Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia/PUEBI
PERTEMUAN KE-9
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengata-sinya dengan bijaksana.
Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih tersedia.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.
Catatan:
Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai.
![]()
![]()
25
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu de-pan.
3. Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per meter.
Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.
H. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pang-kat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.
Misalnya:
A.H. Nasution Abdul Haris Nasution
H. Hamid Haji Hamid
Suman Hs. Suman Hasibuan
W.R. Supratman Wage Rudolf Supratman
M.B.A. master of business administration
M.Hum. magister humaniora
M.Si. magister sains
S.E. sarjana ekonomi
S.Sos. sarjana sosial
S.Kom. sarjana komunikasi
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
Sdr. saudara
Kol. Darmawati Kolonel Darmawati
![]()
![]()
26
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
2. a. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pen-didikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia
UI Universitas Indonesia
PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa
WHO World Health Organization
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
KUHP Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
b. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tan-da titik.
Misalnya:
PT perseroan terbatas
MAN madrasah aliah negeri
SD sekolah dasar
KTP kartu tanda penduduk
SIM surat izin mengemudi
NIP nomor induk pegawai
3. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
hlm. halaman
dll. dan lain-lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
sda. sama dengan di atas
ybs. yang bersangkutan
yth. yang terhormat
ttd. tertanda
dkk. dan kawan-kawan
![]()
![]()
27
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
4. Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik.
|
Misalnya: |
|
|
a.n. |
atas nama |
|
d.a. |
dengan alamat |
|
u.b. |
untuk beliau |
|
u.p. |
untuk perhatian |
|
s.d. |
sampai dengan |
5. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, tim-bangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:
Cu kuprum
cm sentimeter
kVA kilovolt-ampere
l liter
kg kilogram
Rp rupiah
6. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
BIG Badan Informasi Geospasial
BIN Badan Intelijen Negara
LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara
PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
7. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.
![]()
![]()
28
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Bulog Badan Urusan Logistik
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasi-
onal
Kowani Kongres Wanita Indonesia
Kalteng Kalimantan Tengah
Mabbim Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indo-
nesia-Malaysia
Suramadu Surabaya-Madura
8. Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
iptek ilmu pengetahuan dan teknologi
pemilu pemilihan umum
puskesmas pusat kesehatan masyarakat
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali
tilang bukti pelanggaran
I. Angka dan Bilangan
Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor.
|
Angka Arab |
: 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9 |
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50),
_ _
C (100), D (500), M (1.000), V (5.000), M (1.000.000)
![]()
![]()
29
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
1. Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika dipakai se-cara berurutan seperti dalam perincian.
Misalnya:
Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.
Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus, dan 250 sedan.
2. a. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Misalnya:
Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.
Catatan:
Penulisan berikut dihindari.
50 siswa teladan mendapat beasiswa dari peme-rintah daerah.
3 pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.
b. Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinya-takan dengan satu atau dua kata, susunan kalimatnya diubah.
Misalnya:
Panitia mengundang 250 orang peserta.
Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.
![]()
![]()
30
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Catatan:
Penulisan berikut dihindari.
250 orang peserta diundang panitia.
25 naskah kuno tersimpan di lemari itu.
3. Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis se-bagian dengan huruf supaya lebih mudah dibaca. Misalnya:
Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya 10 triliun rupiah.
4. Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, be-rat, luas, isi, dan waktu serta (b) nilai uang.
Misalnya:
0,5 sentimeter
5 kilogram
4 hektare
10 liter
2 tahun 6 bulan 5 hari
1 jam 20 menit
Rp5.000,00
US$3,50
£5,10
¥100
5. Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, ru-mah, apartemen, atau kamar.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15 atau
![]()
![]()
31
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Jalan Tanah Abang I/15
Jalan Wijaya No. 14
Hotel Mahameru, Kamar 169
Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201
6. Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surah Yasin: 9
Markus 16: 15—16
7. Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai beri-kut.
a. Bilangan Utuh
|
Misalnya: |
|
|
dua belas |
(12) |
|
tiga puluh |
(30) |
|
lima ribu |
(5.000) |
|
b. Bilangan Pecahan |
|
|
Misalnya: |
|
|
setengah atau seperdua |
(½) |
|
seperenam belas |
(⅟16 |
|
tiga perempat |
(¾) |
|
dua persepuluh |
(²∕₁₀) |
|
tiga dua-pertiga |
(3⅔) |
|
satu persen |
(1%) |
|
satu permil |
(1‰) |
8. Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.
![]()
![]()
32
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
abad XX
abad ke-20
abad kedua puluh
Perang Dunia II
Perang Dunia Ke-2
Perang Dunia Kedua
9. Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:
lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)
tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ra-tus lima puluhan)
uang 5.000-an (uang lima ribuan)
10. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi.
Misalnya:
Setiap orang yang menyebarkan atau mengedar-kan rupiah tiruan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.
11. Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf dilakukan seperti berikut.
![]()
![]()
33
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).
Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan per-tanggungjawaban.
12. Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf.
Misalnya:
Kelapadua
Kotonanampek
Rajaampat
Simpanglima
Tigaraksa
J. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Rumah itu telah kujual.
Majalah ini boleh kaubaca.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
Rumahnya sedang diperbaiki.
K. Kata Sandang si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.
Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.
![]()
![]()
34
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Sang adik mematuhi nasihat sang kakak.
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Dalam cerita itu si Buta berhasil menolong kekasihnya.
Catatan:
Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang me-rupakan unsur nama Tuhan.
Misalnya:
Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.
Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa.
![]()
![]()
35
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
III. PEMAKAIAN TANDA BACA
A. Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan. Misalnya:
Mereka duduk di sana.
Dia akan datang pada pertemuan itu.
