6.2 Sinonim

Apakah kalian pernah ke kebun binatang? Ada yang pernah, ada yang belum ya? Seperti sebagian besar dari kalian sudah pernah ke kebun binatang. Tapi, bagi kalian yang belum pernah ke kebun binatang, pernah dengar nama kebun binatang kan? Kebun binatang di Jawa Timur yang terkenal, dimana ya?

“Kebun binatang Surabaya”

Kalau sekarang, di Malang, Pasuruan juga ada kebun binatang, tapi tidak bernama kebun binatang.

Saya sudah mencari di google, kebun hewan tidak ditemukan.


Di Malang bernama Secret Zoo, di Pasuruan bernama Safari Prigen.

Pernahkan kalian mendengar atau membaca kebun hewan?

Kata binatang dan hewan memiliki hubungan makna berupa sinonimi. Kedua kata tersebut memiliki persamaan dan juga sedikit perbedaan makna. Adanya persamaan makna tersebut menjadi dasar dalam menyatakan kedua kata tersebut memiliki hubungan sinonim.

Contoh lainnya, ketika seorang ibu sedang bermain bersama anaknya, ia melihat kucing. Sang ibu akan berujar itu hewan apa? atau ada kucing, Nak, bisa juga dengan kalimat yang lain. Yang perlu diperhatikan adalah pada ujaran, itu

hewan apa?. Kalimat tersebut sering kita dengar untuk bertanya nama hewan yang dimaksud dalam pembicaraan. Kita mungkin jarang mendengar kalimat itu binatang apa? Mengapa bisa demikian, karena setiap penutur bahasa memiliki rasa bahasa yang membantunya memilih kata yang tepat.


Sebelum membahas perbedaan makna dalam sinonim kita haus memahami konsep dasar sinonim. Menurut Pateda, secara etimologis, kata sinonim berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Adapun makna secara harfiah kata sinonim adalah nama lain untuk benda atau hal yang sama (Pateda, 2010). Sementara itu, Palmer mengatakan bahwa synonymy is used to mean sameness of meaning yang artinya kesinoniman digunakan untuk menunjukkan kesamaan (Palmer, 1981). Hal itu berarti bahwa dalam sebuah bahasa terdapat perangkat kata yang mempunyai arti yang berkesamaan atau berkesesuaian. Jadi, bentuk bahasa yang mengalami dan menjadi kelompok yang mirip maknanya disebut sinonim. Senada dengan pendapat sebelumnya, Kridalaksana juga mengatakan bahwa sinonim adalah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk lain (Kridalaksana, 2008).

Sebagaimana yang diilustrasikan dalam pengantar, dalam sinonim, ada sedikit unsur makna yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan kata yang bersinonim untuk dapat dan tidak dapat saling menggantikan dalam sebuah teks. Pernyataan ini didasarkan pada pendapat Verhaar, Zgusta, dan Ullman. Verhaar mendefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain (Verhaar, 1981) dan (Pateda, 2010). Menurut Zgusta dan Ullmaan, kesamaan dua kata yang bersinonim itu tidak bersifat mutlak (Chaer, 2009) dan (Ullman, 1970).

Berikut contoh sinonim, kata buruk dan jelek adalah dua buah kata yang bersinonim; bunga, kembang, dan puspa adalah tiga buah kata yang bersinonim; mati, wafat, meninggal, dan mampus adalah empat buah kata yang bersinonim. Dilihat dari kemiripan maknanya, kata buruk dan jelek tidak persis sama; makna kata bunga, kembang, dan puspa pun tidak persis sama. Begitu pula kata mati, meninggal, wafat, dan mampus. Dengan demikian, kata yang bersinonim memiliki perbedaan makna.

