Proses Morfofonemik

Proses Morfofonemik

 

A.   Pendahuluan

Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti bentuk dan kata logi yang berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata, sedangkan di dalam kajian biologi morfologi berarti ilmu mengenai bentuk-bentuk sel-sel tumbuhan atau jasad-jasad hidup. Memang selain bidang kajian linguistik, di dalam kajian biologi ada juga digunakan istilah morfologi. Kesamaannya, sama-sama mengkaji tentang bentuk.

Kalau dikatakan morfologi membicarakan masalah bentuk-bentuk dan pembentukan kata, maka semua satuan bentuk sebelum menjadi kata, yakni morfem dengan segala bentuk dan jenisnya perlu dibicarakan. Lalu, pembicaraan mengenai pembentukan kata akan melibatkan pembicaraan mengenai komponen atau unsur pembentukan kata itu, yaitu morfem, baik morfem dasar maupun morfem afiks, dengan berbagai alat proses pembentukan kata itu, yaitu afiks dalam proses afiksasi, duplikasi ataupun pengulangan dalam proses pembentukan kata melalui proses reduplikasi, penggabungan dalam proses pembentukan kata melalui komposisi, dan sebagainya. Jadi, ujung dari proses morfologi adalah terbentuknya kata dalam bentuk dan makna sesuai keperluan dalam satu tindak pertuturan.

Bila bentuk dan makna yang terbentuk dari satu proses morfologi sesuai dengan yang diperlukan dalam pertuturan, maka bentuknya dapat dikatakan berterima, tetapi jika tidak sesuai dengan yang diperlukan, maka bentuk itu dikatakan tidak berterima. Keberterimaan atau ketidakberterimaan bentuk itu dapat juga karena alasan sosial. Namun, disini, dalam kajian morfologi, alasan sosial itu kita singkirkan dulu, yang kita perhatikan atau pedulikan adalah alasan gramatikal semata.

Dengan ringkas dapatlah dikatakan bahwa morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Dari berbagai batasan tentang morfologi yang dikemukakan oleh ahli-ahli bahasa pada pembahasan dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.

.B.    Proses Morfofonemik

1.    Pengertian Morfofonemik

Morfofonemik adalah proses perubahan-perubahan fonem yang timbul dalam pembentukan kata akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Misalnya kata membaca terdiri dari dua morfem, yaitu morfem meN- dan morfem baca. Akibat pertemuan kedua morfem itu, fonem nasal (N) pada morfem meN- berubah, sehingga meN- menjadi mem-. Perubahan fonem itu tergantung pada kondisi bentuk dasar (dasar kata) yang diikutinya.

Morfofonemik sebagai proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal kata yang bersangkutan (Arifin, 2007:8). Ramlan (2001:83) membagi perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dalam tiga wujud, yaitu proses perubahan fonem, proses penambahan fonem, dan proses hilangnya fonem.

Untuk mengetahui proses morfofonemik yang terjadi, perlu diungkap peristiwa morfofonemik sebanyak-banyaknya. Dari peristiwa tersebut dapat dikelompokkan jenis morfofonemik berdasarkan kesamaan prosesnya. Simpulan tersebut kemudian dapat dijadikan kaidah pembentukan kata turunan yang benar. Jangan sampai menimbulkan kesalahan sampai pada tataran makna. Jika terjadi kesalahan pada tataran makna, hal itu akan mengganggu komunikasi yang berlangsung. Jika terjadi gangguan pada kegiatan komunikasi, maka hilang fungsi utama bahasa sebagai alat komunikasi.

Kajian morfofonemik tidak dibicarakan dalam tataran fonologi karena masalahnya baru muncul dalam kajian morfologi. Ada berbagai macam pengertian mengenai istilah morfofonemik. Ramlan (2001:83) menyatakan, morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Selanjutnya, Kridalaksana (2007:183) mendefinisikan bahwa proses morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Selain itu, Samsuri (1980:201) menjelaskan morfofonemik adalah studi tentang perubahan-perubahan pada fonem-fonem yang disebabkan oleh hubungan dua morfem atau lebih serta pemberian tanda-tandanya. Poedjosoedarmo (1979:186) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan perubahan morfofonemik ialah perubahan bentuk fonemis sebuah morfem yang disebabkan oleh fonem yang ada di sekitarnya.

