6.3 Antonim

Antonim berarti „nama lain untuk benda lain pula‟. Secara semantik, Verhaar mendefinisikan sebagai ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat pula dalam bentuk frase atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain (Pateda, 2010) dan (Verhaar, 1981). Misalnya dengan kata bagus adalah berantonim dengan kata buruk; kata besar adalah berantonim dengan kata kecil; dan kata membeli berantonim dengan kata menjual.

Antonim tidak bersifat mutlak. Itulah sebabnya barangkali dalam batasan di atas, Verhaar menyatakan ... yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain (Verhaar, 1981). Jadi,hanya dianggap kebalikan, bukan mutlak berlawanan.Sehubungan dengan ini banyak pula yang menyebutnya oposisi makna. Dengan istilah oposisi, maka bisa tercakup dari konsep yang betul-betul berlawanan sampai kepada yang hanya bersifat kontras saja. Selanjutnya istilah antonim diganti dengan oposisi.

Berdasarkan sifatnya, oposisi dapat dibedakan menjadi lima. Berikut penjelasan masing-masing.

1)  Oposisi Mutlak

Terdapat pertentangan makna secara mutlak. Misalnya, antara kata gerak dan diam. Antara gerak dan diam terdapat batas yang mutlak, sebab sesuatu yang (ber)gerak tentu tidak diam, sedangkan sesuatu yang diam tentu tidak (ber) gerak. Contoh lain dari oposisi mutlak ini adalah kata hidup dan mati, laki-laki dan perempuan.

2)  Oposisi Kutub


 

Kutub A

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kutub B


 

 

 

 

 

batas


Makna kata-kata yang termasuk oposisi kutub ini pertentangannya tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi. Artinya, terdapat tingkat-tingkat makna pada kata- kata tersebut, misalnya kata kaya dan miskin adalah dua buah kata yang beroposisi kutub.Pertentangan antara kaya dan miskin tidak mutlak.Orang yang tidak kaya belum tentu merasa miskin, dan begitu juga orang yang tidak kaya belum tentu merasa miskin, dan begitu juga orang yang


 

Figure 34 Antonim kutub


tidak miskin belum tentu merasa kaya. Oposisi kutub ini sifatnya relatif, sukar ditentukan batasnya yang mutlak. Kalau digambarkan keadaan tersebut menjadi sebagai berikut.

Semakin ke atas makin kaya dan makin ke bawah makin miskin.Namun, batas kaya- miskin itu sendiri dapat bergeser ke atas dan ke bawah.Ketidakmutlakan makna dalam oposisi ini tampak juga dari adanya gradasi seperti agak kaya, cukup kaya, kaya dan sangat kaya. Atau pun juga dari adanya tingkat perbandingan seperti kaya, lebih kaya, dan paling kaya.Namun yang paling kaya dalam suatu deret perbandingan mungkin menjadi yang paling miskin dalam deret perbandingan yang lain.

Kata-kata yang beroposisi kutub ini umumnya adalah kata-kata dari kelas adjektif, seperti jauh-dekat, panjang-pendek, tinggi-rendah, terang-gelap, dan luas-sempit.

3)  Oposisi Hubungan

Makna kata-kata yang beroposisi hubungan (relasional) ini bersifat saling melengkapi. Artinya, kehadiran kata yang satu karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya. Tanpa kehadiran keduanya, maka oposisi ini tidak ada.Misalnya, kata suami dan istri.Kedua kata ini hadir serempak; tidak akan ada seseorang disebut suami jika dia tidak mempunyai istri. Begitu pula sebaliknya.Tidak mungkin seorang wanita disebut sebagai istri jika dia tidak mempunyai suami, andaikata suaminya meninggal, maka status “keistrian” nya sudah tidak ada lagi.Dia mungkin masih bisa disebut “bekas istri”, tetapi yang tepat dia kini adalah seorang janda, bukan istri lagi.Kata-kata yang beroposisi hubungan ini bisa berupa kata kerja, seperti mundur-maju, pulang-pergi, pasang-surut, memberi-menerima, belajar-mengajar, dan sebagainya.

4)  Oposisi Hierarkial

Kata-kata yang beroposisi hierarkial adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang, dan isi), nama satuan hitungan dan penanggalangan, nama jenjang kepangkatan, dan sebagainya. Misalnya, kata meter beroposisi hierarkial dengan kata kilometer karena berada dalam deretan nama satuan yang menyatakan ukuran panjang. Kata kuintal dan ton beroposisi secara hierarkial karena keduanya berada dalam satuan ukuran yang menyatakan berat.

5)  Oposisi Majemuk

Dalam perbendaharaan kata Indonesia ada kata-kata yang beroposisi terhadap lebih dari sebuah kata. Misalnya, kata berdiri bisa beroposisi dengan kata duduk, dengan kata berbaring, dengan kata berjongkok.