Andaikata kata mati, wafat dan meninggal itu maknanya persis sama, tentu kita dapat mengganti kata mati dengan wafat, atau dengan meninggal pada kalimat berikut.

a.       Tikus itu mati diterkam kucing

b.      Tikus itu wafat diterkam kucing

c.       Tikus itu meninggal diterkam kucing

Kalimat a, kata mati untuk tikus dapat diterima, sedangkan kata wafat untuk tikus tidap dapat diterima. Untuk mengetahui keberterimaan makna, dapat dilakukan dengan analisis medan makna.


Table 2 Analisis Medan Makna Mati, wafat, dan meninggal

 

Komponen makna

Mati

Wafat

Meninggal

Tutup usia

+

+

+

Tidak bernyawa

+

+

_

Hewan

+

-

-

Manusia

-/+

+

+

Nilai rasa tinggi

-

+

-

 

Penggunaan kata mati bisa untuk manusia dan hewan, sedangkan meninggal dan wafat hanya digunakan untuk manusia, tidak pada hewan. Perbedaan kata meninggal dan wafat ada pada tingkat nilai rasa atau kesantunan berbahasa. Kata yang bersinonim yang tidak saling menggantikan disebut sinonim parsial. Begitu pula dengan kata tewas. Kata tewas memiliki persamaan makna dengan mati, meninggal, dan wafat. Kata tewas bisa digunakan untuk hewan dan juga manusia. Namun, penggunaan tewas untuk manusia menunjukkan keadaan yang sangat mengerikan, seperti kehilangan nyawa karena kecelakaan lalu lintas, jatuh yang menyebabkan anggota badan tidak utuh, dan lain sebagainya.

Agar kalian bisa memahami jenis sinonim, silahkan analisis perbedaan makna antara hewan dan binatang, cantik, ayu, elok, dan molek, hanya dan saja, dan seterusnya. Dengan berlatih menganalisis, kalian akan semakin memahami konsep sinonim dalam bahasa Indonesia.

Namun, ada pula kata yang bersinonim bisa saling menggantikan. Makna sangat mirip, berikut contohnya.

d.      Saya bisa menulis

e.       Saya dapat menulis

Kalimat d dan e sama-sama berterima. Kedua kalimat tersebut dianggap lumrah atau lazim digunakan. Kata bisa dan dapat sama-sama bisa saling menggantikan. Kemampuan kata yang bersinonim dapat saling menggantikan disebut sinonim mutlak.


Proses Kesinoniman

Menurut pendapat Muniah, Sulastri, dan Hamid, ada beberapa proses kata untuk menjadi sinonim dalam bahasa Indonesia (Muniah, Sulastri, & Hamid, 2000).

1)  Dorongan Kebahasaan

Sinonim timbul dengan maksud untuk memperkuat daya ungkap bahasa dalam arti luas, serta berfungsi sebagai pengungkap ekspresif, representatif, eufemisme, atau stilistik. Misalnya, sinonim ibu: inang, emak, mama, bunda untuk memenuhi fungsi representatif atau ekspresif. Kemudian, kesinonim gelandangan: tunawisma, atau pelacur: wanita tunasusila untuk keperluan eufemisme. Sinonim desa: kampung, dusun, dukuh untuk memenuhi tuntutan stilistik.

2)  Pengaburan Masalah

Pokok sinonim seperti pengaburan masalah pokok dijumpai dalam pemakaian bahasa untuk kegiatan politik. Contoh: dieksekusi menggantikan istilah dihukum mati; diamankan menggantikan kata ditahan, ditangkap; dan dimutasi menggantikan kata dipecat dari jabatan. Pengaburan pokok masalah ini pada awalnya digunakan untuk kesantunan. Namun, lama- kelamaan, penggantian istilah ini mengakibatkan adanya kehilangan makna yang sesungguhnya. Makna yang santun pada kata mengaburkan kondisi yang tidak baik pada pihak tertentu.

