Lanjutan Bentuk Dasar dan Kata Dasar
3.Makna Gramatikal
Makna Gramatikal mempunyai hubungan erat dengan komponen makna grmatikal mempunyai hubungan erat dengan komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam proses pembentukan kata. Setiap makna gramatikal dari suatu proses morfologi akan menampakkan makna/bentuk dasarnya, seperti kita lihat berdasi makna gramatikalnya memakai dasi.; berdiskusi makna gramatikalnya melakukan diskusi (Abdul Chaer, 2008: 29).
Makna leksikal dan makna gramatikal ini akan tersisih oleh makna kontekstual atau pemakaian kata itu di dalam konteks kalimat mapun konteks situasi. Banyak orang menyatakan makna kata baru jelas bila kata itu telah digunakan. Misalnya, prefiksasi me- pada kata ambil menjadi mengambil memunculkan makna gramatikal melakukan ambil. Dalam kalimat “Perusahaan kami akan mengambil 10 pegawai baru” kata mengambil memiliki makna kontekstual menerima.
4. Hasil Proses Pembentukan
Proses morfologi atau proses pembentukan kata mempunyai dua hasil yaitu bentuk dan makna gramatikal, yang merupakan dua hal yang berkaitan erat; bentuk merupakan wujud fisiknya dan makna gramatikal merupakan isi dari wujud fisik atau bentuk itu (Abdul Chaer, 2002: 28).
Wujud fisik dari hasil proses afiksasi adalah kata berafiks, disebut juga kata berimbuhan, kata turunan, atau kata terbitan. Wujud fisik dari proses reduplikasi adalah kata ulang atau disebut juga bentuk ulang. Wujud fisik dari proses komposisi adalah kata gabung, disebut juga gabungan kata, kelompok kata atau kata mejemuk (tentang istilah kata mejemuk banyak menimbulkan persoalan) (Abdul Chaer, 2002: 28-29).
2.2.2 Jenis Proses Morfologis/Morfemis
(Parera, 1988: 18) menjelaskan terdapat jenis proses morfemis yaitu
1. Proses morfemis afiksasi
2. Proses morfemis pergantian atau perubahan internal
3. Proses morfemis pengulangan
4. Proses morfemis zero
5. Proses morfemis suplesi
6. Proses morfemis suprasegmental
1. Proses Afiksasi
Proses afiksasi terjadi apabila sebuah morfem terikat dibubuhkan atau dilekatkan pada sebuah morfem bebas secara urutan lurus. Berdasarkan posisi morfem terikat terhadap morfem bebas tersebut. Berdasarkan posisi morfem terikat terhadap morfem bebas tersebut, proses afiksasi dapat dibedakan atas: pembubuhan depan, pembubuhan tengah, pembubuhan akhir, dan pembubuhan terbagi.
Afiks adalah morfem terikat yang apabila ditambahkan atau dilekatkan pada morfem dasar akan mengubah makna gramatikal morfem dasar (Kridalaksana, 2001: 3). Berdasarkan letaknya dalam kata, afiks dapat dibedakan menjadi enam jenis, yaitu :
a) Prefiks (prefix) adalah afiks yang diletakkan di awal morfem dasar, misalnya ber-, me-, di-, ter-, se-, dan sebagainya;
Prefiks yang diimbuhkan di sebelah kiri dasar dalam proses yang disebut prefiksasi.
Afiks yang ditempatkan di bagian muka suatu kata dasar atau disebut prefiks (awalan). Bentuk atau morfem terikat seperti ber-, meng, peng, dan per (Hasan Alwi, 2003:31);
b) Infiks (infix) adalah afiks yang ditempatkan di tengah morfem dasar, misalnya -in-, -em-, dan sebagainya;
Infiks yang diimbuhkan dengan penyisipan di dalam dasar itu, dalam proses yang namanya infiksasi. Afiksasi yang diselipkan di tengah kata dasar. Bentuk seperti –er- dan –el- pada gerigi dan geletar adalah infiks atau sisipan (Hasan Alwi, 2003:31);
c) Interfiks (interfix) adalah afiks yang muncul di antara dua morfem dasar, misalnya -o- dalam jawanologi, galvologi, dan tipologi;
d) Sufiks (suffix) adalah afiks yang diletakkan di akhir morfem dasar, misalnya -s, -al, -an, dan sebagainya;
Sufiks yang diimbuhkan di sebelah kanan dasar dalam proses yang disebut sufiksasi. Afiksasi yang ditempatkan di belakang kata (akhiran). Morfem terikat seperti –an, -kan, dan –i(Hasan Alwi, 2003:31).