 

Kata berdiri, memiliki makna dalam keadaan atau posisi tegap, kaki di bawah dan kepala di atas. Makna tersebut akan berlawanan dengan makna kata duduk, berbaring, tiarap dan jongok. Kata yang memiliki makna yang berlawanan jenis ini disebut makna oposisi majemuk. Contoh lain pada oposisi jenis ini terdapat pada kata diam. Kata dian dapat beroposisi dengan kata berbicara, bergerak, dan bekerja. Namun, tidak semua kata bahasa Indonesia memiliki antonim atau oposisi.

 

Contoh Kajian Antonim

Untuk memahami konsep antonim dengan baik, kami berikan contoh analisis antonim yang dilakukan oleh Amilia (Amilia, 2012). Analisis dilakukan pada berita kompas dengan judul Calon Wali Kota Terkaya dan Termiskin (Kompas, 2012).

Berikut contoh analisis pada paragraf dalam berita tersebut.

Calon wakil wali kota Anis Nugroho dalam laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) hasil analisa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkaya, dan Ari Purbono termiskin dari sembilan calon yang lain.

Pada paragraf tersebut terdapat kata terkaya dan termiskin. Kata kaya berarti mempunyai banyak harta (uang), sedangkan miskin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tidak berharta benda; serba kekurangan (berpenghasilan rendah). Jika mengacu pada makna kamus, maka kaya dan miskin saling beroposisi. Kemudian penambahan morfem ter- menunjukkan makna paling, sehingga kata tersebut memiliki makna paling miskin dan paling kaya.


Kata termiskin dan terkaya merupakan dua kata yang memiliki hubungan oposisi kutub atau antonim yang bergradasi karena ukuran yang tidak pasti, karena akan muncul banyak kemungkinan. Kata terkaya dan termiskin merupakan kata sifat atau adjektiva yang bergradasi. Artinya, orang yang dikatakan termiskin belum tentu miskin pada konteks tertentu. Karena akan muncul kata, sangat kaya, agak kaya, kaya, relatif kaya; sangat miskin, agak miskin, miskin dan relatif miskin. Hal ini disebabkan perbedaan yang bersifat relatif dan dapat berubah sesuai dengan yang diperbandingkan. Dengan kata lain tidak ada batas dan ukuran yang pasti antara kaya dan miskin pada jumlah harta benda.

Ada pertentangan atau oposisi pada wacana, Anis adalah terkaya dan Ari adalah termiskin pada berita analisis kekayaan calon wali kota. Perhatikan paragraf pada berita kekayaan salon wali kota berikut.

...total harta kekayaan Anis adalah Rp 29.849.574.121. Sementara untuk calon dengan harta kekayaan terendah adalah Ari Purbono ... total harta kekayaan sebanyak Rp 154.569.658.

Anis yang merupakan calon wali kota terkaya memiliki total harta kekayaan Rp. 29.849.574.121. Sedangkan calon wali kota termiskin Rp 154.569.658. Jarak antara terkaya dan termiskin ada batas dan ada perselisihan jumlah. Perselisihan tersebut disebut batas.

Apabila digambarkan dalam sebuah diagram, maka oposisi terkaya dan termiskin

pada konteks ini adalah sebagai berikut.


Selisih antara terkaya dan termiskin adalah Rp 29.695.004.463. Apabila ada orang yang memiliki jumlah kekayaan dengan jumlah pada batas atau selisih tersebut akan memunculkan


istilah terkaya, kaya, agak kaya, relatif kaya, miskin, agak miskin, relatif miskin, sedangkan terkaya diduduki oleh orang yang jumlah hartanya paling banyak yaitu Rp. 29.849.574.121 dan termiskin adalah Rp. 154.569.658 pada konteks berita ini.

Berikut paparan daftar kekayaan 9 calom wali kota yang mendeskripsikan bahwa Anis adalah calon wali kota terkaya dan Ari termiskin.

Anis                 : Rp. 29.849.574.121

Bambang Raya: Rp. 18.834.669.023

Kristanto         : Rp. 6.713.844.886 dan 5.025 dolar Amerika Dasih     : Rp. 5.330.282.000

Hendi Hendar : Rp. 1.194.258.846 dan 1.101 dolar Amerika

M. Farhan        : Rp. 1.801.495.000

Soemarso         : Rp. 1.801.024.000 Kristanti                        : Rp. 1.091.186.867 Mahfudz                        : Rp. 932.352.589 Ari : Rp. 154.569.658

Dengan demikin, dalam konteks berita ini, Anis adalah calon wali kota yang memiliki harta paling banyak (terkaya), Bambang adalah kaya, Kristanto adalah relatif kaya, Dasih cukup kaya, Hendi agak kaya, M. Farhan dan Soemarso relatif miskin, Kristanti cukup miskin, Mahfudz itu miskin, dan Ari termiskin.

Anis dengan total kekayaan Rp 29.849.574.121 bukan lagi disebut orang terkaya apabila dijajarkan dalam deretan orang terkaya di dunia yang memiliki harta ribuan miliyar, maka Anis akan menjadi orang termiskin. Dengan kekayaan Rp. 29.849.574.121, Anis memang dapat dikatakan termiskin apabila disejajarkan atau dimasukkan dalam deretan 10 orang terkaya di dunia. Namun, ini tidak berarti bahwa Anis adalah orang miskin. Karena definisi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki harta benda dan hidup dalam kekurangan yang berhak mendapatkan sedekah dan zakat. Sedangkan dengan memiliki harta Rp 29.849.574.121, Anis tidak dapat masuk dalam kategori miskin. Dengan demikian, Anis adalah termiskin pada konteks deretan 10 orang terkaya di dunia tidak berarti Anis adalah orang miskin.

