5.3 Batasan Makna

Telah disinggung bahwa inti persoalan yang dikaji di dalam semantik ialah makna. Lyons mengatakan “Semantiks may be defined, initially and provisionally, as the study of meaning” artinya semantik didefinisikan sebagai ilmu tentang makna (Lyons, 1977).

Telah diketahui bahwa jika seseorang memperkatakan sesuatu, terdapat tiga hal yang oleh Ulmann diusulkan istilah: name, sense, dan thing. Soal makna terdapat dalam sense. Apabila seseorang mendengar kata tertentu, ia dapat membayangkan bendanya atau sesuatu yang diacu, dan apabila seseorang membayangkan sesuatu, ia segera dapat mengatakan pengertiannya itu. Hubungan antara nama dengan pengertian, itulah yang disebut makna (Ullman, 1972).

Stevenson berpendapat bahwa jika seseorang menafsirkan makna sebuah lambang berarti ia memikirkan sebagaimana mestinya tentang lambang tersebut, yakni suatu keinginan untuk menghasilkan jawaban tertentu dengan kondisi-kondisi tertentu pula. Dengan mengetahui makna kata, baik pembicara, pendengar, penulis, maupun pembaca yang menggunakan, mendengar atau membaca lambang-lambang berdasarkan sistem bahasa tertentu, percaya tentang apa yang dibicarakan, didengar atau dibaca (Shipley, 1962).

Bisa saja, orang melihat kamus jika ia ingin mengetahui makna sesuatu kata, namun dalam kehidupan sehari-hari orang tidak selamanya membuka kamus. Karena kegiatan komunikasi yang alamiah, tidak membutuhkan kamus sebagai referensi maknanya. Mengapa demikian? Karena sebagai pemilik bahasa, ia sudah mengalami proses memahami bahasa sejak ia menggunakan bahasa tersebut. Biasanya orang membuka kamus jika tidak dimengerti makna dari suatu kata. Pemilik atau pengguna bahasa sudah memiliki kompetensi kata, makna kata, urutan kata, dan kaidah bahasa pendukungnya. Semua itu sudah ada di dalam otaknya yang sewaktu-waktu muncul kalau diperlukan. Pengetahuan tentang bahasa seperti ini disebut kompetensi (competence). Menurut Chomsky, kompetensi  merupakan suatu


potensi yang tidak terbatas, sedang penampilan (performance) terbatas pada faktor-faktor fisik dan temporal (Chomsky, 1965).

Berdasarkan uraian tersebut, menjadi sulit memberikan batasan tentang makna.Tiap linguis memberikan batasan makna sesuai dengan bidang ilmu yang merupakan keahliannya. Mengapa demikian? Karena kata dan kalimat yang mengandung makna, dan makna dimiliki oleh pemakai bahasa. Pemakai bahasa bersifat dinamis yang terkadang memperluas makna suatu kata ketika ia berkomunikasi sehingga makna kata dapat saja berubah. Oleh sebab itu, akan ada bahasan tentang perubahan makna dalam bab yang lain.

Untuk memahami batasan makna secara komprehensif, akan disajikan penjelasan tentang hubungan segi tiga antara simbol, makna, dan acuan. Dengan memahami konsep tersebut, maka akan dipahami batasan makna dalam kajian semantik.
Last modified: Thursday, 24 April 2025, 2:39 PM