Aspek Manusia Dalam Penalaran
Aspek Manusia Dalam Penalaran
Perubahan keyakinan argumen dapat menyangkut dua aspek yaitu manusia dan asersi. Ada beberapa aspek manusia yang dapat menjadi penghalang atau hambatan dalam pengembangan ilmu serta penalaran.
- a. Penjelasan yang sederhana. Rasionalitas menuntut penjelasan yang sesuai dengan fakta. Namun keinginan untuk memperoleh penjelasan yang sederhana akan menimbulkan orang tersebut puas sehingga menjadikan orang tersebut tidak kritis dalam menerima suatu penjelasan.b. Kepentingan mengalahkan nalar. Penghalang untuk bernalar sering muncul akibat memiliki kepentingan tertentu yang harus dipertahankan. Kepentingan sering memaksa orang untuk memihak posisi walaupun posisi atau keputusan tersebut sangat lemah dari segi argumen.c. Sindroma tes klinis. Sindroma menggambarkan seseorang merasa (bahkan yakin) bahwa terdapat ketidakberesan atau keanehan pada tubuhnya dan dia juga tahu benar apa yang terjadi pengetahuannya tentang suatu penyakit.d. Mentalitas djoko tingkir. Yaitu mengubah skenario yang sebenarnya terjadi/realita untuk mendapatkan sesuatu. Mentalitas djoko tingkir bisa menghambat terjadinya argumen yang sehat.e. Merasionalkan daripada menalar. Supaya argumen berjalan baik, penalar paling tidak memiliki pengetahuan atau wawasan yang cukup baik. Kurangnya wawasan atau pengetahuan dapat menjebak orang akan memilih stratagem daripada argumen layak. Apabila terlanjur mengambil keputusan yang salah, maka orang cenderung melakukan rasionalisasi tanpa mempertimbangkan argumen.f. Persistensi. Persistensi adalah gejala psikologis atau tingkah laku manusia untuk terpaku pada makna suatu simbol atau objek kemudian membuat orang tidak dapat melihat makna ataupun objek alternatif.
Aspek manusia sangat berperan penting dalam argumen yang memiliki tujuan untuk mencari suatu kebenaran. Rasionalitas merupakan unsur yang penting dalam suatu argumen. Namun, faktor-faktor psikologis & emosional, kekuasaan, serata kepentingan pribadi maupun kelompok akan menghambat/menghalangi terjadinya argumen yang sehat. Sampai pada tingkat tertentu persistensi justifikasi dapat dipertanggungjelaskan. Apabila sikap persistensi menutup diri untuk mempertimbangkan argumen yang baru dan kuat akan mengarah untuk meninggalkan keyakinan yang tidak valid lagi, maka persistensi tersebut tidak layak lagi.
Terakhir diperbaharui: Monday, 23 March 2020, 16:51