7.1 Medan Makna
Harimurti (menyatakan bahwa medan makna (semantik field, semantic domain) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Misalnya, nama-nama warna membentuk medan makna tertentu. Begitu juga dengan nama perabot rumah tangga, istilah pelayaran, istilah perkerabatan, istilah alat pertukangan, dan sebagainya (Kridalaksana, 2008).
Medan makna adalah sekelompok atau sejumlah leksem yang berelasi secara semantis yang dicakupi atau dipayungi leksem yang menjadi superordinatnya (Lehrer, 1974). Nida (1979) menggunakan istilah semantic domain dalam menyebutkan medan makna. Cruse (2004) menggunakan istilah ranah kata (worlds field) dalam bukuny Meaning in Language;An Introduction to Semantic and Pragmatics. Cruse (2004:175) mengatakan bahwa “the vocabulary of a language is not just a collection of words scattered at random throughout the mental dalam benak secara acak, tetapi kosakata juga tertata dalam berbagai kelompok atau tataran istilah (Cruse, 2004).
Menurut pandangan linguistik struktural, analisis medan makna dipengaruhi oleh psikolog asosianitik mereka dalam menyimpulkan hubungan kata tersebut, misalnya pada kata satu dapat menjadi satuan, penyatu, persatuan, pemersatu, bersatu, dan lain-lain. Simpulan Ferdinand de Saussure adalah sebuah medan makna merupakan jaringan asosiasi berdasarkan kesamaan atau similiaritas, hubungan-hubungan asosiasi kata tersebut. Sebuah medan makna, Trier mengibaratkannya seperti mosaik. Jika makna satu kata bergeser, makna kata lain dalam medan makna tersebut juga akan berubah (Lehrer, 1974).
Buah pikir Saussure dan muridnya Bally, juga buah pikir dari Humboldt, Weisgerber, dan Meyer telah menjadi inspirasi utama bagi Trier dalam pengembangan Teori Medan Makna. Dalam bukunya tentang istilah-istilah ilmiah bahasa Jerman, Der Deutsche Wortschatz im Sinnbezirk des Verstandes , Trier melukiskan Vokabulari sebuah bahasa tersususn rapi dalam medan-medan dan dalam medan itu setiap unsur yang berbeda didefinisikan dan diberi batas yang jelas sehingga tidak ada tumpah tindih antarsesama makna. Misalnya pada kata pandai, terdapat pemakaian medan makna yang berbeda.

Setiap kata dapat dikelompokkan sesuai dengan medan maknanya, akan tetapi, perlu diketahui pula bahwa pembedaan medan makna tidak sama untuk setiap bahasa. Perlu diketahui bahwa pembedaan medan makna tidak sama untuk setiap bahasa. Misalnya, bahasa Indonesia membedakan medan makna melihat atas: melirik, mengintip, memandang, meninjau, menatap, melotot, dan sebagainya (Parera, 2004).
Medan makna adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misalnya nama-nama warna, perabot rumah tangga, atau nama-nama perkerabatan yang masing-masing merupakan medan makna. Medan warna dalam bahasa Indonesia mengenal warna merah, coklat, biru, kuning, abu-abu, putih dan hitam. Untuk menyatakan nuansa warna yang berbeda, bahasa Indonesia memberi keterangan perbandingan, seperti merah darah, merah jambu dan merah bata (Chaer, 2012).
Sebagai gambaran medan makna dalam kategori warna akan diberikan hasil penelitian yang dilakukan oleh Purwaningtyas mengenai medan makna warna dengan menggunakan sumber data istilah-istilah warna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Coba kita pelajari medan makna warna merah sesuai kriteria Berlin dan Paul Kay (Purwaningtyas, 012).
merah 1 n warna dasar yang serupa dengan warna darah; 2 a mengandung atau memperlihatkan warna yang serupa warna darah (KBBI Daring, 2016)
Istilah warna dengan fokus warna MERAH adalah sebagai berikut.
Table 11 Medan makna kata merah
|
No |
Istilah |
Makna |
|
1 |
Merah |
„warna dasar yang serupa dengan warna darah‟ |
|
2 |
merah bata |
„merah seperti warna batu bata‟ |
|
3 |
merah dadu |
„merah muda‟ |
|
4 |
merah darah |
„merah seperti warna darah‟ |
|
5 |
merah delima |
„merah seperti warna buah delima merekah‟ |
|
6 |
merah hati |
„merah seperti warna hati‟ |
|
7 |
merah kesumba |
„merah tua‟ |
|
8 |
merah jambu |
„merah muda seperti warna buah jambu‟ |
|
9 |
merah marak |
„merah menyala‟ |
|
10 |
merah masak |
„merah sekali‟ |
|
11 |
merah menyala |
„merah seperti warna nyala api‟ |
|
12 |
merah merang |
„merah masak‟ |
|
13 |
merah murup |
„merah menyala‟ |
|
14 |
merah padam |
„merah sekali yang digunakan untuk mendeskripsikan warna muka ketika marah atau malu‟ |
|
15 |
merah saga |
„merah seperti warna buah saga‟ |
|
16 |
merah sepang |
„merah tua‟ |
|
17 |
merah muda |
„merah keputih-putihan‟ |
|
18 |
merah tedas |
„merah tua‟ |
|
19 |
merah beranang |
„merah membara dalam bahasa Jawa‟ |
|
20 |
bera |
„merah yang agak hitam seperti genting lama‟ |
|
21 |
beram |
„merah tua‟ |
|
22 |
berma |
„merah seperti darah dalam kesusasteraan Melayu Klasik‟ |