3)  Penggantian Istilah

Sinonim muncul karena dorongan untuk mengganti istilah asing dengan istilah yang terdapat dalam suatu bahasa. Contoh kata laundry dengan kata penatu dan dobi; airport dengan bandara, bandar udara, pelabuhan udara; dan tower dengan kata menara, mercu. Di Indonesia, istilah asing dianggap lebih bernilai tinggi, sehingga penggunaan istilah dalam bahasa asing lebih sering digunakan. Ada kebanggaan terselubung dalam penggunaan istilah dalam bahasa asing. Banyak orang yang sering menggunakan kata download daripada unggah, gadget dari pada gawai, prestis dari pada membanggakan, dan lain sebagainya. Penggunaan tersebut bisa disebabkan oleh ketidaktahuan dan ketidakpedulian pada istilah dalam bahasa Indonesia. Banyak orang yang sudah tahu istilah tersebut dalam bahasa Indonesia tetap menggunakan istilah dalam bahasa asing.

4)  Kolokasi

Sinonim muncul karena dorongan untuk memenuhi kolokasi, misalnya baik: bagus, indah, tampan, cantik. Kata-kata yang berupa adjektiva tersebut dapat dilihat perbedaannya berdasarkan keterbatasan kolokasinya. Contoh,


a.       tulisan anak itu baik.

b.      tulisan anak itu bagus.

c.       tulisan anak itu indah.

Berdasarkan uraian tersebut, ada empat proses terjadinya sinonim. Silahkan anda mencari contoh yang lain untuk mengetahui kemungkinan adanya temuan baru proses kesinoniman dalam bahasa Indonesia.

 

Jenis-jenis Sinonim

Menurut pendapat Muniah, Sulastri, dan Hamid, dalam bahasa Indonesia terdapat lima bentuk sinonim (Muniah, Sulastri, & Hamid, 2000). Kelima bentuk tersebut adalah leksem bersinonim dengan leksem, leksem tunggal bersinonim dengan leksem majemuk, leksem tunggal bersinonim dengan frase, leksem majemuk bersinonim dengan leksem tunggal, dan frase bersinonim dengan frase. Namun, ada pula jenis sinonim menjadi lima, tetapi berbeda nama. Kelima jenis sinonim tersebut adalah sinonim morfem bebas dengan morfem terikat, kata dengan kata, kata dengan frase atau sebaliknya, frase dengan frase, dan kalimat dengan kalimat (Sumarlan, 2009). Perbedaan jenis sinonim pada dua pendapat tersebut terdapat pada istilah yang digunakan. Berikut penjelasannya.

1)   Sinonim antara morfem (bebas) dengan morfem (terikat), seperti antara dia dengan nya, antara saya dengan ku dalam kalimat.

(a)    Minta bantuan dia

Minta bantuannya

(b)   Bukan teman saya

Bukan temanku

2)    Sinonim antara kata dengan kata seperti antara mati dengan meninggal; antara buruk

dengan jelek; antara bunga dengan puspa,dan sebagainya.

3)    Sinonim antara kata dengan frase atau sebaliknya. Misalnya antara meninggal dengan tutup usia; antara pencuri dengan tamu yang tidak diundang; antara tidak boleh tidak dengan harus.

4)   Sinonim antara frase dengan frase. Misalnya, antara ayah ibu dengan orang tua; antara meninggal dunia dengan berpulang ke rahmatullah; dan antara mobil baru dengan mobil yang baru.

5)    Sinonim antara kalimat dengan kalimat. Seperti Dian menendang bola dengan Bola ditendang Dian. Kedua kalimat ini pun dianggap bersinonim, meskipun yang pertama kalimat aktif dan yang kedua kalimat pasif.


Faktor Pembentukan Kesinoniman

Kata yang bersinonim bisa saling menggantikan dan tidak. Ketidakmampuan saling menggantikan bisa menjadi indikator jenis sinonim parsial. Namun, ketidakmampuan saling menggantikan juga disebabkan faktor lain. Berikut faktor-faktor yang menyebabkan kata yang bersinonim tidak dapat saling menggantikan.