2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
a. I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A. Bahasa Indonesia
1. Kedudukan
2. Fungsi
B. Bahasa Daerah
1. Kedudukan
2. Fungsi
C. Bahasa Asing
1. Kedudukan
2. Fungsi
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
2. Patokan Khusus
…
...
![]()
![]()
36
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Catatan:
(1) Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.
Misalnya:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
1) bahasa nasional yang berfungsi, antara lain, a) lambang kebanggaan nasional,
b) identitas nasional, dan
c) alat pemersatu bangsa;
2) bahasa negara ….
(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digi-tal yang lebih dari satu angka (seperti pada 2b).
(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau ang-ka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.
Misalnya:
Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia
Bagan 2 Struktur Organisasi
Bagan 2.1 Bagian Umum
Grafik 4 Sikap Masyarakat Perkotaan terhadap Ba-hasa Indonesia
Grafik 4.1 Sikap Masyarakat Berdasarkan Usia
Gambar 1 Gedung Cakrawala
Gambar 1.1 Ruang Rapat
2. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Misalnya:
pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)
01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
![]()
![]()
37
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
|
00.20.30 jam |
(20 menit, 30 detik) |
|
00.00.30 jam |
(30 detik) |
3. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.
Misalnya:
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008.
Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indone-
sia. Jakarta.
Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta:
Gramedia.
4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.
Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00.
Catatan:
(1) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bi-langan ribuan atau kelipatannya yang tidak menun-jukkan jumlah.
Misalnya:
Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa In-donesia Pusat Bahasa halaman 1305.
Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.
(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang me-rupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.
![]()
![]()
38
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebu-dayaan
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)
Gambar 3 Alat Ucap Manusia
Tabel 5 Sikap Bahasa Generasi Muda Berdasar-kan Pendidikan
(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) alamat penerima dan pengirim surat serta (b) tanggal surat.
Misalnya:
Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
Menteng
Jakarta 10330
Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembi-naan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
Indrawati, M.Hum.
Jalan Cempaka II No. 9
Jakarta Timur
21 April 2013
Jakarta, 15 Mei 2013 (tanpa kop surat)
B. Tanda Koma (,)
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
![]()
![]()
39
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.
Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepus-takaan.
Satu, dua, ... tiga!
2. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk
(setara).
Misalnya:
Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.
3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahu-lui anak kalimat.
Misalnya:
Saya akan datang kalau diundang.
Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.
![]()
![]()
40
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.
4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan peng-hubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian. Misalnya:
Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.
Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar
Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil menjadi sarjana.
5. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.
Misalnya:
O, begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin!
Nak, kapan selesai kuliahmu?
Siapa namamu, Dik?
Dia baik sekali, Bu.
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya:
Kata nenek saya, “Kita harus berbagi dalam hidup ini.”
“Kita harus berbagi dalam hidup ini,” kata nenek saya, “karena manusia adalah makhluk sosial.”
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan
![]()
![]()
41
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.
Misalnya:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak Lurah.
“Masuk ke dalam kelas sekarang!” perintahnya.
“Wow, indahnya pantai ini!” seru wisatawan itu.
7. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) ba-gian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayu-manis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130
Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta
Surabaya, 10 Mei 1960
Tokyo, Jepang
8. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Ja-
karta: Restu Agung.
Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.
Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari di Wilayah Indonesia Timur. Ambon: Mu-tiara Beta.
9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.
![]()
![]()
42
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa In-donesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Ka-rang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
Bambang Irawan, M.Hum.
Siti Aminah, S.H., M.H.
Catatan:
Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A.
(Siti Khadijah Mas Agung).
11. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m
27,3 kg
Rp500,50
Rp750,00
12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.
![]()
![]()
43
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Di daerah kami, misalnya, masih banyak bahan tam-bang yang belum diolah.
Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengikuti latihan paduan suara.
Soekarno, Presiden I RI, merupakan salah seorang pendi-ri Gerakan Nonblok.
Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimak-sud pada ayat (3), wajib menindaklanjuti laporan dalam waktu paling lama tujuh hari.
Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaian-nya tidak diapit tanda koma!
Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di per-guruan tinggi itu tanpa melalui tes.
13. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang ter-dapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/ salah pengertian.
Misalnya:
Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaat-kan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.
C. Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata peng-hubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.
![]()
![]()
44
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita pendek.
2. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.
Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
![]()
![]()
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Ke-satuan Republik Indonesia.
3. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-ba-gian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tang-ga, dan program kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organi-sasi.
D.
Tanda
Titik Dua (
1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan leng-kap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.
![]()
![]()
45
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan:
hidup atau mati.
2. Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari. Tahap penelitian yang harus dilakukan meliputi
a. persiapan,
b. pengumpulan data,
c. pengolahan data, dan
d. pelaporan.
3. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
a. Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : Siti Aryani
Bendahara : Aulia Arimbi
c. Narasumber : Prof. Dr. Rahmat Effendi
Pemandu : Abdul Gani, M.Hum.
Pencatat : Sri Astuti Amelia, S.Pd.
4. Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : “Bawa koper ini, Nak!”
Amir : “Baik, Bu.”
Ibu : “Jangan lupa, letakkan baik-baik!”
![]()
![]()
46
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
5. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan pener-bit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
Surah Albaqarah: 2—5
Matius 2: 1—3
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara
Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Ba-hasa.
E. Tanda Hubung (-)
1. Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara lama, diterapkan juga ca-ra baru ….
Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum-put laut.
Kini ada cara yang baru untuk meng-ukur panas.
Parut jenis ini memudahkan kita me-ngukur kelapa.
2. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.
Misalnya:
anak-anak
berulang-ulang
kemerah-merahan
mengorek-ngorek
![]()
![]()
47
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
3. Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyam-bung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya:
11-11-2013
p-a-n-i-t-i-a
4. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan.
