5.2 Aspek-Aspek Makna
Aspek-aspek makna dapat dibedakan atas empat hal, yaitu pengertian, perasaan, nada, dan tujuan. Keempat aspek makna tersebut akan diuraikan beirkut ini.
1) Pengertian (Sense)
Aspek makna pengertian disebut juga tema, yang melibatkan idea atau pesan yang dimaksud. Pengertian ini dapat dicapai apabila pembicara dengan lawan bicaranya atau antara penulis dengan pembaca mempunyai kesamaan bahasa yang digunakan atau disepakati bersama. Apapun yang kita bicarakan selalu mengandung tema atau ide untuk membicarakan sesuatu atau menjadi topik pembicaraan. Lyons mengatakan bahwa pengertian adalah sistem hubungan-hubungan yang berbeda dengan kata lain di dalam kosakata (Pateda, 2010).
2) Perasaan (Felling)
Aspek makna perasaan berhubungan dengan sikap pembicara dengan situasi pembicaraan (sedih, panas, dingin, gembira, jengkel). Kehidupan sehari-hari akan selalu berhubungan dengan rasa dan perasaan. Aspek makna yang disebut perasaan berhubungan dengan sikap pembicara terhadap apa yang sedang dibicarakan. Misalnya, kalimat turut berduka cita, digunakan pada saat sedang sedih atau berduka, dan sebaliknya ikut senang ya, digunakan disaat sedang bergembira karena menerima hadiah atau bahagia karena sesuatu. Dengan demikian, setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan nilai rasa dan setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan perasaan.
3) Nada (Tone)
Aspek makna nada adalah sikap pembicara kepada kawan bicara (Pateda, 2010). Aspek nada akan berbubungan dengan aspek makna yang bernilai rasa. Aspek makna nada melibatkan pembicara untuk memilih kata-kata yang sesuai dengan keadaan lawan bicara atau pembicara sendiri. Aspek makna nada berhubungan antara pembicara dengan pendengar yang akan menentukan sikap yang akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Contohnya, kalimat “kereta api dari Yogya sudah datang.” akan berbeda dengan kalimat “kereta api dari Yogya sudah datang?”. Kalimat pertama bernada memberi tahu, sedangkan kalimat kedua bernada bertanya.
Untuk mengekpresikan kekesalan, aspek makna nada akan sangat tampak. Pemilihan kata atau diksi akan mendeskripsikan tingkat kekesalah. Berikut contoh dalam kalimat.
1) Sudahlah, tidak perlu dibahas, masalah ini sudah kulupakan.
2) Selalu saja seperti ini, masalah yang sama selalu muncul.
3) Kau selalu saja bermasalah dengan hal ini.
4) Sudah kuprediksi, masalah ini selalu melekat pada dia.
5) Kau memang pembawa masalah.
6) Ini adalah yang terakhir.
Keenam kalimat tersebut memiliki nada yang berbeda. Bisa jadi keenam kalimat tersebut diungkapkan pada masalah yang sama. Misalnya, kekesalan pada seseorang yang selalu terlambat, seseorang yang selalu ingkar janji, dan lain sebagainya.
4) Tujuan (Intension)
Aspek makna tujuan adalah maksud tertentu, baik disadari maupun tidak, akibat usaha dari peningkatan (Pateda, 2010). Aspek makna ini melibatkan klasifikasi pernyataan yang bersifat deklaratif, persuasif, imperatif, naratif, politis, dan pedagogis (pendidikan). Misalnya kalimat “Jangan diulangi ya!‟, kalimat tersebut mempunyai maksud atau tujuan agar orang itu tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah dilakukannya. Bentuk kalimat pun akan bervariasi, bergantung pada aspek makna rasa dan juga nada. Pendapat lain dikemukakan oleh Djajasudarma, makna mengandung berbagai aspek, diantaranya adanya aspek tujuan. Dalam tujuan ini terdapat berbagai maksud tertentu diantaranya tujuan yang bersifat deklaratif, persuasif, imperatif, naratif, politis, dan pedagogis atau pendidikan (Djajasudarma, 1999).
Pada aspek makna tujuan ini, ada sebuah contoh penelitian yang dilakukan oleh Marwati. Ia mengaji aspek makna tujuan pada slogan lalu lintas di Kota Surakarta (Marwati, 2014). Ia meneliti makna tujuan yang terdapat pada slogan lalu lintas. Penelitian ini didasari pada upaya untuk menciptakan lalu lintas yang tertib, aman dan nyaman merupakan hal yang sangat penting karena pada saat ini para pengguna lalu lintas cenderung mengabaikan rambu- rambu lalu lintas yang ujungnya merenggut keselamatan bersama. Sebagai tulisan “Sepeda Motor, Kendaraan Mobil Barang Dan Kendaraan Yang Lebih Lambat Menggunakan Lajur Kiri”, tetapi pengguna jalan justru melanggar makna yang ada dalam slogan tersebut. Akibat dari pengabaian makna slogan adalah terjadinya kecelakaan lalu lintas yang merugikan banyak pihak. Dilihat dari makna yang ada dalam slogan, tujuan penulisan slogan sangat baik. Slogan yang bertujuan mendidik ini sangat berdampak positif bagi para pengguna lalu lintas, karena akan membantu meningkatkan kedisiplinan para pengguna lalu lintas dalam berkendara. Simpulan dari penelitian tersebut adalah realisasi perwujudan aspek makna tujuan pada slogan lalu lintas di Kota Surakarta adalah imperatif, deklaratif, pedagogis, persuasif, dan naratif. Slogan yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Surakarta lebih
banyak mengandung aspek makna tujuan deklaratif atau memberitahukan sesuatu yang berupa informasi atau hal-hal penting lain yang berhubungan dengan ketertiban lalu lintas bersama.
Berdasarkan contoh penelitian tersebut, setiap bentuk bahasa memiliki makna yang bisa dikaji. Anda bisa mengaji semua tulisan dan mengaji makna yang ada di dalamnya. Dengan demikian, memelajari semantik akan sangat bermanfaat untuk kehidupan kita. Manfaat tersebut tidak hanya untuk guru bahasa Indonesia, melainkan untuk semua orang yang ingin memiliki kompetensi berbahasa.