14.3 Stuktur Modal

Pengertian Struktur Modal

Struktur modal memiliki pengertian yang lebih sempit dari struktur keuangan. Struktur modal menunjukkan komposisi penggunaan dana jangka panjang. Sementara struktur keuangan menunjukkan komposisi seluruh dana, baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang digunakan untuk membelanjai kekayaan perusahaan. Secara umum, jenis dana yang dipakai perusahaan dapat dibedakan menjadi utang dan modal sendiri/ekuiti.

Teori struktur modal pada hakikatnya berusaha menjawab pertanyaan, apakah perbedaan struktur modal memiliki pengaruh terhadap biaya modal perusahaan. Keputusan struktur modal relevan untuk dipertimbangkan, jika memiliki pengaruh terhadap biaya modal, dan sebaliknya menjadi tidak relevan jika tidak berpengaruh apa-apa.

Perumusan teori struktur modal, umunya dimulai dengan mengasumsikan bahwa terdapat pasar modal yang sempurna. Kondisi yang melandasi terciptanya pasar modal yang sempurna adalah:
1.     Tidak ada pajak
2.     Perubahan komposisi utang dan ekuiti dapat dilakukan secara langsung karena tidak ada biaya transaksi
3.     Seluruh keuntungan perusahaan dibagikan sebagai dividen
4.     Semua pemodal memiliki pengharapan yang seragam terhadap distribusi keuntungan perusahaan
5.     Keuntungan operasi bersifat konstan atau tetap

Dalam Yulianti & Prasetyo (2002: 238), ada 2 (dua) pendekatan berbeda yang digunakan berkaitan dengan hal ini yaitu pendekatan tradisional dan pendekatan Modigliani-Miller (MM) antara lain:

Pendekatan tradisional. Pendekatan ini menyatakan bahwa dalam kondisi pasar modal yang sempurna, keputusan struktur modal menjadi relevan. Perusahaan dapat menurunkan biaya modalnya dengan menambah jumlah hutang, meskipun biaya modal sendiri akan bertambah besar. Hal ini karena biaya hutang lebih rendah dari biaya modal sendiri. Tetapi seiring dengan semakin banyaknya jumlah hutang (disebut sebagai tingkat leverage yang semakin tinggi) maka selain biaya modal sendiri bertambah tinggi, biaya hutang juga mengalami kenaikan. Akibatnya, biaya modal perusahaan secara keseluruhan akan bertambah besar. Perusahaan harus menentukan tingkat leverage yang mampu mengoptimalkan biaya modalnya.

Pendekatan MM. Pendekatan ini bertolak belakang dengan pendekatan tradisional, yaitu bahwa dalam kondisi terdapat pasar modal yang sempurna, keputusan struktur modal menjadi tidak relevan. Biaya modal secara keseluruhan tidak akan berubah, berapapun tingkat leverage perusahaan. Dengan demikian dalam pasar modal yang sempurna, tidak ada struktur modal yang optimal. Menurut MM, keputusan struktur modal menjadi relevan apabila terdapat pasar modal yang tidak sempurna (misalnya ada pajak dan risiko kebangkrutan). Dalam kondisi ini perusahaan perlu menentukan tingkat leverage yang tepat untuk memperoleh struktur modal yang optimal, yaitu struktur modal yang memberikan biaya modal rata-rata tertimbang terendah. Struktur modal yang optimal bervariasi, sesuai dengan karakteristik kegiatan perusahaan. Perusahaan yang memiliki aliran kas stabil, mungkin dapat menggunakan levarage yang lebih tinggi dari perusahaan dengan aliran kas yang kurang stabil.

Secara matematis, biaya modal rata-rata tertimbang dapat dicari dengan persamaan berikut:


 



 
Persamaan tersebut menunjukkan perbandingan jumlah hutang dan modal sendiri dalam struktur modal perusahaan. Biaya hutang perlu dikalikan dengan (1-t), karena pembayaran bunga dapat dipakai untuk menghemat pembayaran pajak. Besarnya kc akan menentukan tingkat keuntungan minimum yang harus dihasilkan oleh sebuah proyek investasi. Dalam hal ini, kc berfungsi sebagai batasan untuk menilai kelayakan proyek secara ekonomis. Apabila tingkat keuntungan lebih kecil dari kc,  berarti proyek tidak layak untuk dikerjakan. Kondisi ini antara lain akan ditunjukkan oleh nilai sekarang bersih proyek yang negatif.