Misalnya:
ber-evolusi
meng-ukur
dua₂₅-puluh-lima ribuan (25 x 1.000)
²³∕ (dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima)
mesin hitung-tangan
Bandingkan dengan
be-revolusi
me-ngukur
dua₂₅-puluh lima-ribuan (20 x 5.000)
20 ³∕ (dua-puluh tiga perdua-puluh-lima)
mesin-hitung tangan
5. Tanda hubung dipakai untuk merangkai
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);
b. ke- dengan angka (peringkat ke-2);
c. angka dengan –an (tahun 1950-an);
d. kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf kapital (hari-H, sinar-X, ber-KTP, di-SK-kan);
e. kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas rah-mat-Mu);
f. huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan
![]()
![]()
48
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
g. kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang beru-pa huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).
Catatan:
Tanda hubung tidak dipakai di antara huruf dan angka jika angka tersebut melambangkan jumlah huruf.
Misalnya:
BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindung-an Tenaga Kerja Indonesia)
LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia)
P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)
6. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indo-nesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
di-sowan-i (bahasa Jawa, ‘didatangi’)
ber-pariban (bahasa Batak, ‘bersaudara sepupu’)
di-back up
me-recall
pen-tackle-an
7. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.
Misalnya:
Kata pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.
Akhiran -isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menja-di pembetonan.
F. Tanda Pisah (—)
1. Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
![]()
![]()
49
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai— diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.
2. Tanda pisah dapat dipakai juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain.
Misalnya:
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diaba-dikan menjadi nama bandar udara internasional.
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita ten-tang alam semesta.
Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus digelorakan.
3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
Misalnya:
Tahun 2010—2013
Tanggal 5—10 April 2013
Jakarta—Bandung
G. Tanda Tanya (?)
1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?
Siapa pencipta lagu “Indonesia Raya”?
2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menya-takan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
![]()
![]()
50
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.
H. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyata-an yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan ke-sungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.
Misalnya:
Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!
Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
Bayarlah pajak tepat pada waktunya!
Masa! Dia bersikap seperti itu?
Merdeka!
I. Tanda Elipsis (...)
1. Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah ….
..., lain lubuk lain ikannya.
Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat buah).
2. Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran yang tidak sele-sai dalam dialog.
![]()
![]()
51
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
“Menurut saya … seperti … bagaimana, Bu?” “Jadi, simpulannya … oh, sudah saatnya istirahat.”
Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik
(jumlah titik empat buah).
J. Tanda Petik (“…”)
1. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
“Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
“Kerjakan tugas ini sekarang!” perintah atasannya. “Be-sok akan dibahas dalam rapat.”
Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Repub-lik Indonesia Tahun 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.”
2. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai da-lam kalimat.
Misalnya:
Sajak “Pahla**u” terdapat pada halaman 125 buku itu.
Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
Film “Ainun dan Habibie” merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah novel.
![]()
![]()
52
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ung-kap Bahasa Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif” me-narik perhatian peserta seminar.
Perhatikan “Pemakaian Tanda Baca” dalam buku Pe-doman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
3. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang ku-rang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya:
“Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi. Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!
K. Tanda Petik Tunggal (‘…’)
1. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya dia, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
“Kudengar
teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang!’, dan rasa letihku lenyap seketika,”
ujar Pak Hamdan.
![]()
“Kita bangga karena lagu ‘Indonesia Raya’ berkuman-dang di arena olimpiade itu,” kata Ketua KONI.
2. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, ter-jemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan.
Misalnya:
tergugat ‘yang digugat’
retina ‘dinding mata sebelah dalam’
noken ‘tas khas Papua’
tadulako ‘panglima’
marsiadap ari ‘saling bantu’
tuah sakato ‘sepakat demi manfaat bersama’
![]()
![]()
53
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
policy ‘kebijakan’
wisdom ‘kebijaksanaan’
money politics ‘politik uang’
L. Tanda Kurung ((…))
1. Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterang-an atau penjelasan.
Misalnya:
Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).
Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda pen-duduk).
Lokakarya (workshop) itu diadakan di Manado.
2. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
Misalnya:
Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam negeri.
3. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.
Misalnya:
Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transja-karta.
Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.
4. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai penanda pemerincian.
![]()
![]()
54
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.
Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan
(1) akta kelahiran,
(2) ijazah terakhir, dan
(3) surat keterangan kesehatan.
M. Tanda Kurung Siku ([…])
1. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah asli yang di-tulis orang lain.
Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah bahasa Indonesia.
Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indo-nesia dirayakan secara khidmat.
2. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan da-lam kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung.
Misalnya:
Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35─38]) perlu dibentang-kan di sini.
N. Tanda Garis Miring (/)
1. Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi da-lam dua tahun takwim.
![]()
![]()
55
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Nomor: 7/PK/II/2013
Jalan Kramat III/10
tahun ajaran 2012/2013
2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.
|
Misalnya: |
|
|
|
mahasiswa/mahasiswi |
‘mahasiswa dan mahasiswi’ |
|
|
dikirimkan lewat darat/laut |
‘dikirimkan |
lewat darat |
|
|
atau lewat laut’ |
|
|
buku dan/atau majalah |
‘buku dan majalah atau |
|
|
|
buku atau majalah’ |
|
|
harganya Rp1.500,00/lembar |
‘harganya |
Rp1.500,00 |
|
|
setiap lembar’ |
|
3. Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak be-berapa kali.
Asmara/n/ dana merupakan salah satu tembang maca-pat budaya Jawa.
Dia sedang menyelesaikan /h/utangnya di bank.
O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu.
