BAGIAN 2: Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik – “Menggali Informasi yang Tersembunyi”

Anamnesis – “Jangan Lewatkan Sejarah”
Anamnesis adalah fondasi dari seluruh penilaian pra-operasi. Sebagai spesialis mata, Anda harus menggali tidak hanya riwayat penyakit mata, tetapi juga riwayat kesehatan sistemik secara mendalam. Pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus ditanyakan meliputi:

  • Riwayat Penyakit Sistemik: Diabetes melitus (kontrol gula darah), hipertensi (kontrol tekanan darah), penyakit jantung (PJK, gagal jantung, aritmia), penyakit ginjal, penyakit hati, dan gangguan koagulasi.

  • Riwayat Bedah Sebelumnya: Terutama operasi mata sebelumnya, serta riwayat reaksi terhadap anestesi.

  • Obat-obatan yang Sedang Digunakan: Termasuk obat resep, obat bebas (OTC), dan suplemen herbal. Perhatian khusus pada antikoagulan (warfarin, dabigatran, rivaroxaban), antiplatelet (aspirin, clopidogrel), dan alpha-blocker (tamsulosin/Flomax) yang dapat menyebabkan Intraoperative Floppy Iris Syndrome (IFIS).

  • Alergi: Terutama alergi terhadap antibiotik (terutama golongan penisilin dan sefalosporin), povidone-iodine, dan obat anestesi.

  • Riwayat Perdarahan: Apakah pasien mudah memar, mimisan berat, atau memiliki riwayat perdarahan pasca-operasi sebelumnya.

Riwayat Diabetes dan Hipertensi – “Dua Musuh Utama”
Diabetes dan hipertensi adalah dua komorbiditas yang paling sering dijumpai pada pasien oftalmologi rawat inap. Diabetes yang tidak terkontrol (gula darah puasa > 200 mg/dL atau HbA1c > 8%) meningkatkan risiko infeksi pasca-operasi, gangguan penyembuhan luka, dan edema makula. Hipertensi yang tidak terkontrol (TD > 180/110 mmHg) merupakan kontraindikasi relatif untuk operasi elektif karena risiko perdarahan intraokular dan kardiovaskular. Sebelum operasi, pasien dengan komorbiditas ini harus dikonsultasikan dengan internis untuk optimalisasi medis.

Riwayat Penggunaan Alpha-Blocker (Tamsulosin) – “Si Pembunuh IFIS”
Tamsulosin (dan alpha-blocker lainnya) yang digunakan untuk pengobatan hiperplasia prostat jinak dapat menyebabkan Intraoperative Floppy Iris Syndrome (IFIS) —suatu kondisi di mana iris menjadi sangat floppy, mudah prolaps, dan pupil sulit dilebarkan selama operasi katarak. IFIS secara signifikan meningkatkan risiko komplikasi bedah. Oleh karena itu, sangat penting untuk menanyakan riwayat penggunaan tamsulosin pada semua pasien pria lanjut usia yang akan menjalani operasi intraokular. Jika pasien menggunakan obat ini, tim bedah harus mengantisipasi IFIS dan mungkin perlu menggunakan perangkat tambahan (seperti iris hooks atau pupil expansion ring) selama operasi.

Pemeriksaan Fisik Sistemik – “Beyond the Eye”
Pemeriksaan fisik sistemik harus mencakup:

  1. Tanda-Tanda Vital: Tekanan darah (pastikan < 160/100 mmHg untuk operasi elektif), denyut nadi (irama dan frekuensi), laju pernapasan, dan suhu.

  2. Pemeriksaan Kardiovaskular: Auskultasi jantung untuk mendeteksi murmur, aritmia, atau tanda-tanda gagal jantung. Pada pasien dengan riwayat penyakit jantung, konsultasi kardiologi sangat dianjurkan.

  3. Pemeriksaan Respirasi: Auskultasi paru untuk mendeteksi wheezing atau ronkhi, terutama pada pasien dengan PPOK atau asma.

  4. Pemeriksaan Neurologis: Penilaian status kesadaran, kekuatan otot, dan koordinasi—penting untuk menilai risiko jatuh dan kemampuan pasien untuk mempertahankan posisi pasca-operasi (misalnya, posisi prone pada vitrektomi dengan tamponade gas).

Pemeriksaan Oftalmologi Khusus – “Detail yang Tidak Boleh Terlewat”
Selain pemeriksaan oftalmologi standar (visus, TIO, slit lamp, funduskopi), ada beberapa pemeriksaan khusus yang harus dilakukan tergantung pada rencana tindakan:

  • Biometri / Keratometri: Untuk perhitungan kekuatan lensa intraokular (IOL) pada operasi katarak. Data ini harus akurat; kesalahan biometri adalah penyebab utama “refractive surprise” pasca-operasi.

  • OCT Makula dan Diskus: Untuk menilai status makula dan saraf optik, terutama pada pasien dengan riwayat diabetes, glaukoma, atau degenerasi makula.

  • Pachymetry: Pengukuran ketebalan kornea sentral, penting untuk koreksi TIO pada pasien glaukoma.

  • Gonioskopi: Untuk menilai sudut bilik mata depan pada pasien dengan dugaan glaukoma sudut tertutup.

  • USG B-scan: Jika media keruh (katarak padat, perdarahan vitreus) menghalangi visualisasi fundus.

Tabel Informasi Kunci yang Harus Digali dalam Anamnesis

AspekPertanyaan KunciImplikasi Klinis
DiabetesKapan terdiagnosis? Obat apa? GDS/HbA1c terakhir?Risiko infeksi, penyembuhan luka lambat, edema makula.
HipertensiTekanan darah terkontrol? Obat apa?Risiko perdarahan, stroke, dan komplikasi kardiovaskular.
AntikoagulanApakah menggunakan aspirin, warfarin, clopidogrel, dabigatran?Risiko perdarahan intraokular; keputusan hentikan/jeda.
Alpha-blockerApakah menggunakan tamsulosin atau obat prostat lainnya?Risiko IFIS (Intraoperative Floppy Iris Syndrome).
AlergiAlergi obat (penisilin, povidone-iodine, anestesi)?Hindari alergen; siapkan alternatif.
Riwayat JantungRiwayat PJK, stent, gagal jantung, aritmia?Konsultasi kardiologi; risiko stroke/infark perioperatif.
Riwayat PerdarahanMudah memar, mimisan, riwayat perdarahan pasca-op?Evaluasi koagulasi; waspada perdarahan.

Terakhir diperbaharui: Saturday, 15 August 2026, 21:38