e) Konfiks (confix) atau sirkumfiks (circumfix) adalah gabungan dua afiks yang sebagian diletakkan di awal dan sebagian yang lain di akhir, (1)menggaruk (ng = alomorf); menjual (morf) (2) Garuk (morfem); menjual (n = alomorf); melarang /moelaraN/). Dari pemakaian morfem {meN-} itu dapat diketahui bahwa morfem bersifat abstrak.
f) Transfiks (transfix) adalah afiks terbagi yang muncul tersebar di dalam morfem dasar, misalnya dalam bahasa Arab, a-a-a, a-i-a, a-u- a ‘persona ketiga, jantan, perfektum’ muncul dalam morfem dasar k-t-b, sy-r-b, h-s-n menjadi kataba ia menulis’, syariba ‘ia minum’, hasuna ‘ia bagus’ (Kridalaksana, 2001: 218; Bauer, 1988: 24).
2. Proses pergantian
Sebuah morfem dasar bebas dapat mengalami perubahan dalam tubuhnya sendiri dengan adanya pergantian salah satu unsur fonemnya baik konsonan, vokal, maupun ciri-ciri suprasegmental (nada, ubahan atau fungsi, makna, dan atau kelas kata bentuk dasar.
Jika kita mencatat bentuk pemuda dan pemudi dalam bahasa Indonesia, maka akan tampak pergantian dalam bentuk itu sendiri. Pergantian /a/ dengan /i/ dan pergantian ini membawa perubahan makna laki-laki/wanita.
3. Proses Duplikasi/Ulangan
Proses ini kurang mendapatkan perhatian, Bloomfield mencatat proses ini di dalam bahasa Tagalog di filipina. Bagi Linguis-linguis Indonesia proses ini tidak asing lagi. Oleh karena itu proses ini memerlukan beberapa pembicaraan khusus pada bab tersendiri.
4. Proses Kosong
Golongan morfem-morfem ini tidak mengalami proses morfem. Kita ambil contoh dalam bahasa Inggris, untuk menyatakan jamak atau pengertian yang lain ada bentuk-bentuk dalam bahasa inggris yang tidak mengalami proses sama sekali seperti:
Book – books
Dog -- dogs
5. Proses Suplesi
Proses suplesi dapat dipandang sebagai satu proses perubahan internalyang ekstrem. Dalam proses ini ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak. Dengan kata lain bentuk-bentuk dasar mengalami perubahan total, misalnya bentuk went dalam bahasa Inggris merupakan perubahan be, am, is, are, was, were.
6. Proses Morfemis Suprasegmental
Untuk beberapa bahasa tertentu ciri-ciri prosodi atau suprasegmental bersifat morfemis. Bahasa Inggris misalnya mengenal proses morfemis tekanan. Dalam bahasa Indonesia ciri suprasegmental sendi dan nada bersifat morfemis. Misalnya, bapak wartawan: bapak//wartawan; ibu guru: ibu//guru.
2.3 Jenis dan Proses Paradigma, fleksi, dan derivasi
Para ahlilinguistik memakai istilah “paradigma” unuk golongan konstruksi morfemis dengan dasar yang sama. “anggota-anggota” daftar “paradigma” itu juga disebut “alternan-alternan”dari paradigma (“alternan” berarti bentuk “alternatif”, atau “bentuk lain”(Verhaar, 1999: 117). ). Para ahli linguistik memakai istilah paradigma untuk golongan kontruksi morfemis dengan dasar yang sama. Anggota-anggota daftar paradigma itu juga disebut alternan-alternan dari paradigma karena daftar paradigmatis dapat merangkup banyak sekali konstruksi.
Para ahli linguistik berkonsensus bahwa dua golongan bawahan yang terpeting dalam paradigma morfemis adalah golongan yang berdasarkan “fleksi” dan golongan yang berdasarkan “derivasi”. Golongan “fleksi” atau infleksional adalah daftar paradigmatis yang terdiri atas bentuk-bentuk dari kata yang sama, sedangkan golongan derivasi adalah daftar yang terdiri atas bentuk-bentuk kata yang tidak sama.Misalnya saja, bentuk mengajar dan diajar adalah dua bentuk (“aktif” dan “pasif”) dari kata yang sama, yaitu mengajar, sedangkan mengajar dan pengajar merupakan dua kata yang berbeda (verba dan nomina) (Verhaar, 1999: 118).
a. Fleksi
Fleksi adalah proses morfemis yang ditetapkan pada kata sebagai unsur leksikal yang sama” (Verhaar, 1999:121). Sebuah kata yang sama hanya bentuknya yang berbeda yang disesuaikan dengan katagori gramatikalnya. Bentuk-bentuk tersebut dalam morfologi infleksional disebut paradigma infleksional” (Chaer, 2007:171).
