2.1 Semantik dan Semiotika

Semiotik berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Semiotik disebut juga semiologi dan semiotika. Kata tanda bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Definisi ini mirip dengan makna tanda dalam semantik. Namun, tanda dalam pengertian semantik dan semiotik berbeda. Semiotik memelajari tanda yang bersifat alamiah, sedangkan semantik memelajari lambang bahasa, yang bersifat konvensional. Untuk itu, perlu dipahami makna tanda yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, pada subbab kajian makna.

Secara sederhana, semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. Semiotika memelajari sistem-sistem, atauran-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti (Kriyantono, 2007). Dalam pengertian yang hampir sama, disebutkan bahwa semiotika adalah studi tentang bagaimana bentuk-bentuk simbolik diinterpretasikan.

Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (Zoest, 1993). Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Semiotik tidak dibatasi pada lambang bahasa, melainkan semua tanda yang ada dalam kehidupan manusia.


Semiotika pertama kali diungkap oleh Saussure, sebagai ilmu yang mengaji tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Oleh sebab itu, Saussure disebut-sebut sebagai bapak semiotik. Selain Sauussure, dikenal nama Bartes dan Pierce sebagai ahli semiotika modern (Chaer, 2007).

Pandangan Saussure tentang tanda terbagi atas lima yakni (1) signifier (penanda) dan signified (petanda), (2) form (bentuk) dan content (isi), (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan, ujaran), (4) synchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik), serta (5) syntagmatic (sintagmatik) assosiative (paradigmatik). Kelima hal tentang tanda ini akan selalu dibahas dalam kajian teoretis semiotika.

Ada perbedaan istilah dalam semantik dan semiotik. Unsur bahasa yang disebut kata yang sering didengar atau dibaca disebut lambang (symbol). Namun, dalam semiotik biasa disebut tanda (sign). Namun, yang menjadi fokus dalam lambang adalah makna, dan makna termasuk objek semantik. Sementara itu, dalam semiotik, lambang disebut sebagai tanda. Dari paparan tersebut perlu adanya kita membicarakan kedudukan semantik dalam semiotik.

Semiotik didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakang sistem pembedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda, di sana ada sistem (Chaer, 2009). Tanda dalam semiotik juga bersifat arbitrer, yang bisa saja berbeda makna dalam menginterpretasi makna tanda tersebut.

Dalam kajian ilmu sastra, semiotik dipakai dalam mengaji karya sastra. Teew mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun. Semiotik merupakan cabang ilmu yang relatif masih baru. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dipelajari secara lebih sistematis pada abad kedua puluh (Teew, 1984).

Untuk lebih memahami kajian semiotik, berikut contoh ilustrasi kajian semiotik. Sebuah ambulans yang meluncur di jalan raya yang membunyikan sirine dengan lampu merah berputar-putar, menandakan ada orang sakit darurat yang dilarikan ke rumah sakit, bisa juga bermakna membawa atau mengantar orang meninggal. Tafsiran lainnya pada tanda serupa ini adalah (1) ketika sirine tersebut berasal dari sirine pada mobil polisi yang mengawal rombongan orang penting. Tanda tersebut memiliki makna agar pengguna jalan lainnya menepi atau memberikan kesempatan kepada rombongan yang sedang dikawalnya untuk lewat terlebih dahulu. (2) tanda serupa dengan konteks yang berbeda juga dapat


memberikan tafsiran lain, misalnya sirine disertai lampu merah berputar-putar di atas mobil pemadam kebakaran. Namun, setiap makna dari tanda tersebut dapat berkembang sesuai dengan kedinamisan tanda di masyarakat.

Langit yang mendung ditafsirkan akan turun hujan. Melihat langit yang mendung itu, orang yang akan keluar rumah membawa payung. Tanda langit mendung merupakan tanda alamiah yang bisa terjadi di semua tempat. Masih banyak tanda lain yang membuktikan bahwa kajian semiotik pada tanda yang bersifat alamiah. Namun, bisa jadi tanda-tanda tersebut bisa saja memiliki intrepretasi makna yang berbeda.

Berdasarkan uraian di atas, semiotik bertujuan untuk mengetahui makna-makna yang terkandung dalam sebuah tanda atau menafsirkan makna dari tanda tersebut. Fungsi memahami makna tanda adalah untuk memahami pesan, khsuusnya dalam kegiatan komunikasi. Telah disebutkan sebelumnya, bahwa interpretasi pada tanda akan berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh konsep kultural, ideologis, dan latar belakang orang yang memaknai. Kode kultural yang menjadi salah satu faktor konstruksi makna dalam sebuah simbol menjadi aspek yang penting untuk mengetahui konstruksi pesan dalam tanda tersebut. Konstruksi makna yang terbentuk inilah yang kemudian menjadi dasar terbentuknya ideologi dalam sebuah tanda. Sebagai salah satu kajian pemikiran dalam cultural studies, semiotik tentunya melihat bagaimana budaya menjadi landasan pemikiran dari pembentukan makna dalam suatu tanda. Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Kriyantono, 2007). Terlebih menganalisis tanda-tanda kultural yang ada di masyarakat seperti upacara, kepercayaan dan

lainya.

Tokoh semiotik Rusia, Lotman mengungkapkan bahwa … culture is constructed as a hierarchy of semantic systems, artinya budaya tersusun dalam tatanan sistem semantik (Sartini, 2011). Pernyataan Lotman tersebut menunjukkan adanya hubungan antara semantik dan semiotik. Semantik memelajari lambang, sedangkan semiotik memelajari tanda. Dilihat hubungan kedua ilmu tersebut, pernyataan Lotman menunjukkan adanya hirarki sistem semiotik atau sistem tanda. Hierartki sistem semiotik tersebut meliputi unsur (1) sosial budaya, baik dalam konteks sosial maupun situasional, (2) manusia sebagai subyek yang berkreasi, (3) lambang sebagai dunia simbolik yang menyertai proses dan mewujudkan kebudayaan, (4) dunia pragmatik atau pemakaian, (5) wilayah makna. Orientasi kebudayaan manusia sebagai anggota suatu masyarakat bahasa salah satunya tercermin dalam sistem kebahasaan maupun sistem kode yang digunakannya.


Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara kajian makna dalam semantik dan semiotik. Makna dalam semantik berdasarkan dari lambang bahasa berupa bunyi bahasa. Makna dalam semiotik berdasarkan tanda yang ada dalam kehidupan sosial masyarakat. Persamaan antara semantik dan semiotik adalah sama-sama ilmu tentang makna.

Last modified: Monday, 17 March 2025, 7:21 PM