BAGIAN 4: Tatalaksana Komplikasi Umum dan Darurat di Bangsal

Pendahuluan – "Siap Siaga untuk Krisis"
Bangsal rawat inap adalah tempat di mana komplikasi paling sering terdeteksi. Sebagai spesialis, Anda harus selalu waspada dan memiliki algoritma penanganan yang jelas untuk berbagai komplikasi. Jangan pernah lengah; pasien yang tampak stabil di pagi hari dapat mengalami krisis di sore hari. Bagian ini akan membahas penanganan komplikasi paling umum dan mengancam jiwa.

Komplikasi – Perdarahan Koroid Ekspulsif (Expulsive Choroidal Hemorrhage – ECH)
ECH adalah komplikasi paling dramatis dan mengancam penglihatan, sering terjadi selama atau segera setelah operasi intraokular (terutama pada pasien miopia tinggi atau glaukoma). Pada pasien rawat inap, ECH mungkin terjadi pada jam-jam pertama pasca-operasi. Gejala: nyeri mendadak yang sangat hebat, proptosis, TIO meningkat drastis, dan visual loss total. Tindakan:

  1. Segera tutup mata dan beri penekanan lembut untuk mencegah ekspulsi isi mata.

  2. Berikan manitol IV (1-2 g/kg) untuk menurunkan TIO secara sistemik.

  3. Jika terjadi perdarahan aktif di ruang operasi, segera lakukan drainase. Jika terjadi di bangsal, segera rujuk ke ruang operasi untuk evakuasi. Prognosisnya buruk, tetapi penanganan cepat dapat menyelamatkan sebagian fungsi.

Komplikasi – Glaukoma Sekunder / "Malignant Glaucoma"
Pada pasien pasca-operasi katarak atau glaukoma, TIO dapat meningkat drastis karena beberapa mekanisme: sisa viskoelastik yang menyumbat trabekular meshwork, peradangan (uveitis), atau sinekia anterior perifer. Glaukoma maligna (aqueous misdirection) adalah kondisi langka di mana akuos humor dialihkan ke arah posterior, mendorong lensa-IOS kompleks ke anterior dan menutup sudut. Tatalaksana:

  1. Berikan obat hipotensif topikal (timolol, brimonidin, dorzolamid) dan asetazolamid sistemik 500 mg IV.

  2. Jika karena viskoelastik, lakukan paracentesis (pengeluaran cairan dari bilik mata depan).

  3. Jika karena glaukoma maligna, atropin 1% dan manitol IV sering diperlukan, dan jika tidak responsif, vitrektomi pars plana mungkin diperlukan.

Komplikasi – Ablasi Retina Pasca-Vitrektomi
Meskipun vitrektomi bertujuan untuk memperbaiki ablasio, re-ablasio dapat terjadi pada minggu pertama pasca-operasi. Tanda-tanda: floaters baru, kilatan cahaya (photopsia), atau bayangan hitam yang meluas dari perifer. Pada pasien rawat inap, jika Anda mencurigai re-ablasio, lakukan oftalmoskopi tidak langsung (BIO) untuk memeriksa posisi retina dan status tamponade (gas/silikon). Jika re-ablasio terjadi dalam periode tamponade, seringkali diperlukan operasi ulang (re-vitrektomi). Ini adalah salah satu alasan mengapa pasien vitrektomi sebaiknya dirawat inap untuk observasi minggu pertama.

Komplikasi – Dislokasi / Decentrasi IOL
Lensa intraokular (IOL) dapat bergeser (dislokasi) ke bilik mata depan atau ke vitreus, terutama pada pasien dengan pseudoeksfoliasi atau trauma. Gejala: diplopia monokular, penglihatan kabur, atau nyeri jika IOL menggesek iris. Pada slit lamp, Anda akan melihat IOL yang miring atau posisinya tidak sentris. Penanganan: reposisi IOL melalui pembedahan. Jika terjadi di bangsal, stabilkan pasien dan jangan mencoba reposisi manual; segera jadwalkan operasi.

Komplikasi Medis Sistemik – Stroke dan Infark Miokard (Pasca-Op)
Pasien rawat inap oftalmologi seringkali adalah lansia dengan risiko kardiovaskular tinggi. Stres operasi dan perubahan posisi (misalnya, posisi prone yang berkepanjangan) dapat memicu stroke atau infark miokard. Sebagai spesialis, Anda harus mengenali tanda-tanda awal: nyeri dada, sesak napas, penurunan kesadaran, atau hemiparesis. Jika terjadi, segera panggil tim medis (kode stroke / kode jantung) dan lakukan stabilisasi. Jangan pernah mengabaikan keluhan sistemik hanya karena fokus pada mata.

Penanganan Mual dan Muntah Pasca-Operasi
Mual dan muntah pasca-operasi sangat berbahaya bagi pasien oftalmologi karena dapat menyebabkan peningkatan TIO yang tiba-tiba (tekanan Valsava) dan perdarahan subkonjungtiva atau bahkan perdarahan koroid. Pada pasien dengan tamponade gas, muntah dapat mengubah posisi gelembung gas, merusak hasil operasi. Penanganan:

  1. Berikan antiemetik profilaksis (misalnya, ondansetron IV) pada pasien dengan risiko tinggi (wanita, non-perokok, atau riwayat mabuk perjalanan).

  2. Jika mual terjadi, berikan antiemetik segera dan pastikan pasien tenang.

  3. Jika muntah tidak terkontrol, pertimbangkan nasogastric tube atau konsultasi dengan spesialis anestesi.

Pencegahan Dekubitus dan Trombosis Vena Dalam (DVT)
Pasien yang menjalani posisi prone (terlentang) atau tirah baring lama berisiko tinggi mengalami dekubitus (luka tekan) dan DVT. Tindakan pencegahan:

  • Ganti posisi secara teratur (dengan bantuan perawat) tanpa mengubah posisi kepala yang diinstruksikan.

  • Stocking kompresi atau pneumatic compression untuk mencegah DVT.

  • Perawatan kulit di area yang tertekan (dahi, siku, lutut).
    Edukasi keluarga untuk membantu pasien menjaga posisi yang benar juga sangat penting.

Tabel Algoritma Penanganan Darurat di Bangsal
Berikut adalah tabel respon cepat yang harus Anda hafal untuk situasi darurat.

Tabel Algoritma Penanganan Komplikasi di Bangsal

KomplikasiGejala UtamaTindakan PertamaRujukan / Tindakan Selanjutnya
TIO Tinggi AkutNyeri, mual, kornea edema, penglihatan kabur.Timolol + Dorzolamid topikal; Asetazolamid 500 mg IV.Manitol IV jika TIO > 40; pertimbangkan paracentesis.
EndoftalmitisVisus turun, nyeri hebat, hipopion.Ambil sampel vitreus; Injeksi IVT vankomisin + seftazidim.Antibiotik sistemik; konsultasi retina.
Perdarahan KoroidNyeri mendadak, TIO tinggi, proptosis.Tutup mata, penekanan, manitol IV.Evakuasi bedah darurat.
Mual/MuntahMuntah, peningkatan TIO.Ondansetron IV; posisi miring (kepala ditopang).Hentikan makan/minum; konsultasi anestesi.
Stroke / JantungNyeri dada, hemiparesis, sesak.Tim medis (Code Blue/Stroke); O2; AED stand by.Konsultasi kardiologi/neurologi segera.

Last modified: Saturday, 15 August 2026, 9:34 PM