Mengacu pada pendapat para ahli bahasa di atas, peristiwa morfofonemik pada dasarnya adalah proses berubahnya sebuah fonem dalam pembentukan kata yang terjadi karena proses morfologis. Morfofonemik mengkaji tentang bunyi gabungan yang membentuk realisasi morfem dalam kombinasi morfem. Realisasinya menimbulkan variasi morfem. Perubahan bunyi yang terjadi ketika morfem terikat bergabung dengan morfem bebas mengikuti kaidah tertentu. Ramlan (2001:83) membagi perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dalam tiga wujud, yaitu proses perubahan fonem, proses penambahan fonem, dan proses penghilangan fonem.

Morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain (Ramlan, 1983: 73). Morfofonemik adalah proses perubahan-perubahan fonem yang timbul dalam pembentukn kata akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Misalnya kata membaca terdiri dari dua morfem, yaitu morfem meN- dan morfem baca. Akibat pertemuan kedua morfem itu, fonem nasal /N/ pada morfem meN- berubah, sehingga meN- menjadi mem-. Perubahan fonem itu tergantung pada kondisi bentuk dasar (dasar kata) yang diikutinya. Perubahan fonem dalam bahasa Indonesia meliputi perubahan fonem /N/ dan perubahan fonem /r/.

Proses perubahan fonem, yaitu proses yang terjadi akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya. Fonem /N/ pada kedua morfem itu berubah menjadi /m, n, ň, ŋ/ sehingga morfem meN- berubah menjadi mem-men-meny-, dan meng-, serta peN- berubah menjadi pem-pen-peny-, dan peng-. Adapun kaidah-kaidah perubahan-perubahan fonem yang terpenting adalah sebagai berikut.

a.     Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN-

Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi fonem/m/kalau dasar kata (bentuk dasar) yang mengikutinya berawal dengan fonem /p, b, f/.

Contoh:

meN- + pakai → memakai

meN- + paksa → memaksa

meN- + pukul → memukul

meN- + periksa → memeriksa

meN- + potong → memotong

peN- + picu → pemicu

peN- + potong → pemotong

peN- + pangkas → pemangkas

peN- + perah → pemerah

peN- + pijit → pemijit

meN- + fiktif → memfiktif

meN- + fasilitasi → memfasilitasi

meN- + fatwakan → memfatwakan

meN- + filmkan → memfilmkan

peN- + fitnah → memfitnah

meN- + besar → membesar

meN- + belit → membelit

meN- + busuk → membusuk

meN- + baca → membaca

meN- + balut → membalut

peN- + bunuh → pembunuh

peN- + belokan → pembelokan

peN- + benahan → pembenahan

peN- + bekam → pembekam

peN- + bela → pembela

b.     Fonem /N/ pada meN- dan peN-

Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar (dasar kata) yang mengikutinya berawal dengan fonem /t, d, s/. Fonem /s/ khusus bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya.

Contoh:

meN- + tolak → menolak

meN- + tayangkan → menayangkan

meN- + tusuk → menusuk

meN- + tawan → menawan

meN- + tawar → menawar

peN- + tebus → penebus

peN- + tebar → penebar

peN- + tebas → penebas

peN- + tebus → penebus

peN- + tolong → penolong

peN- + tuangan → penuangan

meN- + dukung → mendukung

meN- + dasar → mendasar

meN- + darat → mendarat

meN- + dusta → mendusta

meN- + didik → mendidik

peN- + durhaka → pendurhaka

peN- + dulang → pendulang

peN- + daratan → pendaratan

peN- + diam → pendiam

peN- + dinding → pendinding

meN- + survei → mensurvei

meN- + support → mensupport

meN- + sinyalir → mensinyalir

meN- + sukseskan → mensukseskan

meN- + suplai → mensuplai

meN- + sosialisasi → mensosialisasikan

peN- + survei → pensurvei

peN- + support → pensupport

peN- + suplai → pensuplai

c.     Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN-

Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /ň/ apabila bentuk dasar (dasar kata) yang mengikutinya berawal dengan fonem /c, j, s, š/.

