Ciri-ciri Bahasa Baku
Ciri-ciri Bahasa Baku
Ciri-ciri
bahasa Indonesia baku dan bahasa Indonesia nonbaku telah dibuat oleh para
pakar bahasa dan pengajaran bahasa Indonesia. Mereka itu antara lain
Harimurti Kridalaksana, Anton M. Moeliono, dan Suwito.
Ciri-ciri
bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia nonbaku itu dibeberkan di bawah ini
setelah merangkum ciri-ciri yang ditentukan atau yang telah dibuat oleh
para pakar tersebut.
Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku
sebagai berikut:
a)
Pelafalan sebagai bagian fonologi bahasa Indonesia
baku adalah pelafalan yang relatif bebas dari atau sedikit diwarnai
bahasa daerah atau dialek.
Misalnya:
1. kata /
keterampilan / diucapkan / keterampilan / bukan / ketrampilan
2. kata / apotek
/ diucapkan / apotek / bukan / apotik
3. kata / senin
/ diucapkan / senin / bukan / senen
4. kata /
kemarin / diucapkan / kemarin / bukan / kemaren
5. kata / malam
/ diucapkan / malam / bukan / malem
6. kata / malas
/ diucapkan / malas / bukan / males
b)
Bentuk kata yang berawalan me- dan ber- dan
lain-lain sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis atau
diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kata.
Misalnya:
1. Banjir menyerang kampung
yang banyak penduduknya itu.
2. Kuliah
sudah berjalan dengan baik.
3. Kelinci memakan wortel.
4. Kami bersepeda di sore hari
5. Audisi
dangdut itu seindonesia
6. Barang yang
lama dijual sangat murah
c)
Konjungsi sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia
baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
1. Sampai
dengan hari ini ia tidak percaya kepada siapa pun, karena semua
di anggapnya penipu.
2. Saya ingin
pergi ke Bandung dengan adik.
3. Mama bingung
akan membeli baju atau celana.
4. Dia ingin
bekerja tetapi juga ingin menikah.
5. Via hidupnya
sangat mewah namun dia kesepian.
6. Orang itu
pandai memasak. Bahkan ia bisa
memasak semua makanan.
d)
Partikel –kah, -lah dan –pun sebagai
bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam
kalimat.
Misalnya:
1. Bacalah buku itu
sampai selesai!
2. Bagaimanakah cara kita
memperbaiki kesalahan diri?
3. Bagaimanapun kita harus
menerima perubahan ini dengan lapang dada.
4. Apakah kamu
senang?
5. Berapapun akan aku beli!
6. Siapapun bisa menjadi ketua lokal.
7. Dimanakah aku bisa membeli buku itu?
8. Terimalah hadiah dariku.
e)
Preposisi atau kata dengan sebagai bagian morfologi
bahasa Indonesia baku dituliskan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
Misalnya:
1. Saya
bertemu dengan adiknya kemarin.
2. Ia benci
sekali kepada orang itu.
3. Sepupu saya
datang dari Jakarta.
4. Sari
mengatakan ingin pergi ke Jepang.
5. Saya tidak
takut terhadap siapa saja.
6. Perpustakaan
itu dibangun oleh pemerintah daerah.
7. Kejakanlah sampai semuanya selesai!
f)
Bentuk kata ulang atau reduplikasi sebagai bagian
morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap sesuai
dengan fungsi dan tempatnya di dalam kalimat.
Misalnya:
1. Mereka-mereka
itu harus diawasi setiap saat.
2. Semua
negara-negara melaksanakan pembangunan ekonomi.
3. Suatu
titik-titik pertemuan harus dapat dihasilkan dalam musyawarah itu.
4. Macam-macam buah terlihat enak.
5. Satu-satu aku sayang ibu.
6. Huruf-huruf China itu terlihat sulit.
7. Mereka
terlihat jalan-jalan bersama.
g)
Kata ganti atau polaritas tutur sapa sebagai bagian
morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap dalam
kalimat.
Misalnya:
1. Saya – Anda bisa bekerja
sama di dalam pekerjaan ini.
2. Aku – Engkau sama-sama berkepentingan
tentang problem itu.
3. Saya –
Saudara memang harus bisa berpengertian yang sama.
4. Aku – Kamu bisa pergi
ke lantai atas sekarang
5. Saya – Anda bisa mencoba terlebih dahulu
h)
Pola kelompok kata kerja aspek + agen + kata kerja
sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis dan
diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
Misalnya:
1. Surat
Anda sudah saya baca.
2. Kiriman
buku sudah dia terima.
3. Ruangan
belajar sudah saya siapkan.
4. Undangan
pernikahan itu sudah saya kirim.
5. Kaca jendela
sudah mereka bersihkan.
6. Makan malam sudah kami hidangkan.
7. Cerita itu sudah saya dengar.
i)
Konstruksi atau bentuk sintesis sebagai bagian kalimat
bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap
di dalam kalimat.
Misalnya:
1. Saudaranya
2. Dikomentari
3. Mengotori
4. Harganya
5. Semuanya
6. Dijual
7. Melihat
8. Dibuat
9. Sepupunya
j)
Fungsi gramatikal (subyek, predikat, obyek sebagai
bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara
jelas dan tetap dalam kalimat.
Misalnya:
1. Kepala
Kantor pergi keluar negeri.
2. Rumah orang
itu bagus.
3. Bapak
memanjat pohon.
4. Adik sedang
bermain di taman.
5. Saya sedang
menyuci baju.
6. Kami pergi
ke pasar swalayan.
7. Sita sedang
melukis di kelas.
k)
Struktur kalimat baik tunggal maupun majemuk ditulis
atau diucapkan secara jelas dan tetap sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia
baku di dalam kalimat.
Misalnya:
1. Mereka
sedang mengikuti perkuliahan dasar-dasar Akuntansi I. Sebelum analisis
data dilakukannya, dia mengumpulkan data secara sungguh-sungguh.
2. Saya tertawa
sampai terpingkal- pingkal
3. Ayah pergi
ke kantor.
4. Mama
membuatkan kami nasi goreng.
5. Ali tidak
lulus ujian, karena tidak belajar.
6. Semua
temanku telah pulang, ketika aku datang padahal hari masih cerah.
l)
Kosakata sebagai bagian semantik bahasa Indonesia baku
ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
Misalnya:
Mengapa, tetapi, bagaimana,
memberitahukan, hari ini, bertemu, tertawa, mengatakan, pergi, tidak
begini, begitu, silakan, menjadikan, teratas, teratur, berputar, melayang.
m) Ejaan resmi
sebagai bagian bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap baik
kata, kalimat maupun tanda-tanda baca sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia
Yang Disempurnakan.
n)
Peristilahan baku sebagai bagian bahasa Indonesia baku
dipakai sesuai dengan Pedoman Peristilahan Penulisan Istilah yang dikeluarkan
oleh Pemerintah melalui Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Purba,
1996 : 63 – 64).
Terakhir diperbaharui: Monday, 13 June 2022, 09:30