Pengertian dan Tingkat Apresiasi
Secara etimologis, kata apresiasi berasal dari bahasa Inggeris appreciaton. Kata itu berarti ‘penghargaan’, ‘penilaian’, atau ‘pengertian’. Ada pula yang mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Verjato appreciate yang berarti ‘menghargai’, ‘menilai’, atau ‘mengerti’. Aminudin (1987:34) mengemukakan, apresiasi mengandung makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Apresiasi dikembangkan manusia melalui penumbuhan sikap yang sungguhsungguh dan sebagai satu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaninya.
Apresiasi terhadap suatu karya dapat terjadi melalui berbagai tingkatan. Pada umumnya, para ahli sastra membagi tingkatan apresiasi tersebut atas empat bagian yang meliputi: (1) tingkat menggemari, (2) tingkat menikmati, (3) tingkat mereaksi, dan (4) tingkat memproduksi. Pada tingkat menggemari, keterlibatan batin pembaca dalam apresiasi karya sastra belum begitu kuat. Pada tingkat menikmati, keterlibatan batin pembaca terhadap karya sastra sudah semakin dalam. Pada tingkat mereaksi, sikap kiritis pembaca terhadap karya sastra semakin menonjol karena ia mampu menafsirkan dan menyatakan keindahan dengan seksama, serta mampu menunjukkan di mana letak keindahan itu.
Pada tingkat produksi, pembaca karya sastra sudah mampu mengkritik, menghasilkan, mendeklamasikan, atau membuat resensi terhadap puisi secara tertulis. Dari deskripsi tingkatan apresiasi karya sastra di atas dapatlah ditegaskan bahwa tingkatan apresiasi (1), (2), dan (3) merupakan apresiasi reseptif. Dikatakan apresiasi reseptif karena pada tingkat-tingkat apresiasi tersebut, pembaca karya sastra baru dalam tahap-tahap menyerap. Mereka pada dasarnya belum menghasilkan apa pun sebagai produk kegiatan apresiasinya. Sedangkan tingkatan apresiai (4) merupakan apresiasi produktif karena pembaca karya sastra sudah menghasilkan sesuatu, mungkin dalam bentuk esai, karya puisi, atau karya resensi. Sastra adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya terhadap kehidupan dan dunia dengan menggunakan bahasa. Jika dicermati, pernyataan tersebut mengandung dua hal yang menjelaskan hakikat sastra. Pertama, “mengungkapkan penghayatan” dan yang kedua “kegiatan kreatif”. Mengungkapkan penghayatan menyiratkan bahwa sastra itu berawal dari penghayatan seseorang terhadap sesuatu, atau dunia pada umumnya dengan segala dinamika persoalannya, yang kemudian diungkapkan melalui penggunaan bahasa secara kreatif. Tanpa kemampuan kreatif berbahasa, karya sastra akan kering, atau bahkan tidak akan ada; tidak akan mungkin pernah ada sama sekali. Kreativitas berbahasa adalah kawasan hulu karya sastra, dan riak-riak estetika di dalamnya merupakan bagian hilirnya.
Apresiasi sastra, adalah kegiatan mengakrabi karya sastra dengan sungguh-sungguh. Di dalam proses pengakraban itu terjadi pengenalan, pemahaman, penghayatan, dan setelah itu penerapan. Dalam proses pengenalan, pembaca atau penonton akan mulai menemukan ciri-ciri umum karya sastra, misalnya sudah mengenal judul, pengarang, atau bentuknya secara umum. Setelah proses pengenalan akan timbul keinginan untuk memahami karya sastra tersebut lebih lanjut. Pemahaman terhadap karya sastra adakalanya tidak berlangsung mudah dalam benak pembaca. Jika hal ini terjadi, pembaca perlu menempuh berbagai upaya untuk mengatasinya. Dalam memahami puisi, misalnya, perlulah bagi pembaca terlebih dahulu mencari penjelasan tentang kata-kata sulit yang digunakan, membubuhkan tanda penghubung, atau membubuhkan tanda baca pada bagian-bagian tertentu puisi tersebut. Dengan cara demikian, pemahaman puisi akan lebih mudah dicapai. Proses penghayatan dapat diamati dari indikasi-indikasi yang diperlihatkan pembaca ketika ia membaca karya sastra. Umpamanya saja, saat seseorang membaca surat terakhir Hayati kepada Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck berikut ini:
”Selamat tinggal Zainuddin, dan biarlah penutup surat ini kuambil perkataan yang paling enak kuucapkan di mulutku dan agaknya entah dengan itu kututup hayatku di samping menyebut kalimat syahadat, yaitu: Aku cinta akan engkau, dan kalau kumati , adalah kematianku di dalam mengenangkan engkau”.
Apakah si pembaca akan memerlihatkan indikasi sedih, gundah, atau iba; seakanakan dirinyalah yang berlakon dalam surat itu? Contoh lain, ketika seseorang menyaksikan tayangan acara Ekstravaganza di salah satu TV swasta, apakah orang itu terpingkal-pingkal tertawa karena kelucuan tokoh-tokohnya? Apabila hal-hal yang dipertanyakan di atas sungguh-sungguh terjadi, maka dapatlah dikatakan bahwa pembaca sudah menghayati karya yang mereka baca atau tonton; mereka sudah terlibat secara emosional dengan karya-karya itu.
Proses penikmatan timbul ketika pembaca atau penonton karya sastra merasa berhasil menerima pengalaman orang lain dan memerkaya pengalamannya sehingga dapat menghadapi kehidupan dengan lebih baik. Indikator penikmatan itu dapat dijajaki dengan menganjurkan pembaca mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri: Sudahkah saya menemukan pengalaman pengarang? Jika jawabannya “ya”, mintalah mereka menggambarkan bagaimana proses penemuan pengalaman pengarang itu terjadi. Andaikan mereka membaca roman Atheis, apakah mereka merasakan sentuhan kenikmatan ketika membaca pelukisan pengarang tentang bagaimana indahnya kota Bandung yang menjadi latar cerita pada masa itu?
Apakah penggambaran pengarang tentang delman, gadis-gadis berkebaya dan berpayung, serta latar yang sejuk dan rimbun dengan pepohonan menikmatkan naluri pembaca?. Pertanyaan-pertanyaan itu signifikan untuk mengukur intensitas penikmatan karya sastra oleh seseorang. Penerapan merupakan wujud perubahan sikap yang timbul pada pembaca sebagai konsekuensi dari penemuan nilai. Pembaca yang telah menemukan/merasakan kenikmatan, memanfaatkan temuan tersebut untuk mengubah sikapnya dalam dunia nyata. Pembaca mendapat manfaat langsung dari bacaan tersebut. Ketika seseorang berupaya melengkapi apresiasi keberagamaannya dengan ilmu, itu adalah bentuk penerapan setelah ia menemukan betapa goyahnya seorang pemeluk agama yang tidak disertai penguasaan ilmu ketika membaca Atheis.
Paparan mengenai definisi apresiasi dan tingkat apresiasi, mulai dari pengenalan, pemahaman, penghayatan, dan penerapan, di atas sekaligus menjelaskan adanya perbedaan yang tegas antara membaca apresiatif dengan membaca biasa. Kegiatan membaca biasa adalah kegiatan membaca sepintas lalu dengan tujuan memeroleh hiburan atau kenikmatan saja. Kegiatan membaca apresiatif adalah kegiatan membaca secara lebih serius dengan upaya menggali nilai-nilai keindahan (estetika) dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalam bacaan.