Penilaian dan persiapan pasien rawat inap mata

1. Penilaian Klinis Awal (Initial Assessment)

Seorang residen harus mampu melakukan evaluasi holistik yang menggabungkan status lokalis mata dengan kondisi sistemik pasien.

A. Anamnesis Terfokus

  • Riwayat Okular: Onset keluhan, riwayat trauma, riwayat operasi mata sebelumnya, dan penggunaan obat tetes jangka panjang (terutama steroid atau antiglaukoma).

  • Riwayat Sistemik: Fokus pada "The Big Three" yang memengaruhi bedah mata:

    • Diabetes Melitus: Kontrol gula darah (HbA1c) sangat krusial untuk penyembuhan luka dan risiko infeksi.

    • Hipertensi: Risiko perdarahan suprakoroidal ekspulsif saat operasi intraokular.

    • Penyakit Jantung/Paru: Menentukan toleransi terhadap posisi berbaring telentang (supine) dalam waktu lama dan jenis anestesi.

  • Alergi: Khususnya terhadap antibiotik, antiseptik (Povidone-iodine), atau obat anestesi lokal.

B. Pemeriksaan Fisik Oftalmologi (Status Lokalis)

Gunakan pendekatan sistematik dari luar ke dalam:

  1. Tajam Penglihatan (VOD/S): Dasar legal dan klinis sebelum tindakan.

  2. Tekanan Intraokular (TIO): Wajib diperiksa dengan tonometri Goldman atau Tonopen.

  3. Segmen Anterior: Evaluasi kejernihan kornea, kedalaman bilik mata depan (BMD), dan refleks pupil.

  4. Segmen Posterior: Funduskopi direk/indirek. Jika media keruh (katarak matur/perdarahan vitreus), lakukan USG B-Scan untuk menyingkirkan ablasi retina atau massa intraokular.


2. Persiapan Laboratorium dan Penunjang (Pre-Operative Clearance)

Berdasarkan standar medis untuk pasien yang akan menjalani operasi (seperti katarak, vitrektomi, atau glaukoma):

Jenis PemeriksaanIndikasi / Catatan
Darah RutinHb, Leukosit, Trombosit, PT/APTT (terutama jika pasien konsumsi antikoagulan).
Gula Darah (GDS/GDP)Target untuk bedah elektif biasanya GDS < 200 mg/dL.
Fungsi Ginjal (Ur/Cr)Penting jika berencana menggunakan manitol atau kontras.
ElektrolitTerutama jika pasien menggunakan diuretik (sering pada pasien glaukoma).
EKGWajib untuk pasien usia > 40 tahun atau riwayat penyakit jantung.
Foto ToraksMenilai kondisi paru dan ukuran jantung.

3. Konsultasi Interdisipliner

Pasien PPDS harus proaktif dalam melakukan koordinasi dengan sejawat lain:

  • Penyakit Dalam (IPD): Untuk penilaian risiko kardiologi dan toleransi operasi (Skor Goldman atau ASA Physical Status).

  • Anestesi: Penentuan jenis anestesi (Lokal, Topikal, Sedasi, atau General Anesthesia).

  • Pediatri: Untuk pasien anak yang memerlukan General Anesthesia.


4. Protokol Pra-Bedah Spesifik Mata

  • Pemberian Obat Tetes:

    • Midriatikum: (Misal: Tropicamide 1%, Phenylephrine 2.5%) Diberikan 1 jam pre-op untuk operasi segmen anterior/posterior.

    • Antibiotik Topikal: Beberapa center memulai 1-2 hari pre-op sebagai profilaksis.

    • Antiglaukoma: Tetap dilanjutkan kecuali ada instruksi khusus.

  • Persiapan Fisik:

    • Puasa (6-8 jam untuk GA, atau sesuai instruksi anestesi).

    • Pembersihan area bulu mata (beberapa operator melakukan pemotongan bulu mata, meski kini mulai ditinggalkan).

    • Marking: Penandaan sisi mata yang akan dioperasi (SANGAT PENTING untuk mencegah wrong-site surgery).

  • Informed Consent: Menjelaskan diagnosis, prosedur, alternatif, risiko (perdarahan, infeksi/endoftalmitis, hilangnya penglihatan), dan prognosis secara jujur.


5. Manajemen Rawat Inap Non-Bedah

Untuk kasus seperti Ulkus Kornea Bakterial Berat:

  • Loading Dose: Pemberian antibiotik topikal fortified setiap 15-30 menit pada 6 jam pertama.

  • Monitoring TIO: Pantau risiko perforasi.

  • Pain Management: Analgesik sistemik jika nyeri hebat tidak tertahankan.


Last modified: Friday, 8 May 2026, 2:17 PM