Proses Morfologis

C.    Proses Morfologis

1.    Konsep Proses Morfologis

Menurut  Chaer (2008:3) secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti bentuk dan kata logi yang berarti ‘ilmu’. Jadi secara harafiah kata morfologi berati ilmu mengenai bentuk. Jadi morfologi ialah ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata, sedangkan proses morfologi adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalaui pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), pengulangan (dalam proses reduplikasi), penggabungan (dalam proses komposisi), pemendekan (dalam proses akrominasi), dan pengubahan status (dalam proses konversi).

Selanjutnya Samsuri (1994:190) proses morfologis ialah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Buku ini menguraikan tentang proses morfologi yang dapat dilakukan melalui proses afiksasi, proses reduplikasi, proses perubahan intern, suplisi, dan modifikasi kosong. Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa morfologi adalah suatu cabang ilmu bahasa yang membicarakan tentang morfem bebas atau morfem terikat yang dapat disusun membentuk kata. Sedangkan Proses Morfologi adalah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Pembentukan kata tersebut dapat dilakukan yaitu melalui pembubuhan afiks (afiksasi), proses perulangan (reduplikasi) dan proses pemajemukan (kompositum).

Menurut Ramlan (1978:51-52) proses Morfologi ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Bentuk dasarnya mungkin berupa kata. Seperti pada kata terjauh yang dibentuk dari kata jauh, kata menggergaji yang yang dibentuk dari kata gergajirumah-rumah yang dibentuk dari kata rumah; mungkin berupa pokok kata, misalnya bertemu yang dibentuk dari pokok kata temu, kata bersandar yang dibentuk dari pokok kata sandar ; mungkin berupa frase, misalnya kata ketidakadilan yang dibentuk dari frase tidak adil; mukngkin berupa kata dan kata, misalnya kata rumah sakit yang dibentuk dari kata rumah dan sakit; mungkin berupa kata dan pokok kata, misalnya kata pasukan tempur yang dibentuk dari kata pasukan dan pokok kata tempur; mungkin juga berupa pokok kata dan pokok kata, misalnya kata lomba lari yang dibentuk dari pokok kata lomba dan pokok kata lari.

Ada tiga proses Morfologis dalam bahasa Indonesia, yaitu: 1) proses pembubuhan afiks, 2) proses pengulangan, dan 3) proses pemajemukan. Dalam bahasa Indonesia, di samping tiga proses Morfologis di atas sebenarnya ada satu proses lagi, yaitu proses perubahan zero yang semuanya termasuk kata verbal yang transitif. Kata verbal transitif adalah kata verbal yang dapat diikuti oleh obyek dan dapat diubah menjadi kata verbal pasif. Misalnya melempar menjadi dilemparmemperbaiki menjadi diperbaiki, dan sebagainya.

Kata-kata makan, minum, minta, dan mohon juga termasuk kata verbal yang transitif dan dapat dipasifkan, namun kata-kata ini tidak ditandai dengan afiks meN-. Perubahan dari kata-kata makan, minum, minta, dan mohon sebagai bentuk dasar, menjadi kata-kata makan, minum, minta, dan mohon sebagai kata verbal transitif itu disebut perubahan zero, yang sebenarnya berarti perubahan kosong atau tidak ada perubahan. Prosesnya disebut proses perubahan zero (Ramlan, 1983: 44-47). Proses perubahan zero (kosong) adalah proses pembentukan kata verbal transitif yang dapat dipasifkan, namun kata itu tidak ditandai dengan meN-, misalnya makan, minum, minta, dan mohon.

Proses Morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Proses Morfologis dalam bahasa Indonesia meliputi proses pembentukan afiks, proses pengulangan, proses pemajemukan, dan proses perubahan zero. Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan afiks (imbuhan) pada sesuatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata. Berdasarkan letaknya, afiks dalam bahasa Indonesia meliputi bentuk sebagai berikut.

a. Prefiks atau awalan, adalah afiks yang dilekatkan di depan bentuk dasarnya, seperti meN-ber-di-ter-peN-pe-, se-, per-pra-ke-, a-maha-, dan para-.

b. Infiks atau sisipan, adalah afiks yang dilekatkan ditengah bentuk dasar, yaitu -el-, -em-, dan –er.

c. Sufiks atau akhiran, adalah afiks yang dilekatkan di belakang bentuk dasar, yaitu: -kan, -an-i-nya, -wan, -man, -wati, -is, -da, dan –wi.

d. Simulfiks/sirkumfiks/konfiks, adalah afiks yang dilekatkan di depan-belakang bentuk dasar secara bersamaan, yaitu: ke-anpeN-anper-anber-an, dan se-nya.

