14.6. METODE PENENTUAN HARGA POKOK PERSEDIAAN

Untuk mendapatkan perhitungan harga pokok penjualan dan harga pokok persediaan akhir dapat digunakan berbagai cara yaitu :

Identifikasi khusus

Metode identifikasi khusus didasarkan pada anggapan bahwa arus barang harus sama dengan arus biaya. Untuk itu perlu dipisahkan tiap – tiap jenis barang berdasarkan harga pokoknya dan untuk masing – masing kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri, sehingga masing – masing harga pokok bisa diketahui. Harga pokok penjualan terdiri dari harga pokok barang barang yang dijual dan sisanya merupakan persediaan akhir. Metode ini dapat digunakan dalam perusahaan perusahaan yang menggunakan prosedur pencatatan persediaan dengan cara fisik maupun cara buku. Tetapi karena cara ini menimbulkan banyak pekerjaan tambahan maupun gudang yang luas maka jarang digunakan.

Untuk mengatasi kesulitan metode identifikasi khusus dapat digunakan metode metode yang dasarnya adalah arus biaya dimana arus barang tidak harus sama dengan arus biayanya. Metode metode yang didasarkan pada arus biaya adalah MPKP (FIFO), MTKP (LIFO) dn rata rata tertimbang. Untuk menjelaskan ketiga metode diatas digunakan contoh barang A sebagai berikut :

2005



Februari 1 persediaan 200 kg @ Rp.  100,00 =Rp. 20.000,00

9 pembelian 300 kg @Rp. 110,00 33.000,00

10 penjualan

400 kg

15 pembelian 400 kg @Rp. 116,00 =46.400,00

18 penjualan

300 kg

24 pembelian 100 kg 12.600,00


1.000 kg Rp. 112.00,00 700 kg
Masuk pertama keluar pertama

Harga pokok persediaan akan dibebankan sesuai dengan urutan terjadinya. Apabila ada penjualan atau pemakaian barang barang maka harga pokok yang dibebankan adalah harga pokok yang paling terdahulu, didudul dengan berikutnya. Persediaan akhir dibebani harga pokok terakhir. Dengan menggunakan data diatas, persediaan akhir dan harga pokok penjualan dalam cara MPKP (FIFO) dihitung sebagai berikut :

Metode Fisik

Misalnya perhitungan fisik atas barang barang dalam gudang pada tanggal 28 februari 2005 menunjukkan jumlah 300 kg. Jumlah 300 kg terdiri dari :

Pembelian 24 februari 100 kg @Rp.126,00 Rp.12.600,00
Pembelian 15 februari 200 kg@116,00 23.200,00


300 kg Rp. 35.800,00

 

Metode buku (Perpetual)

Apabila digunakan metode buku maka setiap jenis persedian akan dibuatkan kartu persediaan yang terdiri dari beberapa kolom yang digunakan untuk mencatat mutasi persediaan. Kartu barang A dengan cara MPKP (FIFO) akan nampak sebagai berikut :

Dari kartu barang A diatas dapat dilihat bahwa jumlah persediaan barang tanggal 28 Februari 2005 sebesar 300 kg dengan harga pokok sejumlah Rp.35.800,00. Jumlah persediaan yang dihitung dengan cara MPKP (FIFO) dengan metode fisik akan menunjukkan hasil yang sama dengn metode buku.

Apabila terjadi adanya barang barang yang dikembalikan baik pada waktu membeli atau menjual maka harga pokok yang dibebankan adalah yang masuk paling dahulu sehingga konsisten, karena pembebanan berikutnya adalah harga pokok yang masuk paling dahulu.

