4.1 Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Semantik leksikal merupakan ilmu tentang makna yang menekankan pembahasan pada sistem makna. Makna yang dimaksud adalah konsep atau fitur pada kata tanpa melihat konteks pengunaannya. Verhar menyatakan bahwa makna leksikal akan berbeda dengan makna gramatikal, maka perlu pembahasan yang berbeda antara makna  leksikal  dan  makna  gramatikal

(Pateda, 2010). Semantik leksikal memusatkan perhatian pada kamus, karena kamus memuat makna yang dimiliki oleh kata itu sendiri, tanpa melihat konteks pemakaiannya. Dengan demikian, semantik leksikal memperhatikan makna itu secara mandiri sesuai dengan konsep yang melekat pada kata. Sebagai contoh, dalam KBBI, makna tiap kata diuraikan satu persatu sesuai dengan konsep kata yang dimaksud.

Di samping semantik leksikal, leksikografi juga berperan penting dalam penyusunan kamus. Riemer menyatakan leksikografi adalah kerajinan dan cara untuk melakukan sesuatu yang berguna (Riemer, 2010). Leksikografi bukan teori untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, melainkan praktek menulis makna yang bisa dipahami. Dengan demikian, kegiatan menulis makna dalam kamus merupakan bagian dari leksikografi.

Untuk menghasilkan kamus yang ideal, perlu diperhatikan kaidah dalam penyusunan lema dan definisi. Kaidah tersebut diatur dalam semantik leksikal, leksikografi, dan logika. Dalam kajia semantik, ditelaah makna bahasa, leksikografi menyusun makna kata, dan logika mengatur kaidah dalam penyusunan makna.

Bahasa memiliki jumlah kata dan konsep yang tidak terbatas, semua itu disimpan dalam pikiran atau otak setiap individu (Pateda, 2010). Oleh Saussure ini disebut kompetensi. Karena berada dalam otak manusia, maka konsep dan makna berada di wilayah abstrak yang tidak bisa dipahami. Jackendoff menyatakan otak manusia adalah penyimpan bahasa dalam kapasitas yang besar dan dalam waktu yang relatif lama, meliputi kata, frase dan kalimat (Jackendoff, 2002). Kata dan asosiasi makna yang ada dalam otak disebut sebagai mental leksikon. Tugas semantik adalah mengklasifikasi makna leksikon sebagai entri berdasarkan pada asosiasi tertentu dalam kamus.

Setelah memahami makna leksikal atau makna yang tertulis dalam kamus, selanjutnya kalian harus memahami makna gramatikal. Makna gramatikal ini muncul karena adanya proses perubahan bentuk kata seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Kata dasar lari berbeda dengan lari-lari, berlari berbeda dengan dilarikan, dan lain sebagainya, makna gramamatikal ini biasanya akan sangat tampak dalam kalimat.

Perhatikan kalimat berikut.

1)      Doni berlari di pagi hari

2)      Doni dilarikan ke rumah sakit

3)      Adik Doni bermain lari-larian

Kalimat 1, 2 dan 3 memiliki perbedaan makna karena memiliki bentuk yang berbeda. Kata berlari mengacu pada kegiatan aktif yang dilakukan subjek, kata dilarikan bermakna dibawa ke-, sedangkan kata lari-larian bermakna kegiatan menyerupai lari. Dalam KBBI V, makna afiks dijelaskan. Dengan demikian, memudahkan pebelajar untuk memahami dan membedakan makna kata dasar dan kata imbuhan.

Djajasudarma juga menjelaskan makna gramatikal yang merupakan bandingan bagi makna leksikal (Djajasudarma, 1999). Makna gramatikal (grammatical meaning, functional meaning, structural meaning, internal meaning) adalah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat. Di dalam semantik makna gramatikal dibedakan dari makna leksikal.

Mengenai dua jenis makna leksikal dan gramatikal, Kridalaksana menjelaskan makna leksikal (lexical meaning, semantic meaning, external meaning) adalah makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain (Kridalaksana, 2008). Makna leksikal ini dipunyai unsur-unsur bahasa lepas dari penggunaannya atau konteksnya. Selanjutnya, makna gramatik adalah hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam satuan-satuan yang lebih besar; misalnya, hubungan antara kata dengan kata lain dalam frase atau klausa. Dengan


demikian makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem atau kata meski tanpa konteks apa pun. Misalnya, leksem kuda, memiliki makna leksikal „sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai‟; leksem pensil mempunyai makna leksikal „sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang‟; dan leksem air memiliki makna leksikal „sejenis barang cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Jadi, kalau dilihat dari contoh-contoh tersebut, makna leksikal adalah makna yang sebenarnya. Lain dari makna leksikal, makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan kalimatisasi. Misalnya, proses afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal mengenakan atau memakai baju, kata dasar kuda melahirkan makna gramatikal mengendarai kuda, dan dengan dasar rekreasi melahirkan makna gramatikal melakukan rekreasi.

