Aspek Penting Pradefinisi

Leksikografi

Tahap pradefinisi lema dalam kamus, yaitu dengan merumuskan lema yang diperoleh sebelum disusun dalam kamus. Setiawan (2015,hlm. 154) mengatakan, keberhasilan seorang leksikografer tidak hanya dilihat dari terwujudnya sebuah kamus, tetapi juga dilihat dari kemampuan leksikografer dalam memformulasikan setiap leksikon dalam kamus. Dalam hal ini, pradefinisi harus memerhatikan beberapa hal, yaitu kosakata bahasa target, tipe kata, kosakata bentuk dasar dan turunan, kosakata umum dan istila, makna lugasa dan kias, dan konteks penggunaan. 

1.    Kosakata Bahasa Target

Aspek pertama yang hendaknya diperhatikan sebelum mendefinisikan sebuah kata adalah memastikan bahwa kata yang akan didefinisikan adalah kata dalam bahasa target. Misalnya, leksikografer akan menyusun kamus bahasa Indonesia, maka didefinisikan adalah kosakata bahasa Indonesia. Pendefinisian juga harus memperhatikana bahasa yang digunakan. Artinya, kosatakata tersebut harus lazim atau dapat dipahami pengguna. Di sisi lain, pradefinisi ini juga harus memperhatikan padanan kosakata yang didefinisikan. Hal ini, bahasa Indonesia banyak variasinya. Daintaranya, ada kosakata yang memiliki kesamaan ejaan tetapi berbeda makna dan pengucapan. Sebaliknya, berbeda ejaan, tetapi memiliki kesamaan makna.

2.    Tipe Kata

Pada tahapan ini perlu diperhatikan bahwa tipe kata terbagi dua, yaitu kata yang bermakna dan kata yang tidak bermakna. Kata yang bermakna dapat didefinisikan karena memiliki formulasi pengertian. Kata yang tidak bermakna seperti nama diri tidak dapat didefinisikan. Pada bab- bab sebelum telah dijelaskan bahwa nama diri seperti tempat dan perayaan bukan memiliki makan, melainkan memiliki acuan. Oleh sebab itu, kata- kata yang akan dijadikan calon lema harus dikategorikan ke dalam tipe kata tersebut.

3.    Kosakata Bentuk Dasar dan Turunan

Aspek ketiga yang penting untuk dicermati pada saat akan membuat definisi adalah menentukan bentuk kata. Dalam wujudnya kata dapat berunsur tunggal dapat pula berunsur ganda. Artinya, sebuah kata dapat muncul dalam bentuk dasar, dan dapat pula dalam bentuk turunan. Untuk itu harus dipahami dengan benar berbagai proses penurunan kata agar tidak keliru dalam mengklasifikasikan sebuah kata sebagai bentuk dasar atau bentuk turunan.

Dalam bahasa indonesia bentuk turunan dapat dilakukan dengan proses afiksasi, pemajemukan, pengulangan, dan abreviasi. Sering kali dijumpai sebuah kata yang secara wujud seakan merupakan bentuk turunan, tetapi hakikatnya bentuk dasar atau sebaliknya, kata yang diduga bentuk dasar ternyata termasuk bentuk tuturan, misalnya berangkat. Kata berangkat sekilas sebagai kata yang mengalami afiksasi ber- dan bentuk dasar angkat. Namun, jika dicermati, kata tersebut merupakan bentuk dasar dan bukan kata yang dibentuk dengan afiksasi ber-Di lain hal, ada dua kosakta yang sekilas kita lihat memiliki dua makna seperti kata terima kasih. Akan tetapi kata tersebut merupakan kata dasar yang memiki makna rasa syukur. Oleh sebab itu, pradefinisi kata yang mampu membedakan kata dasar dan turunan kata yang hendak dijadikan calon lema.

4.    Kosakata Umum dan Istilah

Pada tahapan ini, sebelum mendefinisikan lema harus mengelompokkan kata- kata ke dalam dua bagian, yaitu kata umum dan istilah. Kata umu merupakan kata- kata yang sudah beredar di masyarakat atau kata- kata yang sering dijumpai dan digunakan masyakat. Kata khusus merupakan kata yang masih asing ditelinga masyarakat, seperti kata yang digunakan di majala, tv, buku, dan lain sebagainya. kosakata istilah ini memang tidak kerap muncul dan hanya akan  muncul jika ada topik pembicaraan yang khas, misalnya ekonomi, bahasa, atau sains.

Apabila yang dihadapi adalah kosakata umum, definisi kata tersebut harus berdasarkan konsep yang selama ini dipahami oleh pengguna bahasa dan diformulasikan dengan lebih sederhana dan jelas. Sebaliknya, apabila yang dihadapi adalah kosakata istilah, pendefinisian kata tersebut harus berdasarkan perspektif keilmuan tertentu, misalnya kata amputasi, sebagai kosakata istilah medis harus didefinisikan dalam kerangka ilmu medis.

5.    Makna Lugas dan Makna Kias

Pendefinisian kata juga harus memperhatikan jenis maknanya; bermakna lugas atau kias. Makna lugas merupakan makna kata yang masih relevan acuannya. Sebaliknya, makna kias merupakan deskripsi makna kata yang tidak sesuai dengan acuan sebenarnya. Variasi makna itu sangat bergantung pada konteks penggunaannya. Oleh karena itu, pendefinisian kata tidak bisa dilepas dari konteksnya. Misalnya kata membuka dalam kalimat dia membuka toko elektonik bermakna lugas, yaitdia memiliki usaha jual elektronikSebaliknya, kata membuka dalam kalimat dia membuka baju seragam anggotanya secara tidak hormat. bermakna kias, yaitu pemecatan secara tidak hormat. Dengan demikian, harus dipastikan terlebih dahulu jenis makna katanya, sebelum kata tersebut didefinisikan.

 6. Konteks Penggunaan

Penjelasan di atas tentang makna kias dan lugas. Dalam penjelas tersebut, dikatakan pendefinisian kata harus melihat konteks penggunanaan karena konteks dapat mempengaruhi makna kata. Misalnya, kata kereta di Medan yang memiliki makna sepeda motor dan kata kereta di luar medan yang berarti kereta api. Oleh sebab itu, leksikografer yang mendefenisikan calon lema harus memerhatikan penggunaan kata dalam semua konteks di masyarakat.

Konteks juga akan menentukan apakah kata yang dimaksud merupakan kosakata umum atau kosakata isitilah. Dalam sebuah teks sangat mungkin kosakata istilah digunakan dalam makna umum sehingga menjadi kosakata umum. Dalam konteks yang berbeda kosakata istilah tersebut digunakan dalam konteks khusus. Kedua konteks tersebut akan menentukan jenis definisi dan jenis kamus. Apabila kosakata istilah diperlakukan sebagai kosakata umum, definisinya harus disusun sebagaimana definisi kosakata umum dan kosakata tersebut menjadi bagian kamus umum. Sebaliknya, apabila kosakata isitilah digunakan dalam konteks khusus, kosakata tersebut harus diperlakukan sebagai kosakata istilah dan harus didefinisikan sebagaimana kosakata istilah, serta menjadi bagian dari kamus istilah atau kamus khusus. Misalnya, kata akar dalam konteks tertentu menjadi kosakata umum dan dalam konteks yang lain menjadi kosakata istilah dalam bidang biologi.


Last modified: Thursday, 10 June 2021, 11:03 AM