![]()
![]()
56
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
Misalnya:
Dia ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
Mereka sudah datang, ‘kan? (‘kan = bukan)
Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
5-2-‘13 (’13 = 2013)
![]()
![]()
57
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
IV. PENULISAN UNSUR SERAPAN
Dalam perkembangannya bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa, baik dari bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, maupun dari bahasa asing, seperti bahasa San-skerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, unsur asing yang be-lum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti force majeur, de facto, de jure, dan l’exploitation de l’homme par l’homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini, penyerapan diusa-hakan agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indone-sianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu adalah se-bagai berikut.
a (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi a (bukan o)
|
mażhab |
(بهذم) |
mazhab |
|
qadr |
(ﺭﺩﻗ) |
kadar |
|
ṣaḥābat |
(ةباحص) |
sahabat |
|
haqīqat |
(ﺔﻗﻳﻗﺤ) |
hakikat |
|
‘umrah |
(ﺓﺭﻤﻋ) |
umrah |
|
gā’ib |
(ﺏﺌﺎﻏ) |
gaib |
|
iqāmah |
(ﺔﻤﺎﻗﺇ) |
ikamah |
|
khātib |
(ﺏﻁﺎﺨ) |
khatib |
|
riḍā’ |
(ﺀﺎﻀﺭ) |
rida |
|
ẓālim |
(ﻡﻠﺎﻅ) |
zalim |
![]()
![]()
58
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
‘ain (ﻉ Arab) pada awal suku kata menjadi a, i, u
|
‘ajā’ib |
(ﺏﺌﺎﺠﻋ) |
ajaib |
|
sa‘ādah |
(ﺓﺩﺎﻌﺴ) |
saadah |
|
‘ilm |
(ﻡﻠﻋ) |
ilmu |
|
qā‘idah |
(ﺓﺩﻋﺎﻗ) |
kaidah |
|
‘uzr |
(ﺭﺫﻋ) |
uzur |
|
ma‘ūnah |
(ﺓﻨﻭﻌﻤ) |
maunah |
|
‘ain (ﻉ Arab) di akhir suku kata menjadi k |
||
|
’i‘ tiqād |
(ﺩﺎﻗﺘﻋﺇ) |
iktikad |
|
mu‘jizat |
(ﺓﺯﺠﻌﻤ) |
mukjizat |
|
ni‘mat |
(ﺔﻤﻌﻨ) |
nikmat |
|
rukū‘ |
(ﻉﻭﻜﺭ) |
rukuk |
|
simā‘ |
(ﻉﺎﻤﺴ) |
simak |
|
ta‘rīf |
(ﻑﻴﺭﻌﺘ) |
takrif |
aa (Belanda) menjadi a
paal pal
baal bal
octaaf oktaf
ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e
aerobe aerob
aerodinamics aerodinamika
ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e
haemoglobin hemoglobin
haematite hematit
ai tetap ai
trailer trailer
caisson kaison
au tetap au
audiogram audiogram
autotroph autotrof
tautomer tautomer
![]()
![]()
59
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
hydraulic hidraulik
caustic kaustik
c di depan a, u, o, dan konsonan menjadi k
calomel kalomel
construction konstruksi
cubic kubik
coup kup
classification klasifikasi
crystal kristal
c di depan e, i, oe, dan y menjadi s
central sentral
cent sen
circulation sirkulasi
coelom selom
cybernetics sibernetika
cylinder silinder
cc di depan o, u, dan konsonan menjadi k
accomodation akomodasi
acculturation akulturasi
acclimatization aklimatisasi
accumulation akumulasi
acclamation aklamasi
cc di depan e dan i menjadi ks
accent aksen
accessory aksesori
vaccine vaksin
cch dan ch di depan a, o, dan konsonan menjadi k
saccharin sakarin
charisma karisma
cholera kolera
chromosome kromosom
technique teknik
![]()
![]()
60
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
echelon eselon
machine mesin
ch yang lafalnya c menjadi c
charter carter
chip cip
ck menjadi k
check cek
ticket tiket
ç (Sanskerta) menjadi s
|
çabda |
|
sabda |
|
çastra |
|
sastra |
|
ḍad (ﺽ Arab) menjadi d |
|
|
|
’afḍal |
(ﻞﻀﻓﺃ) |
afdal |
|
ḍa’īf |
(فيعض) |
daif |
|
farḍ |
(ﺽﺭﻓ) |
fardu |
|
hāḍir |
(ﺭﻀﺎﺤ) |
hadir |
|
e tetap e |
|
|
|
effect |
|
efek |
|
description |
|
deskripsi |
|
synthesis |
|
sintesis |
|
ea tetap ea |
|
|
|
idealist |
|
idealis |
|
habeas |
|
habeas |
ee (Belanda) menjadi e
stratosfeer stratosfer
systeem sistem
ei tetap ei
eicosane eikosan
![]()
![]()
61
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
|
eidetic |
|
eidetik |
|
einsteinium |
|
