Manajemen intra-operasi dan pasca operasi oftalmologi
I. Manajemen Intra-Operasi (The Theatre Phase)
Manajemen di meja operasi bukan hanya soal keterampilan tangan (surgical skill), tetapi juga pengelolaan dinamika bola mata secara real-time.
1. Protokol Keselamatan & Asepsis
WHO Surgical Safety Checklist: Wajib dilakukan (Sign In, Time Out, Sign Out). Fokus pada konfirmasi sisi mata (D/S) dan kekuatan Intraocular Lens (IOL).
Antisepsis: Povidone-Iodine (PVI) 5% pada sakus konjungtiva dan 10% pada kulit periorbita adalah gold standard untuk mencegah endoftalmitis. Biarkan selama 3 menit sebelum dibilas.
2. Pengaturan Ergonomi & Mikroskop
Posisi Kepala: Pastikan bidang limbus horizontal. Gunakan donat kepala atau plester jika pasien gelisah.
Mikroskop: Atur fokus, pembesaran (zoom), dan merah jauh (red reflex) secara optimal sebelum insisi dimulai.
3. Dinamika Cairan (Fluidics) & Stabilitas BMD
Pada operasi seperti Fakoemulsifikasi atau Vitrektomi, residen harus memahami:
Inflow vs Outflow: Ketidakseimbangan dapat menyebabkan bilik mata depan (BMD) dangkal atau justru terlalu dalam (deepening), yang berisiko pada zonula zinnii.
Tekanan Intraokular (TIO) Intra-op: Mengatur ketinggian botol infus (BSS) untuk menjaga turgor bola mata.
4. Manajemen Komplikasi Tak Terduga
Residen harus memiliki "mentalitas darurat" untuk kondisi berikut:
Posterior Capsule Rupture (PCR): Segera injeksi Ophthalmic Viscosurgical Device (OVD) untuk mencegah prolaps vitreus ke anterior. Jangan langsung menarik instrumen keluar.
Refleks Okulokardiak: Waspadai bradikardia mendadak akibat tarikan pada otot ekstraokular (sering pada operasi juling atau eviserasi).
Expulsive Choroidal Hemorrhage: Jika TIO meningkat mendadak dan media menjadi gelap, segera tutup semua insisi dengan jahitan.
II. Manajemen Pasca-Operasi (The Recovery Phase)
Fase ini menentukan apakah hasil operasi yang sempurna di meja operasi dapat dipertahankan hingga pasien pulang.
1. Terapi Farmakologi Pasca-Bedah
Biasanya menggunakan kombinasi yang sering disebut "Triple Therapy" untuk kasus intraokular:
| Kategori | Contoh Obat | Tujuan Klinis |
| Antibiotik Topikal | Levofloxacin, Moxifloxacin | Profilaksis infeksi (Endoftalmitis). |
| Steroid Topikal | Prednisolone Acetate, Dexamethasone | Mengontrol inflamasi dan mencegah fibrin. |
| NSAID Topikal | Nepafenac, Sodium Diclofenac | Mencegah Cystoid Macular Edema (CME). |
| Sistemik | Asetazolamid / Analgesik | Jika ada lonjakan TIO atau nyeri hebat. |
2. Edukasi Posisi (Postural Positioning)
Sangat krusial untuk kasus vitreoretina:
Tamponade Gas/Gas Bubble: Pasien harus posisi telungkup (prone position) selama 1-2 minggu agar gas menekan robekan retina ke arah perifer.
Tamponade Silicon Oil: Posisi menyesuaikan lokasi robekan, namun umumnya menghindari posisi telentang (supine) terlalu lama untuk mencegah kontak minyak dengan endotel kornea.
3. Instruksi Pasien (The "Don’ts")
Pasien harus pulang dengan pemahaman jelas untuk menghindari:
Valsalva Maneuver: Mengejan, batuk keras, atau mengangkat beban berat (menghindari ruptur jahitan/luka insisi).
Trauma Mekanik: Mengucek mata (selalu gunakan eye shield terutama saat tidur).
Kontaminasi: Mata terkena air kotor atau asap selama 1-2 minggu pertama.
III. Identifikasi Komplikasi Dini (Red Flags)
Residen yang bertugas di bangsal atau poli post-op hari pertama harus waspada terhadap:
TIO Spike (Lonjakan TIO): Sering terjadi akibat sisa viskoelastik (OVD) atau inflamasi hebat. Gejala: Nyeri tumpul, mual, kornea edema.
Toxic Anterior Segment Syndrome (TASS): Inflamasi steril akut (biasanya < 24 jam post-op) akibat reaksi kimia alat/obat. Harus dibedakan dengan endoftalmitis.
Endoftalmitis Akut: Biasanya muncul hari ke-3 hingga ke-7. Tanda: Penurunan visus drastis, nyeri hebat, hipopion, dan hilangnya red reflex. Ini adalah gawat darurat mata.
Tips Klinis untuk PPDS:
"Jangan pernah memulangkan pasien pasca-operasi tanpa memeriksa kejernihan kornea dan keberadaan hipopion pada lampu celah (slit lamp), meskipun pasien merasa tidak ada keluhan."