Berdasarkan dua pendapat tersebut, contoh kalimat 1, 2, dan 3 sudah mewakili penjelasan ahli tentang makna gramatikal. Makna gramatikal merupakan konsep yang muncul setelah adanya proses tertentu dalam rangkaian kata, klausa, atau pun kalimat.

Untuk memahami cara menganalisis makna gramatikal. Perhatikan dalam kalimat- kalimat berikut ini.

1)        Saya membawa buku

2)        Buku saya dibawa Andi

3)        Buku saya terbawa mahasiswa tadi siang

4)        Bawaan saya berat sekali.

5)        Bisakah kamu membawakan buku ini?

6)        Bawalah buku saya besok ya!

Dari enam kalimat tersebut, kata dasar bawa pada kalimat 1-6 memiliki perbedaan makna. Kata membawa pada kalimat 1) memiliki makna meng- dan makna bawa. Kata dibawa pada kalimat 2) memiliki makna di- dan bawa. Kata terbawa pada kalimat 3) memiliki makna ter- dan bawa. Kata bawaan pada kalimat 4) memiliki makna bawa dan –an. Kata membawakan memiliki makna bawa dan meng-kan. Kata bawalah memiliki makna bawa dan –lah. Setiap afiks pada kalimat 1 sampai 6 yang bergabung dengan kata bawa memiliki makna yang berbeda. Sebagai contoh makna bawaan mengacu pada barang yang dibawa. Makna tersebut berbeda dengan bawalah yang memiliki makna perintah untuk membawa sesuatu. Begitu seterusnya.

Selain makna leksikal dan gramatikal, macam makna yang ketiga adalah makna kontekstual. Makna kontekstual (contextual meaning; situational meaning) muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai. Kemudian Chaer


mengungkapkan bahwa makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam konteks (Chaer, 1994). Makna konteks juga dapat berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan leksem tersebut.

Berikut contoh penelitian makna kontekstual yang dilakukan oleh Juniar (Juniar, 2013). Ia mencontohkan teks dalam iklan berikut ini.

7)          BII Woman One, tabungan yang mengerti wanita

8)          Satu-satunya tabungan yang memberi banyak manfaat

9)        Tunggu apalagi, segera buka tabungan BII Woman One, karen kami tahu anda tidak akan melewati kesempatan ini.

Dijelaskan oleh Juniar konteks iklan tersebut. Iklan di atas muncul dalam situasi seorang wanita dengan segala aktivitas sehari-hari. Jika diperhatikan, data di atas tidak berhubungan dengan dengan iklan yang dimaksud. Produk yang diiklankan berupa produk jasa perbankan sementara tayangan iklan yang dimunculkan berupa seorang wanita yang berbelanja, menemani anaknya bermain di taman hiburan, dan ketika di kantor. Namun berdasarkan situasi konteks yang terjadi dalam penerbitan iklan tersebut, mempunyai maksud bahwa (1) meskipun sibuk, seorang wanita yang banyak kerjaan, tapi bisa menikamati kemudahan bertransaksi melalui BII Woman One. Pada teks (2) selain mudah bertransaksi, BII Woman One mengerti permasalahan wanita dan memberikan banyak manfaat kepada wanita yang menggunakan BII Woman One. Dengan realitas tersebut iklan niaga di era globalisasi ini telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Pada teks (3), ada ajakan pada semua wanita untuk segera menabung di BII woman one.

Pada contoh tersebut, yang perlu diamati adalah teks (2) yaitu satu-satunya tabungan yang memberi manfaat. Dari konteksnya, yang bisa memberikan manfaat yang luar biasa hanya bisa diberikan oleh BII woman one. Teks tersebut terikat dengan konteks iklan, bahwa wanita yang sibuk sekalipun memiliki kesempatan untuk bersenang-senang, hanya dengan menabung di BII woman one.

Berdasarkan uraian tersebut, makna kontekstual sangat terikat dengan konteks.

Berikut contoh analisis makna kontekstual lainnya.

A : Berapa 3 x 4?

B : Ya, 12.

Berbeda dengan teks berikut.

C : Berapa 3 x 4?

D : Empat ribu saja


Pada percakapan (1), konteksnya adalah siswa SD yang sedang belajar matematika, maka jawaban atas 3 x 4 adalah jawaban matematika sesuai dengan situasi dan latar belakang percakapan tersebut. Hal ini tentu berbeda dengan percakapan kedua, bagaimana mungkin 3 x 4 adalah empat ribu? Jawabannya adalah konteks pembicaraan yang kedua berbeda dengan konteks pembicaraan yang pertama. Pembicaraan kedua dilakukan di toko foto, penanya hendak bertanya harga atau ongkos cetak foto? Jawabannya bukan jawaban matematika, melainkan tarif cetak foto.

Berdasarkan contoh-contoh tersebut, kalian sudah bisa membedakan bagaimana analisis makna leksikal, gramatikal, dan kontekstual. Jika kalian sudah bisa membedakan, tugas kalian adalah mampu melakukan analisis leksikal, gramatikal, dan kontekstual pada teks yang kalian pilih sendiri.

Last modified: Wednesday, 9 April 2025, 8:32 PM