Akibat penggunaan harga pokok atas dasar NPKP akan terasa pada waktu ada barang barang yang dikembalikan pada penjual seperti contoh tanggal 17 februari. Jumlah barang yang dikembalikan sebanyak 100kg dibeli dengan harga Rp.116,00 per kg. Pengembalian ini mengakibatkan utang berkurang sebesar 11.600,000 tetapi berkurangnya persediaan hanya sebesar Rp.10.500,00 selisih yang timbul akan dicatat dalamrekening selisih persediaan dengan jurnal sebagai berikut :

Utang

Persediaan barang

Selisih persediaan

Rp. 11.600,00  

Rp. 10.500,00

Rp. 1.100,00

Rata- rata Tertimbang (Weighted Average)

dalam metode ini barang-barang yang dipakai untuk produksiatau dijual akan dibebani harga pokok rata-rata. Perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan dengan cara membagi jumlah harga perolehan dengan kuantitasnya. Dari contoh data perhitungan untuk persediaan akhir dan harga pokok penjualan adalah sebagai berikut:

Metode Fisik

Misalnya barang-barang yang ada dalam gudang pada tanggal 28 Februari 2005 dihitung berjumlah 300 kg.

Persediaan akhir dihitung sebagai berikut:

Februari 1 200 kg @ Rp 100,00 = Rp 20.000

9 300 kg @Rp 110,00 = Rp 33.000

15 400 kg @Rp 116,00 = Rp 46.400

24 100 kg @Rp 126,00 = Rp 12.600


1,000kg

Rp 112.000
Harga Pokok Rata-rata tertimbang =  Rp 112.000     = Rp 112,00 /Kg

1.000 Kg

Persediaan barang 28 Februari 2005 : 300 Kg @Rp 112,00 = Rp 33.600

Harga Pokok Penjualan : Rp 112.000 – Rp 33.600 = Rp 78.400,00

Metode Buku (Perpetual)

Dalam metode ini, barang-barang yang dikeluarkan akan dibebani harga pokok pada akhir periode, karena harga pokok rata-rata baru dihitung pada akhir periode, dan akibatnya, jurnal untuk mencatat berkurangnya persediaan barang juga dibuat pada akhir periode. Apabila harga pokok rata-rata dicatat setiap ada pengeluaran barang maka diperlukan untuk menghitung harga pokok rata-rata setiap kali terjadi pembelian barang, seperti ini disebut metode rata-rata bergerak (moving average).

Jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi-transaksi pengembalian barang-barang sebagai berikut :

12 Februari 2005

Retur penjualan                                               sebesar harga jual

                        Piutang Dagang                                              sebesar harga jual

            Penjualan Barang                                           Rp 5.300,00

                        Harga Pokok Penjualan                                 Rp 5.300,00

16 Februari 2005

Retur penjualan                                               sebesar harga jual

                        Piutang Dagang                                              sebesar harga jual

            Penjualan Barang                                           Rp 5.300,00

                        Harga Pokok Penjualan                                 Rp 5.300,00

25 Februari 2005

Utang                                                              Rp 3.125,00

                        Selisih Persediaan                                           Rp   235,00

                        Persediaan barang                                          Rp 2.890,00

Masuk Terakhir Keluar Pertama ( MTKP/ LIFO)

Barang-barang yang dikeluarkan dari gudang akan dibebani dengan persediaan harga pokok pembelian yang terakhir disusul dengan yang masuk sebelumnya. Persediaan akhir dihargai dengan harga pokok pembelian yang pertama dan berikutnya.

Penggunaan metode MTKP akan lebih akan lebih jelas jika dilihat dalam perhitungan berikut yang datanya diambil dari contoh berikut.

Metode Fisik

Misalkan pada tanggal 28 Februari 2005 diadakan perhitungan fisik terhadap barang-barang dalam udang yang hasilnya menunjukkan jumlah persediaan sebanyak 300 Kg.

Harga pokok persediaan barang sebanyak 300 Kg itu ditunjukkan sebagai berikut:

Persediaan tanggal 1 Februari             200 Kg @ Rp 100,00  = Rp 20.000,00

Pembelian tanggal 9 Februari              100 Kg @ Rp 110,00  = Rp 11.000,00

300 Kg                                       Rp 31.000,00

Harga pokok penjualan = Rp 112.000,00 – Rp 31.000,00 = Rp 81.000,00

Metode Buku (Perpetual)

Dalam cara ini baran-barang yang dikeluarkan dapat dikreditkan dalam rekening persediaan dengan harga pokoknya pada waktu:

  • Akhir Periode

Setiap ada pengeluaran barang yang dicatat dalam kolom pengeluaran hanya kuantitasnya sedan harga pokoknya baru dicatat pad akhir periode sekaligus. Cara ini akan memberikan hasil perhitungan persediaan akhir dan harga pokok penjualan yang sama besar dengan cara fisik.

