6.4 Hiponim dan Hipernim

Hiponim berarti nama yang termasuk di bawah nama lain dapat berupa kata, frase atau kalimat yang maknanya dianggap bagian dari makna ungkapan lain. Misalnya, kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk dalam makna ikan. Kata tongkol memang ikan tetapi ikan bukan hanya tongkol, melainkan juga termasuk bandeng, tenggiri, teri, mujair, cakalang, dan sebagainya. Makna kata ikan merupakan makna umum yang terdapat pada kata khusus. Makna kata


bandeng, tengiri, teri, mujair, dan cakalan memiliki makna khusus, selain makna ikan. Dengan demikian, pembahasan hiponim dan hipernim adalah relasi makna umum dan makna khusus.

Penjelasan relasi makna berupa makna umum dan makna khusus tersebut didasari oleh pendapat Verhaar. Verhaar menyatakan hiponim ialah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat juga frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian makna sesuatu ungkapan lain (Chaer, 2002).

Djajasudarma pun menyatakan bahwa hiponim adalah hubungan makna yang mengandung pengertian hierarki (Djajasudarma, 1999). Hierarki berarti adanya tingkatan, ada yang atas dan bawah. Makna yang atas mengacu pada makna umum, dan makna bawah mengacu pada makna khusus. Hal ini juga didukung oleh pendapat Soedjito mengungkapkan bahwa hiponim adalah kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata yang menjadi superordinatnya atau hipernim (kelas atas) (Soedjito, 1990).

Jika relasi antara dua buah kata yang bersinonim, berantonim, dan berhomonim bersifat dua arah, maka relasi antara dua buah kata yang berhiponim ini adalah searah. Jadi, kata tongkol berhiponim terhadap kata ikan; tetapi kata ikan tidak berhiponim terhadap kata tongkol, sebab makna ikan meliputi seluruh jenis ikan. Dalam hal ini relasi antara ikan dengan tongkol (atau jenis ikan lainnya) disebut hipernimi. Jadi, kalau tongkol berhiponim terhadap ikan, maka ikan berhipernim terhadap tongkol.

Konsep hiponimi biasanya disebut juga dengan kelas bawahan, sedangkan hipernimi sebagai kelas atasan. Terdapat beberapa kemungkinan sebuah kata yang terindikasi adalah sebuah hipernimi akan dapat menjadi hiponimi terhadap kata lain yang hierarkial berada di atasnya. Misalnya, kata ikan yang merupakan hiperimi terhadap kata tongkol, bandeng, cakalang, dan mujair akan menjadi hiponimi terhadap kata binatang, sebab yang termasuk binatang bukan hanya ikan, tetapi juga kambing, monyet, gajah, dan sebagainya. Selanjutnya binatang ini pun merupakan hiponimi terhaadap kata makhluk, sebab yang termasuk makhluk bukan hanya binatang tetapi juga manusia. Kalau diskemakan seluruhnya, akan menjadi seperti gambar berikut ini.


Pada gambar tersebut, setiap kata yang dibagi menjadi dua, menunjukkan adanya hubungan makna umum dan makna khusus.

Contoh lain terdapat pada kata bunga. Ada banyak jenis bunga, yang menjadi makna bawah dari kata bunga. Ada kata melati, mawar, bugenvil, dan lain sebagainya. Tidak hanya bunga, ada juga kata warna. Ada banyak kata yang mengandung makna warna, antara lain, putih, merah, hijau, biru, hitam, dan seterusnya. Kata-kata yang memiliki unsur makna dari kata yang lain disebut hipernim, sebaliknya makna kata yang terdapat dalam beberapa kata disebut hiponim.

Oleh sebab itu, kata sebagai hipernim tidak perlu menulis kata hiponim didepannya. Misalnya, menulis bandeng tanpa kata ikan, melati tanpa bunga. Mengapa demikian, karena penyebutan hipernim dalam penulisan kalimat akan menunjukkan kehematan dalam berbahasa.

Pada kalimat saya berbaju merah, dapat dipahami bahwa subjek menggunakan pakaian berwarna merah, tanpa menulis kata warna. Begitu pula pada kalimat saya makan mujair, kata mujair merujuk pada ikan. Pembaca sudah akan memahami makna umum pada kata-kata tersebut.

Terakhir diperbaharui: Thursday, 1 May 2025, 11:03