Contoh:

meN- + cuci → mencuci

meN- + cari → mencari

meN- + contoh → mencontoh

meN- + calonkan → mencalonkan

meN- + cakar → mencakar

peN- + calon → pencalonan

peN- + cairan → pencairan

peN- + coleng → pencoleng

peN- + curahan → pencurahan

peN- + cinta → pencinta

meN- + jajah → penjajah

meN- + jolok → penjolok

meN- + junjung → menjujung

meN- + jemput → menjemput

meN- + jemur → menjemur

peN- + jaga → penjaga

peN- + juntai → penjuntai

peN- + judi → penjudi

peN- + jilat → penjilat

peN- + jepit → penjepit

meN- + serang → menyerang

meN- + sabung → menyabung

meN- + sadur → menyadur

meN- + sayur → menyayur

peN- + sedap → penyedap

peN- + sekapan → penyekapan

peN- + selam → penyelam

peN- + siar → penyiar

peN- + sirih → penyirih

meN- + syaratkan → mensyaratkan

meN- + syukuri → mensyukuri

meN- + syair → mensyairkan

meN- + syarah → mensyarahkan

peN- + syarahan → pensyarahan

d,     Fonem /N/ pada meN- dan peN-

Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi /η/ apabila bentuk dasar (dasar kata) yang mengikutinya berfonem awal/g, h, k, x, dan vokal/.

Contoh:

meN- + gempur → menggempur

meN- + gadaikan → menggadaikan

meN- + gusur → menggusur

meN- + giring → menggiring

meN- + gurat → menggurat

meN- + guncang → mengguncang

peN- + gulungan → penggulungan

peN- + gerek → penggerek

peN- + gali → penggali

peN- + gosok → penggosok

peN- + gores → penggores

peN- + godokan → penggodokan

peN- + gesek → penggesek

meN- + hias → menghias

meN- + harap → mengharap

meN- + hemat → menghemat

meN- + habiskan → menghabiskan

meN- + hukum → menghukum

peN- + hubung → penghubung

peN- + hinaan → penghinaan

peN- + hirup → penghirup

peN- + hemat → penghemat

peN- + hela → penghela

meN- + karang → mengarang

meN- + kutip → mengutip

meN- + kerat → mengerat

meN- + kandung → mengandung

meN- + kantuk → mengantuk

peN- + kecoh → mengecoh

peN- + karang → mengarang

peN- + keras → pengeras

peN- + kayuh → pengayuh

peN- + kebun → pengebun

meN- + khatamkan → mengkhatamkan

meN- + khayalkan → mengkhayalkan

meN- + khasiat → mengkhasiati

meN- + khawatirkan → mengkhawatirkan

meN- + khususkan → mengkhususkan

peN- + khianat → pengkhianat

peN- + khayal → pengkhayal

peN- + khotbah → pengkhotbah

meN- + adu → mengadu

meN- + angkat → mengangkat

meN- + edarkan → mengedarkan

meN- + emban → mengemban

meN- + eram → mengeram

meN- + intip → mengintip

meN- + introspeksi → mengintrospeksi

meN- + uap → menguap

meN- + udara → mengudara

meN- + otot → mengotot

meN- + omel → mengomel

meN- + olah → mengomel

peN- + ucap → pengucap

peN- + ubah → pengubah

peN- + iring → pengiring

peN- + isi → pengisi

peN- + ecer → pengecer

peN- + edit → pengedit

peN- + ajar → pengajar

peN- + angkut → pengangkut

peN- + obat → pengobat

e.     Perubahan fonem /N/ dan /r/

Selain perubahan fonem /N/, juga ada perubahan fonem /r/ pada morfem ber- dan morfem per-, yaitu berubah menjadi fonem /l/ sebagai akibat pertemuan morfem tersebut dengan bentuk dasar (dasar kata) yang berupa morfem ajar. Dalam bahasa Indonesia perubahan fonem /r/ ini tidak produktif.

Contoh:

ber- + ajar → belajar

per- + ajar → pelajar

.

2.   Proses Morfofonemik

a.   Proses Penambahan Fonem

Proses penambahan fonem terjadi akibat pertemuan meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang bersuku satu. Fonem tambahannya adalah /”/ sehingga meN- berubah menjadi menge- dan peN- menjadi penge-. Selain itu ada pula penambahan fonem apabila morfem –anke-anpeN-an bertemu dengan bentuk dasarnya, terjadi penambahan fonem /?/ apabila bentuk dasar itu berakhir dengan vokal /a/, penambahan fonem /w/ apabila bentuk dasarnya berakhir /u, o, aw/, dan penambahan fonem /y/ apabila bentuk dasar berakhir dengan /i, ay/.