|
23 |
birma |
„merah dalam kesusateraan Melayu Klasik‟ |
|
24 |
biring |
„merah kekuning-kuningan untuk mendeskripsikan warna bulu ayam‟ |
|
25 |
jerau |
„merah tua‟ |
|
26 |
kesumba murup |
„merah tua‟ |
|
27 |
kirmizi |
„warna merah tua dalam kesusteraan Melayu Klasik‟ |
|
28 |
abang |
„merah dalam bahasa Jawa‟ |
|
29 |
ahmar |
„merah dalam bahasa Arab‟ |
|
30 |
bangkas |
„pirang kekuning-kuningan atau merah (hitam) berbintik- bintik putih yang digunakan untuk mendeskripsikan warna bulu ayam‟ |
|
31 |
oranye |
„warna merah kekuning-kuningan‟ |
|
32 |
teja |
„cahaya awan yang merah kekuning-kuningan kelihatan di kaki langit sebelah barat ketika matahari terbenam‟ |
|
33 |
cokelat |
„warna merah kehitam-hitaman seperti sawo matang‟ |
|
34 |
deragem |
„warna cokelat tua yang digunakan untuk mendeskripsikan bulu kuda dalam bahasa Jawa‟ |
|
35 |
Kadru |
„warna coklat kemerah-merahan‟ |
|
36 |
sawo matang |
„coklat kemerah-merahan seperti warna buah sawo yang sudah matang‟ |
|
37 |
pirang |
„merah kecokelat-cokelatan atau kekuning-kuningan‟ |
|
38 |
sirah |
„merah dalam bahasa Minangkabau‟ |
|
39 |
Ungu |
„warna merah tua bercampur biru‟ |
|
40 |
merah bungur |
„ungu‟ |
|
41 |
merah lembayung |
„merah bercampur ungu‟ |
|
42 |
lila |
„warna ungu muda‟ |
|
43 |
violet |
„warna ungu lembayung‟ |
Dalam penelitian yang telah dilakukan Purwaningtyas, diperoleh warna dalam bahasa Indonesia menjadi enam kelompok, yaitu Hitam, putih, hijau, kuning, dan biru (Purwaningtyas, 012). Nah, coba kalian berlatih mencari medan makna dari beberapa warna itu ya!
Istilah teori medan makna atau theory of semantic field berkaitan dengan teori bahwa perbendaharaan kata dalam suatu bahasa memiliki medan struktur, baik secara leksikal maupun konseptual, yang dapat dianalisis secara sinkoronis, diakronis maupun secara paradigmatik. Apabila kita meninjau keberadaan kosakata dalam bahasa Indonesia, kita juga dapat mengetahui bahwa tebaran kosakata dalam bahasa Indonesia itu juga menggambarkan perangkat ciri, konsepsi dan asosiasi hubungan itu.
Kata-kata seperti wafat, gugur, meninggal dan mati mampu mengasosiasikan adanya hubungan ciri yang sama. Sementara asosiasi hubungannya dengan kata lain dalam relasi sintagmatik memiliki ciri yang berbeda-beda karena seseorang tidak mungkin mengatakan kucingku wafat.
Kajian tentang medan makna lebih lanjut berhubungan erat dengan masalah kolokasi. Pengertian kolokasi itu sendiri ialah asosiasi hubungan makna kata yang satu dengan yang
lain yang masing-masing memiliki hubungan ciri yang relatif tetap. Kata pandangan berhubungan dengan mata, bibir, dengan senyum. Mengabstraksikan ciri hubungan makna kata yang satu dengan lainnya, pada dasarnya memang tidak sederhana.
Kata bibir misalnya, dalam perluasannya tidak mengacu kepada organ fisis manusia, tetapi juga mengacu pada tepi jurang, pembicaraan, rayuan, maupun mulut botol, sehingga asosiasi hubungan kesejajaran ciri maknanya dengan makna dalam kata yang lain menjadi rumit.
Sehubungan dengan kolokasi tersebut, Ullman menyebutkan terdapatnya kolokasi sinonim yang berfungsi untuk memperjelas dan menekankan makna (Ullman, 1970). Bentuk tersebut selain dijumpai dalam retorika juga lazim digunakan oleh para sastrawan. Misalnya dalam kolokasi sinonim tedapat kata: pecah pencar, legah lapang, sama gandengan, ria bahagia, gembira riang, maupun mandi basahkan diri. Selain itu kolokasi sinonim menurut Ullman juga mampu memberikan gambaran efek kontras, baik untuk menampilkan humor maupun gagasan serius (Aminudin, 2003).
Kata-kata atau leksem-leksem berdasarkan sifat hubungan semantisnya yang dikelompokkan dalam satu medan makna, dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata- kata atau unsur-unsur leksikal itu. Misalnya, dalam kalimat
Kondektur bus menarik ongkos dari penumpang.
Kata-kata kondektur, bus, dan penumpang yang merupakan kata-kata dalam satu lokasi, satu tempat atau lingkungan yang sama, yang berkenan dengan lingkungan (dalam bus). Kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu. Kata-kata yang berkolokasi ditemukan bersama atau berada bersama dalam satu wilayah atau satu lingkungan. Pengelompokan kata atas kolokasi dan set ini besar artinya bagi kita dapat memahami konsep-konsep budaya yang ada dalam satu masyarakat bahasa. Namun pengelompokan ini sering kurang jelas karena adanya ketumpang tindihan unsur- unsur leksikal yang dikelompokkan itu, misalnya, kata karang dapat masuk dalam kelompok medan makna pariwisata dan dapat pula dalam kelompok medan makna kelautan. Pengelompokan kata atas medan makna ini tidak memperdulikan adanya nuansa makan, perbedaan makna denotasi dan konotasi.