Pengertian Akronimisasi
Akronimisasi
Akronimisasi
adalah proses pembentukan sebuah kata dengan cara menyingkat sebuah konsep yang
direalisasikan dalam sebuah konstruksi lebih dari sebuah kata. Pada proses ini
akan menghasilkan sebuah kata yang disebut dengan akronim. Jadi, sebetulnya
akronim adalah juga sebuah singkatan, namun yang “diperlakukan” sebagai sebuah
kata atau sebuah butir leksikal
( Abdul Chaer : 2008 : 236 ).
Contohnya :
Pilkada → pemilihan kepala daerah
Jabodetabek → Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi
Balita → bayi lima tahun
Beberapa aturan yang digunakan dalam akronimisasi, antara lain :
· Pengambilan huruf-huruf (fonem-fonem) pertama dari kata yang membentuk konsep tersebut. Misalnya :
- STKIP → Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
- ABRI → Sngkatan Bersenjata Republik Indonesia
- PSSI → Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia
· Pengambilan suku kata pertama dari semua kata yang membentuk konsep tersebut. Misalnya :
- Balita → bayi lima tahun
- Pujasera → pusat jajanan serba ada
- Puskesmas → pusat kesehatan masyarakat
· Pengambilan suku kata pertama ditambah dengan huruf pertama dari suku kata kedua dari setiap kata yang membentuk konsep tersebut. Misalnya :
- Warteg → warung tegal
- Kalbar → Kalimantan Barat
- Sulsel → Sulawesi Selatan
· Pengambilan suku kata yang dominan dari setiap kata yang mewadahi konsep tersebut. Misalnya :
- Tilang → bukti pelanggaran
- Bintal → pembinaan mental
- Gakin → keluarga miskin
· Pengambilan suku kata tertentu disertai dengan modifikasi yang tampaknya tidak beraturan; namun, masih dengan memperhatikan “keindahan” bunyi. Misalnya :
- Pilkada → pemilihan kepala daerah
- Kloter → kelompok terbang
- Unila → Universitas Negeri Lampung
· Pengambilan unsur-unsur kata yang mewadahi konsep tersebut, tetapi sukar disebutkan keteraturannya termasuk di seni. Misalnya :
- Sinetron → sinema elektronik
- Satpam → satuan pengamanan
- Kalapas → kepala lembaga pemasyarakatan