Proses penambahan fonem antara lain terjadi pada bentuk dasar (dasar kata) yang bersuku satu. Hal ini terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan morfem peN- dengan bentuk dasar yang terdiri dari satu suku. Fonem tambahannya adalah /”/ sehingga meN- berubah menjadi mengedan peN- berubah menjadi penge-.

Contoh:

meN- + las → mengelas

meN- + cat → mengecat

meN- + los → mengelos

meN- + lus → mengelus

peN- + bom → mengebom

peN- + pak → mengepak

peN- + cat → pengecat

peN- + las → pengelas

peN- + bor → pengebor

Jika diteliti dengan saksama, ternyata bahwa pada contoh-contoh di atas selain proses penambahan ponem /¶/, terjadi juga proses perubahan fonem, yaitu perubahan fonem /N/ menjadi /η/, seperti pada contoh di atas. Selain penambahan fonem yang terjadi pada bentuk dasar yang bersuku satu, terjadi juga penambahan fonem yang lain, yaitu penambahan fonem /?/ apabila morfem –anke-anpeN-an bertemu dengan bentuk dasar yang berakhir dengan vokal /a/, penambahan /w/ apabila bentuk dasar berakhir dengan /u, o, aw/, dan penambahan /y/ apabila bentuk dasar berakhir dengan /i, ay/ (Ramlan, 1983: 84).

Contoh:

-an + hari → harian/hariyan

-an + lambai → lambay/lambaian/lambayyan

-an + terka → terkaan/terka?an

ke-an + lestari → kelestarian/kələstariyan

ke-an + pulau → pulaw →kepulauan/kəpulawwan

b.    Proses Hilangnya Fonem

Dalam proses hilangnya fonem Anda dapat mengikuti uraian sebagai berikut

1)    Proses Hilangnya Fonem /N/

Proses hilangnya fonem /N/ akan terjadi apabila morfem-morfem meN- dan peN- bertemu atau bergabung dengan bentuk dasar (dasar kata) yang berfonem awal /l, r, y, w, dan nasal/.

Contoh:

meN- + lupakan → melupakan

meN- + lirik → lirik

meN- + lestarikan → melestarikan

meN- + lenggang → melenggang

meN- + langkah → melangkah

peN- + lompat → pelompat

peN- + lawak → pelawak

peN- + lupa → pelompat

peN- + lestari → pelestari

peN- + licin → pelicin

meN- + rampas → merampas

meN- + rampok → merampok

meN- + ramalkan → meramalkan

meN- + rusakkan → mersakan

meN- + rendahkan → merendahkan

peN- + rampok → perampok

peN- + ramal → peramal

peN- + ramah → peramal

peN- + rusuh → perusuh

peN- + riang → riang

meN- + yakinkan → meyakinkan

meN- + wakilkan → mewakilkan

meN- + wajibkan → mewajibkan

meN- + warnai → mewarnai

meN- + wahyukan → mewahyukan

meN- + wakapkan → mewakapkan

peN- + waris → pewaris

peN- + warna → pewarna

peN- + wangi → pewangi

peN- + wawancara → pewawancara

meN- + nasihati → menasihati

meN- + naiki → menaiki

meN- + nyanyi → menyanyi

meN- + nganga → menganga

peN- + malas → pemalas

peN- + nasihat → penasihat

peN- + nyanyi → penyanyi

peN- + ngawur → pengawur

2)     Proses Hilangnya Fonem /r/

Proses hilangnya fonem /r/ pada morfem ber-per-, dan ter- akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan/∂r/.

Contoh:

ber- + rencana → berencana

ber- + revolusi → berevolusi

ber- + ragam → beragam

ber- + rantai → berantai

ber- + rumah → berumah

per- + rintis → perintis

per- + raih → peraih

per- + rindu → perindu

per- + rasa → perasa

per- + ramping → peramping

ter- + rekam → terekam

ter- + rendah → terendah

ter- + rasa → terasa

ter- + raba → teraba

ter- + rombak → terombak

ber- + kerja → bekerja

ber- + terbang → beterbang (an)

ber- + serta → beserta

ber- + terjal → beterjal

ber- + ternak → beternak

per- + kerja → pekerja

per- + serta → peserta

per- + derma → pederma

ter- + pergok → tepergok

ter- + perdaya → teperdaya

3)    Proses Hilangnya Fonem /k, p, t, s/

Proses hilangnya fonem-fonem /k, p, t, s/ akibat pertemuan antara morfem meN- dan morfem peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem /k, p, t, s/.

