1.3 Tujuan Memelajari Semantik

Semantik adalah ilmu tentang makna. Makna bahasa merupakan ruang lingkup kajian semantik. Dalam kegiatan berbahasa, kompetensi dan performansi makna dalam kalimat seseorang akan mencerminkan kompleksitas kompetensi berbahasanya. Untuk itu, mahasiswa di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia harus memelajari semantik sebagai pendukung kompetensi berbahasa.

Beberapa waktu lalu, kita melihat konflik antara seseorang ternama (BTjP) dengan kaum muslimin. Konflik tersebut disebabkan oleh kalimat yang diucapkan oleh BTjP. Kalimat tersebut bisa dicek di Youtube (Tipi, 2016). Kalimat tersebut dinyatakan mengandung makna penghinaan terhadap agama Islam. Berdasarkan kejadian tersebut, kita harus belajar memilih bahasa untuk menghindari konflik. Salah satunya dengan memilih kata yang tepat sesuai dengan makna yang kita maksud. Pemilihan kata yang tepat bukan hanya berurusan dengan diksi, melainkan makna pada kata yang dipilih. Tidak hanya konflik tersebut, ada banyak konflik di pengadilan yang disebabkan oleh kesalahpahaman disebabkan kesalahpahaman makna bahasa, seperti konflik penghinaan dan lain sebagainya.

Kita (mahasiswa dan dosen) adalah penulis dan pembicara. Untuk menjadi penulis dan pembicara yang baik, dibutuhkan kompetensi bahasa yang baik. Kompetensi bahasa yang baik akan menjadi bekal untuk menampilkan performansi yang baik pula. Untuk itu, memelajari semantik akan bermanfaat dalam membangun rangkaian dan bangunan kompetensi berbahasa.

Tidak hanya sebagai penulis dan pembicara, secara khusus profil lulus program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah pendidik. Sebagai calon pendidik bahasa Indonesia, mahasiswa diharapkan mampu memahami semua kajian dalam semantik. Dengan demikian, ia bisa memilih kosa kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan, ide, dan gagasannya. Untuk menyatakan kegembiraan, kesedihan, kemarahan, kelelahan, dan sebagainya, mahasiswa dapat memilih kata yang tepat. Karena setiap pilihan kata memiliki makna yang dipahami oleh semua penutur asli bahasa Indonesia. Dengan kompetensi tersebut, diharapkan ia bisa menjadi calon pendidik yang santun dalam berbahasa.
Terakhir diperbaharui: Monday, 17 March 2025, 19:18