Berdasarkan asalnya, afiks dapat dibedakan menjadi afiks asli dan afiks yang berasal dari bahasa asing atau afiks serapan. Afiks serapan yaitu pra-, a--wan, -man, -wati, -is, -wi. Berdasarkan produktivitasnya, afiks-afiks itu ada yang produktif artinya afiks yang hidup, yang memiliki kesanggupan yang besar untuk melekat pada kata-kata atau morfem-morfem, dan ada afiks-afiks improduktif artinya afiks-afiks yang telah usang, yang distribusinya terbatas pada beberapa kata, yang tidak lagi membentuk kata-kata baru, misalnya pra-, a-, -el-, -em-, -er-, -wati, – is, -man, -da, dan -wi.

Berdasrkan fungsinya, afks-afiks itu dapat mengubah golongan kata, misalnya dari golongan kata nominal menjadi golongan kata verbal atau sebaliknya dari golongan kata verbal menjadi golongan kata nominal. Proses Morfologis seperti itu disebut fungsi gramatik, yaitu fungsi yang berhubungan dengan ketatabahasaan, yang selanjutnya disebut dengan istilah fungsi. Selain itu, proses Morfologis juga mempunyai fungsi semantik, yaitu memilki arti leksikal seperti dijelaskan dalam kamus. Fungsi semantik ini disebut makna.

Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik perubahan bunyi ataupun tidak. Kata-kata bala-bala, cika-cika, alun-alun, mondar-mandir tidak termasuk kata ulang karena dari deretan Morfologis tidak terdapat satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut.

Dalam bahasa Indonesia tebagi empat macam kata ulang, yaitu pengulangan seluruh bentuk dasar, misalnya rumah-rumah, kecantikan-kecantikan, dan sebagainya; pengulangan berimbuhan, misalnya biji-bijian, kebarat-baratan, dan sebagainya; pengulangan sebagian, misalnya leluhur, lelaki, tetamu, dan sebagainya; dan pengulangan dengan perubahan bunyi, misalnya bolak-balik, serba-serbi, ramah-tamah, dan sebagainya.

Proses pemajemukan adalah proses penggabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. Hasil proses pemajemukan disebut kata majemuk. Ciri-ciri kata majemuk adalah salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata, misalnya tenaga kerja, simpan pinjam, dan sebagainya; serta unsur-unsur kata majemuk tidak dapat dipisahkan dengan kata lain dan tidak dapat diubah strukturnya, misalnya antara unsur rumah sakit tidak dapat dipisahkan dengan kata itu atau sedang menjadi rumah itu sakit* atau rumah sedang sakit*, dan strukturnya tidak dapat diubah, misalnya sakitnya rumah* atau sakit itu rumah*. Kata majemuk yang salah satu unsurnya berupa morfem unik, misalnya simpang siur, sunyi senyap, gelap gulita, dan terang benderang dengan morfem uniknya siur, senyap, gulita, dan benderang.

.

2.    Proses Pembubuhan Afiks

Yang dimaksud afiks adalah suatu satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuansatuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru. Contohnya kata mingguan terdiri dari dua unsur yaitu minggu yang merupakan kata dan –an yang merupakan satuan terikat yang diduga merupakan afiks.

Proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada satuan-satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal, maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata (Ramlan, 1978:54-55) sedangkan afiks ialah suatu satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru.

Setiap afiks tentu berupa satuan terikat, artinya dalam tuturan biasa tidak dapat berdiri sendiri dan secara gramatik selalu melekat pada satuan lain, namun morfem di- seperti dalam di rumah, di pekarangan, di ruang, tidak dapat digolongkan afiks sebab secara gramatik morfem itu sebanarnya mempunyai sifat bebas, tidak seperti halnya morfem di- dalam dipukul, dibaca, dikelola, diadakan. Afiks yang terletak di jalur paling depan disebut prefiks karena selalu melekat di depan bentuk dasar, contoh: morfem ber- dalam berlari, bertopi, bernyanyi. Morfem ter- dalam terjatuh, terluka, terbakar. Yang terletak di lajur tengah disebut infiks karena selalu melekat di tengah bentuk dasar, contoh: morfem –el-,-er-, dan –em– yang hanya terdapat dalam geletar, gerigi, gemetar,temali, seruling. Yang terletak di lajur belakang disebut sufiks karena selalu melekat di belakang bentuk dasar, contoh: morfem –kan dalam samakangulungkan, ikatkan. dan sebagiannya terletak di muka bentuk dasar, sebagiannya terletak di belakangnya yang disebut simulfiks atau afiks terpisah, contoh: /pen- + -an/ pada pemakaian, pemisahan dan afiks /ber- + -an/ pada berpakaian, berberserakan.

Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan afiks pada sesuatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya pembentukan afiks ber-meN-peN--anke-an, dan sebagainya. Ada juga afiks yang tidak membentuk kata, melainkan membentuk pokok kata, misalnya afiks per- pada perpanjang, perluas, afiks –kan pada lemparkan, afiks –i pada tanami. Afiks melekat pada bentuk dasar, sehingga satuan yang dilekati afiks itu menjadi satuan yang lebih besar. Misalnya bentuk dasar bekerja adalah kerja, bentuk dasar berkeluh kesah adalah keluh kesah, bentuk dasar berkesimpulan adalah kesimpulan, dan sebagainya.

Bentuk dasar itu ada yang dapat berdiri sendiri sebagai kata, misalnya kata dalam berkata, pakaian dalam berpakaian, dan sebagainya, tetapi ada pula bentuk dasar yang tidak dapat berdiri sendiri dalam pemakaian bahasa yang disebut pokok kata, misalnya cantum dalam tercantummencantumkandicantumkan, satuan giur dalam tergiur, menggiurkan, dan sebagainya.

Bagaimana untuk menentukan, apakah satuan-satuan itu afiks atau bukan? Dalam hal ini harus diteliti kemampuan melekatnya satuan-satuan itu pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata baru atau pokok kata baru. Misalnya satuan meN- dapat melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata baru, yaitu menulismembacamengambil, menyapu, dan sebagainya, dengan demikian dapat ditentukan bahwa meN- itu adalah afiks.

Kalau kita perhatikan, afiks-afiks tersebut di antaranya ada yang berasal dari bahasa asing, yaitu pra-, a-, -wan, -man, -wati, -is, dan –wi, yang lainnya adalah afiks-afiks asli. Ada afiks yang berasal dari bahasa asing itu yang belum dapat digolongkan sebagai afiks dalam bahasa Indonesia dan tidak tercantum dalam afiks bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan afiks asing tersebut belum mampu keluar dari lingkungannya, maksudnya belum sanggup melekat pada satuan lain yang tidak berasal dari bahasa aslinya. Misalnya –in pada hadirin , -at pada hadirat, –if pada sportif, –al pada ideal-or pada aktor-ik pada patriotik, dan sebagainya.

Berdasarkan produktivitasnya, afiks-afiks itu dapat digolongkan mejadi afiks produktif dan afiks yang improduktif. Afiks yang produktif adalah afiks yang hidup, yang memiliki kesanggupan yang besar untuk melekat pada kata-kata atau morfem-morfem sedangkan afiks improduktif adalah afiks yang telah usang, yang distribusinya terbatas pada beberapa kata, yang tidak lagi membentuk kata-kata baru. Yang tergolong afiks improduktif adalah pra-, a-, –el-, -er-, -em-, -wati, -is, -man, -da, dan –wi.

Berdasarkan fungsinya, afiks dapat mengubah golongan kata, misalnya dari golongan kata nominal menjadi golongan kata verbal atau sebaliknya dari golongan kata verbal menjadi golongan kata nominal. Proses Morfologis seperti itu disebut fungsi gramatik, yaitu fungsi yang berhubungan dengan ketatabahasaan yang selanjutnya disebut dengan istilah fungsi.

Di samping itu, proses Morfologis juga mempunyai fungsi sematik, yaitu memilki arti leksikal seperti dijelaskan dalam kamus. Fungsi semantik disini selanjutnya disebut makna. Di bawah ini akan dikemukakan fungsi dan makna proses pembubuhan afiks:

a.   Afiks meN-

Afiks meN- berfungsi untuk membentuk kata verbal. Kata verbal adalah kata yang pada tataran klausa mempunyai kecenderungan menjadi predikat dan pada tataran frase dapat dinegatifkan dengan kata tidak. Misalnya kata-kata membaca dan menjual sebagai predikat dalam klausa-klausa:

Ia membaca buku.

Petani menjual hasil pertaniannya ke pasar.

Pada tataran frase dapat dinegatifkan dengan kata tidak menjadi tidak membaca, dan tidak menjual. Afiks meN- mempunyai makna sebagai berikut.

1) Bentuk dasarnaya pokok kata mempunyai makna suatu perbuatan yang aktif lagi transitif, misalnya mengambil, membaca, menulis, dan sebagainya.

2) Bentuk dasarnya kata sifat menyatakan makna menjadi seperti keadaan yang tersebut pada bentuk dasarnya atau menyatakan makna proses.

   Contoh:

merendah : menjadi rendah

membaik : menjadi baik

memanas : menjadi panas

.

3) Bentuk dasarnya kata nominal mempunyai makna: memakai apa yang tersebut pada bentuk dasar, berlaku atau menjadi seperti apa yang tersebut pada bentuk dasar, menuju ke tempat yang tersebut pada bentuk dasar, membuat apa yang tersebut pada bentuk dasar, dan melakukan tindakan berhubungan dengan apa yang disebut pada bentuk dasar.