1)      Faktor Waktu

Ada kata yang lazim menjelaskan makna yang berhubungan dengan waktu tertentu, sehingga ia tidak bergabung dengan kata dalam waktu yang lain. Misalnya, kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Keduanya tidak mudah dipertukarkan karena kata hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, klasik, atau arkais. Sedangkan kata komandan hanya cocok untuk situasi masa kini (modern).

2)      Faktor Tempat atau Daerah

Faktor ini bisa berupa dialek. Misalnya, kata saya dan beta adalah bersinonim. Tetapi, kata beta hanya cocok untuk digunakan dalam konteks pemakaian bahasa Indonesia timur (Maluku); sedangkan kata saya dapat digunakan secara umum di mana saja.

3)      Faktor Sosial

Faktor ini dapat dilihat dari kemampuan kata beradaptasi atau selalu berada dalam lingkungan sosial tertentu atau kelas sosial tertentu. Misalnya, kata aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim; kata aku digunakan untuk tingkat keakraban intim atau kepada teman sebaya, bukan untuk orang tua atau orang yang lebih tua atau memiliki status sosial yang tinggi.

4)      Faktor Bidang Kegiatan

Faktor ini biasanya berhubungan dengan penggunaan istilah. Istilah dalam kajian ilmu atau bidang tertentu tidak akan lazim digunakan pada kajian yang berbeda. Misalnya, kata tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga buah kata yang bersinonim. Namun, kata tasawuf hanya lazim dalam agama Islam, dan kata mistik untuk semua agama. Contoh lain kata matahari bersinonim dengan kata surya; tetapi kata surya hanya cocok atau lazim digunakan dalam sastra, sedangkan kata matahari dapat digunakan secara umum.

5)      Faktor Nuansa Makna

Faktor ini ditandai dengan adanya perbedaan komponen makna. Perbedaan ini terkadang menandai adanya tinggi rendahnya rasa bahasa. Dalam bahasa Indonesia, banyak kata yang bersinonim jenis ini. Misalnya, kata kata melihat, melirik, melotot, meninjau, dan mengintip adalah kata-kata yang bersinonim. Kata melihat memang bisa digunakan secara umum, tetapi kata melirik hanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut


mata; kata melotot hanya digunakan untuk melihat denganmata terbuka lebar; kata meninjau hanya digunakan untuk melihat dari tempat jauh atau tempat tinggi; dan kata mengintip hanya cocok digunakan untuk melihat dari celah yang sempit.

Berdasarkan uraian tersebut, kalian bisa mengidentifikasi faktor ketidakmampuan kata yang bersinonim untuk saling menggantikan dalam sebuah teks atau kalimat. Cobalah cari kata yang bersinonim, lalu analisislah kata tersebut. Kalian akan semakin memahami konsep sinonim dalam bahasa Indonesia.

 

Cara Menganalisis Kesinoniman

Untuk mengetahui kata-kata bersinonim atau tidak, diperlukan suatau cara analisis yang tepat. Cara ini juga dapat digunakan untuk mengecek jenis relasi makna kata, apakah sinonim atau hiponim. Berikut cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui kesinoniman kata.

1)  Menyubstitusi atau mengganti

Jika suatu kata dapat diganti dengan kata lain dalam konteks kalimat yang sama dan makna konteks itu tidak berubah, kedua kata itu dapat dikatakan bersinonim.

Contoh: datang bersinonim dengan tiba

a.       Mereka sudah datang. (dapat diterima)

b.      Mereka sudah tiba. (dapat diterima)

c.       Saya akan datang ke pertemuan itu. (dapat diterima) *

d.      Saya akan tiba ke pertemuan itu. (tidak dapat diterima)

Cara ini sudah dijelaskan dalam mencontohkan kesinoniman kata pada bahasan sebelumnya. Kadang kala kata yang bersinonim dapat saling menggantikan, dan adakalanya tidak dapat saling menggantikan.