  • Setiap kali ada barang yang dikeluarkan

Jika harga pokok barang-barang yang dikeluarkan dicatat dalam kartu persediaan pada saat barang-barang tersebut dikeluarkan, maka perhitungan harga pokok persediaan dan harga pokok penjualan sebagai berikut:

Persediaan akhir sebesar :

100 Kg @ Rp 100,00  = Rp 10.000,00

100 Kg @ Rp 116,00  = Rp 10.000,00

100 Kg @ Rp 126,00  = Rp 10.000,00

Jumlah 300 Kg                                    = Rp 34.200,00

Harga pokok penjualan dapat dilhat dalam rekening harga pokok penjualan yaitu sebesar Rp 33.000,00 + Rp 10.000,00 + Rp 34.800,00 = Rp 77.800,00.

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan persediaan akhir dan harga pokok penjualan tidak sama dengan hasil dari metode fisik. Selisih harga pokok persediaan kedua metode sebesar Rp 3.200,00 yaitu selisih antara Rp 31.000,00 dan Rp 34.200,00. Selisih sebesar Rp 3.200,00 ini disebabkan karena perbedaan harga pokok per Kg dari barang-barang yang dikeluarkan tanggal 10 dan 18 Februari. Dalam cara fisik barang-barang yang dikeluarkan dinilai sebagai berikut:

Tanggal 18 Februari 100 Kg @ Rp 126,00 = Rp 12.600
200 Kg @ Rp 116,00 = Rp 23.200
Rp 35.800
Tanggal 10 Februari 200 Kg @ Rp 116,00 = Rp 23.200
200 Kg @ Rp 110,00 = Rp 22.000
Rp 45.200
Rp 81.000

 

Tanggal 18 Februari 300 Kg @ Rp 116,00 Rp 34.800
Tanggal 10 Februari 300 Kg @ Rp 110,00 = Rp 33.000
100 Kg @ Rp 100,00 = Rp 10.000
Rp 43.000
Rp 77.800
Selisih Rp   3.200

 

Apabila terjadi adanya barang-barang yang dikembalikan baik pembeli maupun kepada penjual maka barang-barang yang dikembalikan akan dicatat dengan harga pokok yang terakhir, selisihnya dengan harga belinya dicatat dalam rekening selisih persediaan.

Dalam perusahaan yang yang memiliki banyak macam persediaan, penggunaan metode MTKP untuk masing-masing jenis barang akan memakan waktu yang lama. Untuk mengatasi kesulitan itu dapat digunakan cara perhitungan dengan cara MTKP nilai rupiah persediaan.

MTKP Nilai Rupiah Persediaan

Metode MTKP dapat digunakan dengan metode nilai rupiah dari persediaan dimana rupiah digunakan sebagai pengukur. Semua jenis barang yang sama dimasukkan dalam satu kelompok dan kenaikan persediaan dengan indeks dihitung atas dasar perubahan jumlah rupiahnya. Pengelompokkan barang bisa dilakukan atas dasar kelompok-kelompok besar atau bagian-bagian (seksi-seksi) dalam perusahaan.

Karena adanya perubahan nilai uang maka penggunaan metode ini memerlukan data indeks harga setiap periode. Indeks ini akan digunakan untuk membandingkan persediaan dalam 2 tanggal yang berbeda agar dapat diketahui apakah ada kenaikan atau penurunan persediaan. Misalnya pada tanggal 31 Desember 2007 persediaan barang seharga Rp 1.500.000,00 dan pada tanggal 31 Desember 2008 sebesar Rp 1.650.000,00 . apabila dalam tahun 2008 tidak ada perubahan tingkat harga, bisa dikatakan bahwa persediaan telah bertambah 10 %. Tetapi karena adanya perubahan nilai mata uang maka untuk dapat megetahui berapa kenaikan atau penurunan persediaan, kedua jumlah persediaan diatas harus dinyatakan dalam rupiah yang nilainya sama; yaitu dengan indeks. Misalnya persediaan barang tanggal 31 Desember 2008 sebesar Rp 2.100.000,00 (dengan harga pada tanggal tersebut) dikathui selama tahun 2008 terjadi kenaikan harga barang-barang tersebut 10 %, maka persediaan tanggal tanggal 31 Desember 2008 dengan nilai rupiah 31 Desember 2007 adalah sebesar Rp 2.100.000,00 : 1,10 = Rp 1.909.090,00.