Begitu pun pada kata termiskin pada berita ini, Ari yang dikategorikan sebagai calon wali kota termiskin dalam deretan 9 calon wali kota dengan jumlah harta Rp154.569.658, ini juga tidak menunjukkan bahwa Ari adalah orang miskin. Dengan demikian, penggunaan kata terkaya dan termiskin, jika dilihat dari jumlah harta kekayaan, seharunya menggunakan kata terbanyak dan tersedikit, karena melihat jumlah bukan definisi secara kamus. Apabila terkaya


dan termiskin mengacu pada arti kamus, maka akan tidak sesuai dengan konteks penggunaannya. Dengan demikian, penggunaan pertentangan dalam konteks perbandingan jumlah harta pada oposisi ini adalah kata banyak dan sedikit.

Ari dengan kekayaan Rp 154.569.658, jika dibandingkan dengan kekayaan presiden Iran Ahmadinejad yang berupa mobil Peugeot 504 tahun 1977 dan rumah warisan orang tua di daerah kumuh serta saldo minimun tabungan setiap bulan karena hanya ada transaksi US$ 250 sebagai gaji dosen, maka Ari lebih kaya dibandingkan Ahmadinejad. Oleh karena itu, jumlah harta tidak hanya dapat membuat kategori terkaya dan termiskin, karena kaya dan miskin pada konteks ini melihat pada jumlah kekayaan bukan makna esensi dari kata kaya dan miskin. Dengan demikian, dapat menggunakan kata terbanyak dan tersedikit atau banyak dan sedikit sebagai kata yang paling tepat untuk membandingkan dua keadaan yang berbeda berdasarkan jumlah. Karena kata banyak dan sedikit mengacu pada banyak-sedikitnya jumlah sesuatu.

Analisis tersebut sesuai dengan petikan kalimat berikut.

.... total harta kekayaan sebanyak Rp154.569.658.

Kata sebanyak menunjukkan jumlah. Jumlah yang dimaksud jumlah kekayaan milik Ari, yaitu Rp 154.569.658. artinya, meskipun Ari dikategorikan calon wali kota termiskin, tapi harta kekayaannya masih berjumlah banyak, dengan penggunaan kata sebanyak pada kalimat tersebut. Selain itu ada pula penggunaan kata terendah yang menunjukkan jumlah harta kekayaan Ari. Perhatikan kalimat berikut.

Sementara untuk calon dengan harta kekayaan terendah adalah Ari Purbono

Kata terendah beroposisi dengan kata tertinggi atau rendah dan tinggi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rendah berarti dekat ke bawah, tidak tinggi. Sedangkan tinggi berarti jauh jaraknya dari posisi sebelah bawah. Penggunaan terendah pada kalimat di atas menunjukkan bahwa jumlah kekayaan Ari dekat ke bawah artinya yang jumlahnya sedikit. Dengan demikian, harta Ari adalah terendah atau paling sedikit dalam konteks perbandingan jumlah kekayaan, tapi jumlah tersebut masih dalam kategori banyak harta, sebagaimana yang tertera dalam teks di atas.

Dengan demikian, penggunaan kata terkaya dan termiskin, tidak menunjukkan makna kata terkaya adalah paling kaya dan termiskin adalah orang yang paling miskin atau orang miskin. Karena penggunaan kata terkaya dan termiskin ini mengacu pada banyak jumlah harta benda. Oleh karena itu, penggunaan kata yang tepat untuk menunjukkan perbandingan jumlah kekayaan adalah dengan menggunakan kata banyak dan sedikit.


Selain analisis pada kata terkaya dan termiskin, ada juga penggunaan antonim atau oposisi dalam berita ini. Perhatikan kalimat berikut.

...harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan...., harta bergerak seperti mobil dan motor..

Kata tidak bergerak dan bergerak merupakan oposisi dengan menggunakan penambahan kata tidak. Jenis oposisi ini adalah oposisi mutlak, karena definisi tidak bergerak berlawanan penuh dengan bergerak. Oposisi mutlak berari bertentangan penuh dan tidak dapat bergradasi.

Dari analisis di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan memperhatikan segi makna masih sangat rendah, khususnya pada penggunaan antonimi. Akibatnya, kesesuaian makna yang dihasilkan dalam penggunaan antonim masih belum tepat dan belum menunjukkan makna yang diinginkan atau makna sebenarnya. Oleh sebab itu, perlu dilakukan sebuah analisis dan penjelasan agar semua pihak dapat memahami makna yang dihasilkan dalam penggunaan kata, sehingga dapat mengetahui penggunaan kata yang benar.
Terakhir diperbaharui: Thursday, 1 May 2025, 11:02