2)  Menggunakan komponen makna

Dalam bahasan sebelumnya, sudah dicontohkan analisis medan makna untuk mengetahui perbedaan makna dalam kata yang bersinonim. Analisis medan makna dilakukan dengan menghadirkan konsep-konsep kata pada kata yang bersinonim. Ada kalanya konsep makna tidak terdapat pada kata 1, terdapat pada kata 2 dan 3, terdapat pada konsep 2, tetapi tidak terdapat pada konsep 1 dan 3, begitu seterusnya. Dengan analisis medan makna ini, akan diketahui perbedaan penggunaan kata yang bersinonim.


Contoh Kajian Sinonim

Berikut contoh kajian sinonim yang dilakukan Amilia (Amilia, 2014). Ia mengaji definisi kata yang dijelaskan dengan sinonim. Ia menemukan adanya pembagian sinonim mutlak dan sinonim parsial.

1)  Sinonim Mutlak

Berikut data definisi yang menyebut sinonim dalam definiandumnya.

(1)    bokong n pantat (JD.S.mu.193n/1405n)

Pada (1), kata bokong didefinisikan dengan sinoniminya yaitu pantat. Untuk mengatahui jenis sinonim pada (1), berikut penganalisisannya.

(1#) a) salah satu anggota tubuh manusia adalah pantat

b)  salah satu anggota tubuh manusia adalah bokong

Kalimat pada (1#) menunjukkan kata pantat dan bokong memiliki konsep yang sama. Selain itu, kedua kata tersebut dapat saling berterima dalam kalimat yang sama. Oleh sebab itu, kata pantat dan bokong merupakan sinonim. Namun, untuk mengetahui jenis sinonim, berikut pengujian dalam kalimat yang berbeda.

(1##)  c) bokong manusia terletak di belakang

d) pantat manusia terletak di belakang

Kalimat pada (1##) menunjukkan persamaan makna antara pantat dan bokong. Dengan demikian, pantat dan bokong merupakan sinonim mutlak dan merujuk pada acuan yang sama. Berdasarkan uraian tersebut, pengonsepan pada (1) menunjukkan definisi sinonim,

yaitu sinonim      mutlak. Selain itu, berikut definisi mutlak pada anggota badan yang didefinisikan dengan definisi sinonim mutlak terdapat pada definisi berikut ini.

(2) kening n dahi; (JD.S.mu.955n) dahi n kening; (JD.S.mu.365n) jidat n kening; (JD.S.mu.809n)

Konsep pada tiga kata dalam data (2) merupakan sinonim. Untuk mengetahui jenis sinonim ketiga definisi tersebut, berikut pengujian penggunaan ketiga kata tersebut.

(2#) a) mendengar jawaban yang tidak memuaskan itu, keningnya  berkerut

b)   mendengar jawaban yang tidak memuaskan itu, dahinya berkerut

c)     mendengar jawaban yang tidak memuaskan itu, jidatnya berkerut

Kalimat a), b) dan c) pada (2#) merupakan kalimat yang dapat diterima sebagai kalimat yang memuat informasi yang benar dan memiliki makna yang sama. Kalimat keningnya berkerut dan dahinya berkerut, jidatnya berkerut merujuk pada hal sama. Begitu pula pada kalimat berikut, ketiganya dapat menggantikan kata dalam kalimat yang sama.


(2##) a) ia mencium keningnya

b)  ia mencium dahinya

c)  ia mencium jidatnya

Kalimat pada (2##) juga menunjukkan kemampuan tiga kata tersebut saling menggantikan dalam kalimat dan menunjukkan konsep dan makna yang sama. Dengan demikian, ketiga kata tersebut merupakan sinonim mutlak.

2)  Sinonim Parsial

Berikut definisi yang menyebut sinonim.

(3)  ampun n maaf; (JD.SD.pa.31n/1255n)

Pada (3) disebut konsep sinonim definiandum. Untuk mengetahui jenis sinonim pada (3), berikut pengujiannya.