Contoh:

meN- + kosong → mengosongkan

meN- + kontrol → mengontrol

meN- + karang → mengarang

meN- + katrol → mengatrol

meN- + kipas → mengipas

peN- + kait → pengait

peN- + kuat → penguat

peN- + kukus → pengukus

peN- + kacau → pengacau

meN- + pakai → memakai

meN- + paksa → memaksa

meN- + pudar → memudar

meN- + perintah → memerintah

meN- + pinta → meminta

peN- + potret → pemotret

peN- + pasang → pemasang

peN- + putih → pemutih

peN- + putar → pemutar

peN- + pukul → pemukul

meN- + tulis → menulis

meN- + tolak → menolak

meN- + topang → menolak

meN- + tendang → menendang

meN- + turun → menurun

peN- + tusuk → penusuk

peN- + tabuh → penusuk

peN- + toreh → penoreh

peN- + teliti → peneliti

peN- + tisik → ***ik

meN- + suap → menyuap

meN- + sekap → menyekap

meN- + sandra → menyandra

meN- + segel → menyegel

meN- + susul → menyusul

peN- + sindir → penyindir

peN- + sandra → penyandra

peN- + sulap → penyulap

peN- + sulam → penyulam

peN- + sumbang → penyumbang

Bila meN- bertemu dengan bentuk dasar (bentuk) kompleks yang berfonem awal /p/ dan /t/ tidak hilang karena fonem-fonem itu merupakan fonem awal afiks.

Contoh:

meN- + peragakan → memperagakan

meN- + persatukan → mempersatukan

meN- + tertawakan → mentertawakan

Demikian pula meN- dan peN- bila bertemu dengan bentuk dasar yang berawal fonem /k, t, s/ yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya, fonem /k, t, s/ itu tidak hilang.

Contohnya:

mengkondisikan

pentafsirkan

mentabulasikan

menskor

mensurvey

penterjemah

pensuply

.

3.   Kaidah-kaidah Morfofonemik

Pada bagian belajar sebelumnya Anda telah mempelajari aturan-aturan tertentu mengenai proses morfofonemik. Dalam bagian belajar ini Anda akan mempelajari kaidah-kaidah morfofonemik dalam bahasa Indonesia. Kaidah-kaidah morfofonemik yang terpenting adalah: kaidah morfofonemik morfem afiks men-, kaidah morfofonemik morfem afiks pen-, kaidah morfofonemik morfem afiks ber-, kaidah morfofonemik morfem afiks per-, dan kaidah morfofonemik morfem afiks ter- .

a.   Kaidah Morfofonemik Morfem Afiks meN-

Kaidah I: meN- → mem-

Moefem meN- berubah menjadi mem- apabila diikuti bentuk dasar (dasar kata) yang berawal dengan fonem /b, f, p/. Fonem /p/ hilang, kecuali dapa beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya dan pada bentuk dasar yang berprefiks per-.

Contoh:

meN- + bantah → membantah

meN- + bawa → membawa

meN- + fitnah → memfitnah

meN- + fokuskan → memfokuskan

meN- + pukul → memukul

meN- + putar → memutar

meN- + produksi → memproduksi

meN- + pertahankan → mempertahankan

Kaidah II: meN- → men-

Apabila morfem meN- diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /d, s, t/ akan berubah menjadi men-. Fonem /t/ hilang, kecuali pada beberapa bentuk dasar atau dasar kata yang berasal dari kata asing dan pada bentuk dasar yang berafiks ter-, serta fonem /s/ yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya.

Contoh:

meN- + didik → mendidik

meN- + dasarkan → mendasarkan

meN- + sukseskan → mensukseskan

meN- + skor → menskor

meN- + support → mensupport

meN- + tulis → menulis

meN- + tumpuk → menumpuk

meN- + transkrif → mentranskrif

meN- + transfer → mentransfer

meN- + terlantarkan → menterlantarkan

meN- + terkejutkan → menterkejutkan

Kaidah III: meN- → meny-

Morfem meN- berubah menjadi meny-, apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem/s, c, j/. Fonem/s/hilang, kecuali bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya.

