2.4 Semantik dan Logika

Logika adalah pengetahuan tentang kaidah berpikir yang bisa diterima oleh akal sehat manusia. Logika adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang penalaran yang berhubungan dengan pembuktian validitas suatu argumen (Lanur, 2007). Logika menggunakan metode penalaran berdasarkan validitas suatu argumen. Logika memberikan suatu metode atau cara yang sistematis dalam berpikir (reasoning). Terdapat dua metode cara berpikir yang digunakan, yaitu logika proposisi (proposisional) dan predikat (predikatif). Dengan menggunakan logika diharapkan dapat mengurangi kesalahan tindakan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, sehingga masalah tersebut dapat diselesaikan dengan suatu jawaban yang dikerjakan dengan sistematis.

Dalam kegiatan berbahasa, bahasa yang bisa diterima adalah bahasa yang logis. Logis berarti bisa diterima oleh akal sehat. Misalnya, kalimat ayah makan semen, kalimat tersebut secara stuktural dapat diterima, dapat juga dipahami. Namun, kalimat tersebut tidak logis, karena bertentangan dengan kaidah berpikir logis. Kata semen secara semantis bermakna bahan utama bangunan yang terbuat dari pasir dan zat kapur yang berfungsi untuk


melekatkan batu atau bata. Berdasarkan makna kata semen tersebut, kalimat tersebut dinyatakan tidak logis karena semen tidak untuk dimakan.

Kajian logika bahasa berhubungan dengan preposisi-preposisi untuk mendapatkan simpulan logis. Ada premis-premis yang bisa digunakan untuk menyimpulkan suatu hal. Secara khusus, logika dipakai untuk mengukur akurasi dan kelogisan suatu pernyataan yang didasarkan pada pernyataan-pernyataan sebelumnya.

Dalam kajian semantik, misalnya menentukan atau menyusun makna leksikal, logika sangat berperan penting. Misalnya, pada kegiatan pendefinisian kata ayah. Kata ayah bisa didefinisikan dengan bapak dan papa. Namun, secara lebih lengkap, kata ayah, bapak, dan papa memiliki perbedaan makna. Untuk itu diperlukan penjelasan tambahan dalam definisi. Dengan kata lain, mendefinisi dengan sinonim kurang tepat secara semantis.

Ada banyak kesalahan mendefinisi dalam buku-buku referensi. Misalnya, ingin menjelaskan metode penelitian dengan metode yang dilakukan atau yang dipilih dalam penelitian. Penulisan kembali kata yang didefinisikan ini membuat otak tidak mampu menerima pesan. Bagaimana mungkin ingin menjelaskan a dengan a? Pernahkah kalian membaca definisi seperti ini? Kalau belum, kalian bisa mencari definisi dalam buku kalian. Lalu cobakan memikirkan kelogisan definisi yang ditulis tersebut. Mungkin kalian akan mendapatkan informasi yang berputar-putar karena definisi berisi kata yang didefinisikan.

Secara lengkap, bahasan logika dalam kajian semantik akan dibahas pada bab semantik leksikal. Pada bab tersebut, akan dijelaskan bagaimana peranan logika dalam pendefinisian.
Terakhir diperbaharui: Monday, 17 March 2025, 19:23