einsteinium |
|
eo tetap eo |
|
|
|
stereo |
|
stereo |
|
geometry |
|
geometri |
|
zeolite |
|
zeolit |
|
eu tetap eu |
|
|
|
neutron |
|
neutron |
|
eugenol |
|
eugenol |
|
europium |
|
europium |
|
fa (ﻑ Arab) menjadi f |
|
|
|
ʼafḍal |
(ﻝﻀﻓﺃ) |
afdal |
|
‘ārif |
(ﻑﺭﺎﻋ) |
arif |
|
faqīr |
(ﺭﻴﻗﻓ) |
fakir |
|
faṣīh |
(ﺡﻴﺼﻓ) |
fasih |
|
mafhūm |
(ﻡﻭﻬﻓﻤ) |
mafhum |
|
f tetap f |
|
|
|
fanatic |
|
fanatik |
|
factor |
|
faktor |
|
fossil |
|
fosil |
|
gh menjadi g |
|
|
|
ghanta |
|
genta |
|
sorghum |
|
sorgum |
|
gain (غ Arab) menjadi g |
|
|
|
gā’ib |
(بئاغ) |
gaib |
|
magfirah |
(ةرفغم) |
magfirah |
|
magrib |
(برغم) |
magrib |
|
gue menjadi ge |
|
|
|
igue |
|
ige |
|
gigue |
|
gige |
![]()
![]()
62
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
|
ḥa (ﺡ Arab) menjadi h |
(ﻡﻜﺎﺤ) |
|
|
ḥākim |
hakim |
|
|
iṣlāḥ |
(ﺡﻼﺼﺇ) |
islah |
|
siḥr |
(ﺭﺤﺴ) |
sihir |
hamzah (ﺀ Arab) yang diikuti oleh vokal menjadi a, i, u
|
’amr |
(ﺭﻤﺃ) |
amar |
|
mas’alah |
(ﺔﻟﺄﺴﻤ) |
masalah |
|
’iṣlāḥ |
(ﺡﻼﺼﺇ) |
islah |
|
qā’idah |
(ﺓﺩﻋﺎﻗ) |
kaidah |
|
’ufuq |
(ﻕﻓﺃ) |
ufuk |
hamzah (ﺀ Arab) di akhir suku kata, kecuali di akhir kata, menjadi k
|
ta’wīl |
(ﻝﻴﻭﺄﺘ) |
takwil |
|
ma’mūm |
(ﻡﻭﻤﺄﻤ) |
makmum |
|
mu’mīn |
(ﻦﻤﺆﻤ) |
mukmin |
|
hamzah (ﺀ Arab) di akhir kata dihilangkan |
||
|
imlā’ |
(ﺀﻼﻤﺇ) |
imla |
|
istinjā’ |
(ﺀﺎﺠﻨﺘﺴﺇ) |
istinja/tinja |
|
munsyi’ |
(ﺀﻰﺸﻨﻤ) |
munsyi |
|
wuḍū’ |
(ﺀﻭﻀﻭ) |
wudu |
i (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi i
|
ʼi‘tiqād |
(ﺩﺎﻗﺘﻋﺇ) |
iktikad |
|
muslim |
(ﻡﻟﺳﻣ) |
muslim |
|
naṣīḥah |
(ﺔﺤﻴﺼﻨ) |
nasihat |
|
ṣaḥīḥ |
(ﺢﻴﺤﺼ) |
sahih |
i pada awal suku kata di depan vokal tetap i
iambus iambus
ion ion
iota iota
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i
politiek politik
riem rim
![]()
![]()
63
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
|
ie tetap ie jika lafalnya bukan i |
|
|
|
variety |
|
varietas |
|
patient |
|
pasien |
|
hierarchy |
|
hierarki |
|
jim (ﺝ Arab) menjadi j |
|
|
|
jāriyah |
(ﺔﻴﺭﺎﺠ) |
jariah |
|
janāzah |
(ﺓﺯﺎﻨﺠ) |
jenazah |
|
ʼijāzah |
(ﺓﺯﺎﺠﺇ) |
ijazah |
|
kha (ﺥ Arab) menjadi kh |
|
|
|
khuṣūṣ |
(ﺹﻭﺼﺨ) |
khusus |
|
makhlūq |
(ﻕﻭﻠﺨﻤ) |
makhluk |
|
tārīkh |
(ﺦﻴﺭﺎﺘ) |
tarikh |
|
ng tetap ng |
|
|
|
contingent |
|
kontingen |
|
congres |
|
kongres |
|
linguistics |
|
linguistik |
|
oe (oi Yunani) menjadi e |
|
|
|
foetus |
|
fetus |
|
oestrogen |
|
estrogen |
|
oenology |
|
enologi |
|
oo (Belanda) menjadi o |
|
|
|
komfoor |
|
kompor |
|
provoost |
|
provos |
|
oo (Inggris) menjadi u |
|
|
|
cartoon |
|
kartun |
|
proof |
|
pruf |
|
pool |
|
pul |
|
oo (vokal ganda) tetap oo |
|
|
|
zoology |
|
zoologi |
|
coordination |
|
koordinasi |
![]()
![]()
64
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
|
ou menjadi u jika lafalnya u |
|
|
|
gouverneur |
|
gubernur |
|
coupon |
|
kupon |
|
contour |
|
kontur |
|
ph menjadi f |
|
|
|
phase |
|
fase |
|
physiology |
|
fisiologi |
|
spectograph |
|
spektograf |
|
ps tetap ps |
|
|
|
pseudo |
|
pseudo |
|
psychiatry |
|
psikiatri |
|
psychic |
|
psikis |
|
psychosomatic |
|
psikosomatik |
|
pt tetap pt |
|
|
|
pterosaur |
|
pterosaur |
|
pteridology |
|
pteridologi |
|
ptyalin |
|
ptialin |
|
q menjadi k |
|
|
|
aquarium |
|
akuarium |
|
frequency |
|
frekuensi |
|
equator |
|
ekuator |
|
qaf (ﻕ Arab) menjadi k |
|
|
|
‘aqīqah |
(ﺔﻗﻴﻗﻋ) |
akikah |
|
maqām |
(ﻡﺎﻗﻤ) |
makam |
|
muṭlaq |
(ﻕﻠﻁﻤ) |
mutlak |
|
rh menjadi r |
|
|
|
rhapsody |
|
rapsodi |
|
rhombus |
|
rombus |
|
rhythm |
|
ritme |
|
rhetoric |
|
retorika |
![]()
![]()
65
sin (ﺱ Arab) menjadi s
asās (ﺱﺎﺴﺃ)
salām (ﻢﻼﺴ)
silsilah (ةسلس)
|
śa (ﺙ Arab) menjadi s |
(ىرﻴﺜأ) |
|
aśiri |
|
|
ḥadiś ̒ |
(ثيدحّ) |
|
śulāśā |
(ءاث لثل ا) |
|
wāriś |
(ﺙﺭﺍﻭ) |
|
ṣad (ﺹ Arab) menjadi s |
|
|
‘aṣr |
(رصع) |
|
muṣībah |