(3*) a) mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan

b)  mohon maaf atas segala dosa dan kesalahan

Kalimat a) dan b) pada (3*) menunjukkan kata ampun dan maaf dapat saling menggantikan kata pada kalimat yang sama. Ini membuktikan kedua kata tersebut adalah sinonim. Untuk mengetahui jenis sinonim pada kedua kata tersebut berikut pengujian pada kalimat berbeda.

(3**) c) ia selalu berdoa dan memohon ampun

d)  ia selalu berdoa dan memohon maaf

Kalimat c) dan d) pada (3**), kata maaf kurang mampu menggantikan kata ampun. Hal ini disebabkan konteks pemakaian ampun dan maaf berbeda. Begitu pula pada kalimat di bawah ini.

(3***) e) maaf, saya terlambat

f) ampun, saya terlambat

Penggunaan kalimat f) pada (3***) menunjukkan ketidakmampuan kata ampun menggantikan kata maaf dalam kalimat yang berbeda. Dengan demikian, definisi maaf dan ampun merupakan sinonim parsial. Yaitu kadang bisa mengantikan kata dalam kalimat yang sama, kadang tidak bisa mengantikannya.

Berikut pengonsepan sinonim lainnya.

(4)  binatang n hewan;  (JD.S.pa.181n)

Kata binatang dan hewan pada (4) merupakan sinonim. Ini dibuktikan dengan definisi yang menyebut kata binatang berikut ini.

(4*) a) 1gajah n 1 binatang menyusui, berbelalai…

b)  1gajah n 1 hewan menyusui, berbelalai,


Pengonsepan pada a) dan b) pada (4*) memiliki konsep dan makna yang sama. Penggantian kata binatang menjadi hewan dalam definisi gajah tidak menimbulkan makna baru.

Namun, terdapat perbedaan antara kata binatang dan hewan dalam penggunaannya. Kata binatang mengacu pada penggunaan yang umum, sedangkan hewan digunakan pada konteks tertentu. Seperti pada ungkapan berikut.

(4#) c) kebun binatang

d) kebun hewan

Penggunaan istilah d) pada (4#) menunjukkan bahwa binatang tidak dapat digantikan dengan hewan. Ini membuktikan bahwa binatang dan hewan merupakan definisi sinonim parsial.

Sinonim parsial memiliki ciri ketidakmampuan kata bersinonim menggantikan posisi dalam kalimat. Definisi berikut juga menunjukkan ketidakmampuan kata bersinonim menggantikan posisi dalam kalimat.

(5)  manusia n orang; (JD.S.pa.1280n/1364n)

Pada (5), manusia dijelaskan dengan konsep orang. Berikut pengujian dalam bentuk kalimat untuk mengetahui jenis sinonim pada (5).

(5*)  a) sebagai manusia biasa, ia bisa juga khilaf

b)  sebagai orang biasa, ia bisa juga khilaf (5**) c) dia orang bogor

d) dia manusia bogor

Kalimat a) dan b) pada (5*) menunjukkan kata manusia dan orang dapat saling menggantikan posisi dalam kalimat tersebut. Penggantian manusia dengan orang pada kalimat b) menunjukkan informasi yang sama dengan kalimat a). Namun, kalimat c) dan d) pada (5**) , kata manusia tidak bisa menggantikan kata orang. Ketidakmampuan kata manusia menggantikan kata orang pada kalimat d) pada (5**) membuktikan keduanya adalah sinonim parsial.

Berdasarkan uraian tersebut, sinonim parsial adalah sinonim yang bisa memiliki konsep yang sama. Namun, ada beberapa konsep yang berbeda antara kata-kata yang bersinonim tersebut. Perbedaan konsep dapat diketahui dengan penggantian kata bersinonim dalam kalimat yang sama.

Last modified: Thursday, 1 May 2025, 11:00 AM