   Contoh:

menepi : menuju tepi

mengangkasa : menuju angkasa

membabu : menjadi seperti babu

merendang : membuat rendang

.

4) Afiks meN- menyatakan makna dalam keadaan, misalnya: menyendiri, menyepi, mengantuk.

.

b.   Afiks ber-

Afiks ber- berfungsi untuk membentuk kata verbal. Misalnya bertemu, bergembira, berdua, berumah, dan sebagainya. Afiks ber- mempunyai makna sebagai berikut.

1) Bentuk dasarnya pokok kata dan kata kerja, menyatakan makna suatu perbuatan yang aktif , misalnya berdagang, bermain, bersembahyang, dan sebagainya.

2) Bentuk dasarnya berupa kata sifat, afiks ber- bermakna dalam keadaan, misalnya bersedih, berbahagia, bergembira, dan sebagainya.

3) Bentuk dasar kata bilangan, menyatakan makna kumpulan yang terdiri dari jumlah yang tersebut pada bentuk dasar, kecuali pada kata bersatu yang menyatakan makna menjadi satu.

   Contoh:

berenam : kumpulan yang terdiri dari enam

bertiga : kumpulan yang terdiri dari tiga

belima : kumpulan yang terdiri dari lima

.

4) Bentuk dasarnya kata nominal, afiks ber- mempunyai makna: memakai apa yang tersebut bentuk dasar, mengeluarkan apa yang tersebut bentuk dasar, mengadakan apa yang tersebut bentuk dasar, menuju ke tempat yang tersebut bentuk dasar, mengusahakan apa yang tersebut bentuk dasar, melakukan perbuatan berhubungan dengan apa yang tersebut bentuk dasar, dan mempunyai apa yang yang tersebut pada bentuk dasar.

   Contoh:

berpesawat terbang : menggunakan pesawat terbang

bercelana : memakai celana

bersuara : mengeluarkan suara

berkebun : mengusahakan kebun

bertamu : menjadi tamu

berkakak : mempunyai kakak

berbahasa : mempunyai bahasa

d.   Afiks ter-

Afiks ter- sama dengan afiks di- yaitu mempunyai fungsi membentuk kata kerja pasif, misalnya terinjak, terjembatani, terbawa, dan sebagainya.

Bedanya afiks ter- dan afiks di- dalam membentuk kata kerja pasif:

1) Pasif ter- tidak mementingkan pelaku perbuatan, sedangkan pasif di- memperhatikan pelaku perbuatan.

    Contoh:

Salah satu korban kecelakaan kereta api itu terlempar jauh.

Ujian Nasional itu dipantau oleh tim independen.

.

2) Pasif ter- pada umumnya mengemukakan hasil perbuatan, atau lebih mengemukakan aspek perfektif, sedangkan pasif di- lebih mengemukakan belakunya perbuatan.

    Contoh:

Naskah-naskah cerita lama umumnya tertulis dalam huruf Arab.

Naskah-naskah cerita lama umumnya ditulis dalam huruf Arab.

.

3) Pasif ter- menunjukkan ketidaksengajaan, sedangkan pasif di- menyatakan perbuatan yang dilakukan dengan sengaja.

     Contoh:

Pusat pertokoan itu habis terbakar.

Rumah-rumah di pinggir jalan kereta api itu dibakar.

.

4) Pasif ter- menyatakan kemungkinan sedangkan pasif di- menyatakan kepastian. Bandingkan: tak terdengar dengan tak didengartak terbawa dengan tak dibawa.

.

Berbagai makna yang terdapat pada afiks ter-, adalah :

1) Afiks ter- menyatakan makna ketidaksengajaan, misalnya terlempar, tertusuk, terbakar, dan sebagainya.

2) Menyatakan makna ketiba-tibaan, misalnya terbangun, terjatuh, teringat, dan sebagainya. Coba bandingkan Ia bangun dari tidurnya, dengan Ia terbangun dari tidurnya.

3) Menyatakan makna aspek perfektif, misalnya terbagi artinya sudah dibagitertutup artinya sudah ditutup, dan sebagainya. Contoh lainnya terbukatercetaktersimpantertanamterbelenggu, dan sebagainya.

4) Menyatakan makna kemungkinan. Afiks ter- yang menyatakan makna kemungkinan pada umumnya didahului kata negatif tidak atau tak.

     Contoh:

tidak terjangkau : tidak dapat dijangkau

tidak terbaca : tidak dapat dibaca

tak terlihat : tak dapat dilihat

.

5) Jika bentuk dasarnya kata sifat, bermakna paling.

