5.1 Menaksir Jumlah Modal Kerja dengan Metode Perputaran Modal Kerja
Besarnya modal kerja yang diperlukan suatu perusahaan akan berbeda dengan perusahaan yang lain. Hal ini disebabkan karena perbedaan produk yang dibuat, jangka waktu siklus operasi, tingkat penjualan, kebijakan persediaan, kebijakan penjualan kredit, dan efisiensi manajemen aktiva lancar, antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain.
Menurut Sartono (2010: 390) ada tiga metode yang bisa digunakan untuk menentukan kebutuhan modal kerja suatu perusahaan, yaitu metode perputaran modal kerja, metode keterikatan dana dan metode aliran kas. Ketiga metode ini memberikan perhitungan yang berbeda terhadap kebutuhan modal kerja. Hal ini disebabkan karena perbedaan pengertian modal kerja pada masing-masing metode.
a. Metode Perputaran Modal Kerja
Metode ini merupakan pengertian modal kerja yang sesuai dengan pengertian modal kerja yang digunakan oleh berbagai bank yang ada di Indonesia. Modal kerja pada metode ini, diartikan sebagai aktiva lancar yang digunakan untuk operasi perusahaan. Oleh karena itu, piutang kepada manajemen, investasi pada surat berharga, dan aktiva lancar lainnya e tidak digunakan dalam operasi perusahaan, tidak termasuk dalam modal kerja.
Metode perputaran modal kerja, menentukan kebutuhan modal kerja dengan memperhatikan perputaran setiap elemen pembentuk modal kerja. Hasil perhitunganny, dijadikan dassar untuk menghitung kebutuhan modal kerja pada masa datang, dengan asumsi perputaran modal kerja stabil, atau tidak berubah.
Sebagai contoh: perusahaan ABC pada tahun 2018 mempunyai penjualan sebesar Rp 320 juta. Jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan pada akhir tahun 2018 sebagai berikut:
| 2017 | 2018 | ||
Kas | Rp | 4.000.000 | Rp | 5.000.000 |
Piutang | Rp | 15.000.000 | Rp | 30.000.000 |
Persediaan | Rp | 40.000.000 | Rp | 45.000.000 |
Total Aktiva Lancar | Rp | 59.000.000 | Rp | 80.000.000 |
Perusahaan memperkirakan penjualan tahun 2019 meningkat menjadi Rp 380 juta. Peningkatan penjualan menyebabkan peningkatan kebutuhan modal kerja. Untuk menaksir jumlah modal kerja yang dibutuhkan tahun 2019, dapat dilakukan dengan menghitung perputaran setiap elemen yang membentuk modal kerja, yaitu:
Rata-rata Kas 2017 dengan 2018 = (Rp 4.000.000 +Rp 5000.000)/2 = Rp 4.500.000
Perputaran kas=penjualan/(rata-rata kas)
=320.000.000/4.500.000
= 71,11 kali
Rata-rata Piutang 2017 dengan 2018 = (Rp 15.000.000 + Rp 30.000.000)/2 = Rp 22.500.000
Perputaran piutang=penjualan/(rata-rata piutang)
=320.000.000/22.500.000
=14,22 kali
Rata-rata Persediaan tahun 2017 dengan 2018 = (Rp 40.000.000 + Rp 45.000.000)/2 = Rp 42.500.000
Perputaran persediaan=penjualan/(rata-rata persediaan)
=320.000.000/42.500.000
=7,53x
Periode terikatnya dana pada:
Kas | = | 360 hari / 71,11x | = | 5,06 | hari |
Piutang | = | 360 hari / 14,22 x | = | 25,32 | hari |
Persediaan | = | 360 hari / 7,53 x | = | 47,81 | hari |
Total | = | 78,19 hari, dibulatkan jadi 78 hari | |||
Dari hasil perhitungan, dapat dikatakan bahwa periode terikatnya dana pada modal kerja adalah 78 hari. Dengan demikian perputaran modal kerja untuk tahun 2018 adalah sebagai berikut:
Perputaran modal kerja 2018 = Jumlah hari dalam setahun / periode terikatnya dana pada modal kerja
= (360 hari)/(78 hari)
= 4,62 x
Dari perputaran modal kerja di tahun 2018 dapat diperkirakan kebutuhan modal kerja tahun 2019 dengan rumus dan perhitungan sebagai berikut:
Perputaran modal kerja 2019=(penjualan 2019)/(rata-rata modal kerja 2019)
Perputaran modal kerja 2019=(Rp 380.000.000)/(4,62 x)=Rp 82.251.082,25
Karena jumlah aktiva lancar di akhir tahun 2018 sebesar Rp 80 juta, tambahan aktiva lancar yang diperlukan untuk operasi perusahaan adalah sebesar Rp 2.251.082,25,- (Rp 82.251.082,25 – Rp 80.000.000)