6.8 Redudansi
Redundansi adalah berlebih-lebih pemakaian unsur segmental dalam sutu bentuk ujaran (Chaer, 2009). Berubahnya informasi pada kata tersebut mengindikasikan dan menjadikan ukuran bahwa kata tersebut adalah redudansi. Jika informasi tersebut tidak berubah, maka kata tesebut adalah redundan. Sebagai contoh sebagai kalimat berikut.
1) Ibu Yoga mengenakan jilbab berwarna biru ketika mengajar.
Penggunaan kata berwarna termasuk redundansi atau berlebih-lebihan karena tanpa penggunaan kata berwarna, informasi yang disampaikan kalimat tersebut tetaplah sama.
Redundansi terdapat dalam segala bahasa dan bidang, baik dalam ejaan, morfologi maupun pada kalimat juga seringkali terdapat bentuk redundansi. Redundansi juga dipermasalahkan dalam ragam bahasa baku maupun ragam bahasa pers karena kedua ragam bahasa tersebut menuntut adanya efisiensi kalimat.
Redundansi ini juga dapat kita temukan dalam ragam bahasa sehari-hari. Misalnya, dalam kalimat berikut ini.
2) Aku benar-benar cinta banget sama dia
Kalimat tersebut termasuk kategori berlebih-lebihan, kata benar-benar dan banget yang menunjukkan adanya makna yang berlebihan. Redudansi jenis ini sering ditemukan dalam bahasa lisan dan bahasa intim dalam kehidupan sehari-hari.
Pendapat lain dikemukakan oleh Parera yang mengistilahkan redundansi sebagai kelewahan, yakni derajat kelebihan informasi yang dikandung oleh sebuah bahasa atau butir- butir bahasa yang diperlukan agar informasi itu dipahami (Parera, 1993). Bahasa memang banyak mengandung unsur-unsur yang lewah dalam memberikan informasi yang diperlukan. Jika seorang mengatakan “banyak buku-buku”. Bentuk ulang buku-buku dianggap lewah karena kata banyak sudah mengandung makna prural.
Dalam kajian semantik, redundansi disikapi secara netral deskriptif dengan difokuskan pada dua konsep semantis yang artinya sering dikontaminasikan, yaitu perifrase (periphrase) dan parafrase (paraphrase) (Verhaar, 1981). Konsep redundansi juga bisa diperluas hubungannya dengan konvensi dan hubungan realitas sosial masyarakat. Pengunaan unsur bahasa yang tida perlu dalam suatu tuturan atau tulisan sebenarnya boleh tidak digunakan sepanjang tidak mengganggu dan mengurangi makna atau informasi yang ingin disampaikan. Dapat diambil simpulan bahwa redundansi adalah penggunaan kata-kata yang berlebihan dalam suatu tuturan atau tulisan untuk menyampaikan suatu informasi tertentu.
Berikut contoh kajian redudansi yang dilakukan oleh (Khasanah, Jupriono, & Sudarwati, 2010). Ia menuliskan bahwa redundansi merupakan salah satu topik yang sejajar dengan topik lain macam homonimi, sinonimi, antonimi, polisemi, dan hiponimi . Oleh karena itu, redundansi kata-kata dikajinya dengan netral dan tidak dianalisis dengan parameter preskriptif berupa vonis salah-benar, berlebihan-ekonomis.
Dalam berita, sering diabaikan makna suatu frase. Berikut contoh teksnya.
1) Para napi berhasil menjebol besi tersebut berikut kaca setebal 5 inci ... Suara pecahan kaca sempat membangunkan warga sekitar rutan. (Jawa Pos, 8/9/2008)
2) Gubernur Jawa Timur Imam Utomo dinilai telah melanggar asas-asas umum pemerintahan yang baik. (Kompas, 4/9/2008)
3) Warga langsung membawa korban ke RSUD Bangkalan untuk diberi pertolongan medis. (Jawa Pos, 8/9/2007)
Pandangan bahwa bahasa dalam surat kabar harus menggunakan kata-kata seefisien mungkin akan mempersoalkan. Masih ditemukan frase sekitar rutan pada kalimat (1), kata baik pada frase asam-asam umum pemerintahan yang baik pada kalimat (2), dan kata medis pada kalimat (3) yang menunjukkan adanya redudandi. Frase-frase pada kalimat 1, 2, dan 3 hendaknya dihilangkan. Tanpa frase dan kata ini, pembaca sudah memahami bahwa kalau disebut warga, pastilah yang dimaksud adalah warga sekitar rutan dan tidak mungkin warga sekitar pantai atau pusat pertokoan. Kalau disebut asas-asas umum pemerintahan, yang dimaksud pastilah asas-asas umum pemerintahan yang baik. Jika pun ada asas-asas pemerintahan yang buruk, untuk apa pula ia dirujuk. Jika dibawa ke RSUD (di mana pun!), orang pun memahami, pastilah korban akan diberi pertolongan medis dan tentu bukan diberi pengobatan alternatif atau mantra ampuh dukun sakti.