12.2 Jenis-Jenis Majas
1. Majas Perbandingan
a. Personifikasi
Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia
kepada benda-benda mati sehingga seolah-olah mempunyai sifat seperti
manusia/benda hidup.
Contoh : Baru tiga km berjalan mobilnya sudah batuk-batuk.
b. Depersonifikasi
Majas yang menampilkan manusia sebagai binatang, benda-benda alam, atau
benda lainnya.
Contoh: Hari, tokoh partai X tidak disukai karena ia sering menjadi
bunglon
c. Metafora
Majas ini semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung.
Contoh :
- Raja siang telah pergi ke peraduannya.
- Dewi malam telah keluar dari balik
awan.
d. Simile
Perbandingan dua hal yang sengaja dianggap sama. Perbandingan itu secara
eksplisit dijelaskan oleh pemakaian kata seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak,
laksana.
Contoh: Wajah ibu dan anak itu bagaikan pinang dibelah dua.
e. Alegori
Majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan utuh.
Perbandingan itu membentuk kesatuan yang menyeluruh.
Contoh: Berhati-hatilah dalam mengemudikan bahtera hidup keluargamu sebab
lautan kehidupan ini penuh badai, topan yang ganas, batu karang, dan gelombang
yang setiap saat dapat menghancurkan. Oleh karena itu, nahkoda dan para awaknya
harus selalu seia sekata dan satu tujuan agar dapat mencapai pantai bahagia
dengan selamat.
2. Majas Pertentangan
a. Hiperbola
Majas yang memperlihatkan sesuatu yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya,
atau sifatnya.
Contoh: Tiga tahun telah berlalu sejak meninggalnya kekasihku, namun tak
sedetik pun wajahnya hilang dari ingatanku.
b. Litotes
Majas yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan artinya
dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri.
Contoh: Perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudra luas.
c. Antitesis
Majas pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan kata yang
berlawanan arti.
Contoh: Gadis yang secantik si Ida dipersunting oleh si Dedi
yang jelek itu.
d. Paradoks
Majas pertentangan yang melukiskan sesuatu solah-olah bertentangan,
padahal maksud sesungguhnya tidak.
Contoh: Hatinya sunyi tinggal di kota Jakarta yang ramai.
e. Okupasi
Majas pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan bantahan. Namun
bantahan tersebut kemudian diberi penjelasan/diakhiri dengan kesimpulan.
Contoh: Merokok itu merusak kesehatan, akan tetapi si perokok tak dapat
menghentikan kebiasaannya. Maka muncullah pabrik-pabrik rokok karena untung
banyak.
f. Kontradiksi Internimis
Majas yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudah
dikatakan sebelumnya.
Contoh: Semua murid di kelas ini hadir, kecuali Hasan yang sedang ikut
jambore.
3. Majas Pertautan
a. Metonimia
Gaya bahasa yang menggunakan nama barang/merk dagang sebagai pengganti
barang itu sendiri.
Contoh: Kemarin ia memakai Xenia
b. Sinekdoke
Dapat dibedakan atas:
Majas sinekdoke yang melukiskan sebagian tetapi yang dimaksud seluruhnya.
Contoh : Dia mempunyai lima ekor kuda.
Majas sinekdoke yang melukiskan keseluruhan tetapi yang dimaksud
sebagian.
Contoh : Kaum wanita memperingati hari Kartini.
c. Eufinisme (ungkapan pelembut)
Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan
kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
Contoh: Para tuna karya perlu perhatian yang serius dari
pemerintah
d. Alusi
Gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa
atau tokoh yang telah umum dikenal/diketahui orang.
Contoh: Tugu ini mengenangkan kita kembali ke peristiwa Bandung
Selatan.
e. Elipsis
Gaya bahasa yang di dalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah
satu atau beberapa unsur penting dari suatu konstruksi sintaksis.
Contoh: Dia dan istrinya ke Jakarta minggu lalu.
f. Autonomasia
Majas perbandingan dengan menyebutkan nama lain terhadap seseorang
berdasarkan ciri atau sifat menonjol yang dimilikinnya.
Contoh: Si pincang itu ternyata adalah seorang pengusaha kuliner.
4. Majas Perulangan
a. Repetisi
Merupakan
majas yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata atau beberapa kata
berkali-kali, yang biasanya digunakan dalam pidato.
Contoh:
Kita junjung dia sebagai pemimpin, kita junjung dia sebagai
pelindung rakyat, kita junjung dia sebagai pembebas kita.
b. Pararelisme
Majas
seperti repetisi tetapi dipakai dalam puisi. Pararelisme dibagi menjadi:
Jika
kata yang diulang terletak di awal baris.
Contoh:
Kalaulah
diam malam yang kelam
Kalaulah
tenang sawang dan lapang
Kalaulah
lelap orang di lawang
Jika
kata yang diulang terletak diakhir baris.
Contoh:
Kalau
kau mau, aku akan datang
Jika
kau kehendaki, aku akan datang
Bila
kau minta, aku akan datang
Jika
kata yang diulang terletak di awal dan akhir baris.
Contoh
:
Kau
bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku
Kau
bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku
Jika
kata yang diulang terletak di tengah baris.
Contoh:
Pendidik
harus meningkatkan kecerdasan bangsa
Para
dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat
Jika
kata pertama diulang pada akhir.
Contoh
: Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
c. Kiasmus
Gaya
bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi atau
pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat.
Contoh:
Yang kaya merasa dirinya miskin, sedang yang miskin mengaku dirinya kaya.
d. Aliterasi
Sejenis
majas yang memanfaatkan purwakanti atau pemakaian kata-kata yang permulaannya
sama bunyinya.
Contoh:
- Dara damba
daku
-
Datang dari danau
e. Antanaklasis
Majas
yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda.
Contoh:
Saya selalu membawa buah tangan kepada buah hati saya.
5. Majas
Sindiran
a. Ironi
Majas
yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud untuk menyindir.
Contoh:
- O... kamu
baru bangun, baru pukul sepuluh pagi.
- Bersihnya
kamar ini, puntung rokok dimana-mana.
b. Sinisme
Majas
sindiran yang agak kasar dibandingkan dengan majas ironi.
Contoh:
Dengan sifatmu yang malas berusaha semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang
bagus.
c. Sarkasme
Majas
sindiran yang paling kasar dibandingkan majas ironi dan sinisme.
Contoh:
Otakmu itu memang sudah bukan otak manusia lagi. Otakmu itu sudah menjadi otak
udang.
6. Majas
Penegasan
a. Pleonasme
Majas
yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi karena
arti kata tersebut sudah terkandung dalam kata yang diterangkan.
Contoh:
Salju sudah mulai turun ke bawah.
b. Klimaks
Majas
yang menyatakan beberapa hal berturt-turut dengan menggunakan urutan kata-kata
yang semakin lama semakin memuncak pengertiannya.
Contoh:
Semua usia dari anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua memenuhi
arena pasar malam itu.
c. Antiklimaks
Majas
penegasan yang melukiskan sesuatu dengan menyatakan beberapa hal berturut-turut
dengan menggunakan urutan kata-kata yang semakin lama semakin menurun
pengertiannya.
Contoh:
Jangankan seribu, seratus, serupiah pun tak ada.
d. Retoris
Majas
penegasan dengan menggunakan kalimat tanya yang jawabannya sudah diketahui.
Contoh:
Mana mungkin orang mati hidup kembali?
Last modified: Tuesday, 10 June 2025, 11:06 AM