(ﺔﺒﻴﺼﻤ) |
|
khuṣūṣ |
(ﺹﻭﺼﺨ) |
|
ṣaḥḥ |
(ﺢﺼ) |
syin (ﺵ Arab) menjadi sy
‘āsyiq (ﻕﺸﺎﻋ)
‘arsy (ﺵﺭﻋ)
syarṭ (ﻁﺭﺸ)
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
asas
salam
silsilah
asiri
hadis
![]()
selasa
waris
asar
musibah
khusus
sah
asyik
arasy
syarat
sc di depan a, o, u, dan konsonan menjadi sk
scandium skandium
scotopia skotopia
scutella skutela
sclerosis sklerosis
sc di depan e, i, dan y menjadi s
scenography senografi
scintillation sintilasi
scyphistoma sifistoma
sch di depan vokal menjadi sk
schema skema
schizophrenia skizofrenia
scholastic skolastik
![]()
![]()
66
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
|
t di depan i menjadi s jika lafalnya s |
|
||
|
actie |
|
aksi |
|
|
ratio |
|
rasio |
|
|
patient |
|
pasien |
|
|
ṭa (ﻁ Arab) menjadi t |
ّ |
|
|
|
khaṭṭ |
khat |
||
|
(طخ) |
|||
|
muṭlaq |
(ﻕﻠﻁﻤ) |
mutlak |
|
|
ṭabīb |
(بيبط) |
tabib |
|
|
th menjadi t |
|
|
|
|
theocracy |
|
teokrasi |
|
|
orthography |
|
ortografi |
|
|
thrombosis |
|
trombosis |
|
|
methode (Belanda) |
metode |
||
|
u tetap u |
|
|
|
|
unit |
|
unit |
|
|
nucleolus |
|
nukleolus |
|
|
structure |
|
struktur |
|
|
institute |
|
institut |
|
u (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi u
|
rukū’ |
(ﻉﻭﻛﺮ) |
rukuk |
|
syubḥāt |
(ﺖ ﺎﻬﺒﺸ) |
syubhat |
|
sujūd |
(ﺩﻭﺟﺴ) |
sujud |
|
’ufuq |
(ﻕﻓأ) |
ufuk |
|
ua tetap ua |
|
|
|
aquarium |
|
akuarium |
|
dualisme |
|
dualisme |
|
squadron |
|
skuadron |
|
ue tetap ue |
|
|
|
consequent |
|
konsekuen |
|
duet |
|
duet |
|
suede |
|
sued |
![]()
![]()
67
ui tetap ui
conduite
equinox
equivalent
uo tetap uo
f uoresceinl quorum quota
uu menjadi u lectuur prematuur vacuum
v tetap v
evacuation
television
vitamin
wau (ﻭ Arab) tetap w
jadwal (ﻝﻭﺩﺠ)
taqwā (ﻯﻭﻗﺘ)
wujūd (ﺩﻭﺠﻭ)
konduite
ekuinoks
ekuivalen
f uoreseinl kuorum kuota
lektur
prematur
vakum
evakuasi
televisi
vitamin
jadwal
takwa
wujud
wau (ﻭ Arab, baik satu maupun dua konsonan) yang didahului u dihilangkan
|
nahwu |
(وحن) |
nahu |
|
nubuwwah |
(ﺓﹼﻭﺒﻨّ) |
nubuat |
|
quwwah |
(ﺓﹼﻭﻗّ) |
kuat |
|
aw (diftong Arab) |
menjadi au, termasuk yang diikuti konsonan |
|
|
awrāt |
(ﺓرﻮﻋ) |
aurat |
|
hawl |
(ﻝﻭﻫ) |
haul |
|
mawlid |
(ﺩﻠﻭﻤ) |
maulid |
|
walaw |
(وﻠو) |
walau |
![]()
![]()
68
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
x pada awal kata tetap x
xanthate xantat
xenon xenon
xylophone xilofon
x pada posisi lain menjadi ks
executive eksekutif
express ekspres
latex lateks
taxi taksi
xc di depan e dan i menjadi ks
exception eksepsi
excess ekses
excision eksisi
excitation eksitasi
xc di depan a, o, u, dan konsonan menjadi ksk
excavation ekskavasi
excommunication ekskomunikasi
excursive ekskursif
exclusive eksklusif
y tetap y jika lafalnya y
yakitori yakitori
yangonin yangonin
yen yen
yuan yuan
y menjadi i jika lafalnya ai atau i
dynamo dinamo
propyl propil
psychology psikologi
yttrium itrium
ya (ﻱ Arab) di awal suku kata menjadi y
‘ināyah (ﺔﻴﺎﻨﻋ) inayah
yaqīn (ﻥﻴﻗﻴ) yakin
![]()
![]()
69
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
|
ya‘nī |
(ﻲﻨﻌﻴ) |
yakni |
|
ya (ﻱ Arab) di depan i dihilangkan |
|
|
|
khiyānah |
(ﺔﻨﺎﻴﺨ) |
khianat |
|
qiyās |
(ﺱﺎﻴﻗ) |
kias |
|
ziyārah |
(ﺓﺭﺎﻴﺯ) |
ziarah |
|
z tetap z |
|
|
|
zenith |
|
zenit |
|
zirconium |
|
zirkonium |
|
zodiac |
|
zodiak |
|
zygote |
|
zigot |
|
zai (ﺯ Arab) tetap z |
|
|
|
ijāzah |
(ﺓﺯﺎﺠﺇ) |
ijazah |
|
khazānah |
(ﺔﻨﺍﺯﺨ) |
khazanah |
|
ziyārah |
(ﺓﺭﺎﻴﺯ) |
ziarah |
|
zaman |
(ﻥﻤﺯ) |
zaman |
|
żal (ﺫ Arab) menjadi z |
|
|
|
ażān |
(ﻥﺍﺫﺃ) |
azan |
|
iżn |
(ﻥﺫﺇ) |
izin |
|
ustāż |
(ﺬﺎﺘﺴﺃ) |
ustaz |
|
żāt |
(ﺕﺍﺫ) |
zat |
|
ẓa (ﻅ Arab) menjadi z |
(ﻅﻔﺎﺤ) |
|
|
ḥāfiẓ |
hafiz |
|
|
ta‘ẓīm |
(ﻡﻴﻅﻌﺘ) |
takzim |
|
ẓālim |
(ﻡﻠﺎﻅ) |
zalim |
Konsonan ganda diserap menjadi konsonan tunggal, kecuali kalau dapat membingungkan.