Contoh:

meN- + pakai → memakai

meN- + sodok → menyodok

meN- + sucikan → menyucikan

meN- + cubit → mencubit/m”ňcubit

meN- + cari → mencari/m”ňcari

meN- + jual → menjual/m”ňjual

meN- + jaga → menjaga/m”ňjaga

Kaidah IV: meN- → meng-

Morfem meN- berubah menjadi meng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /g, h, k, x, vokal/. Fonem /k/ hilang, kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya.

Contoh:

meN- + gambar → menggambar

meN- + garami → menggarami

meN- + hakimi → menghakimi

meN- + hukum → menghukum

meN- + karang → mengarang

meN- + kirim → mengirim

meN- + konsentrasikan → mengkonsentrasikan

meN- + koordinasikan → mengkoordinasikan

meN- + khayalkan → mengkhayalkan

meN- + khatamkan → mengkhatamkan

meN- + akui → mengakui

meN- + alami → mengalami

meN- + ikat → mengikat

meN- + ingkari → mengingkari

meN- + uap → menguap

meN- + ungkap → mengungkap

meN- + ekor → mengekor

meN- + emban → mengemban

meN- + operasi → mengoperasi

meN- + olah → mengolah

Kaidah V: meN- → me-

Fonem meN- berubah menjadi me-, apabila diikuti oleh bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, w, y, nasal (N)/

Contoh:

meN- + lupakan → melupakan

meN- + layani → melayani

meN- + rusak → merusak

meN- + runcing → meruncing

meN- + wajibkan → mewajibkan

meN- + wartakan → mewartakan

meN- + yakinkan → meyakinkan

meN- + yasinkan → meyasinkan

meN- + nyanyi → menyanyi

meN- + matikan → mematikan

meN- + nasihati → menasihati

meN- + ngaung → mengaung

Kaidah VI: meN- → menge-

Morfem meN- berubah menjadi menge- apabila diikuti oleh bentuk dasar atau dasar kata yang terdiri dari satu suku.

Contoh:

meN- + cat → mengecat

meN- + las → mengelas

meN- + bom → mengebom

b.    Kaidah Morfofonemik Morfem Afiks peN-

Kaidah morfofonemik morfem afiks peN- pada umumnya sama dengan kaidah morfofonemik morfem afiks meN-.

Kaidah I: peN- → pem-

Morfem peN- berubah menjadi pem- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /b, f, p/. Dalam hal ini fonem /p/ hilang.

Contoh:

peN- + bual → pembual

peN- + buangan → pembuangan

peN- + bela → pembela

peN- + bicara → pembicara

peN- + bentuk → pembentuk

peN- + fotokopi → pemfotokopi

peN- + fitnah → pemfitnah

peN- + faraid → pemfaraid

peN- + pugar → pemugar(an)

peN- + puja → pemuja

peN- + pulang → pemulang(an)

peN- + pulung → pemulung

peN- + pukul → pemukul

Kaidah II: peN- → pen-

Morfem peN- berubah menjadi pen- apabila diikuti oleh bentuk dasar yang berawal dengan fonem /d, s, t/. Dalam proses ini fonem /t/ hilang, kecuali pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasinganny, dan fonem /s/ yang terbatas pada beberapa bentuk dasar yang berasal dari kata asing yang masih mempertahankan keasingannya.

Contoh:

peN- + dusta → pendusta

peN- + dengar → pendengar

peN- + diam → pendiam

peN- + daki → pendaki

peN- + dakwa → pendakwa

peN- + suply → pensuply

peN- + support → pensupport

peN- + tusuk → penusuk

peN- + tabur → penabur

peN- + tebus → penebus

peN- + tadah → penadah

peN- + tambah → penambah

Kaidah III: peN- → peny-

Morfem peN- berubah menjadi peny- apabila diikuti bentuk dasar atau dasar kata yang berawal dengan fonem /s, c, j/. Fonem /s/ hilang.

Contoh:

peN- + sadur → penyadur

peN- + sita → penyita

peN- + suluh → penyuluh

peN- + cukur → pencukur/p”ñcukur

peN- + cuci → pencuci/p”ñcuci

peN- + cabut → pencabut/p”ñcabut

penN- + jahit → penjahit/p”ñjahit

peN- + jaga → penjaga/p”ñjaga

peN- + jumlah → penjumlah/p”ñjumlah

Kaidah IV: peN- → peng-

Morfem peN- berubah menjadi peng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal fonem /g, h, k, x, vokal/. Dalam proses ini fonem /k/ hilang.