Hal ini dapat disimpulkan bahwa infleksi adalah perubahan bentuk kata tanpa mengubah identitas leksikal kata itu dengan atau tanpa mengubah kelas katanya. Secara khusus perubahan bentuk sebuah kata kerja dengan tetap mempertahankan identitas kata kerja itu sama saja artinya dengan mengubah bentuk kata itu, tapi makna kata seperti yang terkandung dalam kata itu tidak berubah.
Pengertian infleksi berhubungan dengan kata bermorfem jamak. Jika sebuah proses morfologis menimbulkan satu perubahan bentuk atau kata bermorfem jamak dan bentuk-bentuk tersebut ini secara sintaksis tidak mempunyai ekuivalen dalam distribusi sintaksis dengan sebuah kata bermorfem tunggal, maka bentuk ini disebut bentuk infleksi (Parera, 1988: 22).Distribusi infleksi lebih luas daripada derivasi. (Parera, 1988: 22) memberikan bentuk-bentuk infleksi yang biasanya memberikan/menyatakan beberapa kategori ketatabahasaan seperti: tunggal dan jamak, jenis kelamin (pria/wanita), aspek dan waktu, bentuk aktif dan pasif, tata tingkat sifat (biasa, lebih, sangat/amat), dan beberapa kategori yang mungkin terjadi sesuai dengan kekhasan bahasa tertentu masing-masing.
|
Bentuk dasar |
Infleksi |
Kelas kata |
Kategori |
|
Pemuda |
Pemudi |
Benda |
Jenis kelamin |
|
Wartawan |
Wartawati |
Benda |
Jenis kelamin |
|
Melihat |
Melihat-lihat |
Kerja |
Aspek |
|
Menghormati |
Dihormati |
Kerja |
aktif/pasif) |
|
Kecil |
Kecilan |
Sifat |
Tata tingkat (bandingan) |
|
Cepat |
Cepat-cepat |
sifat |
Tata tingkat (bandingan) |
b. Derivasi
Derivasi adalah proses morfemis yang mengubah kata sebagai unsur leksikal tertentu menjadi unsur leksikal yang lain (Verhaar, 1999:121) .Selain itu derivasi merupakan pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya (Chaer, 2007:175) .
Derivasi itu konstruksi yang berbeda distribusinya daripada dasarnya atau afiks yang menghasilkan leksem baru dari leksem dasar. Misalnya kata reviews dapat dianalisis atas sebuah prefiks re-, sebuah akar view, dan sebuah sufiks -s. Prefiks re- membentuk leksem baru review dari bentuk dasar view, sedangkan sufiks -s membentuk kata yang lain dari leksem review. Jadi, prefiks re- bersifat derivasi, sedangkan sufiks -s bersifat infleksi.
Jika kita berbicara mengenai derivasi, berati kita berbicara tentang salah satu aspek yang lain dari hubungan antara morfem dan kata. Pada dasarnya morfem-morfem terikat berfungsi membentuk kata. Salah satu akibat dari fungsi pembentukan ini adalah sebuah kata bermorfem jamak yang disebut derivasi (Parera, 1988: 21).
Morfem-morfem terikat dapat kita kelompokkan pada morfem-morfem terikat pembentukan kata-kata derivatif. Sebagi contoh kami berikan beberapa morfem terikat pembentuk kata derivatif dalam bahasa Indonesia:
|
morfem terikat derivasi |
benda |
kerja |
sifat |
|||
|
dasar |
derivasi |
Dasar |
derivasi |
dasar |
derivasi |
|
|
Pe- |
- |
pemuda |
- |
- |
muda |
- |
|
- |
penjilat |
Jilat |
- |
- |
- |
|
|
Ke-an |
- |
kebaikan |
- |
- |
baik |
- |
|
-kan |
- |
- |
- |
muliakan |
mulia |
- |
|
-wi |
manusiawi |
- |
- |
- |
- |
manusiawi |
|
-an |
karangan |
- |
karang |
- |
- |
- |
|
Me-kan |
- |
- |
- |
Men-amankan |
Aman |
- |
Kata-kata bermorfem jamak dalam contoh di atas- pemuda, penjilat, kebaikan, karangan, muliakan, dan mengamankan adalah kata-kata derivatif. Secara sintaksis kata-kata ini berdistribusikan sama dengan/ekuivalen dengan sebuah kata bermorfem tunggal, misalnya:
Pemuda itu lari
Anak itu lari
Ayah menginginkan kebaikan
Ayah menginginkan rumah
Bunuh dia!