     Contoh:

tercantik : paling cantik

terbesar : paling besar

terhalus : paling halus

.

e.    Afiks peN-

Afiks ini mempunyai fungsi membentuk kata nominal. Bentuk dasar yang berupa pokok kata berafiks peN- mempunyai pertalian dengan kata berafiks meN-, misalnya: pembaca bertalian dengan membaca, pencukur bertalian dengan mencukur, dan sebagainya. Bentuk dasar yang berafiks peN- yang bentuk dasarnya kata sifat ada yang memiliki pertalian dengan kata kerja berafiks meN- yang bentuk dasarnya berafiks –kan, misalnya: pemerah bertalian dengan memerahkan, penghalus bertalian dengan menghaluskan, dan sebagainya. Ada juga kata berafiks peN- yang bentuknya kata nominal, seperti pelaut, pencakul, penyair, dan sebagainya. Makna afiks peN-, adalah sebagai berikut.

1) Bentuk dasarnya berupa pokok kata, menyatakan makna pekerjaannya melakukan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar atau makna agentif.

     Contoh:

penulis : pekerjaannya menulis

pembela : pekerjaannya membela

penari : pekerjaannya menari

.

2) Menyatakan makna alat yang dipakai untuk melakukan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contoh:

penyandar : alat untuk menyandar

pemukul : alat untuk memukul

penjepit : alat untuk menjepit.

.

3) Bentuk dasarnya berupa kata sifat, mempunyai makna yang memiliki sifat yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contoh:

pendiam : yang memilki sifat diam

pemberani : yang memilki sifat berani

pemalu : yang memilki sifat malu

.

4) Bentuk dasarnya berupa kata sifat, mempunyai makna yang menyebabkan adanya sifat yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contohnya:

pendingin : yang menyebabkan jadi dingin

perusak : yang meyebabkan jadi rusak

penyakit : yang menyebabkan jadi sakit

.

5) Bentuk dasarnya berupa kata nominal, mempunyai makna pekerjaan melakukan perbuatan yang berhubungan dengan benda yang tersebut pada bentuk dasarnya.

     Contoh:

petani : pekerjaannya melakukan usaha tani

pelaut : pekerjaannya melakukan pekerjaannya di laut

penyair : pekerjaannya mencipta syair

f.     Afiks pe-

Kadang-kadang afiks pe- sukar dibedakan dengan afiks peN- karena pada suatu kondisi afiks peN- mungkin kehilangan nasalnya apabila diikuti bentuk dasar yang berfonem awal /l, r, y, w, dan nasal/. Namun demikian dapat dipakai suatu petunjuk bahwa afiks peN- sejajar (bertalian) dengan kata kerja berafiks meN-, sedangkan afiks pe- sejajar dengan kata kerja berafiks ber-.

Contoh:

pelempar : bertalian dengan melempar

perintis : bertalian dengan merintis

pelari : bertalian dengan berlari

pejuang : bertalian dengan berjuang

Fungsi afiks pe- adalah pembentuk kata nominal, misalnya petani, pedagang, pewawancara, pewarna, dan sebagainya. Makna afiks pe-, antara lain:

1) Menyatakan makna yang biasa/pekerjaannya/gemar melakukan pekerjaan yang tersebut pada bentuk dasarnya.

     Contohnya:

pemusik : yang biasa/pekerjaannya/gemar bermusik

pegulat : yang biasa/pekerjaannya/gemar bergulat

perenang : yang biasa/pekerjaannya/gemar berenang

.

2) Menyatakan makna orang yang (pekerjaannya) di …

     Contohnya:

pesuruh : orang yang (pekerjaannya) disuruh

petugas : orang yang (pekerjaannya) ditugaskan

petatar : orang yang (pekerjaannya) ditatar

.

g.     Afiks per-

Fungsi afiks per-, yaitu:

1) Membentuk kata nominal, termasuk afiks tidak produktif karena hanya pada kata pelajar dan pertapa.

2) Membentuk pokok kata.

     Contoh:

luas → perluas

satu → persatu

tuan → pertuan

juangkan → perjuangkan

Makna afiks per-, yaitu menyatakan kausatif :

1) Bentuk dasar kata sifat, kausatif itu berarti membuat jadi lebih daripada yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contoh:

percantik : membuat jadi lebih cantik

perhalus : membuat jadi lebih halus

perindah : membuat jadi lebih indah

.

2) Bentuk dasarnya kata bilangan, kausatif itu berarti membuat jadi apa yang tersebut pada bentuk dasarnya.

     Contoh:

perdua : membuat jadi dua

persepuluh : membuat jadi sepuluh

.

3) Bentuk dasarnya kata nominal, kausatif itu berarti membuat jadi atau menganggap sebagai apa yang disebut pada bentuk dasarnya.

