3.6 - Laporan Arus Kas ( LAK )
LAK sebenarnya menggantikan laporan arus dana (fund flow statements). Bagi kebanyakan pembuat standar (standard setters) akuntansi di dunia mengharuskan entitas untuk menyajikan laporan arus dana sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan (integrated) dari laporan keuangan.
Laporan arus dana menyajikan perputaran atau perubahan dana selama periode tertentu. Dalam standar yang ada, istilah dana diartikan sebagai dana lancar neto (net liquid funds), yang kemudian, dana diinterpretasikan sebagai "modal kerja" (working capital).
Tetapi kemudian, para pembuat standar akuntansi mempertimbangkan untuk merevisi standar yang ada dan menyesuaikannya menjadi laporan arus kas. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh karena adanya kerancuan dalam menginterpretasikan konsep "dana" jika dibandingkan dengan konsep "kas hasil operasi" (cash generated by operations).
Setelah dilengkapi dengan beberapa pertimbangan lainnya, maka entitas diharapkan dapat membuat laporan arus kas sebagai salah satu komponen diantara 5 komponen laporan keuangan. Secara lebih luas, laporan arus kas telah menampung unsur dana Di dalamnya. Arus kas menggambarkan sisa kas pada akhir periode, karena adanya jumlah kas masuk dan jumlah kas keluar. Secara internasional laporan arus kas diatur Di dalam IAS 7: Cash Flow Statements.
Informasi arus kas memberikan dasar bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas dan kebutuhan entitas dalam menggunakan arus kas tersebut.
Di Indonesia, LAK diatur tersendiri Di dalam PSAK 2 (revisi 2009): Laporan Arus Kas. Adapun yang termasuk Di dalam kas adalah kas yang ada di perusahaan (cash on hand) dan kas milik perusahaan yang ada dibank (cash in bank) atau rekening giro (demand deposits). Di LPK akun kas disesuaikan nama akunnya menjadi Kas dan Setara Kas.
Unsur LAK terdiri atas perubahan kas karena aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan. Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator utama untuk menentukan apakah operasi entitas dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi entitas, membayar deviden, dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar.
Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah:
1) Penerimaan kas dari penjualan produk
2) Penerimaan kas dari royalty, fees, komisi, dan pendapatan lain
3) Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa
4) Pembayaran kas kepada dan untuk kepentingan karyawan
5) Penerimaan dan pembayaran kas oleh entitas asuransi sehubungan dengan premi klaim, dan manfaat polis lain
6) Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan, kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi
7) Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan
Arus kas yang berasal dari aktivitas investasi, yaitu yang mencerminkan pengeluaran yang telah terjadi untuk memperoleh sumber daya yang dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah:
1) Pembayaran kas untuk membeli aset tetap, aset tidak berwujud, dan aset jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aset tetap yang dibangun sendiri
2) Penerimaan kas dari penjualan aset tetap, aset tidak berwujud, dan aset jangka panjang lain
3) Pembayaran kas untuk membeli instrumen utang atau instrumen ekuitas entitas lain
4) Penerimaan kas dari penjualan instrumen utang dan instrumen ekuitas entitas lain
5) Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan)
6) Penerimaan kas dari pelunasan uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan)
7) Pembayaran kas sehubungan dengan kontrak future, forward, opsi dan swap, kecuali jika kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan, atau jika pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan
8) Penerimaan kas dari kontrak future, forward, opsi dan swap, kecuali jika kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan, atau jika pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan
Arus kas yang terkait dengan aktivitas pendanaan merupakan arus kas yang penting karena berguna untuk memprediksi klaim atas arus kas masa depan oleh para penyedia modal entitas. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah:
1) Penerimaan kas dari penerbitan saham atau instrumen modal lain
2) Pembayaran kas kepada pemilik untuk menarik atau menebus saham entitas
3) Penerimaan kas dari penerbitan obligasi, pinjaman, wesel, hipotik, dan pinjaman jangka pendek dan jangka panjang
4) Pelunasan pinjaman jangka pendek dan jangka panjang
Metode penyajian LAK terdiri atas :
1) Metode langsung
Dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto diungkapkan
2) Metode tidak langsung
Dengan metode ini laba atau rugi neto disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh dari transaksi non kas (seperti beban penyusutan aset tidak lancar), penangguhan atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atau beban yang terkait dengan arus kas investasi atau pendanaan.