Muliakan Tuhan!
c. Paradigma
Paradigma
yaitu daftar lengkap perubahan afiksasi yang mungkin dengan morfem asal yang
sama (Verhaar, 1984:65). Morfem asal itu mungkin mengalami perubahan bentuk
akibat afiksasi (Sitindoan, 1984:68). Pengertian paradigma sama maknanya dengan
deretan morfologi seperti yang diungkapkan(Ramlan,1983:28) yaitu suatu deretan
atau daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya.
Deretan morfologi ini akan berguna dalam menentukan sebuah morfem. Dengan
membuat paradigma atau deretan morfologi kita akan dapat menentukan suatu
morfem, misalnya:
menulis
penulis
tertulis
bertulis
bertuliskan
tulisan
tulis-menulis
menulisi
ditulisi
dituliskan
bertuliskan
menuliskan
Dari perbandingan kata yang terdapat dalam paradigma di atas, dapat disimpulkan adanya morfem tulis sebagai unsur yang terdapat pada tiap-tiap kata. Dengan demikian kita dapat menentukan bahwa menulis terdiri atas morfem meN- dan tulis dan seterusnya.
Contoh lain dapat kita lihat dari paradigma berikut.
menelantarkan
ditelantarkan
keterlantaran
Berdasarkan paradigma di atas jelaslah bahwa kata terlantar terdiri atas satu morfem, bukan dua morfem ter- dan lantar.
Fleksi atau morfologi infleksional adalah proses morfemis yang diterapkan pada kata sebagai unsur leksikal yang sama sedangkan derivasi atau morfologi derivasional adalah proses morfemis yang mengubah kata sebagai unsur leksikal tertentu menjadi unsur leksikal yang lain. Fleksi adalah perubahan morfemis dengan mempertahankan identitas leksikal dari kata yang bersangkutan. Derivasi adalah perubahan morfemis yang menghasilkan kata dengan identitas morfemis yang lain. Kaidah-kaidah morfemis yang berlaku untuk infleksi adalah kaidah yang tak beruntun sedangkan kaidah derivasi beruntun urutannya. Berikut ini kita membahas proses morfemis yang disebut derivasi:
- Derivasi dalam bahasa Indonesia: verba dan nomina tindakan/ penindak (J.W.M. Verhaar, 1999:145).
Derivasi dari bentuk pradasar (ajar), morfem pradasar ini adalaha tidak bebas. Yang diturunkan dari padanya adalah beberapa verba: mengajar, mengajarkan, mengajari, belajar. Pengajar dan pengajaran berasal dari kata ajar tetapi tak langsung dan langsung dari mengajar. Demikian pula pelajar dan pelajaran berasal (langsung) dari belajar.
Kata seperti pengajar dan pelajar disebut nomina penindak karena mengandung makna orang yang melakukan tindakan tertentu sedangkan nomina seperti pengajaran dan pelajaran yang diturunkan (langsung) dari masing-masing mengajar dan belajar disebut nomina tindakan.
- Derivasi morfemis dalam berbagai bahasa (J.W.M. Verhaar, 1999:148).
Berbagai cara untuk meneliti derivasi afiksasional secara antar-bahasa. Pada umumnya ada tiga cara:
i. Menurut bentuk morfemis bahwa bentuk tertentu bersifat homonim artinya sama bentuknya dengan makna yang berbeda. Contohnya adalah yang dapat kita bedakan pada ke—an1dan ke—an2 dalam bahasa Indonesia. Ke—an1 pasif (kecurian, kelihatan) ke—an2 penomalisasi (keindahan). Ke—an1 dapat dibagi lagi ke—an1a yang adversatif misalnya kecurian dan ke—an1b yang nonadversatif misalnya kelihatan.
ii. Menurut maknanya bahasa tertentu dapat kita teliti secara antar-bahasa. Dalam bahasa inggris misalnya kita temukan adanya afiks derivasional yang berbeda-beda untuk makna yang sama contohnya nomina penindak. Afiks biasa untuk nomina tersebut dalam bahasa ini adalah sufiks –er, play menjadi player, travel menjadi traveler.
iii. Perbandingan antar-bahasa menunjukkan tipe-tipe tertentu. Afiks untuk nomina penindak memperalatkan prefiks dalam bahasa Indonesia dan pada umumnya sufiks dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa.
- Asal dan hasil derivasi menurut kelas kata (J.W.M. Verhaar, 1999:151).