     Contoh:

perbudak : menganggap sebagai budak, membuat jadi budak

peristri : menganggap membuat jadi istri

perkuda : menganggap sebagai kuda

h.   Afiks se-

Akibat pertemuannya dengan bentuk dasarnya, afiks se- mempunyai makna sebagai berikut.

1) Menyatakan makna satu.

     Contoh:

selemari : satu lemari

seminggu : satu minggu

serombongan : satu rombongan

.

2) Menyatakan makna seluruh.

     Contoh:

sedunia : seluruh dunia

seisi rumah : seluruh isi rumah

se-Indonesia : seluruh Indonesia

.

3) Menyatakan makna sama, seperti.

     Contoh:

segunung : seperti gunung; sama dengan gunung

setinggi (pohon kelapa) : sama dengan tingginya pohon kelapa

semanis (ibunya) : sama manisnya dengan ibunya

.

4) Menyatakan makna setelah.

     Contoh:

sesampai(nya) : setelah ia sampai

sepulang (ku) : setelah aku pulang

sekembali(nya) : setelah ia kembali

i.    Afiks ke-

Afiks ke- pada umumnya melekat pada bentuk dasar golongan kata bilangan, misalnya kedua, keempat, ketujuh, dan sebagainya. Afiks ke- berfungsi membentuk kata nominal, misalnya kehendak, ketua, dan kekasih sedangkan pada kata ketahu afiks ke- berfungsi membentuk pokok kata, yang terdapat pada kata mengtahuidiketahui, dan pengetahuan.

Makna afiks ke- adalah:

1) Menyatakan kumpulan yang terdiri dari jumlah yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contoh:

keenam (orang) : kumpulan yang terdiri dari enam orang

kedelapan (kesebelasan) : kumpulan yang terdiri delapan kesebelasan

.

2) Menyatakan urutan.

     Contoh:

(meja) ketujuh : urutan meja nomor tujuh

(kelas) keenam : urutan kelas nomor enam

(pegawai) ketiga : urutan pegawai nomor tiga

.

j.    Afiks para-

Afiks para- melekat pada bentuk dasar golongan nominal insani, misalnya para mahasiswa, para pirsawan, dan sebagainya. Makna para- adalah menyatakan makna banyak.

Contoh:

para tamu : banyak tamu atau tamu-tamu

para bapak : banyak bapak atau bapak-bapak

.

k.   Afiks maha-

Afiks maha- umumnya terdapat pada kata-kata yang menyatakan sifat Allah. Misalnya mahakuasa, mahaesa, maha pengasih, maha mengetahui, dan sebagainya. Afiks maha- umumnya menyatakan makna sangat, atau sifat yang lebih daripada makhluk. Afiks maha- terdapat pada kata nominal, misalnya maharesi, mahadewa, mahasiswa, dan sebagainya, yang menyatakan makna besar, tertinggi.

l.    Afiks –kan

Afiks –kan berfungsi membentuk pokok kata, misalnya larikan, sempitkan, rumahkan, tigakan, sandarkan. Afiks –kan yang bertemu dengan bentuk dasar yang berafiks meN-, mempunyai makna sebagai berikut.

1) Makna benefaktif, maksudnya perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan untuk orang lain.

     Contoh:

mengecatkan : mengecat untuk orang lain

membacakan : membaca, untuk orang lain

membukakan : membuka untuk orang lain

.

2) Makna kausatif , yaitu:

    a) Menyebabkan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar.

Contoh:

menidurkan : menyebabkan tidur,

menikahkan : menyebabkan nikah,

mendudukkan : menyebabkan duduk

.

   b) Menyebabkan menjadi seperti yang tersebut pada bentuk dasar.

Contoh:

menyuburkan : menyebabkan menjadi subur,

meninggikan : menyebabkan menjadi tinggi,

memenangkan : menyebabkan menjadi menang

.

   c) Menyebabkan menjadi atau menganggap sebagai apa yang tersebut pada bentuk dasar.

Contoh:

menganakemaskan : menganggap sebagai anak emas,

mendewakan : menganggap sebagai dewa,

menganaktirikan : menganggap sebagai anak tiri

.

   d) Membawa/memasukkan ke tempat yang tersebut pada bentuk dasar.

Contoh:

meminggirkan : membawa ke pinggir,

memojokkan : membawa ke pojok,

membukukan : memasukkan ke buku

.

m.   Afiks -i

Afiks –i sama denganafiks –kan, yaitu membentuk pokok kata, misalnya duduki, sakiti, tulisi, dan sebagainya. Dengan tambahan prefiks meN-di-ter-, atau tambahan kau, ku, dan sebagainya, pokok kata itu menjadi suatu kata, misalnya menduduki, menyakiti, menulisi, dan sebagainya. Makna afiks -i, yaitu:

1) Menyatakan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar itu dilakukan berulang-ulang.

