6.6 Metode Penilaian Persediaan

Perubahan harga menjadi alasan kenapa metode penilaian persediaan menjadi penting. Seperti diketahui, harga beli produk tidak selalu sama dari waktu ke waktu, dan secara natural memang pembeli seringkali tidak mampu mempengaruhi harga beli. Sebagai akibatnya pembeli akan mengikuti harga pasar yang berubah, baik naik maupun turun. Adanya perubahan harga inilah yang membuat penilaian persediaan menjadi berbeda antara satu metode dengan metode yang lain. Perusahaan dapat menggunakan salah satu metode penilaian persediaan di bawah ini:

1.      Metode Identifikasi Khusus (specific identification method)

Metode ini digunkan pada kondisi yang sangat khusus dimana:

a)      Setiap produk data diidentifikasi secara jelas dan akurat. Produk dengan nomor seri, seperti komputer atau mobil, berpotensi menggunakan metode ini.

b)      Harga produk mahal. Jam tangan Rolex bisa masuk kategori ini. Alat berat juga bisa menggunakan metode ini.

Metode ini tidak cocok digunakan untuk produk masal, berharga murah dengan identifikasi yang menyulitkan. Pada metode identifikasi secara khusus terjadi keharmonisan antara arus barang dan perhitungan biaya, di mana perhitungan biaya dapat dilakukan secara persis untuk setiap produk yang terjual.

 

2.      Metode FIFO (first in first out)

Metode FIFO  berasumsi bahwa produk yang lebih awal masuk duanggap pertama keluar. Dengan demikian produk yang tertinggal di persediaan akhir adalah hasil pembelian lebih akhir. Metode ini adalah metode untuk penetapan beban pokok penjualan (cost of good sold). Tidak dengan sendirinya manajemen fisik produk sama dengan penetapan nilai persediaannya.

Sebagai contoh perusahaan menetapkan perhitungan biaya dengan FIFO, tetapi petugas gudang bisa saja mengambilkan barang yang terdekat dengannya untuk diberikan kepada pembeli. Pada produk masal akan menjadi sulit untuk membedakan hasil pembelian awal dan pembelian berikutnya.

Contoh:

Perusahaan pada tanggal 3 Januari 2016 membeli 20.000 kg barang @ Rp 2.500 =  Rp 50.000.000,-. Tanggal 10 Januari 2016 membeli kembali barang sebanyak 25.000 kg @ Rp 2.400 = Rp 60.000.000,-. Sementara pada tanggal 15 Januari 2016 perusahaan menjual barang tersebu sebanyak 22.000 kg, maka perhitungan harga pokok penjualan barang tersebut adalah :

20.000 kg (masuk pertama) x Rp 2.500/kg= Rp 50.000.000,-

  2.000 kg (berikutnya)         x Rp 2.400/kg = Rp   4.800.000,- (+)

22.000 kg                                                     = Rp 54.800.000,-

Sisa barang di gudang perusahaan adalah :

45.000 kg-22.000 kg = 23.000 kg x Rp 2.400/kg = Rp 55.200.000,-

 

3.      Metode LIFO (last in forst out)

Metode LIFO merupakan kebalikan dari FIFO. Dengan ini barang yangdatang lebih akhir diasumsikan keluar pertama. Beban pokok penjualan mengambil barang lebih akhir, sedangkan sisa persediaan akhir menggunakan barang dari pembelian lebih awal.

Contoh :

Mengambil contoh dari soal FIFO, maka perhitungan harga pokok penjualan adalah : 22.000 kg x Rp 2.400 ⁄  kg = Rp 52.800.000,-

            Sisa barang di gudang perusahaan adalah :

            20.000 kg x Rp 2.500/kg = Rp 50.000.000,-

              3.000 kg x Rp 2.400/kg = Rp   7.200.000,- (+)

            23.000 kg                        = Rp 57.200.000,-

 

4.      Metode Rata-rata (average)

Metode rata-rata adalah metode yang banyak dipakai karena tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga. Penggunaan metode ini akan menghasilkan laporan laba dan nilai persediaan di neraca yang moderat, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah dibanding dengan metode FIFO dan LIFO.

Contoh :

Mengambil contoh dari soal FIFO:

 3 Januari 2016 membeli 20.000 kg barang @ Rp 2.500/ kg = Rp  50.000.000,-

10 Januari 2016 membeli 25.000 kg barang @ Rp 2.400/ kg = Rp  60.000.000,- (+)

Jumlah                                            45.000 kg                          = Rp 110.000.000,-

 

Harga rata-rata nilai pembelian barang adalah Rp 110.000.000 : 45.000 kg = Rp2.444,44 per kg, maka perhitungan harga pokok penjualan adalah 22.000 kg x Rp 2.444,44/kg = Rp 53.777.680,-

Sisa barang di gudang perusahaan adalah :

45.000 kg – 22.000 kg = 23.000 kg x Rp 2.444,44/kg = Rp 56.222.120,-

Sebagai ilustrasi atas beragamnya praktik penggunaan metode persediaan, di bawah ini diberikan contoh catatan atas laporan keuangan beberapa perusahaan dengan berbagai macam jenis usaha.

1.      Metrodata bergerak di bidang penjualan elektronik dan jasa yang berkaitan dengan komputer. Persediaan dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Biaya perolehan ditentukan berdasarkan metode rata-rata bergerak. Penyisihan persediaan usang ditetapkan berdasarkan hasil penelaahan terhadap kondisi setiap jenis persediaan pada akhir tahun.

2.      Inco bergerak di bidang penambangan nikel di Sulawesi. Persediaan dinyakan pada nilai terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih. Nilai dari persediaan barang jadi nikel ditetapkan dengan metode FIFO, sedangkan nikel dalam proses dinilai dengan metode biaya produksi rata-rata, dan persediaan bahan pembantu (supplies) dinilai dengan metode harga pembelian rata-rata.

3.      Indosiar bergerak dalam penyiaran program televisi. Persediaan dinyatakan berdasarkan nilai terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih. Biaya perolehan persediaan program ditentukan dengan metode identifikasi khusus (specific identifikcation method), sedangkan biaya perolehan persediaan lainnya ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang bulanan (monthly weighted-average method).

Persediaan program diamortisasi sebanyak-banyaknya dua kali dengan komposisi 75% dan 25% dari biaya perolehan, masing-masing untuk penayangan pertama dan kedua atau dibebankan seluruhnya pada penayangan pertama.

Penghapusan persediaan program dilakukan berdasarkan penelaahn atas kondisi persediaan pada akhir tahun dan dibebankan pada operasi tahun berjalan.

4.      PT Matahari Putra Prima Tbk bergerak dalam bidang penjualan ritel (department store) kelas menengah ke atas. Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan, yang dihitung dengan menggunakan metode eceran konvensional (conventional retail method), atau nilai realisasi bersih (net realizable method).


Notes :
Untuk membuka soal kuis, diperlukan kata kunci "inventory". Selamat mengerjakan.

Last modified: Friday, 5 November 2021, 8:54 PM