5.4 Hubungan Simbol, Makna, dan Acuan

Bahasa terdiri atas dua lapis     yang pasti

yaitu lapis bentuk dan makna. Lapis bentuk adalah lambang bahasa berupa kata atau kalimat. Lapis makna adalah referensi atau konsep-konsep yang berada dalam pikiran manusia untuk memahami lambang tersebut. lapis ini mencerminkan bahan dalam kajian semantik. Lapis bentuk adalah lambang atau simbol dalam bahasa dan makna adalah referensi atau reference dan pikiran atau thougt  dalam  bentuk  yang  disebutkan.  Lapis

tersebut terinspirasi dari segi tiga semiotik Ogden dan Richards.

Segi tiga semiotik terdiri atas simbol, referensi, dan referen. (1) Simbol atau lambang atau bunyi-bunyi bahasa, dilambangkan dalam bentuk bahasa yaitu kata, (2) pikiran atau referensi (reference) merupakan bayangan atau citra dalam benak penutur bahasa, dan (3) referen (referent) sebagai bentuknya. Ogden dan Richards menyatakan referen adalah acuan yang berada dalam dunia nyata, referensi adalah pikiran dan konsep yang berada dalam pikiran setiap manusia.

Para filsuf mempertanyakan kajian makna dalam semantik berdasarkan segi tiga semiotik tersebut, yaitu bagaimanakah hubungan antara bentuk dan makna. Berdasarkan pembahasan tentang hakikat bahasa, maka hubungan bentuk dan makna bersifat arbiter atau mana suka. Demikian pula pada rujukan, acuan atau referennya. Kritik tersebut menyatakan


segi tiga semiotik terlalu besar karena dalam segi tiga tersebut terdapat acuan yang berada di luar kajian linguis, terdapat kesulitan untuk mengaji hubungan antara lambang, konsep dan acuan. Ullman menyarankan untuk memerhatikan sisi sebelah kiri pada segi tiga semiotik tersebut, yaitu pada hubungan lambang dan referensi. Gambar segi tiga semiotik tersebut memiliki kekurangan, karena mencerminkan adanya hubungan langsung antara lambang dan referensi, padahal hubungan tersebut merupakan hubungan dari segi pembicara dan pendengar pada saat berkomunikasi.

Ogden dan Richards menyatakan kata akan melambangkan sesuatu dalam arti “konsep” yang diasosiasikan atau dihubungkan dengan bentuk kata dalam benak atau pikiran penutur (Pateda, 2010). Konsep ini adalah makna kata tersebut. makna merupakan abstraksi dari benda atau “sesuatu” yang sebenarnya. Konsep tersebut mengacu pada benda atau sesuatu tersebut, benda atau sesuatu tersebut disebut referen atau acuan. Perhatikan bentuk

segi tiga berikut pada gambar 9.

Sebuah kata memunyai makna tertentu, berwujud bayangan (gambaran atau abstraksi) tentang sesuatu tertentu. Jika diwujudkan secara konkret, maka konsep tentang meja menjadi benda nyata yang berbentuk sesuatu tertentu. Oleh sebab itu, perlu dipahami perbedaan antara kata, makna (yang dilambangkan oleh kata) dan acuan (yang diacu oleh kata). Berikut penjelasan hubungan simbol, makna, dan

acuan dalam contoh. Kata kuda sebagai simbol bahasa; binatang yang berkaki empat, menyusui, dapat digunakan sebagai kendaran dan tunggangan, memiliki buku tengkuk sebagai makna dari kata kuda; dan gambar kuda sebagai acuannya.

Melalui penjelasan gambar tersebut, anda akan lebih memahami hubungan segi tiga semiotik yang diadopsi menjadi segi tiga semantik. Simbol berupa kata dalam bahasa Indonesia, makna dituliskan dalam bentuk uraian konsep pada kata, dan acuan bisa dilihat dengan secara langsung. Namun, tidak semua kata bisa dijelaskan dengan gambar tersebut. Ada acuan yang tidak bisa dilihat. Acuan bisa hanya berada dalam pikiran pengguna bahasa, dan tidak ditampilkan secara kongkrit.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Binatang, 2014)

 

Figure 11 Kucing

 

 

 
Agar kalian dapat lebih memahami kajian makna dalam semantik, berikut contoh lainnya. Kata atau simbol pada gambar 10 adalah kucing. Makna pada kata tersebut adalah binatang berkaki empat, berambut, pemakan daging atau karnivora, berkumis, memiliki kuku pada jari kakinya, salah satu

fungsi kuku kucing berfungsi untuk mencakar, bisa berbunyi meong. Acuan pada kata dan makna tersebut sesuai dengan gambar tersebut. Acuan dalam kajian semantik bisa kongkrit, bisa juga abstrak. Acuan kongkrit bisa diketahui secara langsung dengan cara melihat, memegang, dan memahami langsung bendanya. Namun, acuan yang abstrak tidak bisa diketahui gambarnya.

Apakah kalian bisa mencontohkan acuan dalam bahasa Indonesia yang bersifat abstrak? Acuan yang abstrak bisa berupa kata sifat, kata benda, keterangan, kata kerja dan partikel. Bisakah kalian membayangkan acuan cantik, kedudukan, pagi, melompat, dan pun? Nah, dengan contoh ini, kalian lebih memahami hubungan antara makna, kata, dan acuan.

Setelah kalian memahami segi tiga semantik yang menggambarkan hubungan antara simbol, makna dan acuan tidak hanya seperti penjelasan tersebut. Kalian harus juga memahami hubungan timbal balik antara makna dan kata. Hal ini disampaikan karena acuan tidak selalu bisa dijelaskan. Hubungan antara makna dan kata tidak selalu tunggal. Kadang ada satu kata yang memiliki lebih dari satu makna, ada satu makna yang bisa menggunakan lebih dari satu kata. Ullman menggambarkan hubungan lurus antara n dan m (Pateda, 2010).


Pada gambar tersebut, ada kata yang hanya memiliki satu kata. Ada satu kata yang memiliki beberapa makna. Ada pula satu makna yang ada dalam beberapa kata. untuk memahami maksud gambar tersebut, berikut dicontohkan dalam bentuk kata dalam bahasa Indonesia.

Berdasarkan penjelasan tersebut, kalian sudah memahami konsep hubungan antara simbol, makna, dan acuan. Hubungan tersebut ada dalam pikiran atau memori pemilik bahasa, yang disebut kompetensi. Hubungan tersebut akan berlaku dinamis, bergantung perkembangan makna pada pemilik bahasa, karena bahasa bersifat dinamis. Begitu pula hubungan antara makna dan kata atau simbol. Akan selalu berubah, bergantung pada perkembangan penggunaan bahasa. Akan ada perubahan makna, perkembangan makna, dan seterusnya.
Last modified: Thursday, 24 April 2025, 2:40 PM