struktur modal yang dapat meminimumkan biaya modal sehingga dapat memaksimumkan
harga saham.
Contoh:
Target struktur modal perusahaan adalah 30% hutang, 10% saham preferen dan 60% modal sendiri (yang seluruhnya berasal dari laba ditahan).
Biaya hutang adalah 12%, biaya saham preferen 12,6% dan biaya laba ditahan 16,5%, pajak diketahui sebesar 40%. Berapa struktur modal keseluruhannya?
Jawab:
WACC = wd x kd (1-T) + wp x kp + ws x ks
= 0,3 x (12%) (1-40%) + 0,1 x (12,6%) + 0,6 x (16,5%)
= 13,32%
2. Marginal Cost of Capital Schedule Skedul Marginal Cost of Capital (MCC)
adalah biaya memperoleh rupiah tambahan sebagai modal baru. Pada umumnya, biaya marginal modal akan meningkat sejalan dengan meningkatnya penggunaan modal.
Contoh:.
Suatu perusahaan membutuhkan modal baru sebanyak 500 juta. Struktur modal yang
hendak dicapai adalah 60% modal sendiri dari saham biasa atau laba ditahan (common equity),
30% hutang, dan 10% saham preferen. Tarif pajak adalah 40%. Biaya hutang sebelum pajak
adalah 14% dan biaya saham preferen 12,6%. Perusahaan berharap dapat menahan laba sebesar
100 juta. Biaya laba ditahan 16%, biaya saham biasa baru 16,8%. WACC jika menggunakan
laba ditahan?
Karena menggunakan saham biasa baru lebih mahal, perusahaan pada umumnya berusaha
menggunakan laba ditahan sebanyak mungkin. Jika kurang, baru digunakan saham biasa baru.
Pada contoh soal di atas, perusahaan menargetkan 60% modal sendiri dari saham biasa atau
laba ditahan (60% x Rp. 500.000.000 = Rp. 300.000.000). Sedangkan laba dtahan hanya 100
juta. Sehingga perusahaan harus menerbitkan saham biasa baru untuk memperoleh 200 juta.
Artinya sampai titik di mana modal sendiri diperoleh dari laba ditahan, WACC perusahaan
adalah 13,38%. Setelah melewati titik tersebut, kebutuhan modal sendiri harus dipenuhi dari
penjualan saham biasa baru sehingga WACC berubah menjadi 13,38%.
Artinya, pada saat dana baru yang diperoleh mencapai angka Rp. 166.666.666,7,
perusahaan telah menggunakan 60% dari 100 juta laba ditahan. Setelah angka ini, perusahaan
harus menerbitkan saham biasa baru.
Selain saham biasa baru dan laba ditahan, perusahaan juga dapat memanfaatkan depresiasi.
Depresiasi adalah suatu “noncash expense”, dianggap sebagai biaya tapi kita tidak kehilangan
sepeser pun uang kas kita. Artinya, depresiasi dicatat sebagai biaya tetapi uang untuk
“membayar” biaya tersebut tidak dari kas kita, tetapi ada dalam kas. Depresiasi biasanya
ditujukan untuk mengganti aktiva yang telah habis usianya. Tapi bagi perusahaan, depresiasi
ini merupakan arus kas yang dapat digunakan untuk investasi pada aktiva tetap perusahaan
(reinvestment atau investasi kembali). Dengan demikian, depresiasi dapat memperpanjang
break point atau menunda kenaikan WACC. Biaya penggunaan dari depresiasi (cost of
depreciation) adalah sebesar WACC sebelum perusahaan menggunakan dana yang berasal dari
emisi saham baru.