9.2 Sebab-Sebab Perubahan Makna

Dalam pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan mengenai mengapa makna sebuah kata dapat berubah. Beberapa sebab perubahan makna secara rinci akan kita bahas pada bab ini.

Faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan makna dalam kata adalah sebagai berikut.

1)      Perkembangan dalam Ilmu dan Teknologi

Adanya perubahan makna sebagai akibat adanya pandangan atau teori baru dalam bidang tertentu sebagai akibat adanya perkembangan ilmu dan teknologi. Akibat dari perkembangan teknologi misalnya kata berlayar yang pada awalnya bermakna

perjalanan di laut (di air) dengan menggunakan perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga layar’. Walaupun sekarang kapal-kapal besar tidak lagi menggunakan layar, tetapi sudah menggunakan tenaga mesin, malah juga tenaga nuklir, namun kata berlayar masih digunakan.

2)      Perkembangan sosial dan budaya

Dalam perkembangan sosial dan budaya kemasyarakatan turut memengaruhi perubahan makna. Sebagai contoh kata saudara dalam bahasa sansekerta bermakna seperut atau satu kandungan. Sekarang kata saudara walaupun masih juga digunakan dalam artian tersebut tapi juga digunakan untuk menyebut siapa saja yang dianggap sederajat atau berstatus sosial yang sama. Hal ini terjadi pula pada hampir semua kata atau istilah perkerabatan seperti bapak, ibu, kakak, adik .

3)      Perbedaan bidang pemakaian

Kata-kata yang menjadi kosa kata dalam bidang-bidang tertentu dalam pemakaian sehari-hari dapat juga dipakai dalam bidang lain atau menjadi kosa kata umum, sehingga kata-kata tersebut memiliki makna yang baru, atau makna lain di samping makna aslinya. Misalnya kata membajak yang digunakan di bidang pertanian telah digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna barunya, seperti pada frase membajak pesawat dan CD bajakan yang memiliki makna „melakukan kekerasan atau sebuah paksaan dalam mendapatkan sesuatu atau meraih keuntungan‟. Makna kata tersebut masih berada dalam poliseminya karena masih saling berkaitan atau masih ada persamaan antarmaknanya.

4)      Adanya Asosiasi

Kata-kata yang digunakan di luar bidangnya seperti dibicarakan pada bagian sebelumnya masih ada hubungan atau pertautan maknanya dengan makna yang


digunakan pada idang asalnya. Agak berbeda dengan perubahan makna yang terjadi sebagai akibat penggunaan dalam bidang yang lain, disini makna baru yang muncul adalah berkaitan dengan hal atau peristiwa lain yang berkenaan dengan kata tersebut. Dalam contoh kata amplop dengan kata uang terjadi asosiasi yaitu berkenaan dengan wadah. Kata amplop berasal dari bidang administrasi atau surat menyurat, makna asalnya adalah sampul surat. Ke dalam amplop itu selain biasa dimasukkan surat, biasa pula dimasukkan benda lain seperti uang. Oleh karena itu dalam kalimat “ Berikan dia amplop biar urusanmu cepat selesai”. Dalam kalimat itu kata amplop bermakna uang sebab amplop yang dimaksud bukan berisi surat atau tidak berisi apa- apa melainkan berisi uang sebagai sogokan.

5)      Pertukaran Tanggapan Indra

Dalam penggunaan bahasa banyak terjadi kasus pertukaran tanggapan antara indera yang satu dengan indera yang lain. Rasa pedas, misalnya yang seharusnya ditanggap dengan alat indera perasa pada lidah tertukar menjadi ditanggap oleh alat indera pendengaran seperti tampak dalam ujaran kata-katanya cukup pedas. Contoh lain pada kata kasar yang seharusnya ditanggap oleh alat indera peraba yaitu kulit namun bisa juga ditanggap oleh alat indera penglihatan mata seperti pada kalimat Tingkah lakunya kasar. Pertukaran alat indera penanggap ini biasa disebut dengan istilah sinestesia. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, sun artinya sama dan aisthetikas artinya tampak. Dalam pemakaian bahasa Indonesia secara umum banyak sekali terjadi gejala sinestesia ini. Contoh yang lain terjadi pada beberapa frase yaitu suaranya sedap didengar, warnanya enak dipandang, suaranya berat sekali, bentuknya manis, kedengarannya memang nikmat dan masih banyak contoh-contoh yang lain.