Bagi investor, WACC adalah tingkat pengembalian yang diharapkan atas dana yang ditanamkan. WACC juga mewakili risiko / opportunity yang investor pertaruhkan dalam menginvestasikan uangnya. Pepatah lama berkata “High Risk, High Gain”, semakin besar risiko yang akan dihadapi maka tingkat pengembalian yang diharapkan semakin besar juga.

Dalam menentukan struktur modal, setidaknya ada 10 variabel yang mempengaruhinya, yaitu:
  1. Tingkat bunga
  2. Stabilitas penjualan
  3. Tingkat pertumbuhan penjualan
  4. Susunan aktiva
  5. Kadar resiko dari aktiva
  6. Kebutuhan modal
  7. Struktur saingan
  8. Keadaan pasar modal
  9. Sikap manajemen
  10. Sikap pemberi pinjaman

Susunan struktur modal terbaik bagi perusahaan juga dikenal sebagai struktur Modal Optimum. Dimana menurut pendekatan konservatif adalah struktur modal yang menggunakan modal pinjaman sebesar 50% dari total modal. Sementara itu, menurut pendekatan biaya modal struktur modal optimum adalah struktur modal yang dapat meminimalisir rata-rata biaya modal perusahaan. Metode biaya modal ini dapat dianalisa dengan berbagai pendekatan, misalnya dengan pendekatan tradisional dimana struktur modal optimum akan terjadi pada kondisi rata-rata biaya modal minimum dan nilai perusahaan maksimum.

Karena itu analisa variabel yang dapat mempengaruhi struktur modal perusahaan dan penentuan nilai perusahaan harus dilakukan. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi struktur modal optimal adalah:

  • Stabilitas penjualan. Penjualan perusahaan yang stabil akan mendapatkan lebih banyak pinjaman dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi daripada jika penjualan perusahaan tidak stabil.
  • Operating leverage: dengan mengurangi leverage operasional, maka perusahaan akan mampu menaikkan penggunaan leverage keuangan.
  • Corporate taxes : bunga yang tax-deductable akan memberikan keuntungan jika menggunakan hutang. Dengan marginal tax rate yang tinggi, maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan menggunakan hutang yang lebih tinggi.
  • Kadar resiko dari aktiva: makin lama jangka waktu penggunaan aktiva dalam perusahaan, maka makin besar pula resikonya.
  • Lenders dan rating agencies: semakin berlebih hutang yang digunakan oleh perusahaan, maka pihak lenders akan meminta tingkat bunga yang lebih tinggi dan rating agencies akan menurunkan rating pada tingkat hutang perusahaan.
  • Internal cash flow: internal cash flow yang lebih tinggi dan lebih stabil akan dapat menyebabkan tingkat leverage yang lebih stabil.
  • Pengendalian: saat ini banyak perusahaan yang meningkatkan tingkat hutangnya. Peningkatan hutang tersebut bertujuan untuk mendapatkan return yang lebih tinggi, sementara pembelian saham kembali ditujukan untuk meningkatkan pengendalian.
  • Kondisi ekonomi: kondisi ekonomi dan pasar keuangan akan turut mempengaruhi keputusan struktur modal. Pada saat suku bunga tinggi, keputusan pendanaan akan lebih menitik beratkan pada short-term debt, dan melakukan refinance dengan long-term debt.
  • Preferensi pihak manajemen: preferensi manajemen terhadap resiko memiliki andil yang besar terkait dengan kombinasi debt-equity perusahaan pada struktur modalnya.
  • Debt covenant : uang yang dipinjam dari sebuah bank dan juga penerbitan surat hutang serta terwujud melalui kesepakatan.
  • Agency cost : biaya yang digunakan untuk memantau kegiatan pihak manajemen dalam rangka memastikan bahwa aktivitas mereka atas persetujuan antara manajer, kreditur, dan shareholder.
  • Profitabilitas: profitabilitas yang tinggi pada perusahaan serta penggunaan internal financing yang lebih besar akan menurunkan penggunaan hutang.



Terakhir diperbaharui: Sunday, 19 July 2020, 22:48