Kerangka Karangan
Kerangka karangan adalah rencana kerja yang
mengandung ketentuan-ketentuan tentang pembagian dan penyusunan gagasan
yang memuat garis-garis besar suatu karangan. Fungsi utma kerangka
karangan adalah mengatur hubungan antara gagasan-gagasan yang ada.
Menyusun
kerangka karangan merupakan tahap terakhir dari prapenulisan. Yang
mempengaruhi kerangka karangan ini ialah tujuan dan bahan penulisan.
Menyusun kerangka pada hakikatnya membagi topik ke dalam subtopik dan
selanjutnya ke dalam sub-subtopik yang lebih kecil.
Dalam proses
penyusunan kerangka karangan ada tahap yang harus dijalani, yaitu memlih
topik, mengumpulkan informasi, mengatur gagasan dan menulis kerangka
itu sendiri. Adapun langkah-langkah penyusunan kerangka karangan adalah
sebagai berikut:
a. Mencatat semua ide
b. Menyeleksi ide-ide
c. Mengurutkan dan mengelompokkan ide-ide secara tepat.
d. Pengumpulan Data
Pengembangan Karangan
Setelah kerangka selesai, tahap selanjutnya
adalah mengembangkan kerangka tersebut menjadi kalimat, wacana, dan bab.
Kalimat, wacana, dan bab tidak langsung menjadi tulisan yang benar dan
utuh namun masih dapat diperbaiki dan direvisi. Dengan kata lain, jarang
sekali ada tulisan yang langsung menjadi sebuah artikel, tanpa adanya
tahap revisi.
Revisi
Ini merupakan tahap pascapenulisan.
Sebagaimana dinyatakan di atas, tulisan berupa kalimat, wacana, dan bab
yang merupakan hasil pengembangan kerangka, kemungkinan akan salah.
Kesalahan yang mungkin timbul, misalnya pengetikan, penemuan data baru
sehingga data lama perlu diganti, penemuan pendapat baru, dan
sebagainya. Dengan adanya tahap revisi, semua kesalahan dan kekurangan
itu dapat diantisipasi.
Ada tujuh cara untuk merevisi karangan, di antaranya :
1. Membaca untuk mengatasi kekeliruan
2. Memotong kata-kata yang tidak perlu
3. Pikirkan setiap kata yang ditulis
4. Bertanya pada diri sendiri
5. Menyesuaikan dengan judul
6. Menyiapkan sebuah naskah yang sempurna
7. Gunakan perasaan atau faham yang umum.