Pelaporan dan Analisis Keuangan
BAB 2
PELAPORAN DAN ANALISIS KEUANGAN
Laporan keuangan merupakan produk dari sebuah proses pelaporan keuangan yang diatur oleh peraturan dan standar akuntansi, insentif manajerial dan mekanisme pelaksanaan dan pengawasan. Penting untuk memahami lingkungan pelaporan keuangan bersamaan dengan tujuan dan konsep yang mendasari informasi akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan. Pengetahuan ini memungkinkan untuk lebih baik dalam menyimpulkan realitas posisi dan kinerja keuangan perusahaan.
A. LINGKUNGAN PELAPORAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat dan isi laporan keuangan antara lain:
1. Aturan akuntansi. Ada dua aturan dan praktik yang saat ini digunakan yaitu US GAAP yang digunakan di Amerika Serikat dan IFRS yang digunakan sebagian besar negara di luar Amerika Serikat.
2. Motivasi manajer. Pihak yang paling bertanggungjawab atas pelaporan keuangan yang wajar dan akurat terletak pada manajer. Manajer memiliki kendali atas integritas sistem akuntansi dan catatan keuangan yang membentuk laporan keuangan. Secara khusus, manajer akan menentang standar yang mengurangi laba yang dilaporkan, meningkatkan volatilitas laba, mengungkapkan informasi kompetitif mengenai segmen, produk atau rencana.
3. Mekanisme pengawasan dan pelaksanaan. Mekanisme pengawasan dan pelaksanaan dapat memastikan keandalan dan integritas laporan keuangan.
B. SIFAT DAN TUJUAN AKUNTANSI KEUANGAN
Kualitas informasi akuntansi yang diinginkan yaitu:
1. Relevansi. Hal ini menunjukkan bahwa ketepatan waktu merupakan karakteristik yang diinginkan dari informasi akuntansi. Laporan keuangan triwulanan sebagian besar dimotivasi oleh faktor ketepatan waktu.
2. Keandalan. Agar informasi dapat diandalkan maka informasi tersebut harus dapat diverifikasi, disajikan secara jujur dan netral. Kemampuan memverifikasi berarti bahwa informasi tersebut dapat dikonfirmasi.
3. Komparabilitas dan konsistensi merupakan kualitas sekunder dari informasi keuangan. Komparabilitas menunjukkan bahwa informasi diukur dengan cara yang sama antarperusahaan. Konsistensi menunjukkan metode yang sama digunakan untuk transaksi yang sama antarwaktu. Komparabilitas dan konsistensi diperlukan agar informasi menjadi relevan dan dapat diandalkan
C. PENGANTAR ANALISIS AKUNTANSI
Analisis akuntansi merupakan proses evaluasi sejauh mana angka akuntansi perusahaan mencermin kan realitas ekonomi. Analisis akuntansi mencakup evaluasi risiko akuntansi perusahaan dan kualitas laba, mengestimasi kekuatan laba, dan membuat penyesuaian yang diperlukan agar laporan keuangan lebih baik mencerminkan realitas ekonomi dan dapat membantu analisis keuangan.
Analisis akuntansi prasyarat penting bagi analisis keuangan yang efektif. Hal ini disebabkan kualitas analisis keuangan dan kesimpulan yang ditarik, tergantung pada kualitas dari informasi akuntansi yang mendasarinya. Analisis akuntansi merupakan proses yang digunakan analis untuk mengidentifikasi dan menilai distorsi akuntansi dalam laporan keuangan perusahaan. Analisis ini juga meliputi penyesuaian yang diperlukan laporan keuangan untuk mengurangi distorsi dan membuat laporan keuangan tersebut agar dapat diterima untuk analisis keuangan.
Kebutuhan untuk analisis akuntansi muncul karena akuntansi akrual menghasilkan distorsi akuntansi yang harus diidentifikasi agar informasi akuntansi mencerminkan aktivitas bisnis dengan lebih baik dan laporan keuangan dibuat untuk berbagai macam pengguna dan kebutuhan informasi. Hal ini berarti informasi akuntansi biasanya memerlukan penyesuaian untuk memenuhi tujuan analisis dari pengguna tertentu.
Distorsi Akuntansi
Distorsi akuntansi merupakan penyimpangan informasi laporan keuangan yang dilaporkan dari realitas bisnis yang mendasarinya. Distorsi ini timbul dari sifat akuntansi akrual yang antara lain:
1. Standar Akuntansi. Standar akuntansi terkadang menyebabkan terjadinya distorsi. Misalnya, prinsip biaya historis dapat mengurangi relevansi laporan posisi keuangan karena tidak mencerminkan nilai pasar kini dari aset.