Misalnya:
accu aki
‘allāmah alamah
commission komisi
![]()
![]()
70
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
effect efek
ferrum ferum
gabbro gabro
kaffah kafah
salfeggio salfegio
tafakkur tafakur
tammat tamat
ʼummat umat
Perhatikan penyerapan berikut!
ʼAllah Allah
mass massa
massal massal
Catatan:
Unsur serapan yang sudah lazim dieja sesuai dengan ejaan ba-hasa Indonesia tidak perlu lagi diubah.
|
Misalnya: |
|
|
|
bengkel |
nalar |
Rabu |
|
dongkrak |
napas |
Selasa |
|
faedah |
paham |
Senin |
|
kabar |
perlu |
sirsak |
|
khotbah |
pikir |
soal |
|
koperasi |
populer |
telepon |
|
lahir |
|
|
Selain kaidah penulisan unsur serapan di atas, berikut ini dis-ertakan daftar istilah asing yang mengandung akhiran serta penye-suaiannya secara utuh dalam bahasa Indonesia.
-aat (Belanda) menjadi –at
advocaat advokat
-age menjadi -ase
percentage persentase
etalage etalase
![]()
![]()
71
-ah (Arab) menjadi –ah atau –at
‘aqīdah (ﺓﺩﻴﻗﻋ)
ʼijāzah (ﺓﺯﺎﺠﺇ)
‘umrah (ﺓﺭﻤﻋ)
ʼākhirah (ﺓﺭﺨﺁ)
ʼāyah (ﺔﻴﺃ)
ma‘siyyah (ﺔّﻴﺼﻌﻤ)
ʼamānah (ﺔﻨﺎﻤﺃ)
hikmah (ﺔﻤﻜﺤ)
‘ibādah (ﺓﺪﺍﺐﻋ)
sunnah (ﺔﻧﺳ)
sūrah (ﺓﺭﻭﺴ)
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
akidah
ijazah
umrah
akhirat
ayat
maksiat
amanah, amanat
hikmah, hikmat
ibadah, ibadat
sunah, sunat
surah, surat
-al (Inggris), -eel dan -aal (Belanda) menjadi –al
structural, structureel struktural
formal, formeel formal
normal, normaal normal
-ant menjadi -an
accountant akuntan
consultant konsultan
informant informan
-archy (Inggris), -archie (Belanda) menjadi arki
anarchy, anarchie anarki
monarchy, monarchie monarki
oligarchy, oligarchie oligarki
-ary (Inggris), -air (Belanda) menjadi -er complementary,
complementair komplementer
primary, primair primer
secondary, secundair sekunder
![]()
![]()
72
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
-(a)tion (Inggris), -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si
action, actie aksi
publication, publicatie publikasi
|
-eel (Belanda) menjadi -el |
|
|
|
materieel |
|
materiel |
|
moreel |
|
morel |
|
-ein tetap -ein |
|
|
|
casein |
|
kasein |
|
protein |
|
protein |
|
-i, -iyyah (akhiran Arab) menjadi –i atau -iah |
||
|
‘ālamī |
(ﻲﻤﻠﺎﻋ) |
alami |
|
ʼinsānī |
(ﻲﻨﺎﺴﻨﺇ) |
insani |
|
‘āliyyah |
(ﺔّﻴﻠﺎﻋ) |
aliah |
|
‘amaliyyah |
(ﺔّﻴﻠﻤﻋ) |
amaliah |
-ic, -ics, dan -ique (Inggris), -iek dan -ica (Belanda) menjadi -ik, ika
dialectics, dialektica dialektika
logic, logica logika
physics, physica fisika
linguistics, linguistiek linguistik
phonetics, phonetiek fonetik
technique, techniek teknik
-ic (Inggris), -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik
electronic, elektronisch elektronik
mechanic, mechanisch mekanik
ballistic, ballistisch balistik
-ical (Inggris), -isch (Belanda) menjadi -is
economical, economisch ekonomis
practical, practisch praktis
logical, logisch logis
![]()
![]()
73
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
-ile (Inggris), -iel (Belanda) menjadi -il
mobile, mobiel mobil
percentile, percentiel persentil
projectile, projectiel proyektil
-ism (Inggris), -isme (Belanda) menjadi -isme
capitalism, capitalisme kapitalisme
communism, communisme komunisme
modernism, modernisme modernisme
-ist menjadi -is
egoist egois
hedonist hedonis
publicist publisis
-ive (Inggris), -ief (Belanda) menjadi -if
communicative,
communicatief komunikatif
demonstrative, demonstratief demonstratif
descriptive, descriptief deskriptif
-logue (Inggris), -loog (Belanda) menjadi -log
analogue, analoog analog
epilogue, epiloog epilog
prologue, proloog prolog
-logy (Inggris), -logie (Belanda) menjadi -logi
technology, technologie teknologi
physiology, physiologie fisiologi
analogy, analogie analogi
-oid (Inggris), oide (Belanda) menjadi -oid
anthropoid, anthropoide antropoid
hominoid, hominoide hominoid
-oir(e) menjadi -oar
trotoir trotoar