Para ahli linguistik lazim memakai sekumpulan istilah demi analisis proses derivasi. Misalnya bila dari nomina gambar diturunkan verba menggambar, asal itu disebut nominal dan karena hasilnya adalah sebuah verba, maka verba menggambar kita sebut verba denominal.
Proses hangat ---- menghangatkan adalah proses deajektival dan hasilnya dapat disebut verba deajektival. Hasil proses membunuh ----- pembunuhan adalah sebuah nomina deverval. Peristilahan tersebut memungkinkan rumusan singkat dalam analisis morfologi derivasional, misalnya baik menggambar maupun menggambarkan adalah verba denominal. Rumusan ini menjelaskan antara lain bahwa menggambarkan tidak berasal dari menggambar.
Dengan pengistilahan ini kaidah-kaidah derivasi contohnya untuk bahasa Indonesia, semua verba yang berprefiks memper- adalah denominal, deajektival, atau denumeral. Prefiks memper- (kaidah tadi tidak berlaku untuk verba yang berambifikis memper-kan atau memper-i yang memang mungkin sebagai verba nondenominal atau nondenumeral: memperisteri, memperbudak, memperalat, memperpanjang.
2.4 Klitika
Klitika biasanya adalah morfem yang pendek, paling-paling dua silabe, biasanya satu; tidak dapat diberi aksen atau tekanan apa-apa; melekat pada kata atau frasa yang lain, dan memuat arti yang tidak mudah dideskripsikan secara leksikal. Klitika merupakan morfem bebas atau morfem terikat (Verhaar, 1999: 119-120).
Sebagai contoh amatilah klitika Indonesia pun. Misalnya dalam klausa seperti Dalam hal ni pun dia berbakat klitika pun tidak dapat diisahkan dari hal ini. Bandingkan juga konjungsi sekalipun, dalam arti ‘meskipun’, dengan pemakaian punsebaai berikut: Malah sekali pun ia tidak mampir, dengan sekali dalam arti ‘satu kali’ dan pun dengan konotasi “kohensif”. (Maka secara otografis pun dalam kalimat tadi haruslah terpisah dari sekali) (Verhaar, 1999: 119).
Klitik juga merupakan morfem terikat, tetapi tidak memiliki perilaku seperti afiks. Perilaku klitik, yakni:
a) Dapat dilekatkan pada bermacam-macam jenis kata, tetapi tidak menjadi penentu ciri khas dari jenis kata tertentu;
b) Memilik makna leksikal;
c) Apabila dilekatkan pada morfem dasar, tidak pernah mengalami perubahan bentuk;
d) Dapat menduduki fungsi sintaktis tertentu di dalam frasa atau kalimat;
e) Tidak mengubah golongan kata yang dilekati;
Berdasarkan letaknya di dalam kata, klitik dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu proklitika (proclitic) dan enklitika (enclitic). Letaknya sebelah kiri atau sebelah kanan dari kata yang menjadi “tuan rumahnya”. Dalam bahasa Indonesia, pun dan –lah berupa enklitika, dan contoh dari proklitika dalam bahasa ini adalah pronomina dalam konstruksi verbal tertentu (Verhaar, 1999: 120). Contoh lain proklitika misalnya, ku- dan kau- pada kuambil dan kauambil, sedangkan enklitika adalah klitik yang diletakkan di akhir kata, misalnya -mu dan - ku dalam bukumu dan bukuku.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Proses morfologi atau morfemis ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan ya bentuk dasarnya. Bentuk dasarnya itu mungkin berupa kata, seperti pada kata terjauh yang dibentuk dari kata jauh, kata menggergaji yang dibentuk dari kata gergaji. Dengan ringkas dapatlah dikatakan bahwa morfologi ialah ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk kataserta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Kita juga dapat memahami proses jenis morfologik/morfemis baik itu dari komponen proses morfolgi atau morfemis hingga jenis proses morfolgis.
Berdasarkan paparan penjelasan diatas juga dapat kita simpulkan beberapa hal mengenai infleksi yaitu perubahan bentuk kata tanpa mengubah kelas katanya. Kemudian dapat disimpulkan bahwa derivasi merupakan suatu perubahan proses kelas kata (kata kerja) dengan atau tanpa pemindahan kelas kata. Dan juga paradigma sama maknanya dengan deretan morfologi seperti yang diungkapkan yaitu suatu deretan atau daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Dan kita juga dapat mengetahui dari klitika yang biasanya merupakan morfem yang pendek, paling-paling dua silabe, biasanya satu; tidak dapat diberi aksen atau tekanan apa-apa; melekat pada kata atau frasa yang lain, dan memuat arti yang tidak mudah dideskripsikan secara leksikal hingga peran klitik.