3.1 Pengertian Makna
Teori yang dikemukakan oleh
Ferdinand de Saussure, bapak linguistik modern yang namanya sudah disebut-sebut
pada bab pertama, yaitu mengenai yang disebut tanda linguistik (Prancis: signe’
linguitiqe). Menurut de Saussure setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur
yaitu (1) yang diartikan (Prancis: signifie’, Inggris: signified) dan (2) yang
mengartikan (Prancis: signfiant, Inggris: signifier). Yang diartikan
(signifie’, signified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari
sesuatu tanda bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifian atau signifier) itu
adalah tidak lain dari pada bunyi-bunyi itu, yang terbentuk dari fenom-fenom
bahasa yang bersangkutan. Jadi, dengan kata lain setiap tanda-linguistik
terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur
dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk/mengacu kepada sesuatu
referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual). Kalau dibagankan
hubungan antara tanda-linguistik (bersama unsur bunyi dan makna) dengan unsur
referennya adalah seperti tertera pada halaman 30.
Sebetulnya dalam bidang semantic istilah yang biasa digunakan untuk tanda-linguistik itu adalah leksem, yang lazim didefinisikan sebagai kata atau frase yang merupakan satuan bermakna (Harimurti 1982:98). Sedangkan istilah kata, yang lazim didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri dan dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem (Harimurti 1982:76) adalah istilah dalam bidang gramatika. Dalam buku ini kedua istilah itu dianggap memiliki pengertian yang sama sebab, baik kata maupun leksem bisa berwujud kata tunggal maupun gabungan kata (frase kliomatik). Bedanya hanya leksem adalah istilah dalam bidang semantik sedangkan kata adalah istilah dalam bidang gramatika.
Sebetulnya dalam bidang semantic istilah yang biasa digunakan untuk tanda-linguistik itu adalah leksem, yang lazim didefinisikan sebagai kata atau frase yang merupakan satuan bermakna (Harimurti 1982:98). Sedangkan istilah kata, yang lazim didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri dan dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem (Harimurti 1982:76) adalah istilah dalam bidang gramatika. Dalam buku ini kedua istilah itu dianggap memiliki pengertian yang sama sebab, baik kata maupun leksem bisa berwujud kata tunggal maupun gabungan kata (frase kliomatik). Bedanya hanya leksem adalah istilah dalam bidang semantik sedangkan kata adalah istilah dalam bidang gramatika.
Sebuah kata/leksem mengandung makna atau konsep itu. Makna atau konsep bersifat umum; sedangkan sesuatu yang dirujuk, yang berada di luar dunia bahasa, bersifat tertentu. Umpamanya kata
Hubungan antara kata
sebagai sign dengan maknanya atau konsepnya adalah bersifat
langsung. Begitu juga hubungan antara makna itu dengan meja tertentu di dunia
nyata juga bersifat langsung; tetapi hubungan antara kata dengan
sebuah meja di dunia nyata tidak bersifat langsung. Maka itu, dalam bagan di
atas hubungan antara kata dengan referennya ditandai dengan garis terputus-putus.
Hubungan antara kata dengan
maknanya, seperti sudah disebutkan pada bab terdahulu, memang bersifat arbiter.
Artinya, tidak ada hubungan wajib antara deretan fenom pembentuk kata itu
dengan maknanya. Namun, hubungannya bersifat kovensional. Artinya, disepakati
oleh setiap anggota masyarakat suatu bahasa untuk mematuhi hubungan itu; sebab
kalau tidak, komunikasi verba yang dilakukan akan mendapat hambatan. Oleh
karena itu, dapat (atau lebih tepat lagi: makna sebuah kata) tidak akan
berubah. Secara diakronis ada kemungkinan bisa berubah sesuai dengan
perkembangan budaya dan masyarakat yang bersangkutan.
Persoalan kita sekarang: Apakah setiap kata merujuk kepada suatu referen? Atau apakah setiap kata mempunyai referen? Jika diteliti, ternyata tidak semua kata mempunyai referen. Kata-kata yang termasuk kelas nomina, kelas verba dan ajektifa memang selalu merujuk kepada referen; tetapi kata-kata yang disebut preposisi seperti di, ke, dan dari, dan yang disebuat konjungsi seperti kalau, meskipun, dan karena tidak merujuk kepada suatu referen. Kata-kata yang tidak mempunyai referen disebut kata-kata yang tidak bermakna referensial; sedangkan yang mempunyai referen disebut kata-kata yang bermakna referensial.
Persoalan lain, kita dapat memahami bahwa referen kata kaki adalah kaki anggota tubuh manusia (juga binatang); tetapi bagaimana dengan referen kata kaki pada bentuk kaki gunung, atau kaki meja? Menurut Verhaar referen kata kaki tetap kaki sebagai anggota tubuh manusia dan bukan pada sesuatu yang lain seperti pada gunung atau meja. Pada bentuk kaki gunung dan kaki meja kata kaki digunakan atau dipakai untuk merujuk pada sesuatu yang lain secara metaforis, secara perbandingan. Di sini salah satu cirri makna kaki, yaitu terletak disebelah bawah, perbandingan dengan bagian bawah dari gunung itu. Pada bentuk kaki meja, salah satu ciri makna kaki yaitu penopang berdirinya meja itu.sssss
Jadi, referen sebuah kata adalah tetap, tidak berubah. Adanya kesan tidak tetap atau berubah itu adalah karena digunakannya kata itu secara metaforis.
Persoalan kita sekarang: Apakah setiap kata merujuk kepada suatu referen? Atau apakah setiap kata mempunyai referen? Jika diteliti, ternyata tidak semua kata mempunyai referen. Kata-kata yang termasuk kelas nomina, kelas verba dan ajektifa memang selalu merujuk kepada referen; tetapi kata-kata yang disebut preposisi seperti di, ke, dan dari, dan yang disebuat konjungsi seperti kalau, meskipun, dan karena tidak merujuk kepada suatu referen. Kata-kata yang tidak mempunyai referen disebut kata-kata yang tidak bermakna referensial; sedangkan yang mempunyai referen disebut kata-kata yang bermakna referensial.
Persoalan lain, kita dapat memahami bahwa referen kata kaki adalah kaki anggota tubuh manusia (juga binatang); tetapi bagaimana dengan referen kata kaki pada bentuk kaki gunung, atau kaki meja? Menurut Verhaar referen kata kaki tetap kaki sebagai anggota tubuh manusia dan bukan pada sesuatu yang lain seperti pada gunung atau meja. Pada bentuk kaki gunung dan kaki meja kata kaki digunakan atau dipakai untuk merujuk pada sesuatu yang lain secara metaforis, secara perbandingan. Di sini salah satu cirri makna kaki, yaitu terletak disebelah bawah, perbandingan dengan bagian bawah dari gunung itu. Pada bentuk kaki meja, salah satu ciri makna kaki yaitu penopang berdirinya meja itu.sssss
Jadi, referen sebuah kata adalah tetap, tidak berubah. Adanya kesan tidak tetap atau berubah itu adalah karena digunakannya kata itu secara metaforis.
Last modified: Sunday, 23 March 2025, 10:24 AM