2. Kesalahan estimasi. Akuntansi akrual memerlukan prakiraan dan estimasi lainnya mengenai konsekuensi arus kas masa depan. Estimasi isi dapat menyebabkan kesalahan yang dapat mendistorsi relevansi angka akuntansi akrual. Misalnya, kesalahan estimasi piutang tak tertagih.
3. Manajemen laba. Manajemen laba mungkin merupakan hasil dari akuntansi akrual yang paling bermasalah. Penggunaan penilaian dan estimasi memungkinkan manajer untuk menggunakan informasi dalam dan pengalamannya untuk meningkatkan kegunaan angka akuntansi. Misalnya, manajer dapat mengubah metode akuntansi, mengubah estimasi dan kebijakan akuntansi, dan-lain-lain.
Manajemen Laba
Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai intervensi dengan tujuan tertentu oleh manajemen dalam proses penentuan laba, biasanya untuk memenuhi tujuannya sendiri. Ada tiga strategi manajemen laba yaitu:
1. Meningkatkan laba. Salah satu strategi manajemen laba yaitu meningkatkan laba yang dilaporkan periode berjalan untuk menggambarkan keadaan perusahaan lebih baik.
2. Big Bath. Strategi ini dilakukan dengan cara penghapusan sebanyak mungkin pada satu periode sehingga akan meningkatkan laba untuk satu tahun lagi.
3. Perataan Laba. Manajer menurunkan/menaikkan laba yang dilaporkan sehingga mengaurangi fluktuasi.
D. PROSES ANALISIS AKUNTANSI
Analisis akuntansi mencakup dua bidang yaitu:
1. Evakuasi kualitas laba.
Tahapevaluasikualitaslabaadalahsebagaiberikut:
a. Mengidentifikasi dan menilai kebijakan akuntansi utama. Tahap penting dalam mengevaluasi kualitas laba adalah dengan mengidentifikasi kebijakan akuntansi utama yang diterapkan oleh perusahaan tersebut. Apakah kebijakan tersebut wajar atau agresif? Apakah seperangkat kebijakan yang diterapkan konsisten dengan norma industri? Apa dampak kebijakan akuntansi terhadap angka yang dilaporkan pada laporan keuangan?.
b. Mengevaluasitingkatfleksibilitasakuntansi. Tingkat flesibilitas akuntansi pada beberapa industri lebih besar dari industri lainnya. Misalnya, akuntansi pada industri yang memiliki banyak aset tak berwujud, volatilitas yang lebih besar dalam operasi bisnis, sebagian besar biaya produksinya dikeluarkan sebelum berproduksi, dan metode pengakuan pendapatan yang tak biasa membutuhkan lebih banyak penilaian dan perkiraan. Secara umum, kualitas laba pada industri tersebut lebih rendah daripada industri yang akuntansinya lebih sederhana.
c. Menentukanstrategipelaporan. Apakah perusahaan menerapkan praktik pelaporan yang agresif? Apakah perusahaan memiliki laporan audit yang bersih? Apakah ada riwayat masalah akuntansi?.
d. Mengidentifikasidanmenilaired flags (Indikasi adanya sesuatu yang tidak biasa). Salah satu tahap yang berguna dalam mengevaluasi kualitas laba adalah agar waspada terhadap red flags. Red flags adalah item yang memberikan peringatan serius kepada analis akan adanya potensi masalah yang lebih serius. Contoh: Kinerja keuangan yang buruk, laba yang dilaporkan secara konsisten lebih tinggi dari arus kas operasi, laporan audit dengan pengecualian, pengunduran diri auditor/perubahan auditor yang tidak rutin, perubahan kebijakan akuntansi yang tidak dijelaskan/sering terjadi, dan lain-lain.
2. Penyesuaian laporan keuangan
Tahap berikutnya adalah membuat penyesuaian yang layak atas laporan keuangan, terutama laporan laba-rugi dan laporan posisi keuangan. Kebutuhan akan penyesuaian ini timbul karena distorsi pada angka yang dilaporkan dan karena tujuan analisis secara spresifik.
DAFTAR PUSTAKA
Subramanyam, KR, 2017. Analisis Laporan Keuangan, Buku Satu, Edisi Sebelas, Salemba Empat, Jakarta.