repertoire repertoar
![]()
![]()
74
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
-or (Inggris), -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir
|
director, directeur |
|
direktur |
|
inspector, inspecteur |
inspektur |
|
|
amateur |
|
amatir |
|
formateur |
|
formatur |
|
-or tetap -or |
|
|
|
dictator |
|
diktator |
|
corrector |
|
korektor |
|
distributor |
|
distributor |
|
-ty (Inggris), -teit (Belanda) menjadi -tas |
|
|
|
university, universiteit |
universitas |
|
|
quality, kwaliteit |
|
kualitas |
|
quantity, kwantiteit |
kuantitas |
|
|
-ure (Inggris), -uur (Belanda) menjadi -ur |
|
|
|
culture, cultuur |
|
kultur |
|
premature, prematuur |
prematur |
|
|
structure, struktuur |
struktur |
|
|
-wi, -wiyyah (Arab) menjadi -wi, -wiah |
|
|
|
dunyāwī |
(ىوايند) |
duniawi |
|
kimiyāwī |
(ﻰﻮﺎﻴﻤﻴﮐ) |
kimiawi |
|
lugawiyyah |
(ةّىوغل) |
lugawiah |
![]()
![]()
75
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
INDEKS
A G
akronim, 26 gabungan huruf konsonan, 4,
alamat, 28, 31, 39, 42, 55 21, 22
anak kalimat, 40 gabungan kata, xi, 18, 19, 20
angka, xi, 29, 31, 32, 33, 36, 37, gambar, 36, 37, 39
43, 48, 49, 54, 56 gelar, 7, 12, 24, 26, 43
angka Arab, 29 grafik, 36, 37
angka Romawi, 29
apostrof, 56 H
huruf, xi, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,
B 10, 11, 12, 14, 17, 20, 21, 22,
bagan, 36, 37 23, 24, 27, 28, 29, 30, 31, 32,
bentuk dasar, 8, 16, 22 33, 34, 35, 36, 37, 48, 49, 54,
bentuk terikat, 17, 49 55, 56
bentuk ulang, 11, 18 huruf abjad, 1
bilangan, 29, 30, 31, 32, 33, 34, huruf diftong, 4, 20
38, 50 huruf kapital, 5, 6, 7, 8, 9, 10,
bin, 6 11, 12, 27, 28, 35, 48, 49
binti, 6 huruf konsonan, 3, 5, 21, 22
boru, 6 huruf miring, 13, 14
huruf tebal, 14, 15
C huruf vokal, 2, 4, 20, 21
catatan akhir, 42
catatan kaki, 42 I
ikhtisar, 36
D ilustrasi, 36, 38
daftar, 13, 36, 38, 71 imbuhan, 16, 22, 48
daftar pustaka, 13, 38, 42, 47 induk kalimat, 40
diakritik, 2, 3 istilah khusus, 19
![]()
![]()
76
K
kalimat, 5, 6, 13, 14, 30, 36, 40, 41, 42, 44, 45, 48, 49, 50, 51, 52, 54, 55
kalimat majemuk, 40, 44 kalimat penjelas, 55 kalimat perintah, 42 kalimat seru, 42 kalimat setara, 44 kalimat tanya, 42, 50
kata, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 34, 38, 40, 41, 44, 46, 47, 48, 49, 53, 54, 55, 56, 59, 63, 69 kata berimbuhan, xi, 16, 22 kata dasar, 16, 18, 20, 21, 22, 23
kata depan, 24
kata ganti, 6, 13, 34, 48, 49 kata majemuk, 19
kata penghubung, 25, 40 kata sandang, xi, 34 kata seru, 41 kata tugas, 6, 11
kata turunan, 8, 17, 22 kata ulang, 11, 47 kekerabatan, 12 keterangan aposisi, 43, 50 keterangan pewatas, 44 keterangan tambahan, 43 klausa, 45
konsonan ganda, 70 konsonan tunggal, 70
kutipan, 51
![]()
L
lambang kimia, 28
M
maha, 17, 18
mata uang, 28
N
nama diri, 4, 10, 14, 24, 27, 28, 43
nama gelar, 7, 12 nama geografi, 9, 10, 34 nama instansi, 8
nama jabatan dan pangkat, 7, 8 nama jenis, 6, 10 nama negara, 11
nama orang, 5, 6, 7, 8, 14, 24, 26, 43
nama tempat, 8, 42, 54 nomor surat, 55
P
partikel, xi, 25, 26
pembilangan, 39
pemenggalan kata, 20, 22, 23
pemerian, 46
pemerincian, 39, 45, 54
penomoran, 37 perincian, 30, 37, 45, 46 petikan, 6, 41, 52, 53 pustaka, 13, 38
S
satuan ukuran, 6, 28
singkatan, xi, 12, 17, 24, 26, 27,
28, 43, 48, 49
![]()
77
T
tabel, 36, 37, 38
takaran, 28
tanda baca, xii, 36
tanda elipsis, 51, 52
tanda garis miring, 55, 56
tanda hubung, 17, 18, 19, 47,
48, 49
tanda koma, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45
tanda kurung, 37, 50, 54 tanda kurung siku, 55 tanda penyingkat, xii, 56 tanda petik, 52, 53 tanda petik tunggal, 53 tanda pisah, 49, 50 tanda seru, 51
![]()
![]()
tanda tanya, 50
tanda titik, 26, 27, 28, 36, 37, 38, 39, 44, 51
tanda titik dua, 45, 46, 47 tanda titik koma, 44 timbangan, 28
U
ukuran, 28, 31
unsur serapan, 58, 71
V
van, 6
W
waktu, 31, 37, 44
78
