6.6 Homonim, Homofon, dan Homograf

Istilah homonim (homonymy) berasal dari bahasa Yunani Kuno, onama yang berarti nama dan homos yang berarti sama. Secara harafiah homonim adalah nama sama untuk benda yang berlainan (Pateda, 2010). Dengan demikian, homonim dapat diartikan sebagai nama sama untuk benda atau hal lain. Secara semantik, Verhaar memberi definisi homonim sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain (juga berupa kata, frase atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama (Verhaar, 1981) dan (Chaer, 2009). Misalnya, kata bisa yang berarti „racun ular‟ dan kata bisa yang berarti

„sanggup atau dapat‟.

Jika ditanyakan bisa terjadi bentuk-bentuk homonim ini ada dua kemungkinan sebab terjadinya homonim ini; 1) bentuk-bentuk yang berhomonim itu berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan. Misalnya, kata bisa yang berarti „racun ular‟ berasal dari bahasa Melayu, sedangkan kata bisa yang berarti kata „sanggup‟ berasal dari bahasa Jawa, 2) Bentuk-bentuk yang bersinonim itu terjadi sebagai hasil proses morfologi.

Homonim dapat terjadi juga pada tataran morfem, kata, frase, dan kalimat. Homonim antar morfem, tentunya antara sebuah morfem terikat dengan morfem terikat yang lainnya. Misalnya, antara morfem-nya pada kalimat “Ini buku saya, itu bukumu, dan yang di sana bukunya‟ berhomonimi dengan –nya pada kalimat “Mau belajar tetapi bukunya belum ada”.


Morfem –nya yang pertama adalah kata ganti orang ketiga, sedangkan morfem –nya yang kedua menyatakan buku tertentu.

Homonim antar kata, misalnya antara kata bisa yang berarti „racun ular‟ dan kata bisa yang berarti „sanggup atau dapat‟ seperti sudah disebutkan. Contoh lain, antara kata semi yang berarti „tunas‟ dan kata semi yang berarti „setengah‟.

Homonim antar frase, misalnya antara frase orang tua yang bermakna „ayah dan ibu‟ dan frase orang tua yang bermakna „orang yang sudah tua‟. Contoh lain misalnya cinta anak.

Homonim antar kalimat, misalnya antara Isteri polisi yang baru itu anggun yang berarti „polisi yang baru diangkat itu mempunyai istri yang anggun‟, dan kalimat Istri polisi yang baru itu anggun yang berarti „polisi itu baru menikah lagi dengan seorang wanita yang anggun‟.

Selain itu, konsep hiponim juga dinyatakan oleh Parera. Parera mengemukakan bahwa homonim adalah dua ujaran dalam bentuk kata yang sama lafalnya dan atau sama ejaannya tulisannya (Parera, 2004). Berdasarkan dua pendapat tersebut, bentuk homonim dapat dibedakan berdasarkan lafalnya dan berdasarkan tulisannya. Oleh sebab itu, dalam pembahasan homonim, akan ada bahasan homofon dan homograf.

Kalau istilah homonim dilihat dari segi bentuk satuan bahasanya itu. Homofon dilihat dari segi “bunyi”, sedangkan homograf dilihat dari segi “tulisan, ejaan”. Homofon sama saja dengan homonim karena realisasi bentuk-bentuk bahasa adalah berupa bunyi. Misalnya, kata bank dan bang, yang bunyinya persis sama, tetapi maknanya berbeda. Bank adalah lembaga mengurus lalu lintas uang, sedangkan bang adalah bentuk singkat dari abang yang berarti

„kakak laki-laki‟.

Homofon berasal dari kata homo yang berarti sama dan kata fon yang berarti bunyi. Dengan demikian, homofon dapat diartikan homonim yang sama bunyinya, tetapi berbeda tulisan dan makna (Sudaryat, 2008). Berikut contoh homofon.

Table 7 Contoh Homofon

 

Homonim yang Homofon

Kata 1

Makna 1

Kata 2

Makna 2

massa

satuan fisika yang menyatakan berat suatu benda atau merujuk pada sekumpulan orang.

masa

kata yang merujuk pada suatu rentang waktu tertentu atau era tertentu atau sejumlah orang yang

berkumpul.


