2.5 Semantik dan Psikolinguistik

Psikolinguistik adalah ilmu yang memelajari proses mental pemerolehan keterampilan menyimak dan berbicara, proses mental dalam komprehensi dan produksi bahasa, penggunaan kalimat dan wacana, ingatan, persepsi, pemerolehan bahasa, makna dan pikiran, dan proses bilingual serta kaitannya dengan linguistik dan pembelajaran bahasa. Karena berhubungan dengan proses mental dan pemerolehan bahasa, maka ilmu ini tidak bisa terlepas dengan ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi dan genetika. Neurologi memiliki peran yang sangat besar karena kemampuan berbahasa bukan dipengaruhi oleh lingkungan, melainkan oleh kodrat neurologis yang di bawa setiap manusia sejak lahir. Hal ini tampak pada kemampuan otak manusia yang berbeda dengan kemampuan binatang. filsafat pun memegang peranan yang sama karena pemerolehan bahasa merupakan debat panjang  para  filosof  yang  menyatakan  tentang  pengetahuan  dan  cara  serta  proses


pengetahuan didapat oleh manusia, pemerolehan bahasa merupakan pengetahuan dan keterampilan manusia dalam berbahasa. Sedangkan genetika dan primatologi mengaji pertumbuhan bahasa, dan pembuktian bahwa bahasa adalah milik manusia.

Pemerolehan bahasa akan memuat pemerolehan semantik, sintaksis dan fonologi pada aspek reseptif, sedangkan pada aspek produktif manusia terlebih dahulu menguasai fonologi, sintaksis dan semantik. Seseorang akan memahami makna, dan mengidentifikasi penggunaannya dalam kata atau kalimat, kemudia memahami cara melafalannya, kemudian untuk menunjukkan penguasaannya terhadap bahasa, mana ia akan memproduksi bahasa melalui pelafalan, tata bahasa, dan makna yang ada dalam tuturan.

Pemerolehan semantik merupakan pemerolehan komponen bahasa yang pertama kali dan membutuhkan waktu yang relatif panjang dibandingkan dengan pemerolehan fonologi dan sintaksis. Oleh sebab itu, dalam psikolinguistik, kompetensi semantik seseorang akan terlihat dan terdeteksi dalam setiap penggunaan bahasa.

Psikolinguistik juga memiliki peranan yang sangat besar dalam menjelaskan hubungan antara bahasa dan pikiran. Seseorang dapat dikatakan berbahasa apabila ia berpikir. Sebagai contoh, orang gila dan orang mabuk (orang yang tidak mampu mengendalikan pikiran) bisa saja mereka memproduksi bahasa (dengan mengingat, mengomel dan berbicara sendiri) tetapi tidak dapat dikatakan berbahasa, karena mereka tidak mampu menghadirkan makna yang logis dan semantis. Berbeda dengan orang yang ditanya, dimana alamat x, maka ia akan memproduksi bahasa yang menunjukkan alamat x. Untuk memproduksi bahasa yang menyebutkan alamat x, maka orang tersebut berpikir dan mengingat memori alamat x.

Piaget menyatakan ada dua macam modus pikiran, yaitu pikiran terarah dan pikiran tak terarah (Dardjowidjojo, 2012). Ia menggambarkan bahwa kenyataan pada anak yang berbicara menimbulkan pertanyaan tentang komunikabilitas pada anak. Piaget percaya hal tersebut ada dan dinamakan sebagai pikiran egosentris dan bentuk bahasanya sebagai bahasa egosentris. Sosialisasi anak dengan anak lain dalam alam sekitar menurunkan derajat egosentrismenya. Makin besar sosialisasi, makin mengecilkan egosentris dan bahkan hilang. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa anak yang sedang tumbuh, berpikir yang terujar menjadi semakin kecil dan setelah dewasa berpikir tidak dilakukan dengan memakai kata yang terujarkan.

Pada umumnya, suatu pikiran yang kompleks dinyatakan dalam kalimat yang kompleks pula, begitu pun sebaliknya, suatu kalimat yang kompleks menunjukkan pikiran yang kompleks. Kompleksitas makna dalam kalimat yang kompleks ini muncul karena dalam


suatu kalimat yang kompleks akan memiliki preposisi yang kompleks pula. Preposisi merupakan salah satu komponen dalam pemaknanan secara semantis.

Dari kajian di atas, maka dalam menganalisis makna secara semantis, psikologi pada diri seseorang akan tercermin dari produksi bahasa, entah berbentuk kompleksitas atau pemilihan makna dengan melihat komponen semantis yang terjadi dalam pikiran penutur dan petutur. Oleh sebab itu, keadaan psikologi seseorang dapat diprediksi melalui pemilihan kata dalam produksi tuturannya. Keadaan psikologi yang dimaksud dapat berupa keadaan mental seperti berbohong, tertekan, mengelak, mempertahan diri, dan lainnya.
Last modified: Monday, 17 March 2025, 7:24 PM