6)      Perbedaan Tanggapan

Setiap unsur leksikal atau kata sebenarnya secara sinkronis telah mempunyai makna leksikal yang tetap. Namun karena pandangan hidup dan ukuran dalam norma kehidupan di dalam masyarakat maka banyak kata yang menjadi memiliki nilai rasa yang rendah, kurang menyenangkan. Di samping itu ada juga yang menjadi memiliki nilai rasa yang tinggi atau menyenangkan. Kata-kata yang nilainya merosot menjadi rendah ini disebut dengan istilah peyoratif sedangkan yang nilainya naik menjadi tinggi disebut amelioratif. Contoh kata bini sekarang ini dianggap peyoratif sedangkan kata istri dianggap amelioratif. Begitupun terjadi pada kata laki dan suami, kata bang dan bung. Nilai rasa itu kemungkinan besar hanya bersifat sinkronis. Secara diakronis ada kemungkinan bisa berubah. Perkembangan pandangan hidup yang


biasanya sejalan dengan perkembangan budaya dan kemasyarakatan dapat memungkinkan terjadinya perubahan nilai rasa peyoratif atau amelioratifnya sebuah kata.

7)      Adanya Penyingkatan

Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan yang karena sering digunakan maka kemudian tanpa diucapkan atau dituliskan secara keseluruhan orang sudah mengerti maksudnya. Oleh karena itu kemudian banyak orang menggunakan singkatannya saja daripada menggunakan bentukya secara utuh. Sebagai contoh ada yang berkata “ ayahnya meninggal” tentu maksudnya meninggal dunia tapi hanya disebutkan meninggal saja. Hal ini terjadi pula pada kata berpulang yang maksudnya berpulang ke rahmatullah, ke perpus yang maksudnya ke perpustakaan, ke lab yang maksudnya ke laboratarium dan sebagainya. Kalau disimak sebenarnya dalam kasus penyingkatan kata ini bukanlah peristiwa perubahan makna yang terjadi sebab makna atau konsep itu tetap. Yang terjadi adalah perubahan bentuk kata. Kata yang semula berbentuk utuh disingkat menjadi bentuk yang lebih pendek.

8)      Proses Gramatikal

Proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi dan komposisi akan menyebabkan pula terjadinya perubahan makna. Tetapi dalam hal ini yang terjadi sebenarnya bukan perubahan makna sebab bentuk kata itu sudah berubah sebagai hasil proses gramatikal dan proses tersebut telah melahirkan makna-makna gramatikal.

9)      Pengembangan Istilah

Memanfaatkan kosa kata bahasa Indonesia dengan memberikan makna baru (baik berupa penyempitan, perluasan atau pemberian makna baru) )adalah salah satu upaya pengembangan atau pembentukan istilah baru dalam perubahan makna ini. Seperti pada kata pujangga yang semula memiliki makna ular sekarang menjadi makna sarjana atau orang yang pandai bersastra.

 

Selain sembilan faktor tersebut, ada faktor lain yang melatar belakangi terjadinya perubahan makna. Suwandi mengemukakan 12 faktor penyebab terjadinya perubahan makna. Berikut kedua belas faktor perubahan makna tersebut (Suwandi, 2008).

1.  Faktor Linguistik

Perubahan makna karena faktor linguistik bertalian erat dengan fonologi, morfologi, dan sintaksis. Perubahan makna pada faktor ini berhubungan dengan perubahan sistem linguistik suatu bahasa.


2.  Faktor kesejarahan

Perubahan makna karena faktor kesejarahan berhubungan dengan perkembangan leksem. Ini bisa berupa kosakata baru dalam suatu bahasa.

3.  Faktor sosial masyarakat

Perubahan makna karena faktor sosial berhubungan dengan perkembangan leksem di dalam masyarakat. Dalam suatu teks, pemilihan kosakata bisa didasarkan pada jenis kelamin pembaca, usia pembaca, dan lain sebagainya. Pemilihan ini bisa berujung pada perubahan makna karena faktor sosial masyarakat.

4.  Faktor psikologis

Perubahan makna karena faktor psikologis ini disebabkan oleh keadaan psikologis seperti rasa takut, menjaga perasaan, dan sebagainya. Faktor psikologis ini tampak pada pemilihan kata yang mengandung makna yang berbeda atau berubah.

5.  Faktor kebutuhan kata baru

Perubahan makna karena faktor kebutuhan kata baru berhubungan erat dengan kebutuhan masyarakat pemakai bahasa. Adanya komunitas tertentu yang membutuhkan ragam bahasa baru akan mendukung adanya kosakata baru sesuai dengan kebutuhan mereka.

6.  Faktor perkembangan ilmu dan teknologi

Sebuah kata yang pada mulanya mengandung konsep yang sederhana sampai kini tetap dipakai meskipun makna yang dikandungnya telah berubah. Hal ini disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Muncul kosakata baru yang diperlukan untuk mendukung perkembangan ilmu dan teknologi.