Rok

jenis pakaian yang digunakan

oleh wanita atau perempuan.

Rock

jenis aliran musik

jarum

salah satu jenis alat kedokteran

atau salah satu alat menjahit.

djarum

salah satu merek dagang

rokok di Indonesia

 

Di dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata yang tulisannya sama (jadi homograf), sedangkan lafalnya atau bunyinya tidak sama (jadi, tidak homofon). Misalnya, kata sedan yang dilafalkan [ s e d a n] dan berarti „tangis kecil, isak‟ dengan kata sedan yang dilafalkan [sedan] dan berarti sejenis mobil penumpang.

Secara harfiah homograf adalah kata yang ejaannya sama dengan kata yang lain, tetapi tulisan dan artinya berbeda, maka homonim yang homograf adalah homonim yang sama tulisannya tetapi berbeda ucapan dan maknanya (Sudaryat, 2008). Sementara Chaer mengungkapkan bahwa homograf adalah mengacu pada bentuk ujaran yang sama otografinya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama (Chaer, 2009). Maka dapat disimpulkan bahwa homograf adalah kata-kata yang dalam bentuk tulisannya sama tetapi beda dalam pelafalannya dan beda pula maknanya. Berikut contoh penggunaan homonim yang homograf.

Table 8 Contoh Homograf

 

Homonim yang Homograf

Kata 1

Makna 1

Kata 2

Makna 2

Teras [təras]

Bagian kayu yang keras atau inti kayu

Teras [tϵ ras]

lantai yang agak

tinggi di depan rumah

mental

[məntal]

terpelanting

Mental [mϵ ntal]

Jiwa atau batin

 

Masalah kehomografian di dalam bahasa Indonesia adalah karena tidak diperbedakannya lambang untuk fonem /é/ dan fonem /e/ di dalam sistem ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sekarang. Seandainya semua fonem itu dilambangkan dengan huruf yang berbeda, maka masalah kehomografian itu dengan sendiri menjadi tidak ada.

Chaer menuliskan sebab-sebab terbentuknya homonim, ada dua kemungkinan sebab terjadinya homonim ini, yaitu sebagai berikut (Chaer, 2009).


1)      Bentuk-bentuk yang berhomonim itu berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan. Misalnya, kata bisa yang berarti "racun ular‟ berasal dari bahasa Melayu, sedangkan kata bisa yang berarti "sanggup‟ berasal dari bahasa Jawa. Kata asal yang berarti pangkal, permulaan berasal dari bahasa Melayu, sedangkan kata asal yang berarti kalau berasal dari dialek Jakarta.

2)      Bentuk-bentuk yang berhomonim ini terjadi sebagai hasil proses morfologi. Umpamanya, kata mengukur dalam kalimat Ibu sedang mengukur kelapa di dapur adalah berhomonim dengan kata mengukur dalam kalimat Petugas agraria itu mengukur luasnya kebun kami. Jelas, kata mengukur yang pertama terjadi sebagai hasil proses pengimbuhan awalan me- pada kata kukur (me + kukur = mengukur); sedangkan kata mengukur yang kedua terjadi sebagai hasil proses pengimbuhan awalan me- pada kata ukur (me + ukur = mengu-kur).

Ullman menambahkan tiga cara dalam terbentuknya homonim (Ullman, 1970).

1)      Melalui konvergensi fonetis (pemusatan/perpaduan bunyi)

Akibat pengaruh bunyi maka dua atau tiga kata yang semula berbeda bentuknya, lalu menjadi sama bunyinya dalam bahasa lisan atau terkadang sama tulisannya. Dalam bahasa Indonesia kata sah sering diucapkan syah, sehingga menimbulkan homonimi:

syah „raja‟

syah „sudah menurut hukum.

Ini berarti bahwa homonimi tidak akan muncul jika penuturnya tidak mengucapkan sah menjadi syah yang menyatukan dua bunyi menjadi satu.

2)      Melalui divergensi makna (menyebar)

Divergesi makna yaitu meluasnya makna suatu kata karena penggunaannya yang semakin terlihat jelas perbedaan maknanya.