Apabila terjadi terjadi penurunan jumlah persediaan maka penurunan tadi akan dikurangkan pada kenaikan persediaan dengan indeks terakhir, disusul dengan persediaan dengan indeks sebelumnya dan seterusnya. Contoh sebagai berikut:

Indeks
31 Desember 2005 100 (tahun dasar)
31 Desember 2005 110
31 Desember 2005 115
31 Desember 2005 124

 

Persediaan barang tanggal 31 Desember 2005 (tahun dasar) : Rp 1.000.000,00.

Pada tanggal 31 Desember 2005 mulai dipakai metode MTKP nilai rupiah.

31 Desember 2006

Jumlah persediaan dengan harga pada tanggal 31 Desember 2006: Rp 1.200.000,00. Perhitungan jumlah persediaan dengan metode MTKP Nilai rupiah sbb:

Persediaan 31 Desember 2006 dengan harga dasar:
Rp 1.200.000,00 : 1.10 = Rp 1.090.900,00
Persediaan 31 Desember 2005 dengan harga dasar:    Rp 1.000.000,00
Kenaikan persediaan 2006 dengan harag dasar    Rp      90.900,00

Kenaikan persediaan dengan indeks 2006 dengan harga sekarang :

Rp 90.900,00 x 1,10 = Rp 100.000,00

Perbandingan antara MPKP, Rata-rata Tertimbang dan MTKP

            Metode MPKP akan mengakibatkan nilai persediaan dalam neraca dicantumkan dengan harga sekarang sedangkan dengan metode MTKP dicantumkan dengan harga mula-mula yang biasanya tidka pernah berubah, sedangkan metode rata-rata tertimbang hasilnya mendekati metode MPKP. Penggunaan MPKP dalam keadaan harga-harga naik akan mengahasilkan kenaikan laba bruto dalam keadaan harga-harga turun akan berakibat penurunan laba bruto. Sebaliknya dengan keadaan harga-harga naik, metode MTKP akan menghasilkan  penurunan laba bruto, dan dalam keadaan harga-harga turun akan berakibat kenaikan laba bruto. Laba bruto yang diperoleh dengan cara rata-rata tertimbang akan memberikan hasil yang mendekati metode MPKP.

Perbedaan laba bruto ini disebabkan karena dalam metode MPKP harga pokok persediaan yang dibebankan sebagai harga pokok penjualan adalah harga pokok barang yang dibeli mula-mula, sehingga dalam keadaan harga-harga naik, harga pokok penjualan jumlahnya kecil karena terdiri dari harga beli mula-mula. Sedangkan dalam metode MTKP, harga pokok persediaan yang dibebankan sebagai harga pokok penjualan adalah harga pokok pembelian-pembelian terakhir, sehingga dalam keadaan harga-harga naik, harga pokok penjualan terdiri dari harga-harga pokom terakhir yang lebih tinggi. Dalam keadaan harga-harga turun akibatnya adalah kebalikan dari keadaan harga-harga naik.

Metode rat-rata tertimbang memberikan hasil yang mendekati metode MPKP karena biasanya pembelian barang dalam satu periode itu jumlahnya beberapa kali lebuh banyak dari persediaan awalnya, sehingga harga rata-rata persediaan akhirnya sangat dipengaruhi dengan harga-harga sekarang. Seperti dalam MPKP, harga-harga sekarang mempengaruhi nilai persediaan akhirnya.


Last modified: Wednesday, 15 December 2021, 12:25 PM