7.  Faktor perbedaan bidang pemakaian lingkungan

Perbedaan lingkungan akan menyebabkan perubahan makna baik pada kata atau frase. Seperti halnya yang terjadi pada kata-kata yang menjadi pembendaharaan dalam bidang kehidupan atau kegiatan tertentu juga dilakukan dalam bidang kehidupan lain.

8.  Faktor pengaruh bahasa asing

Perubahan makna juga banyak disebabkan oleh pengaruh bahasa asing yang berupa peminjaman makna. Penyerapan berasal dari bahasa asing akan memengaruhi perubahan makna dalam bahasa Indonesia.

9.  Faktor asosiasi

Kata-kata yang digunakan di luar bidang asalnya sering masih ada hubungannya dengan makna kata tersebut pada bidang asalnya. Faktor ini sudah dijelaskan sebelumnya.


10.  Faktor pertukaran tanggapan indera

Dalam perubahan makna ini berhubungan dengan indera manusia yaitu mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Faktor ini sudah dijelaskan sebelumnya.

11.  Faktor perbedaan tanggapan pemakaian bahasa

Sejumlah kata yang digunakan oleh pemakainya tidaklah mempunyai nilai sama. Ini bisa disebebkan oleh latar belakang budaya yang berbeda, sehingga ada perubahan makna karena perbedaan tanggapan pemakaian bahasa.

12.  Faktor penyingkatan

Perubahan makna akibat penyingkatan biasanya terjadi karena adanya kebutuhan untuk memendekkan kata atau frase. Meskipun telah disingkat, tetapi bisa dipahami masyarakat dengan baik.

Berbeda dengan dua pendapat tersebut, Ullman menyebutkan beberapa faktor yang mempermudah terjadinya perubahan makna (Ullman, 1972). Berikut faktor-faktor tersebut.

1.  Perkembangan bahasa

Perkembangan peradaban manusia mengakibatkan kondisi kehidupan orangorang dalam masyarakat, hasil karya mereka, adat istiadat mereka, bentuk organisasi mereka mengalami perubahan. Hal itu tentu saja mengakibatkan referen dari banyak kata dalam suatu bahasa yang mengalami perubahan sesuai dengan situasi dan perkembangan jaman.

2.  Kekaburan makna

Kadang-kadang ada beberapa kata yang jika berdiri sendiri tanpa konteks apapun maknanya menjadi tidak jelas atau kabur (Djajasudarma, 1993:62). Contoh kata apel bisa memberikan pemahaman mengenai kekaburan makna suatu kata. Apel dalam bahasa Indonesia bisa mengacu pada sejenis buah dan juga mengacu pada makna upacara pagi yang biasa dilakukan di instansi pemerintahan. Perbedaan makna kata tersebut bisa diketahui jika kata tersebut berada di dalam sebuah kalimat ataupun jika kata tersebut diucapkan.

3.  Kehilangan motivasi

Kata ajang dalam Bahasa Indonesia bermakna tempat untuk makan sesuatu, misalnya piring. Namun kata-kata tersebut sekarang lebih banyak digunakan untuk menyebut istilah lain, misalnya ajang pertempuran, ajang pertemuan, kata ajang telah kehilangan motivasinya. Walaupun makna istilah baru tersebut tetap berhubungan dengan makna tempat (Pateda, 2010).


4.  Ambiguitas

Sebuah kata bisa memiliki makna yang berbeda jika dipergunakan dalam konteks yang berbeda. Pateda memberikan contoh kata jarak yang bisa bermakna (i) antara dan bisa juga bermakna (ii) sejenis tumbuhan yang bijnya menghasilkan minyak (Pateda, 2010).

5.  Struktur kosakata

Telah diketahui adanya keterbatasan sistem gramatikal dan sistem bunyi dalam suatu bahasa. Namun kosakata dalam bahasa tersebut seringkali bertambah sesuai dengan perkembangan pemikiran dan peradaban manusia sebagai pengguna bahasa. Di dalam perkembangan kosakata tersebut tentu saja terdapat penambahan kata-kata baru, perubahan makna dan penghilangan kata-kata. Dulu kita tidak mengenal kata yang memiliki struktur kosakata di mana dua konsonan atau lebih berada dalam satu urutan (KKV atau KKKV); misalnya pada kata putri (KVKKV), yang dulu strukturnya puteri (KVKVKV). Selain itu, ada beberapa kata yang merupakan kata serapan dari bahasa asing, contohnya “instruksi” (ins-truksi = VKK-KKVKKV) yang mengalami perkembangan struktur kosakata.

Terakhir diperbaharui: Monday, 26 May 2025, 11:00