Contoh:

peN- + ganti → pengganti

peN- + gosok → penggosok

peN- + garap → penggarap

peN- + hibur → penghibur

peN- + hujan → penghujan

peN- + hemat → penghemat

peN- + kurang → pengurang

peN- + kuras → penguras

peN- + karang → pengarang

peN- + khusus → pengkhusus(an)

peN- + khianat → pengkhianat

peN- + asuh → pengasuh

peN- + aman → pengaman

peN- + ikut → pengikut

peN- + ubah → pengubah

peN- + usir → pengusir

peN- + ekor → pengekor

peN- + edar → pengedar

peN- + obral → pengobral

peN- + obat → pengobat

Kaidah V: peN- → pe-

Morfem peN- berubah menjadi pe- apabila diikuti oleh bentuk dasar yang berawal fonem /l, r, w, y, N/

Contohnya:

peN- + lupa → pelupa

peN- + lipur → pelipur

peN- + latih → pelatih

peN- + lepas → pelepas

peN- + ramal → peramal

peN- + rusuh → perusuh

peN- + rusak → perusak

peN- + warna → pewarna

peN- + warta → pewarta

peN- + waris → pewaris

peN- + yakin → peyakin

peN- + nyanyi → penyanyi

peN- + ngeran → pengeran

peN- + ngiang → pengiang

peN- + nasihat → penasihat

peN- + nanti → penanti

Kaidah VI: peN- → penge-

Morfem peN- berubah menjadi penge- apabila diikuti bentuk dasar yang terdiri dari satu suku.

Contoh:

peN- + bor → pengebor

peN- + cat → pengecat

peN- + pak → pengepak

peN- + las → pengelas

c.    Kaidah Morfofonemik Morfem Afiks ber-

Kaidah I: ber- → be-

Morfem ber- berubah menjadi be- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/, dan beberapa bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /∂r/.

Contoh:

ber- + runding → berunding

ber- + roda → beroda

ber- + riak → beriak

ber- + rantai → berantai

ber- + serta → beserta

ber- + derma → bederma

ber- + kerja → bekerja

ber- + ternak → beternak

Kaidah II: ber- → bel-

Morfem ber- menjadi bel- apabila diikuti oleh bentuk dasar ajar.

Contoh:

ber- + ajar → belajar

Kaidah III: ber- → ber-

Morfem ber- tetap merupakan morfem ber- apabila diikuti oleh bentuk dasar selain yang tersebut pada kaidah I dan kaidah II di atas, yaitu bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/, bentuk dasar yang suku pertamanya tidak berakhir dengan /¶r/, dan bentuk dasar yang bukan morfem ajar.

Contoh:

ber- + awal → berawal

ber- + iman → beriman

ber- + ekor → berekor

ber- + fantasi → berfantasi

ber- + khutbah → berkhutbah

d.   Kaidah Morfofonemik Morfem Afiks per-

Kaidah I: per- → pe-

Morfem per- berubah menjadi pe- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/.

Contoh:

per- + rencana → perencana

per- + ringan → peringan

per- + rayakan → perayakan

per- + rendam → perendam

per- + rusak → perusak

Kaidah II: per- → pel

Morfem per- berubah menjadi pel- apabila diikuti bentuk dasar ajar.

Contoh:

per- + ajar → pelajar

Kaidah III: per- → per-

Morfem per- tetap saja merupakan per-, apabila diikuti oleh bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang bukan morfem ajar.

Contoh:

per- + lambat → perlambat

per- + teguh → perteguh

per- + kaya → perteguh

per- + indah → perindah

per- + mudah → permudah

e.   Kaidah Morfofonemik Morfem Afiks ter-

Kaidah I: ter- → te-

Morfem ter- berubah menjadi te- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/, dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /∂r/.

Contoh:

ter- + rasa → terasa

ter- + perdaya → teperdaya

ter- + percik → tepercik

Kaidah II: ter- → ter-

Morfem ter- tetap saja merupakan morfem ter- apabila diikuti bentuk dasar yang tidak berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya tidak berakhir dengan fonem /∂r/.

Contoh:

ter- + angkut → terangkut

ter- + bukti → terbukti

ter- + maju → termaju

ter- + desak → terdesak

ter- + lihat → terlihat

ter- + gusur → tergusur.


Last modified: Monday, 23 May 2022, 8:45 AM