3)      Melalui pengaruh asing

Pengaruh asing juga merupakan salah satu faktor penting terbentuknya ambiguitas makna dalam suatu bahasa. Misalnya dalam bahasa Indonesia, kata buku yang berarti

„tulang sendi‟, lama-kelamaan juga dapat bermakna "kitab" setelah bahasa Indonesia menyerap kata buku dari bahasa Belanda book. Selain hal tersebut, sebuah kata asli bahasa Indonesia terkadang “didampingi” oleh masuknya kata asing yang sembunyi, sehingga lahir homonim. Misalnya kata bang „kakak‟ menjadi homonim dari kata Belanda bank yang bunyinya sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia.


Beberapa cara jika lenyapnya sebuah homonim dalam kata, antara lain sebagai berikut ini.

a.       Dapat diganti dengan bentuk derivatif.

b.      Dapat diisi dengan sinonim dari kata itu.

c.       Dapat diganti oleh sebuah kata yang menunjukkan suatu aspek khusus dari kata yang diganti.

d.      Dapat mengisi kesenjangan dengan istilah atau kata yang termasuk dalam alam pikiran yang sama.

e.       Dapat mengambil dari bahasa asing sebagai pengganti homonim yang diganti.

Berdasarkan uraian tersebut, konsep homonim mengacu pada kesamaan ejaan dan tulisan, tetapi berbeda makna. Homonim bisa berbentuk homofon dan homograf.

Berikut contoh analisis homonim yang dilakukan oleh (Azhar & Ruriana, 2010). Mereka berdua menganalisis macam-macam makna dalam surat kabar. Mereka menganalisis beberapa makna yang ditemukan dalam surat kabar. Salah satu analisis mereka adalah pada homonin. Berikut analisis homonim pada surat kabar. Berikut data dan analisis mereka pada hiponim dalam surat kabar.

Table 9 Analisis Homonim

 

Konteks untuk makna 1

Konteks untuk makna        2

24.a. Dengan terpaksa, si Abu pergi juga kepasar dengan mengendarai sepeda

 

25.a. Untuk mendapatkan bisa ular yang akan dipakai sebagai penawar racun, tidak bisa tiak kita harus berburu ular di hutan

 

26.a. Karena berat dan tidak ada seoangpun yang membantu, karung beras itu akhirnya diseret perlahanlahan oleh si anak kecil

24.b. Gunung di Gletser Eyjafjallajokull menyemburkan abu vulkanik (Gunung lain Berpoternsi Meletus (Republika))

25.b. Karena itu penyidik tidak bisa memaksakan pemeriksaan selesai dalam satu atau dua hari (Terima Piala, Susno Menangis (Jawa Pos))

26.b. Keluarnya dana dibuat seret sehingga para penyelenggara Pemilu tidak bisa melakukan persiapan optimal (Incumbent

dan Dana Pilkada (Jawa Pos))

 

Dari data 24 da 25, ditemukan fenomena variasi makna yang disebabkan karena homonimi. Kata Abu yang bermakna nama orang mengalami variasi makna ketika kata ini masuk kedalam konteks 24.b, yang dimaknai sebagai partikel kecil sejenis tanah yang berterbangan karena proses meletusnya gunung berapi. Demikian juga pada data 25.a, yaitu


kata bisa yang berarti racun ular mengalami variasi makna ketika berada dalam konteks 25.b. Dalam konteks 25b, kata bisa, diartikan sebagai sebuah kemungkinan, atau kesanggupan untuk melakukan sesuatu. Fenomena ini yan disebut homonimi homofon.

Berbeda dengan data 25 dan 26, pada data 27 terdapat variasi makna yang disebabkan oleh berbedanya pengucapan dari kata seret. Pada data 27a, kata seret dibaca [sêrêt] yang memiliki pengertian yaitu memindahkan sesuatu dengan cara menariknya. Kata seret dalam contoh 27b, yang dibaca seret, memiliki makna sulit atau sukar untuk keluar. Fenomena ini yang disebut homonimi homograf
Last modified: Thursday, 1 May 2025, 11:05 AM