    Contoh:

mengguntingi : berulang-ulang menggunting,

mencabuti : berulang-ulang mencabut,

membuangi : berulang-ulang membuang

.

2) Menyatakan makna memberi yang tersebut pada bentuk dasar pada ….

     Contohnya:

menggulai (sayur) : memberi gula pada (sayur),

membumbui (sayur) : memberi bumbu pada (sayur),

mengamplopi (surat) : memberi amplop pada (surat)

.

3) Objeknya menyatakan tempat. Kita bandingkan kata menduduki dan mendudukan dalam kalimat:

Ibu menduduki kursi.

Ibu mendudukkan anaknya di kursi.

Kata menduduki pada kalimat di atas mempunyai obyek yang menyatakan makna tempat, sedangkan kata mendudukkan pada kalimat diatas obyeknya menyatakan makna penderita. Contoh lainnya: mencangkuli : mencangkul di… menanami : menanam di…

4) menyatakan makna kausatif.

    Contoh:

memerahi (bibirnya) : menyebabkan jadi merah (bibirnya),

membasahi (mukanya): menyebabkan jadi basah (mukanya)

.

n.    Afiks -an

Afiks –an fungsinya membentuk kata nominal, misalnya minuman, bacaan, literan, ribuan, dan sebagainya.

Makna afiks -an, yaitu:

1) Menyatakan sesuatu (hasil perbuatan, alat, sesuatu yang bisa dikenai perbuatan) yang berhubungan dengan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contoh:

karangan : hasil mengarang

takaran : alat untuk menakar

makanan : sesuatu yang bisa dimakan

.

2) Menyatakan makna tiap-tiap.

     Contoh:

(buruh) harian : (buruh) yang digaji tiap-tiap hari

(insentif) semesteran : (insentif) yang dibayar tiap-tiap semester

.

3) Menyatakan makna satuan yang terdiri dari apa yang tersebut pada bentuk dasar, misalnya kiloan, literan, ratusan, ribuan, dan sebagainya.

     Contoh:

Bendaharawan itu menukarkan uang ribuan dengan uang ratusan.

Relawan itu membagikan ratusan selimut

.

4) Menyatakan makna beberapa.

     Contoh:

Jutaan penduduk kehilangan mata pencaharian.

Ribuan orang menunggu pembagian zakat

.

5) Menyatakan makna sekitar.

     Contoh:

tahun 90-an : sekitar tahun 1990

tahun 06-an : sekitar tahun 2006

.

o.    Afiks –wan

Afiks -wan fungsinya membentuk kata nominal, misalnya relawan, gerilyawan, olah ragawan, dan sebagainya. Makna afiks -wan, adalah sebagai berikut.

1) Menyatakan orang yang ahli dalam hal yang tersebut pada bentuk dasar, dan tugasnya berhubungan dengan hal yang tersebut pada bentuk dasar. Afiks -wan melekat pada kata nominal.

     Contoh:

……
rokhaniwan : orang yang ahli dalam kerokhanian dan tugasnya berhubungan dengan kerokhanian
sejarawan : orang yang ahli dalam sejarah dan berkecimpung di bidang kesejarahan

.

2) Menyatakan orang yang memilki sifat yang tersebut pada bentuk dasar. Makna ini terdapat pada afiks -wan yang melekat pada kata sifat.

    Contoh:

relawan : orang yang rela,

sosiawan : orang yang mempunyai sifat sosial

.

p.   Afiks ke-an

Afiks ke-an berfungsi membentuk kata nominal, seperti kedatangan, kebaikan, kesinambungan, dan sebagainya. Makna afiks ke-an, adalah sebagai berikut.

1) Menyatakan suatu abstraksi atau hal.

     Contoh:

keikhlasan : hal ikhlas

ketakjujuran : hal tidak jujur

.

2) Menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contohnya:

kedaerahan : hal-hal yang berhubungan dengan masalah daerah

keduniaan : hal-hal yang berhubungan dengan masalah dunia

.

3) Menyatakan dapat di… yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contohnya:

kelihatan : dapat dilihat

ketahuan : dapat diketahui

.

4) Menyatakan makna dalam keadaan tertimpa akibat perbuatan, keadaan, atau hal yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contohnya:

kepanasan : dalam keadaan tertimpa panas

kemasukan : dalam keadaan tertimpa akibat masuk sesuatu

.

5) Menyatakan makna tempat atau daerah.

     Contoh:

kerajaan : daerah raja

kepresidenan : tempat presiden

.

q.   Afiks peN-an

Afiks ini berfungsi membentuk kata nominal, misalnya penulisan, penunjukkan, pengecilan, pembukuan, dan sebagainya. Makna afiks peN-an, adalah sebagai berikut.

