10.3 Konsep Dasar Dalam Semiotika

Pada dasarnya, semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang makna dari tanda, dengan menyertakan adanya mitos dan metafora yang bersangkutan dengan tanda tersebut. Konsep-konsep dasar dari semiotika yang dicetuskan oleh Ferdinand de Saussure ini meliputi tanda/simbol, kode, maka, mitos, dan metafora.

1. Tanda

Menurut Saussure, tanda (sign) ini terbagi menjadi tiga komponen, yakni:

  • Tanda (sign), mencangkup aspek material berupa suara, huruf, gambar, gerak, dan bentuk.
  • Penanda (signifier), mencangkup aspek material bahasa, yakni apa yang dikatakan atau didengarkan; dan apa yang ditulis atau dibaca.
  • Petanda (signified), mencakup aspek mental bahasa, yakni gambaran mental, pikiran, dan konsep.

Ketiga komponen tersebut harus memiliki eksistensi yang secara utuh. Apabila salah satu komponennya tidak ada, maka tandanya tidak dapat dibicarakan atau bahkan dibayangkan di benak manusia. Jadi, petanda (signified) adalah konsep yang nantinya akan dipresentasikan oleh penanda (signifier). Hubungan antara petanda dan penanda ini harus berkaitan satu sama lain supaya dapat menghasilkan makna atas tanda tersebut.

Contohnya adalah kata “Gorden” itu juga merupakan sebuah tanda karena memiliki Signifier yang berupa kata itu sendiri; dan Signified berupa kain untuk menutup jendela. Adanya kesatuan antara kata dengan kenyataan itulah  yang membuat “Gorden” menjadi sebuah tanda (Sign).

Dalam kehidupan ini, terdapat banyak sekali tanda yang rata-rata “diproduksi” oleh manusia, antara lain tanda gerak atau isyarat, tanda verbal berupa ucapan kata, dan tanda non verbal berupa bahasa tubuh. Tanda isyarat misalnya lambaian tangan yang berarti memanggil dan anggukan kepala yang berarti pernyataan setuju. Kemudian, tanda verbal yang berupa ucapan biasanya akan diimplementasikan melalui huruf dan angka.

Selain tiga tanda tersebut, ada juga tanda-tanda yang berupa gambar, misalnya ikon, indeks, dan simbol. Berikut penjabaran hubungannya.

Tanda (Sign) { ikon, indeks, dan simbol

  • Ikon = tanda yang mirip dengan objek yang diwakilinya. Keberadaan ikon biasanya mirip dengan sesuatu hal yang dimaksudkan. Misalnya: gambar toilet di suatu gedung atau pom bensin berarti disitu adalah tempat toilet.
  • Indeks = tanda yang memiliki sebab akibat dengan apa yang diwakilinya. Misalnya, di stiker paket kardus terdapat gambar gelas pecah, itu berarti apabila paket tersebut dibanting maka akan pecah sama halnya dengan gelas tersebut. Contoh lain adalah di sebuah tempat wisata, terdapat tanda berupa jejak kaki yang berarti disitulah tempat titik fotonya.
  • Simbol = tanda yang didasarkan pada konvensi, peraturan, atau perjanjian atas kesepakatan bersama. Keberadaan simbol ini hanya dapat dipahami artinya apabila seseorang tersebut memang sudah mengerti kesepakatan bersama yang ada. Misalnya tanda hati berwarna merah muda itu diartikan sebagai cinta, yang mana semua orang tanpa sadar telah menyepakati simbol dan arti dari hal tersebut.
IKON INDEKS SIMBOL
Ditandai dengan adanya Persamaan (terutama dengan objek yang diwakilinya) Hubungan sebab-akibat Konvensi (kesepakatan bersama)
Proses Dapat dilihat dan dapat langsung menyadari adanya persamaan Dapat diperkirakan akan sebab-akibatnya Harus dipelajari, sebab tidak semua orang memahaminya
Contoh Berupa gambar dan patung. Misalnya: patung gajah berarti tempat kebun binatang, dan di dalam kebun binatang tersebut terdapat hewan gajah.
  • Asap – Api
  • Tengkorak – zat mematikan
  • Gelas pecah – permintaan untuk jangan dibanting
  • Gambar hati berwarna merah muda – cinta
  • Dua jari – tanda perdamaian
  • Mengibarkan bendera putih – tanda menyerah

2. Kode

Kode juga termasuk dalam hal yang dipelajari dalam semiotika lho… Kode adalah cara pengkombinasian tanda yang memang telah disepakati secara sosial, untuk memungkinan pesan tersebut tersampaikan kepada orang tertentu. Menurut Barthes, kode dalam semiotika ini memiliki lima macam, yakni:

  • Kode Hermeneutik

Yaitu kode yang berupa menyodorkan berbagai pertanyaan, teka-teki, respons, enigma (ucapan misterius), penangguhan jawab, yang pada akhirnya akan menuju pada jawaban pasti. Kode ini berhubungan dengan teka-teki yang timbul dalam sebuah wacana.

Misalnya pertanyaan-pertanyaan seperti:

“Siapakah mereka?”

“Mengapa kamu tidak datang?”

“Bagaimana dengan tujuan kita?”


  • Kode Semantik

Yakni kode yang mengandung adanya konotasi (nilai rasa) pada level penanda. Konotasi atau nilai rasa yang terdapat dalam kode ini misalnya berupa maskulinitas, feminim, kebangsaan, dan lain-lain. 

  • Kode Simbolik

Yakni kode yang berkaitan dengan psikoanalisis hingga adanya pertentangan dua unsur.

  • Kode Narasi (Proairetik)

Yakni kode yang memuat adanya cerita, urutan, dan narasi. Setiap karya fiksi pasti memiliki kode ini.

  • Kode Kebudayaan (Kultural)

Yaitu kode yang bersifat anonim, bawah sadar, mitos, sejarah, moral, dan legenda.

3. Makna

Apakah Grameds menyadari bahwa segala makna yang ada di kehidupan ini secara tidak langsung diciptakan berdasarkan pada simbol-simbol yang menunjuk pada suatu peristiwa atau objek tertentu?

Apabila membahas mengenai makna, terdapat dua macam yakni makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotatif adalah makna sebenarnya, mencangkup hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata atau hubungan secara eksplisit antara tanda dengan referensi yang ada. Misalnya, terdapat gambar manusia itu berarti maknanya memang berhubungan dengan manusia selaku makhluk hidup.

Kemudian pada makna konotatif adalah makna yang tidak sebenarnya, meliputi perasaan, emosi, nilai-nilai kebudayaan, hingga sudut pandang dari suatu kelompok. Misalnya: gambar wajah tersenyum dapat diartikan menjadi dua makna yaitu suatu kebahagiaan atau ekspresi penghinaan.

Menurut Barthes, untuk memahami makna konotatif yang terdapat dalam semiotika, terdapat dua konsep yakni Mitos dan Metafora.

Last modified: Thursday, 29 May 2025, 11:11 AM