1) Menyatakan makna hal yang tersebut pada kata yang sejalan.

    Contoh:

penulisan : hal menulis

pemulangan : hal memulangkan

pengecilan : hal mengecilkan

.

2) Menyatakan cara melakukan perbuatan yang tersebut pada kata yang sejalan.

     Contoh:

pengajuan : cara mengajukan

pengiriman : cara mengiriman

.

3) Menyatakan apa yang di … atau hasil perbuatan yang tersebut pada kata yang sejalan.

     Contohnya:

pendengaran : hasil usaha mendengar, apa yang didengar

penglihatan : hasil usaha melihat, apa yang dilihat

.

4) Menyatakan makna alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan yang terdapat pada kata yang sejalan. Makna afiks peN-an pada contoh (c) diatas dan contoh (d) di bawah ini tergantung pada pemakaian dalam kalimat.

     Contoh:

Menurut pendengaran saya, yang pertama menyerang itu adalah Israel.

Pendengaran kakek itu sudah tidak terang.

Makna peN-an pada kalimat (1) menyatakan hasil perbuatan yang tersebut pada kata yang sejalan, atau apa yang di…, sedangkan pada kalimat (2) menyatakan alat mendengar. Contoh lainnya:

Penglihatan kakek itu sudah kabur.

.

5) Menyatakan makna tempat melakukan perbuatan yang tersebut pada kata yang sejalan.

     Contohnya:

penampungan : tempat menampung

pengungsian : tempat mengungsi

pengadilan : tempat mengadili

.

r.   Afiks per-an

Afiks per-an berfungsi sebagai pembentuk kata nominal, misalnya perdebatan, perpindahan, perluasan, perkantoran, perlimaan, dan sebagainya. Berbeda dengan kata berafiks peN-an yang sejalan dengan kata kerja bentuk meN- (-kan/-i), kata berafiks per-an yang merupakan hasil nominalisasi dari kata kerja pada umumnya sejalan dengan kata kerja bentuk ber- (-an), dan kata kerja bentuk memper- (-kan/-i). Misalnya:

per-an → perkenalan : sejalan dengan berkenalan, dan

peN-an → perluasan : sejalan dengan memperluas

Makna afiks per-an adalah sebagai berikut.

1) Menyatakan makna perihal apa yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contoh:

perkreditan : perihal kredit

perekonomian : perihal ekonomi

.

2) Menyatakan makna hal atau hasil melakukan perbuatan yang tersebut pada kata yang sejalan.

     Contoh:

perkembangan : hal atau hasil yang sejalan dengan berkembang

persekutuan : hal atau hasil bersekutu

.

3) Menyatakan makna tempat melakukan perbuatan yang tersebut pada kata yang sejalan.

     Contoh:

pertapaan : tempat bertapa

persendian : tempat sendi

.

4) Menyatakan makna daerah yang berupa atau terdiri dari yang tersebut pada bentuk dasar.

     Contohnya:

perbukitan : daerah yang berupa atau terdiri dari bukit, daerah bukit

perkotaan : daerah yang berupa atau terdiri dari kota, daerah kota

,

5) Menyatakan makna berbagai-bagai.

     Contoh:

persyaratan : berbagai-bagai syarat

peralatan : berbagai-bagai alat

.

s.   Afiks ber-an

Fungsi afiks ber-an adalah membentuk kata kerja, misalnya berhamburan, bepergian, dan sebagainya. Makna afiks ber-an, yaitu:

1) Menyatakan bahwa perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan oleh banyak pelaku.

     Contoh:

beterbangan : (banyak pelaku) terbang

bermunculan : (banyak pelaku) muncul

.

2) Menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan pada bentuk dasar dilakukan berkali-kali.

     Contoh:

bergoyangan : bergoyang berkali-kali

bergulingan : berguling berkali-kali

.

3) Menyatakan makna saling.

     Contoh:

bertabrakan : saling menabrak

berpukul-pukulan : saling memukul

t.    Afiks se-nya

Afiks se-nya pada umumnya berkombinasi dengan proses pengulangan. Fungsi afiks se-nya adalah membentuk kata keterangan dari kata sifat, misalnya serendah-rendahnya, secantik-cantiknya, sepandai-pandainya, dan sebagainya. Afiks se-nya mengandung makna tingkat yang paling tinggi yang dapat dicapai, yang disebut superlatif. Contohnya: secantik-cantiknya : tingkat cantik yang paling tinggi yang dapat dicapai; secantik mungkin, sepandai-pandainya : tingkat pandai yang paling tinggi yang dapat dicapai; sepandai mungkin.


Last modified: Monday, 12 April 2021, 11:13 AM